Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Taksi Membuatku Menjadi Penguasa

Sistem Taksi Membuatku Menjadi Penguasa

na_morae | Bersambung
Jumlah kata
64.5K
Popular
2.4K
Subscribe
345
Novel / Sistem Taksi Membuatku Menjadi Penguasa
Sistem Taksi Membuatku Menjadi Penguasa

Sistem Taksi Membuatku Menjadi Penguasa

na_morae| Bersambung
Jumlah Kata
64.5K
Popular
2.4K
Subscribe
345
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalPertualanganMiliarderKekuatan Super
Jovan Mahardika hanyalah seorang sopir taksi miskin yang hidupnya penuh penderitaan. Selain dihina keluarganya karena dianggap tidak punya masa depan, ia juga dikhianati oleh kekasihnya yang memilih pria kaya. Saat berada di titik terendah, Jovan tiba-tiba mendapatkan Sistem Taksi Misterius yang mengubah hidupnya. Setiap perjalanan yang ia lakukan memberinya hadiah, kekayaan, dan koneksi luar biasa. Dari seorang sopir taksi yang diremehkan, Jovan perlahan bangkit menjadi sosok berpengaruh yang membuat semua orang yang pernah menghina menyesali keputusan mereka. Namun, di balik sistem tersebut tersimpan rahasia besar yang akan mengubah takdirnya.
Bab 1 Pengkhianatan

Jovan Mahardika memarkirkan taksi tuanya di pinggir jalan. Ia manatap ke arah gedung apartemen yang tak jauh dari arahnya. Sebuah buket bunga mawar ia genggam erat di pelukannya.

"Sandra pasti senang saat aku memberikan buket dan cincin yang ia impikan," gumamnya.

Jovan melangkah menuju ke apartemen 232 tempat dimana sang kekasih itu tinggal. Saat ia berdiri di depan apartemen itu, ia merapihkan pakaiannya yang tampak kusut.

Setelah seharian mengemudikan taksi, kemejanya memang sudah tidak serapi ketika ia berangkat tadi pagi. Ia mengusap rambutnya sekali lagi sebelum akhirnya mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

Tidak ada jawaban.

'Apa mungkin dia sudah tidur?' pikirnya.

Ia memilih untuk membuka pintu itu. Untung saja, pintu apartemennya tidak terkunci. Ia segera malangkah masuk ke dalam. Namun, baru saja ia malangkah masuk dari arah kamar ia mendengar suara seorang pria.

"Sayang, lebih cepat," suara pria itu kembali terdengar.

Jovan melangkah mendekat ke arah sumber suara, ia membeku di tempat. Untuk beberapa detik, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Tatapannya terpaku pada pemandangan di balik celah pintu kamar itu.

Sandra. Perempuan yang selama ini ia cintai. Dan Mahendra. Sahabat yang selama ini paling ia percaya. Sedangkan melakukan adegan dewasa yang sangat mesra.

'Kenapa?padahal aku saja tidak pernah menyentuhnya,' batinnya.

Jovan mengepalkan kedua tangannya. Dadanya terasa sesak, sementara kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan yang saling bertabrakan.

"Kenapa?dia mengkhianatiku, " bisiknya lirih.

Buket mawar yang tadi ia siapkan dengan susah payah kini tergeletak di lantai. Kelopak-kelopaknya berhamburan akibat benturan.

Tangannya kemudian merogoh saku celana.

Sebuah kotak kecil berwarna hitam ia keluarkan. Di dalamnya terdapat cincin yang sudah ia beli sejak beberapa minggu lalu.

Cincin yang seharusnya menjadi saksi cinta selama lima tahun. Cincin yang ia beli menggunakan hampir seluruh tabungannya.

Jovan menatap benda itu dengan senyum pahit. Ternyata semua perjuangannya tidak ada artinya. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana Sandra akan menangis bahagia ketika menerima cincin tersebut.

Namun, perempuan itu ternyata telah memberikan hatinya kepada orang lain. Lebih menyakitkan lagi, orang itu adalah sahabatnya sendiri.

Jovan dengan perasaan kesalnya segera menendang pintu itu yang membuat dua orang itu sontak menatap ke arahnya, Sandra dan Mahendra terkrjut saaat melihat Jovan sudah berdiri di depan pintu dengan amarah yang menggebu gebu.

