Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Koin Keramat Pemacu Hasrat

Koin Keramat Pemacu Hasrat

Sang Pemantik | Bersambung
Jumlah kata
80.3K
Popular
12.4K
Subscribe
1.6K
Novel / Koin Keramat Pemacu Hasrat
Koin Keramat Pemacu Hasrat

Koin Keramat Pemacu Hasrat

Sang Pemantik| Bersambung
Jumlah Kata
80.3K
Popular
12.4K
Subscribe
1.6K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalZero To HeroHarem21+
(Adegan 21+ Dewasa) “Ahhhh….” Suara wanita terdengar merdu di telinga pemuda bernama Pramudya Raharja. Sepasang pria dan wanita meluapkan hasrat terpendam, hentakan kasar menuntut gerakan tubuhnya maju mundur. Tepukan di bagian kenyal dan lembut membuat teriakan seseorang semakin mengeras.
Bab 1: Ditolak Wanita

“Ahhhh….” Suara wanita terdengar merdu di telinga pemuda bernama Pramudya Raharja.

Sepasang pria dan wanita meluapkan hasrat terpendam, hentakan kasar menuntut gerakan tubuhnya maju mundur. Tepukan di bagian kenyal dan lembut membuat teriakan seseorang semakin mengeras.

“Ya… lakukan lebih keras, Raja!” teriak wanita yang terkurung dalam kendalinya. Mata wanita itu merem-melek, keringat membanjiri tubuh mereka, hentakan penyatuan itu menambah kekuatan yang semakin cepat dan bertenaga turbo. 

Plok! Plok! Plok!

Pantat wanita itu naik turun terasa memanas ketika senyuman Raja menyeringai dan menampilkan sudut bibir naik satu ke atas. Raja memegang pinggang wanita itu sambil memukulnya sesekali. 

“Aaa… a-aku mau keluar Raja,” pekik sang wanita penuh kepuasan.

Pelepasan itu terjadi, wanita itu terkulai lemas dengan napas memburu dan wajah yang memerah. Sementara, Raja merasakan tubuhnya sisa-sia kenikmatan menjadi bukti keperkasaannya mampu menaklukkan wanita di ranjang.

“Tunggu, aku belum ke puncak,” bisik Raja menyeringai ganas.

Ketika wanita itu terkulai lemas, Raja kembali mengasah kekokohan keris saktinya tak tumpul, semakin terasa nikmat ketika desahan wanita meningkatkan volumenya. Ini gila. Sensasi panas dan kulit berkeringat menempel di dua tubuh wanita dan pria. Mereka sampai di titik didih—sebuah kenikmatan. Disitulah keberuntungan Raja semakin bertambah.

Semua itu berawal dari beberapa waktu lalu, pemuda itu bukanlah pemuda yang diberuntungkan para wanita. Tapi, sebuah kejadian membuatnya mendadak populer dan diminati para wanita kini mengejar-ngejarnya dan nagih di ranjang.

Pramudya Raharja dipanggil akrab Raja hidup dari kecil tanpa orang tuanya yang telah wafat. Ia diasuh oleh nenek tua rentah yang baru saja meninggal dunia seminggu yang lalu.

Kini, Raja sebatang kara di usianya kepala dua, tepatnya dua puluh tiga tahun. Satu-satunya bertahan hidup dengan bekerja buruh harian di desanya. 

Siang ini, ia mengibas uang biru selembar, hasil gajian hari ini. Niatnya gaji pertama dari hasil cetak batako mau mengajak sang pujaan hati makan malam.

Tepat hari ini, Raja sudah bertekad bulat membeli sesuatu. Ia sudah berdiri di depan toko bunga milik teman baiknya. 

“Vina, tolong pilihkan bunga segar, tapi aku cuma uang sepuluh ribu, maklum, gaji harian baru cair lima puluh ribu, rencananya uang sisanya mau kuajak makan bakso si cewek inceranku sejak SMA dulu,” ujar Raja sambil melihat-lihat rangkaian buket bunga yang tertera harga fantastik.

“Eh, masih aja ngarepin Sinta? Emang nggak ada wanita lain apa? Kayak dia spesial banget sampe kamu tungguin jandanya,” lirih Vina dengan wajah masam.

“Hehe… namanya juga usaha Vin, siapa tau kali ini aku beneran diterima dia.”

Vina mengambil sebongkah buket. “Nih, gratis buatmu. Awas aja sampe ditolak, kamu bayar buket ini dua kali lipat!” Vina langsung saja menyerahkan buket dengan bunga mawar merah yang harumnya semerbak kini di tangan Raja.

“Beneran gratis, Vin?” Raja menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Iya, tapi inget, kalau kamu ditolak bayar dua kali lipet!” Vina masih saja ketus.

Wajah Raja penuh semangat. “Terima kasih, Vin. Tak sia-sia punya temen pengusaha flories kayak kamu!” Suara Raja setengah berteriak.

Vina memang sahabat dekatnya, sudah tau bagaimana Raja dari dulu pengen banget jadian sama Sinta. Sampai akhirnya Sinta menikah dengan seorang pria, ketika dengar rumah tangga Sinta bubar, Jaka buru-buru ingin menyatakan perasaannya ke wanita pujaan hati. 

Kebetulan sekali, Sinta lewat jalan sini. Raja buru-buru keluar dan lupa menutup pintu kaca bertulisan ‘Open’. 

“Sinta, tungguin….” Raja mengejar Sinta yang berpakaian tanktop sejari dan celana pendek selutut sedang mengernyitkan dahi.

“Ada apa Raja?”

