
MALAM SELASA KLIWON
DEWI FAUJIAH|Bersambung
- Jumlah kata
- 25.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 36
- Jumlah kata
- 25.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 36
Sinopsis
Di sebuah desa terpencil bernama Karangjati, masyarakat percaya bahwa malam Selasa Kliwon adalah malam paling berbahaya. Ada larangan ketat: jangan keluar rumah, jangan menyalakan lampu, dan jangan pernah menantang "penunggu" desa. Namun, Arini, seorang jurnalis muda yang skeptis, mengabaikan peringatan ini. Dia datang ke desa itu untuk menyelidiki kisah menghilangnya seorang penulis terkenal, Pak Darsa, yang juga menantang larangan Selasa Kliwon. Apa yang dimulai sebagai pencarian fakta berubah menjadi perjuangan hidup-mati. Arini menyadari bahwa ada kekuatan jahat yang lebih tua dari sekadar cerita rakyat—sebuah kutukan yang bangkit setiap malam Selasa Kliwon, membawa kematian bagi siapa pun yang melanggarnya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
KEDATANGAN DI KARANGJATI
Langit sore di bulan Suro itu terasa lebih gelap dari biasanya. Matahari yang biasanya bersinar hangat di ufuk barat kini tertutup awan kelabu yang menggantung berat, seakan menolak memberikan sinar terakhirnya sebelum tenggelam. Jalan menuju desa Karangjati terasa seperti memasuki dunia lain—sepi, suram, dan dihiasi oleh deretan pepohonan besar yang tampak tua, seperti saksi bisu dari banyak hal yang tidak ingin diceritakan.
Arini berjalan perlahan, tas punggungnya terasa lebih berat dari biasanya. Di tangannya tergenggam peta lusuh yang ia dapatkan dari salah satu artikel tentang desa Karangjati. Sepintas, desa ini hanyalah salah satu dari banyak desa terpencil di Jawa, tapi cerita yang menyertainya membuat Arini tidak bisa menahan rasa ingin tahu. Sebagai seorang jurnalis, tugasnya adalah mencari kebenaran di balik kisah-kisah aneh seperti ini. Namun, kali ini, dia merasa ada sesuatu yang berbeda.
"Selasa Kliwon," gumamnya pelan sambil terus berjalan. Kata-kata itu bergema dalam pikirannya sejak pertama kali mendengar cerita ini. Di desa ini, malam Selasa Kliwon dianggap sebagai malam yang penuh pantangan. Tidak ada yang berani keluar rumah, tidak ada lampu yang dinyalakan, dan tidak ada suara yang boleh terdengar. Semua orang percaya bahwa malam itu adalah waktu ketika "penunggu" desa keluar untuk mencari korban.
Langkahnya terhenti sejenak di depan gapura desa yang terbuat dari kayu jati tua. Di atasnya, ada tulisan dalam aksara Jawa kuno yang tidak bisa ia baca. Namun, di bawahnya ada plakat kecil yang sudah pudar, bertuliskan: "Karangjati: Desa yang Selalu Tertunduk."
“Desa yang selalu tertunduk?” Arini mengernyitkan dahi, membaca tulisan itu dengan rasa penasaran. Apa maksudnya?
Suara burung hantu tiba-tiba terdengar, memecah keheningan. Arini menoleh ke kanan dan kiri, tapi hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi, seperti melindungi desa dari dunia luar. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan perasaan tidak nyaman yang perlahan merayap di dadanya.
Begitu melangkah masuk ke desa, suasananya langsung berbeda. Jalanan tanah yang sempit itu dipenuhi daun-daun kering yang berserakan. Rumah-rumah di kanan dan kiri tampak sunyi, seperti tidak berpenghuni. Beberapa jendela terbuka, menampilkan kegelapan yang pekat di dalamnya. Namun, yang paling mencolok adalah aroma aneh yang tiba-tiba tercium—bau dupa bercampur sesuatu yang busuk.
Penduduk desa yang sempat ia temui hanya menatapnya dengan tatapan curiga. Seorang kakek tua yang duduk di bangku kayu di depan rumah bahkan buru-buru masuk begitu melihatnya. Arini mencoba tersenyum, tapi tidak ada balasan.
