
- Jumlah kata
- 8.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0

Kira tidak pernah benar-benar percaya pada cerita-cerita aneh yang diceritakan kakeknya tentang Gunung Merapi—tentang kerajaan yang tenggelam di bawah tanah, naga yang tertidur di dalam perut gunung, dan dunia gaib yang tersembunyi dari pandangan manusia. Namun dua tahun setelah kematian sang kakek, sebuah peta tua dan surat wasiat membawanya ke sebuah tempat terpencil di lereng Merapi. Di sana, Kira menemukan satu kata yang terus menghantui peninggalan kakeknya: Ngliyep—tempat yang tidak boleh dilihat. Ketika suara misterius memanggil namanya dari bawah akar pohon beringin, Kira mengikuti panggilan itu dan menemukan sebuah pintu menuju dunia yang selama ini hanya dianggap sebagai mitos. Di balik pintu tersebut terbentang dunia tersembunyi yang jauh lebih tua daripada sejarah manusia. Sebuah dunia yang menyimpan rahasia tentang asal-usul keluarganya, perjanjian kuno antara manusia dan makhluk gaib, serta kekuatan yang selama berabad-abad tertidur di dalam Gunung Merapi. Tetapi kedatangan Kira bukanlah kebetulan. Sesuatu telah terbangun. Dan semakin dalam Kira melangkah ke dunia Ngliyep, semakin ia menyadari bahwa kakeknya tidak sedang mencoba menyembunyikan sebuah rahasia darinya—melainkan sedang mempersiapkannya untuk menghadapi sesuatu yang suatu hari pasti akan datang. Kini Kira harus memilih: kembali ke dunia yang ia kenal dan melupakan semuanya, atau membuka rahasia tentang darahnya sendiri dan menghadapi kekuatan yang bahkan mungkin mampu mengubah batas antara dunia manusia dan dunia yang selama ini tidak boleh dilihat. Karena di Ngliyep, tidak semua yang tersembunyi ingin ditemukan. Dan tidak semua yang memanggil dari kegelapan adalah musuh.
Hujan di hutan lebat pegunungan Merapi selalu punya cara sendiri untuk berbisik.
Bukan sekadar gemericik air yang jatuh dari daun-daun lebar, melainkan sesuatu yang lebih dalam—seperti napas yang tertahan di antara akar-akar pohon berusia ratusan tahun. Kira merasakannya sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di jalur setapak yang hampir tak terlihat itu. Tiga hari sudah ia berjalan sendirian, membawa ransel lusuh dan peta usang milik kakeknya yang sudah meninggal dua tahun lalu.
Peta itu aneh. Tidak ada tanda-tanda modern. Hanya garis-garis tipis berwarna merah tua yang membentuk lingkaran di sekitar puncak Merapi, dan di tengahnya tertulis satu kata dalam aksara Jawa kuno yang Kira baru bisa baca setelah bertahun-tahun belajar dari buku-buku tua di perpustakaan kampusnya:
“Ngliyep.”
Tempat yang tidak boleh dilihat.
Kira berhenti di tepi jurang kecil. Di bawahnya, kabut putih bergulung seperti ulat sutra yang bergerak pelan. Ia membuka botol minum, meneguk air, lalu menatap peta sekali lagi. Jari telunjuknya menelusuri garis merah itu sampai berhenti di titik yang sekarang ia yakini berada tepat di bawah kakinya.
“Kalau Kakek benar…” bisiknya, “maka di sini seharusnya ada pintu.”
Ia tertawa kecil, suara yang terdengar aneh di tengah hutan yang terlalu sunyi. Sudah dua tahun ia mencoba meyakinkan diri bahwa cerita-cerita kakeknya hanyalah dongeng sebelum tidur. Tentang kerajaan yang tenggelam di bawah tanah, tentang naga yang tidur di dalam gunung, tentang bayangan-bayangan yang bisa berjalan tanpa tubuh. Semua itu terasa mustahil—sampai ia menemukan surat wasiat yang terselip di antara halaman-halaman buku catatan kakek.
“Jika suatu hari kau mendengar suara dari bawah akar, jangan lari. Ikuti. Itu bukan hantu. Itu adalah panggilan.”
Suara itu datang lagi malam ini.
Pelan. Seperti seseorang yang menyanyi dari kejauhan, tapi liriknya tidak bisa ditangkap. Nada yang naik-turun, seolah mengikuti irama gamelan yang sudah lama hilang.
Kira menoleh ke kiri. Hutan tetap gelap. Ke kanan. Hanya batang-batang pohon yang basah. Lalu ia menunduk.
Di antara akar pohon beringin besar yang akarnya menjulur seperti jari-jari raksasa, ada sesuatu yang bergerak.
Bukan hewan. Bukan angin.
Sebuah celah kecil di tanah membuka dirinya, perlahan, seolah tanah itu bernapas. Dari dalam celah itu, cahaya keemasan merayap keluar—lembut, hangat, dan berdenyut seperti detak jantung.
Kira berlutut. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyentuh tepi celah itu dengan ujung jari.
Hangat.
Dan dari dalam gelap yang berdenyut itu, sebuah suara—bukan lagi nyanyian, melainkan bisikan yang jelas—menyapa namanya.
“Kira… anak dari darah yang terlupakan… masuklah.”
Ia menoleh ke belakang, seolah berharap ada seseorang yang akan menariknya pergi. Tapi hutan tetap sepi. Hanya hujan yang terus jatuh, dan cahaya keemasan yang kini semakin terang, seolah menunggu.
Dengan napas tertahan, Kira mendorong ranselnya lebih dulu ke dalam celah. Lalu, tanpa terlalu banyak berpikir, ia ikut merangkak masuk.
Tanah menutup di belakangnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kira mendengar suara gunung yang sedang terbangun.
13 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.