
Tabib Sakti Pembangkit Gairah
mygemini|Bersambung
- Jumlah kata
- 122.0K
- Popular
- 14.1K
- Subscribe
- 1.1K
- Jumlah kata
- 122.0K
- Popular
- 14.1K
- Subscribe
- 1.1K
Sinopsis
Agus Kuncoro seorang pemuda impoten yang terpaksa meneruskan profesi sebagai tabib desa karena wasiat sang kakek sebelem meninggal. Ternyata sang kakek mewariksan sebuah ramuan khusus dan buku resep pengobatan herbal kuno yang halamannya masih tersegel. Ia harus menyelesaiakan misi agar segel dari buku resep misterius peninggalan kakeknya terbuka sempurna.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Wasiat di Ujung Nafas.
"Sisa karungnya sudah masuk semua, Juragan," lapor Agus, mengusap lehernya yang lengket oleh peluh.
Pria tambun di depannya hanya melempar dua lembar uang sepuluh ribuan ke atas meja kayu dengan tatapan merendahkan.
"Ambil upahmu hari ini, Gus," dengus Karto. "Kalau bukan karena Kakek Darmo itu sesepuh desa yang kuhormati, aku tidak sudi mempekerjakan kuli cacat sepertimu."
Agus memungut lembaran lecek itu dalam diam. Di sudut gudang, tiga kuli panggul lainnya tertawa terbahak-bahak.
"Percuma badanmu kekar, Gus!" cibir Manto sambil memukul paha temannya. "Di bawah sana pusakamu mati lemas, kan?"
"Dengar-dengar, senjatanya layu gara-gara kualat ilmu gaib kakeknya sendiri," timpal Jarot diiringi seringai ejekan.
Gelak tawa mereka kian beringas hingga menggebrak meja. Agus hanya bisa menggigit bagian dalam bibirnya kuat-kuat sampai mengecap anyir darah.
Tiga tahun lalu, kecelakaan jatuh dari pohon merenggut kejantanannya, dan aib disfungsi ereksi itu kini menjadi hiburan murahan warga Desa Watusari.
"Buktikan kalau kamu normal, Gus!" seru Manto lagi. "Si Janda Ningsih asisten kakekmu itu montoknya bukan main. Masa kamu diam saja serumah sama dia?"
Dada Agus bergemuruh hebat. Tangannya mengepal erat, menahan amarah yang nyaris meledak. Namun, melawan mereka hanya akan memutus satu-satunya sumber penghasilannya saat ini.
"Saya permisi pulang, Juragan," pamit Agus, membalikkan badan dan bergegas pergi.
Suara cemoohan itu seolah terus mengekor, menggerogoti harga dirinya sepanjang jalan setapak menuju rumah.
Setibanya di sana, pintu depan klinik Kakek Darmo tampak terbuka lebar menyambut terik matahari siang. Begitu Agus melangkah masuk, aroma menyengat dari rebusan jamu langsung merayapi rongga penciumannya.
"Tumben jam segini sudah pulang, Gus?" tegur Ningsih dari balik tirai pembatas.
Janda itu melangkah keluar membawa baskom seng berisi air keruh. Daster batik selututnya yang sedikit basah mencetak jelas lekuk tubuhnya yang padat.
"Iya, Mbak. Kebetulan beras yang datang tidak sebanyak biasanya," jawab Agus, cepat-cepat menundukkan pandangan.
Ejekan kotor Manto di gudang tadi kembali berputar di kepalanya. Kehadiran Ningsih di depannya justru mempertegas kecacatan fatalnya sebagai laki-laki.
Pria normal pasti berdebar melihat pemandangan ini, tetapi senjatanya mati lemas tanpa reaksi sedikit pun.
"Cepat masuk ke kamar belakang, Gus. Sepertinya napas Kakek Darmo makin pendek," ucap Ningsih dengan nada panik, menarik pergelangan tangan Agus.
Agus menepisnya pelan, lalu bergegas mendahului asisten kakeknya itu.
Di atas kasur kusam itu, Kakek Darmo terbaring kaku. Keringat dingin membasahi dahinya. Kondisinya sangat memprihatinkan.
"Gimana keadaannya, Kek?" Agus berlutut, menggenggam telapak tangan kakeknya yang terasa sedingin es.
Kakek Darmo membuka kelopak matanya perlahan. "Kamu sudah pulang, Gus," bisiknya teramat parau.
Agus menelan ludah dengan susah payah. Pria rentan ini adalah satu-satunya tameng hidup dan keluarga yang ia miliki. Jika Kakek Darmo tiada, ia benar-benar akan menjadi pemuda sebatang kara yang dikutuk kesialan.
"Kakek jangan banyak bicara dulu. Mbak Ningsih sudah siapkan jamunya, kan?" kata Agus, suaranya meninggi menutupi kepanikan.
Kakek Darmo menolak dengan isyarat lemah.
"Sepertinya waktuku sebentar lagi habis."
"Jangan bicara sembarangan, Kek!"
Tiba-tiba, pria tua itu terbatuk sangat keras.