"KENAPA KALIAN MENGKHIANATIKU!" teriaknya,

Sandra membeku. Wajahnya yang semula panik perlahan berubah pucat.

"Jo-Jovan..."

Mahendra segera berdiri dari sofa. Berbeda dengan Sandra yang terlihat ketakutan, pria itu justru berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia melanglah ke arah Jovan dengan tenangnya.

"Jovan, dengarkan dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."

Jovan tertawa getir. "Tidak seperti yang aku pikirkan? Terus seperti apa! Bagaimana bisa aku tidak memikirkan sahabatku melakukan hubungan badan dengan kekasihku sendiri?"

Ia mengangkat kotak cincin yang masih berada di tangannya.

"Lima tahun, Hen. Lima tahun aku percaya sama kalian berdua. Tapi ternyata kalian yang merusak sendiri kepercayaanku."

Mahendra terdiam. Jovan melangkah masuk. Tatapannya berpindah dari sahabtanya itu kepada sang kekasih.

"Aku bekerja siang malam. Aku menabung sedikit demi sedikit. Bahkan ketika keluargaku menghina pekerjaanku sebagai sopir taksi, aku tetap bertahan karena aku punya satu alasan."

Ia membuka kotak cincin tersebut. "Aku ingin menikahimu Sandra."

Sandra yang mendengar itu bukannya sedih, malah tertawa. Ia mendorong tubuh Jovan dengan kasar.

"Seorang supir miskin mau menikahiku?Mimpi!" senyum remeh terukir jelas di wajah cantiknya itu.

"Kau saja tidak bisa membelikan barang barang mewah seperti yang diberikan Mahendra kepadaku, kau itu pria miskin tidak cocok untuk bisa menikah denganku," jelasnya.

Jovan terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Sandra seolah tidak mengenali perempuan yang berdiri di hadapannya.

Lima tahun.

Selama lima tahun, ia selalu menganggap Sandra sebagai perempuan yang paling memahami dirinya. Ia bahkan rela menahan hinaan keluarganya, bekerja dari pagi hingga malam, dan menghemat segala keperluan hanya demi mengumpulkan uang untuk masa depan mereka.

Namun sekarang, semua pengorbanan itu justru menjadi bahan hinaan.

Jovan tersenyum kecut, "Jadi ini sifat aslimu Sandra."

Sandra hanya menatapnya datar, ia mendekat ke arah Mahendra dan mengenggam tangannya erat.

Mahendra tersenyum puas. Ia melirik Jovan dari ujung kepala hingga kaki sebelum terkekeh.

"Sudah kubilang, Sandra. Kau tidak perlu mempertahankan hubungan dengan pria seperti dia."

Jovan mengepalkan tangannya. Tatapannya jatuh pada tangan Sandra yang kini menggenggam tangan pria lain.

"Aku memilih Mahendra dibandingmu Jovan, aku tidak mau hidup tanpa masa depan dengan proa miskin sepertimu. Lebih baik kita putus dan hidup masing masing."

Sandra menunjuk ke arah pintu luar, "Pergi kau Jovan!aku tidak sudi melihat pria miskin sepertimu datang ke apartemenku!" teriaknya.

Ia hanya menatap Sandra tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Perempuan yang selama lima tahun selalu ia lindungi, kini justru menjadi orang yang paling tega merendahkannya.

Tangannya perlahan mengepal. Namun beberapa detik kemudian, Jovan melepaskan kepalan itu. Ia tidak ingin memberikan Sandra kepuasan melihatnya memohon. Ia tidak mau menurunkan harga dirinya untuk memelas di hadapan kekasih dan sahabatnya itu.

"Baik."

Satu kata itu membuat Sandra sedikit terkejut. Ia mungkin mengira Jovan akan berlutut, menangis, atau meminta kesempatan kedua.

Namun Jovan justru mengambil napas panjang dan memasukkan kembali kotak cincin ke dalam saku celananya.

"Mulai hari ini, kita bukan siapa-siapa lagi."

Sandra mengangkat sudut bibirnya. "Itu keputusan yang tepat."

Jovan menatapnya untuk terakhir kali. "Aku akan membalas pengkhianat kalian hari ini!" tegasnya sebelum melangkah meninggalkan dua pengkhianat itu.

"Silahkan, Apa yang bisa dibuat oleh pria miskin sepertimu itu!" teriak Sandra sambil tertawa.

Jovan menatap ke taksi tuanya. Dengan perasaan yang hancur, ia segera menyetir mobil itu menjauh dari apartemen. Hujan turun semakin deras, membasahi kaca depan taksi.

Jovan tidak menyalakan radio. Tidak ada musik yang ingin ia dengarkan malam ini. Ia hanya diam sambil menatap jalanan di depannya.

Bayangan Sandra terus muncul di pikirannya. Lima tahun ia bekerja keras demi perempuan itu. Namun semuanya berakhir hanya karena dirinya miskin.

Ponselnya bergetar di sakunya, ia segera merogoh ponsel itu. Benar saja ibunya sudah menagih uang untuk keperluan adiknya.

"Cepat beri uang 500ribu, adikmu ingin membeli sepatu baru. Jika tidak, kau tidak usah pulang!"

Jovan menatap pesan itu cukup lama. Lima ratus ribu? Bagi keluarganya, mungkin jumlah itu tidak seberapa.

Namun bagi Jovan, uang tersebut adalah hasil dari beberapa hari bekerja keras. Bahkan uang yang seharusnya ia gunakan untuk memperbaiki taksinya pun sering kali diberikan kepada keluarganya. Ia mengetik beberapa kata.

"Aku belum punya uang."

Namun sebelum mengirimkannya, Jovan menghapus pesan tersebut.

Percuma, kati itu yang melintas di pikiran Jovan. Sejak kecil, tidak pernah ada yang benar-benar bertanya apakah dirinya mampu atau tidak. Tidak ada yang benar benar peduli kepadanya, bahkan saat ia bertemu dengan Sandra dan merasa wanita itu peduli kepadanya pun, wanita itu samq saja menyakitinya.

Jovan benar benar merasa tidak pernah beruntung dalam hal apapun. Jovan memilih meletakkan ponselnya di dashboard.

"Kalau aku pulang, mereka pasti akan memarahiku." Ia menghela napas panjang. "Kalau aku tidak pulang, mereka juga akan mencari ku demi bisa mendapatkan uang yang mereka mau."

Jovan tertawa hambar. Hidupnya benar-benar terasa menyedihkan. Ia memilih untuk menepikan mobilnya di pinggir jembatan. Ia segera turun dari mobilnya dengan sebongkah rokok ditangannya.

Jovan berdiri beberapa saat di pinggir jembatan.

Hujan yang sebelumnya deras kini hanya menyisakan rintik-rintik kecil. Jalanan mulai sepi, sementara suara kendaraan sesekali terdengar melewati belakangnya.

Ia menatap aliran sungai yang bergerak deras di bawah sana. Pikirannya dipenuhi berbagai macam hal. Keluarga yang tidak pernah benar-benar menghargainya. Sandra yang meninggalkannya demi pria kaya.

Dan kehidupan yang seolah tidak pernah memberinya kesempatan untuk bernapas. Jovan menghela napas panjang.

"Apa aku memang ditakdirkan untuk selalu kalah?"

Ia menundukkan kepala. Namun beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar.

Jovan mengambilnya. Pesan dari ibunya kembali masuk.

"Kalau sampai malam ini uangnya belum dikirim, jangan harap bisa kembali, lebih baik kau pergi!."

Jovan menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tidak ada kemarahan lagi. Hanya rasa lelah.

"Baiklah..."

Ia mematikan layar ponselnya. "Aku akan berhenti mengharapkan mereka. Kali ini, aku akan hidup untuk diriku sendiri dan menjauhkan diriku dengab orang orang yang tidak pernah mengaanggapku ada."

Jovan berbalik dan berjalan kembali menuju taksinya. Namun ketika tangannya hampir menyentuh gagang pintu—

TING!

Terdengar suara sistem. Ia segera mendongakkan kepalanya, Di atas atap taksinya, muncul sebuah panel transparan berwarna biru yang hanya bisa dilihat olehnya. Di tengah panel tersebut terdapat gambar mobil kecil dengan dua mata besar yang berkedip-kedip.

[Selamat kepada pengguna karena telah memenuhi syarat untuk mengaktifkan Sistem Taksi Misterius.]

Lanjut membaca
Lanjut membaca