
Pendekar Lembah Harimau
Dhoom|Bersambung
- Jumlah kata
- 106.3K
- Popular
- 8.0K
- Subscribe
- 313
- Jumlah kata
- 106.3K
- Popular
- 8.0K
- Subscribe
- 313
Sinopsis
Cerita tentang seorang anak desa yang mengambil jalan menentang takdir agar bisa menjadi seorang pendekar untuk membalaskan dendam kepada orang-orang yang telah membunuh kedua orang tuanya juga penduduk desa. Namun jalan menjadi seorang pendekar bukanlah perkara mudah, karena Andy harus menjalani berbagai macam rintangan dan tekanan dari orang-orang kuat dan orang-orang yang memiliki nama besar. Dapatkah Andy menjadi seorang pendekar hebat dan membalaskan dendamnya? Atau Andy tetap menjadi warga biasa yang menggantungkan hidup menjadi seorang nelayan?
Ulasan
1 ulasan
Dr. Melon
22/3/25 11:57
Ceritanya sangat menarik, benar-benar cerita ZERO TO HERO.Alurnya tidak terburu-buru, sehingga ringan untuk dibaca
Berawal dari tragedi
Satu keluarga yang miskin yang tinggal di sebuah desa yang bernama Cundong hidup seorang anak kecil bernama Andy.
Desa Cundong sangat terpencil dan sangat jauh dari ibukota kerajaan Angin Selatan dan yang berdekatan dengan perbatasan wilayah kerajaan Awan Selatan.
Karena hidup yang serba kekurangan, sehingga anak kecil seperti Andy harus terbiasa dengan kehidupan yang keras.
Kegiatan sehari-harinya adalah mengikuti ayahnya menjadi nelayan dan hasil tangkapan ikan yang dijual itulah yang bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari
Andy adalah seorang anak kecil berumur 10 tahun yang tinggal di pinggir pantai daratan kerajaan Angin Selatan.
Langit mulai gelap, angin badai berembus kencang menabrak tubuh para nelayan.
Dahi Andy mengerut sambil menatap ayahnya, saat perahu yang mereka gunakan sudah menepi di pantai.
"Ayah... Siapa mereka disana? Sepertinya aku tidak mengenal mereka." Tanya Andy sambil menunjuk ke arah para pendekar yang menenteng senjata di bahunya.
" Oh... Sepertinya mereka adalah seorang pendekar. Beruntung sekali jika mereka datang kesini." Ucap Pria paruh baya dengan baju lusuh dan wajah cerah itu menanggapinya dengan senang.
Dia sangat mencintai tempat tinggalnya, juga keluarganya, sehingga dengan kedatangan para pendekar dia bisa menjual hasil tangkapannya.
Andy memutar pandangannya ke segala penjuru, para pendekar berbadan kekar menaiki pelabuhan sambil menenteng pedang besar berwarna hitam pekat.
Perasaan Andy seketika buruk, namun dia tidak memberi tahu pada Ayahnya.
******
Malam harinya keluarga Andy berkumpul di sebuah rumah kecil atau lebih tepatnya gubuk.
Walaupun kehidupan mereka di bawah rata-rata namun tak pernah sedikitpun mereka mengeluh, karena ayahnya selalu mengajarkan hidup bersyukur pada anaknya Andy.
Ibu Andy datang menyiapkan makanan, sementara ayahnya duduk sambil bercerita tentang pengalamannya ketika bertemu dengan seseorang pendekar ketika dia masih muda.
" Pada waktu itu, aku melihat dengan jelas bagaimana pendekar itu mampu mengalahkan seekor beruang dengan tangan kosong." Dengan semangat menggebu-gebu, ayahnya menceritakan kepada Andy
"Mana ada orang seperti itu, Ayah!" Andy langsung menolak kenyataan tersebut, karena standar manusia normal tidak mungkin sekuat itu.
" Andy... Kamu berkata demikian, karena kamu tidak pernah melihat secara langsung. Namun jika kamu menjadi seorang pendekar, kamu baru bisa percaya." Ayah Andy dengan sabar menceritakan tentang seorang pendekar, meskipun raut wajah anaknya itu biasa-biasa saja.
"Hmmm..." Andy menanggapi dengan malas, bahkan berkali-kali menguap setiap kali ayahnya menceritakan tentang seorang pendekar.
" Andy... Jika kamu menjadi seorang pendekar, maka banyak tempat yang kamu singgahi dan tentu banyak mendapatkan pengalaman." Ayah Andy mendorong anaknya agar menjadi seorang pendekar, meskipun dia belum tau wajah asli seorang pendekar ketika terjun di dunia pendekar.
Bagi kaum nelayan yang berpenghasilan kecil sepertinya, sangat mustahil menjadi seorang pendekar karena disamping mencari seorang guru, mereka juga dihadapkan dengan berbagai rintangan yang bisa mengakibatkan kematian.
Belum lagi bertemu dengan pendekar aliran hitam, pembunuh bayaran,perompak dan pembunuh berantai dan lainnya.
Dunia pendekar yang ada dipikiran ayah Andy tidak seperti pada kenyataannya, dunia jauh lebih kejam daripada yang ada di desa Cundong.
Di luar sana banyak orang yang membunuh demi bertahan hidup, bahkan sampai membentuk organisasi, menentang kerajaan dan menjadikan jalan sesat sebagai arah kehidupan.
Terlebih dari kalangan biasa menjadi seorang pendekar, bukanlah perkara mudah karena mereka harus dihadapkan dengan orang-orang kuat dan orang-orang yang memiliki kekuasaan.