“A-anu… aku cuma pengen ngomong serius.”

“Ngomong aja deh, panas ini, gerah banget!” Sinta sambil mengibas mukanya dengan tangan.

“A-aku sudah lama naksir sama kamu, Sin. Mau nggak jadi pacarku?” Jaka memberikan buket bunga mawar sambil berlutut di bawah kaki Sinta.

Diam sejenak. Wanita itu tak memberi jawaban selama tiga puluh menit. Sedangkan Raja berharap penuh perasaannya terbalaskan. Ia sudah lama mengumpulkan keberanian untuk menyatakaan perasaan ini. 

Wajah Sinta dari tadi masam seketika berubah menjadi senyuman tipis. Wanita itu menerima buket bunga mawar. Raja kira itu jawaban, tetapi senyuman itu berganti dengan gelak tawa mengejek. 

“Hahaha… apa katamu Raja? Kamu suka aku? Nggak mungkin aku bakalan suka kamu. Mantan suamiku aja yang kaya raya aku tinggalin, apalagi kamu yang hidupnya miskin dan kerjaan aja nggak jelas, kadang jadi tukang batu bata, tiba-tiba jualan singkong di pasar, besoknya lagi jadi juru parkir, entahlah… nggak ada jaminan hidup denganmu.”

Raja terdiam. Penolakan Sinta benar-benar menghancurkan rasa percaya dirinya. Padahal ia sudah bertekad kali ini perasaannya diterima, tapi penolakan wanita menghantam hatinya terasa sakit.

Raja belum sempat memberikan buket bunga di tangannya. Buket itu jatuh ke tanah karena dibuang Sinta. Wanita itu menoleh ke bawah. Kaki jenjang Sinta menginjak-injak buket bunga sampai menyatu dengan tanah dan bekas injakan sendal pelan-pelan mengubur harapan Raja bersama wanita ini.

“Cuih! Nggak sudi aku sama orang miskin kayak kamu!” Sinta meludahi tepat di atas kaos putih Raja, setelahnya pergi begitu saja tanpa belas kasihan.

Raja menggenggam erat ujung kaosnya kuat-kuat. Entah berapa banyak mata memandangnya dan menjadi saksi penolakan wanita ini. 

Tin… tin..!!!!

Suara klakson motor menyadarkan lamunannya.

“Makanya, Raja. Jangan berani-berani nembak cewek kaya raya, udah tau orang kek kita ini dipandang seberang mata. Tau diri dikit deh,” ucap salah satu pengemudi motor, ternyata itu temannya.

“Udahlah Din, antar aku pulang sekarang. Makasih udah nungguin aku.” Raja segera naik motor supra butut milik Udin teman baiknya yang sudah lama menunggu dan menjadi saksi dari penolakan ini.

Raja dibonceng Udin naik motor pelan-pelan. Sampai mereka tiba di sebuah rumah warisan neneknya.

“Makasih, Din, udah mau anterin dan nungguin aku.”

“Iya, nggak apa-apa Bro. Kamu istirahat aja dulu daripada stres mikirin tu betina.”

Setelahnya, Udin berpamitan pulang. Raja buru-buru membuka kaos putihnya, tampak bercak liur wanita itu  membekas di bajunya. Segera ia masuk ke rumah dan mandi. Saat ia ingin masuk ke kamar mandi, tiba-tiba kakinya kesandung lemari tua dan terjatuh sebuah koin di telapak tangannya. 

Koin itu bersinar terang, uang jadul peninggalan neneknya. Ini mengingatkannya pada sang nenek sering gunakan pas kerokan.  

“Hmmm… jadi kangen nenek, taruh dompet ah, siapa tau bawa hoki,” pikir Raja sambil menaruh koin emas di dompetnya.

——

Sore harinya, Raja duduk termenung di kursi bambu. Suara reot kursi tua nyaring ketika ia memindahkan kakinya naik satu ke atas. Sedangkan hatinya sedang kalut karena mengingat betapa sakitnya ditolak cinta untuk pertama kalinya oleh cinta pertamanya.

“Sinta, coba nanti aku kaya raya ya, kamu pasti ngejar-ngejar aku,” lirihnya ngomong sendiri.

Raja tak menyadari di sampingnya sudah ada seseorang berdiri. “Raja, bengong bae, kesambet tau rasa!” 

“Eh, Mbok Darmi, ada apa Mbok?”

“Ini, tolong besok kamu bersihkan rumput di warung kopi Mbok udah semek belukar, takutnya ada ular dan matok. Nanti upahnya gampanglah, sehari tiga ratus ribu, mau?” Tawaran dari Mbok Darmi pemilik warung kopi terkenal, tawaran ini tentu menjadi angin segar.

Wajah gusar Raja berganti dengan senyuman yang ceria. Sedikit menghibur hatinya ketika ada tawaran pekerjaan untuknya. “Wah, aku mau, Mbok Darmi. Jam berapa besok ke sana?”

“Pagi ya, jam tujuh atau jam delapan. Kamu kan anaknya tekun dan rajin, jadi Mbok percayakan ini ke kamu. Pasti warung Mbok bersih, kemarin kamu bersihkan halaman rumah Pak Kades, Mbok lihat hasil kerjamu bagus. Jadi, Mbok meminta kamu. Syukurlah kalau kamu bisa.”

“Warung Mbok Darmi yang deket kampung sebelah, kan?”

“Iya, masa nggak tau, sih? Itu lho warung remang-remang, orang biasanya sebut warung kopi pangku,” bisik wanita paruh baya pelan-pelan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca