

Di depan layar PC Billing Warnet MBG, seorang pria muda berhoodie hitam tengah lincah menari-narikan sepuluh jarinya di atas kibor murahan. Bukan lantaran dia lulusan IT terbaik seantero negeri atau programmer handal dari Google, melainkan karena ini sudah tahun kelima dia bekerja sebagai penjaga warnet semenjak lulus SMA.
Namanya Aden. Pengalaman lima tahun sebagai operator sekaligus kasir membuatnya terlihat begitu profesional.
GAAAR!!
"Nooobb! Cacat!"
Seorang bocah yang menutup wajahnya mengamuk sembari menampar papan bilik nomor 6. Selama layar tidak pecah dan kibor tidak patah, Aden tak akan pernah ambil pusing.
"Beban! Dasar!" seru bocah lain yang memaki-maki dengan wajah merah padam seraya meninju tembok.
BUG!
Bagi Aden, teriakan dan benturan keras seperti itu sudah tak asing lagi. Belasan tahun lalu, sebelum bekerja di sini, dia pun persis seperti bocah-bocah tersebut.
Riuh suara itu sebenarnya membuat telinga Aden sakit, belum lagi asap rokok dari bilik paling ujung yang mulai merayap ke hidungnya.
Di hadapannya, layar komputer terbagi menjadi dua. Sisi kiri menampilkan antarmuka billing warnet, sementara sisi kanan memuat layar Terminal. Deretan kode hijau tampak saling bertabrakan. Walau terkesan berantakan, bagi Aden ini adalah sebuah seni.
Kratak-kratak-kratak……
Bunyi kibor jelek bersahut-sahutan dengan jalan pikirannya yang terus melompati batas imajinasi. Baginya, kode adalah goresan tinta dan layar merupakan kanvasnya—sebuah lukisan indah yang tak semua orang mampu nikmati.
Aden harus segera menyelesaikan tugas kecil ini. Sebentar lagi, dia hendak menyaksikan siaran pengenalan AI termutakhir di salah satu stasiun TV internasional. Bukan demi teknologi AI atau perusahaannya, melainkan demi sosok yang akan mempresentasikan produk tersebut.
Aden telah memantau Devy selama bertahun-tahun. Dia mengawasinya lewat media sosial—meski dia membenci platform tersebut—sekaligus memastikan wanita itu belum menikah hingga saat ini. Devy adalah cinta yang tak pernah sampai. Benar kata orang, cinta tak harus memiliki.
Sayangnya, kini Devy telah sukses dengan karirnya, sedangkan Aden tetap setia pada tugas mulianya: memastikan para gamer tidak mengeluh akibat sinyal buruk atau mati lampu. Meski nasib mereka jauh berbeda, perasaan Aden tetap utuh seperti dulu.
Tiba-tiba, layar billing berlatar biru terang berganti menampilkan saluran TV yang baru saja diretas. Dia cukup mencari tautan direct stream (.m3u8) dari server CDN penyedia siaran. Sembari menatap gadis impiannya di atas panggung, Aden mengambil sebutir pempek lenjer dan semangkuk cuko.
Sementara itu, di COEX Grand Ballroom yang sangat megah di Seoul, Korea Selatan, Devy tengah berbicara di hadapan ratusan hadirin dan puluhan awak media.
"K-AI Corp memperkenalkan versi terbaru dari Hexa AI. Sambutlah: Hexa Model Hyper 2.0."
Sebagai seorang AI Product Manager, Devy dituntut untuk selalu tampil percaya diri dan memukau di depan semua orang, termasuk di mata Aden.
Aden membatin, "Aku tidak bisa menemukan celah kekurangan pada dirinya. Kode apa pun yang kugunakan tak akan sanggup menemukan cacatnya. Sempurna."
Acara tersebut dijadwalkan berlangsung selama 15 menit. Namun, belum juga genap satu menit, sebuah gangguan mendadak muncul.
Terjadi lagging.
Aneh. Padahal koneksi jaringan terasa normal, dan bocah-bocah di warnet pun tak ada yang mengeluhkan sinyal buruk.
Aden mengerutkan dahi lalu menggeser mangkuk cukonya. Tangan kanannya mengutak-atik mouse, sementara jari-jari tangan kirinya mulai bergerak lincah.
"Ada yang tidak beres," desisnya.
Dugaannya tepat. Gangguan itu bukanlah masalah teknis biasa. Panggung presentasi Devy mulai kacau: indikator AI mengalami glitch, siaran live tersendat-sendat, dan layar raksasa mulai menampilkan teks ancaman dari peretas. Tim IT perusahaan berteriak panik saat firewall utama mereka jebol hanya dalam hitungan detik.