Darah kental gelap menyembur, menodai sarung bantal yang berbau apak.
"Ya Tuhan! Kek, bertahanlah!" Agus menekan dada kakeknya, mencoba melonggarkan pernapasannya yang tersendat.
Tangan keriput Kakek Darmo meraba lengan Agus dengan sisa-sisa tenaga. "Jaga dirimu baik-baik, Gus. Teruskan... praktik pengobatan Kakek ini."
"Jangan bercanda, Kek. Membedakan daun salam dan daun jambu saja aku masih keliru. Bagaimana aku bisa meneruskan praktik Kakek?"
"Nanti kamu tahu sendiri caranya. Jangan biarkan klinik warisan ini mati bersamaku, Gus...."
Seketika napas Kakek Darmo tersengal hebat. Tubuh rentanya mengejang kaku menahan tarikan gaib, lalu berhenti bergerak total dalam sekejap. Genggaman tangannya di lengan Agus merosot lemas, membentur papan kayu ranjang.
"Mbah Darmo! Jangan tinggalkan kami!" tangis Ningsih pecah seketika meratapi jasad majikannya.
Sementara itu, Agus hanya terdiam mematung. Ia membiarkan air matanya menetes jatuh ke ubin tanpa isakan. Ia membenci dirinya sendiri; cacat, miskin, dan sama sekali tidak berdaya mengubah nasib.
Jarum jam di dinding menunjuk angka delapan malam. Para warga yang membantu pemakaman telah pulang, begitu pula Ningsih yang kembali ke rumahnya di sebelah.
Rumah kayu peninggalan kakeknya kini tenggelam dalam sunyi yang mencekam.
Agus berdiri kaku di depan lemari pakaian dari kayu jati.
Bau kapur barus menyengat tajam saat ia membuka daun pintunya. Ia sengaja membereskan pakaian kakeknya demi mencari kesibukan fisik, meski otaknya terus dihantui utang pada lintah darat bernama Darman yang akan jatuh tempo besok pagi.
"Tega sekali Kakek menyuruhku meneruskan praktik tanpa buku panduan," gerutu Agus kesal, menahan sesak di dadanya.
Ia mengeluarkan tumpukan baju pudar dan meletakkannya rapi di atas dipan. Tangannya kemudian bergerak mekanis meraba laci paling bawah yang terasa macet.
Krak!
Agus menarik gagangnya menggunakan kedua tangan dengan sentakan keras. Bunyi kayu bergesekan terdengar nyaring.
Klik!
Laci itu akhirnya terbuka lebar, meniupkan debu tipis ke wajah Agus. Pria itu membelalak kaget. Sama sekali tidak ada sisa pakaian di dalamnya.
Hanya ada sebuah kotak kayu hitam kusam yang tersembunyi di balik kain usang. Ia mengangkat kotak itu. Kayunya terasa padat, berat, dan dingin menyentuh kulit.
"Benda pusaka apa ini?" gumam Agus pelan meneliti serat kayunya.
Ia membawa kotak hitam itu ke atas meja nakas. Dengan tenaga penuh, ibu jarinya menekan pengait kuningan yang sudah berkarat.
Terdengar bunyi klik, disusul decit engsel besi yang berputar ke atas.
Agus menyipitkan mata. Hanya ada dua benda di dalam kotak tersebut: sebuah botol kaca bening berisi cairan kekuningan yang tenang, dan sebuah buku usang bersampul kulit binatang tebal berwarna cokelat pekat.
Mengabaikan botol kaca itu, Agus meraih buku kulit tersebut dengan tangan gemetar penuh harap.
Jika di dalamnya berisi resep pengobatan yang manjur, ia yakin bisa melunasi utang Darman esok pagi tanpa perlu baku hantam.
Agus membuka lembar pertama buku itu cepat-cepat. Nihil. Halaman perkamen itu kosong melompong.
Ia membalik ke halaman kedua dengan kasar. Hasilnya persis sama. Hingga ia membalik lembar terakhir, kertas tebal itu bersih tanpa noda tinta sedikit pun. Buku itu sepenuhnya kosong.
Rasa frustrasi yang memuncak membuat Agus membanting buku itu ke atas kasur.
"Sialan! Semuanya seperti mempermainkanku!" umpatnya seraya meremas rambut pendeknya sendiri.
Namun, tepat saat ia menekan pelipis menahan pening, sudut matanya menangkap sebuah kejanggalan.
Cairan kekuningan di dalam botol kaca itu tiba-tiba bergolak. Airnya mendidih secara misterius tanpa sumber panas. Sumbat gabusnya terdorong perlahan, menahan tekanan gas yang tak kasat mata.
Pop!
Sumbat gabus itu terlempar ke udara dibarengi letupan keras yang memekakkan telinga. Cairan berbuih meluap membasahi bibir botol.
Refleks, Agus memundurkan langkah hingga punggungnya menabrak tiang ranjang kakeknya.
Belum sempat otaknya mencerna keanehan magis di depannya, pintu depan rumah kayu itu mendadak digedor sangat brutal dari arah luar.
Daftar bab
104 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
104 bab