“Permisi, Pak,” sapa Arini pada seorang pria muda yang sedang menimba air di sumur. Tapi pria itu hanya menatapnya sekilas sebelum bergegas pergi, bahkan meninggalkan embernya yang setengah terisi air.
Perasaan tidak nyaman itu semakin kuat. Namun, Arini menepisnya. “Ini cuma sugesti,” katanya pada diri sendiri.
Tujuannya jelas: rumah Pak Darsa, seorang penulis terkenal yang menghilang saat meneliti desa ini. Ia berharap bisa menemukan petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi. Rumah itu terletak di ujung desa, hampir bersandar pada dinding hutan yang lebat.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, Arini tiba di depan rumah kayu yang tampak seperti tidak dihuni selama bertahun-tahun. Atapnya sudah penuh dengan lumut, dan dinding kayunya mulai lapuk. Pintu depan terbuka sedikit, memperlihatkan bagian dalam rumah yang gelap.
“Permisi? Pak Darsa?” panggil Arini dari luar. Tidak ada jawaban.
Dia melangkah masuk, langkahnya diiringi suara derit lantai kayu yang rapuh. Ruangan itu dipenuhi debu dan kertas-kertas yang berserakan di lantai. Rak buku di sudut ruangan tampak roboh, buku-buku bertebaran di sekitarnya. Di tengah kekacauan itu, ada sebuah meja tua yang di atasnya terdapat sebuah buku catatan besar.
Arini mendekati meja itu dan membuka buku catatan tersebut. Tulisan tangan Pak Darsa memenuhi halaman-halaman awalnya. Beberapa paragraf pertama berisi catatan tentang tradisi desa dan mitos Selasa Kliwon. Namun, di tengah halaman, sebuah kalimat ditulis dengan tinta merah yang sudah memudar:
"Jangan pernah menatap langsung ke matanya di malam Selasa Kliwon."
Kalimat itu membuat Arini tertegun. Dia membacanya berulang-ulang, mencoba memahami maksudnya. Siapa yang dimaksud? Dan kenapa?
Saat dia asyik membaca, suara seperti langkah kaki terdengar dari lantai atas. Pelan, tapi jelas. Arini mendongak, menatap langit-langit rumah yang penuh sarang laba-laba. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Dia mencoba mengabaikan suara itu, berpikir mungkin itu hanya hewan kecil seperti tikus atau kucing. Namun, langkah kaki itu semakin keras, seperti sengaja menantang keberaniannya.
Dengan hati-hati, Arini menaiki tangga kayu yang sempit menuju lantai atas. Tangga itu berderit di setiap pijakan, membuat suasana semakin mencekam. Di atas, ada sebuah kamar dengan pintu yang setengah terbuka. Dari celah pintu, dia bisa melihat sebuah cermin besar di dalam kamar.
Arini memutuskan untuk masuk, meskipun setiap insting di tubuhnya mengatakan dia harus lari. Cermin itu berdiri di sudut ruangan, tampak tua dengan bingkai kayu yang diukir rumit. Saat dia mendekat, sesuatu di dalam cermin itu menarik perhatiannya.
Bayangan seorang perempuan dengan rambut panjang berdiri membelakanginya, meskipun tidak ada siapa pun di ruangan itu selain dirinya.
Arini mematung. Napasnya tercekat, dan lututnya lemas. Namun, sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, perempuan dalam cermin itu perlahan memiringkan kepalanya, seolah mendengar sesuatu.
Kemudian, dengan gerakan yang cepat dan tidak wajar, perempuan itu membalikkan badan. Wajahnya penuh luka, matanya merah menyala, dan mulutnya menyeringai lebar hingga memperlihatkan deretan gigi tajam.
Arini tidak bisa menahan diri. Dia menjerit dan berlari menuruni tangga tanpa peduli pada apa pun. Dia tersandung di anak tangga terakhir, jatuh ke lantai, tapi segera bangkit dan terus berlari keluar dari rumah itu.
Di luar, malam sudah tiba. Suara gamelan yang samar terdengar dari arah hutan, membuat suasana semakin mencekam. Saat dia berbalik untuk melihat ke arah rumah, dia melihat sosok perempuan itu berdiri di depan pintu, menatapnya dengan mata merah yang bersinar di kegelapan.
Malam itu, Arini sadar bahwa dia telah membuka pintu menuju sesuatu yang seharusnya tetap terkunci.
Daftar bab
27 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