Mengamati keanehan tersebut, Aden bergumam sendiri, "Jika presentasinya gagal, perusahaan bakal menanggung malu, valuasi produk anjlok, dan Devy pasti berada dalam masalah besar."
Saat Aden sedang berpikir keras…
Tiba-tiba, bunyi beep bernada tinggi melengking dari PC Billing. Itu bukan peringatan billing habis, melainkan notifikasi enkripsi khusus dari tab rahasia browser Tor.
Bingo!
Layar kanan yang tadinya menampilkan Terminal mendadak berubah menjadi situs rahasia di darknet. Aden tersenyum tipis sembari menarik tudung hoodie untuk menutupi kepalanya.
Beberapa detik kemudian, layar PC Billing Warnet MBG menampilkan dashboard khusus platform The Carbon—gembong peretas paling mengerikan di dunia. Di sudut atas, tampak simbol khusus bertuliskan [ROLE: GOLD MEMBER - AUTHORIZED].
Pada bilah Bounty Board, Aden melihat misi berlabel merah yang baru saja berganti status menjadi [IN PROGRESS]:
Nama Misi: Operation Blackout: K-AI Corp Seoul_NODE_01
Target: Peluncuran AI (Panggung Presentasi Devy)
Eksekutor: [GOLD-EXEC-99]
Imbalan: 0.50 BTC
Melihat lelucon tersebut, Aden mengambil mangkuk cukonya lalu berbisik pelan, "Tier Gold? Cuma DDoS? He…"
Dia mengambil satu pempek dan memasukkannya ke dalam mulut. Sambil mengunyah dan menghirup kuah cuko, dia pun mengomel, "DDoS sama lezatnya dengan Pempek Dos."
Di COEX Grand Ballroom, Seoul, kepanikan pecah. Petinggi K-AI Corp ketar-ketir saat layar televisi macet, display panggung membeku, dan mikrofon Devy mendadak mati. Tim teknis kocar-kacir. Ini promosi vital—jika gagal, reputasi K-AI Corp bakal hancur dan menjadi bahan tertawaan kompetitor global.
Di tengah riuhnya suasana, Devy berdiri gemetar. Keringat dingin membasahi dahinya. Baru pekan lalu dia dipromosikan sebagai Product Manager, dan ini presentasi perdananya sebagai lulusan terbaik KAIST. Tuhan, tolong selesaikan masalah ini sekarang, ratapnya dalam hati.
Bagi peretas The Carbon, mereka tak perlu mencuri data. Cukup dengan melumpuhkan siaran langsung dan sistem AI Devy di hadapan ratusan ribu penonton dunia.
Sementara di Warnet MBG, Palembang, Aden yang menyaksikan kekacauan itu langsung bertindak. Dia tak peduli pada K-AI Corp, tetapi dia tak akan membiarkan karier cinta bertepuk sebelah tangannya hancur.
Berjuta paket data sampah dari puluhan ribu botnet menyumpat bandwidth server CDN siaran Devy. Alih-alih menyerap lalu lintas data palsu tersebut, Aden membelokkan seluruh serangan The Carbon menggunakan metode Blackhole Routing ke jalur kosong tak berujung—bahkan menguncinya dalam looping sistem billing warnet.
"Mau nge-DDoS pakai jutaan botnet?" Aden terkekeh sambil tetap santai mengunyah pempek. Jemarinya sigap mengetik baris perintah di Terminal Linux:
route add -host [IP_Carbon] dev lo
Seketika, jutaan data serangan The Carbon tersedot masuk ke "lubang hitam" lokal komputer billing.
Namun, tidak ada yang sempurna. Eksekusi serba cepat itu menyisakan 0,05% data sampah yang bocor ke router internal warnet.
Seketika, seluruh monitor ruangan berkedip. Ping game anak-anak warnet melonjak drastis ke angka keramat: 999 ms.
GEDEBUK!
"Anjir! Kenapa lag? Ahhh!" sorak seorang remaja SMP sambil meninju dinding bilik nomor 1. Riuh makian menggema di ruangan. Dua puluh PC terkena imbasnya.
Fokus Aden sempat terganggu oleh kebisingan itu, namun baginya Devy tetap prioritas nomor satu.
Kesal game-nya terputus, seorang bocah menghampiri meja kasir. "Kak, billing nomor 12 matikan aja!" serunya bersungut-sungut.
Mata Aden tetap tertuju pada layar monitor. "Sabar, Dek. Ini lagi nambal firewall Seoul."
Aden keceplosan.
Bocah itu makin bersungut. "Sok-sokan ngomongin firewall! Ngurus sinyal saja tak becus. Ini duitnya, malas aku main di sini lagi!"
Aden melirik sekilas bocah yang berlalu pergi itu, lalu kembali menatap barisan kode.
Dia membatin, "Tinggal satu serangan pamungkas."