" Hanya seorang pendekar yang bisa mengelana di dunia ini. Mereka yang memiliki keahlian melindungi diri sendiri, orang lain dan menumpas segala kejahatan. Ya! Seorang pendekar!" Ayahnya menjadi semangat menceritakan tentang pendekar, meskipun raut wajah Andy sama sekali tidak ada ketertarikan.
Kali ini Andy mulai tertarik dengan kata melindungi diri sendiri dan orang lain. Itu artinya dia bisa melindungi keluarganya jika mendapatkan serangan hewan buas ataupun hewan laut yang buas.
Melihat ekspresi tertarik dari Andy, ayahnya pun kembali menceritakan tentang kisah seorang pendekar, meskipun sedikit melebih-lebihkan.
" Ayah terlalu banyak bicara..." Andy kembali memasang ekspresi malas, dan memilih untuk menikmati hidangan yang disajikan ibunya.
Andy yang tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak, tentu bicara apa adanya, dan cukup kasar, bahkan tidak bisa membaca ataupun menulis.
Namun ayahnya sama sekali tidak marah, karena itulah batas pemikiran mereka yang hanya hidup keras menjadi seorang nelayan.
Bbooom!
Saat keluarga Andy tengah menikmati makan malam, seketika suasana pecah dengan teriakan dari berbagai arah.
Mendengar hal itu, ayah Andy terkejut sehingga berlari keluar mencari penyebabnya.
" Jangan mendekat! Mereka adalah anggota Golok Hitam." Teriak salah satu pendekar, berusaha untuk melindungi para warga.
Ratusan pasukan dengan membawa pedang berwarna hitam memenuhi pemukiman, mereka berpencar membunuh warga.
Teriakan demi teriakan, seakan memecahkan keheningan malam, dimana para warga berlarian untuk menyelamatkan diri.
" Golok Hitam? Mereka siapa?" Ayah Andy bertanya dengan wajah keheranan, meskipun begitu takut terhadap para pendekar tersebut.
"Mereka orang-orang yang menentang kerajaan Awan Selatan. Cepat pergi dari sini!" Pendekar itu kembali meminta kepada keluarga Andy untuk pergi dari tempat itu secepatnya, meskipun sedikit kesal.
Golok Hitam dikenal sebagai organisasi pembunuh paling terkenal, berasal dari aliran hitam yang banyak menyebabkan kekacauan di tempat yang mereka singgahi.
Bukan hanya di kerajaan Awan Selatan, mereka juga melakukan kekacauan besar-besaran di kerajaan Angin Selatan.
Meskipun organisasi Golok Hitam banyak mendapatkan musuh akibat teror yang mereka lakukan, namun organisasi mereka tumbuh dengan sangat cepat, banyak pendekar hitam bergabung dengan atau tanpa paksaan hingga organisasi ini semakin kuat membuat pendekar aliran putih pun jika digabungkan akan sulit menaklukan mereka.
"Bunuh mereka hingga tak bersisa!" Teriak salah satu sosok yang memimpin pasukan Golok Hitam.
Ayah Andy dengan buru-buru memasuki rumahnya dengan raut wajah buruk saat satu orang mendatangi kediaman mereka.
"Jaga mereka, selagi aku menahan kaburlah secepat yang kau bisa." Ucapnya, sambil menoleh ke arah istrinya.
Istrinya, pun menitikkan air mata lemah tak sanggup berkata apa-apa, lalu menoleh ke arah Andy yang gemetar, namun tak segera mengikutinya.
" Andy... Kita harus lari..." Teriak ibunya, membuyarkan lamunan Andy.
Andy tanpa sadar telah menangis, dia menatap sekitar dan mendapati satu sosok dengan pedang besar berwarna hitam berdiri di depan Ayahnya.
"Serahkan nyawa kalian! Kami tidak akan menyisakan satupun diantara kalian!" Ucap sosok tersebut, sambil memainkan pedang di tangannya.
Ayah Andy langsung berlutut, " Aku mohon ambil saja nyawaku! Jangan istri dan putraku." Ucapnya dengan wajah memelas.
"Kalian semua yang hidup di sini harus mati!"
Slaaash!
Pria dengan pedang besar berwarna hitam, menebas leher Ayahnya tanpa belas kasihan.
"Ayah!" Andy menjerit saat melihat ayahnya terkapar dengan darah mencuat liar dari lehernya membasahi lantai, sambil melarikan diri dari tempat itu.
Meskipun ditengah kegelapan malam, Andy masih bisa melihat meskipun samar-samar, karena di tempat tersebut terdapat lampu penerang.
Ekspresi yang tidak pernah Andy lupakan seumur hidup, saat ayahnya mati di tangan pasukan Golok Hitam.
Andy menggertakkan giginya dengan wajah basah karena air mata, sementara pendekar tersebut kembali mengejar Andy yang berlari bersama ibunya.
" Mau lari kemana kalian?" Sosok yang mengejar tertawa terkekeh, karena dia dengan mudah mengejar Andy dan ibunya.
" Aku mohon jangan bunuh putraku. Bunuh saja aku." Melihat mereka mampu dikejar, ibu Andy langsung berbalik arah dan berlutut di hadapan pendekar tersebut, dengan memegang kedua kakinya.
Pada saat ini Andy tidak tau apa yang harus dia lakukan, sehingga kakinya seakan menuntunnya untuk tetap berlari.
Daftar bab
100 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
100 bab








