
BLOOD GOD'S LEGACY
xan equites|Bersambung
- Jumlah kata
- 24.3K
- Popular
- 192
- Subscribe
- 52
- Jumlah kata
- 24.3K
- Popular
- 192
- Subscribe
- 52
Sinopsis
Alcandros Asterios, Ksatria Terakhir dari Ordo Eterna, gugur dalam pertempuran melawan Zethran, Dewa Penghancuran. Namun sebelum kematiannya, dia bersumpah akan kembali dan menebas kepala sang dewa dengan tangannya sendiri. Takdir menjawab sumpahnya. Alcandros terlahir kembali sebagai Damianos Aethelwynn, putra tertua dari keluarga bangsawan terkuat di Kerajaan Solmaria. Namun, dunia ini berbeda—sebuah peradaban yang lebih maju, di mana sihir dan kekuatan para dewa menjadi fondasi segalanya. Dengan ingatan kehidupan lamanya dan kekuatan misterius yang terbangun dalam tubuh barunya, Damianos bertekad untuk menjadi lebih kuat. Dia akan melampaui batas yang pernah dia capai, menghancurkan musuh-musuhnya, dan pada akhirnya, membalas dendam pada Zethran. Namun, dunia ini memiliki rahasianya sendiri. Darah para dewa mengalir dalam nadinya, membawa takdir yang lebih besar dari yang pernah dia bayangkan. Di antara kekuatan kuno, konspirasi kerajaan, dan musuh yang lebih berbahaya dari sekadar seorang dewa penghancuran… Bisakah Damianos menaklukkan dunia ini dan mencapai tujuan akhirnya? Atau akankah dia kembali tenggelam dalam bayangan kehancuran?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 : Kejatuhan Sang Pahlawan
Bab 1: Kejatuhan Sang Pahlawan
Langit yang memerah seperti darah menjadi saksi dari kehancuran yang tak terelakkan. Angin yang berhembus membawa aroma anyir, bercampur dengan asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa. Tanah yang dulunya subur kini hanya tersisa puing dan mayat-mayat yang bergelimpangan.
Di antara lautan api dan kehancuran itu, seorang pria berdiri dengan gagah, meskipun tubuhnya penuh luka dan darah. Rambutnya yang panjang telah berantakan, baju zirahnya retak dan penuh goresan pedang. Namun, meskipun tubuhnya hampir tak mampu lagi berdiri, matanya tetap menatap tajam ke depan.
Dialah Alcandros Asterios, Ksatria Terakhir dari Ordo Eterna.
Legenda yang namanya pernah disanjung di seluruh negeri, kini berdiri sendiri di hadapan malapetaka yang tak bisa dihindari.
Di hadapannya, berdiri sesosok makhluk yang bahkan lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.
Zethran, Dewa Penghancur.
Raksasa yang tubuhnya diselimuti api hitam, dengan mata yang berkilat merah darah. Udara di sekitarnya terasa berat, seakan menekan siapa pun yang cukup bodoh untuk berdiri terlalu dekat.
"Akhirnya, tinggal kau seorang," suara Zethran bergema di medan pertempuran yang sunyi.
Alcandros menghela napas, mencengkeram gagang pedangnya yang sudah retak. Orpheus, senjata yang telah menemaninya dalam ratusan pertempuran, kini hanya tinggal pecahan dari kejayaannya yang dulu.
"Sepertinya begitu," jawab Alcandros, suaranya serak tetapi masih penuh keberanian.
Zethran menyeringai. "Aku harus mengakui, kau lebih kuat dari yang kuduga. Tapi pada akhirnya, manusia tetaplah lemah. Tidak peduli seberapa keras kau bertarung, takdir tetap tak bisa kau lawan."
Alcandros tertawa kecil, meskipun darah mengalir dari sudut bibirnya. "Takdir, ya?"
Dia mengangkat pedangnya, meskipun tangannya gemetar.
"Aku tidak peduli dengan takdir. Aku hanya peduli pada satu hal,yaitu membunuhmu."
Zethran mendengus. "Kau masih berani berkata seperti itu di hadapanku?"
Dalam sekejap, makhluk itu mengangkat tangannya yang raksasa. Langit tiba-tiba menjadi gelap, dan pusaran energi hitam mulai terbentuk di udara. Aura kehancuran menyebar, membuat tanah di bawahnya mulai retak dan hancur.
Serangan ini bukan hanya untuk membunuh Alcandros. Ini adalah serangan yang akan menghapusnya dari keberadaan.
Namun, Ksatria Terakhir itu tidak mundur.
Dia tahu ini adalah akhirnya. Tetapi jika ini adalah akhir, maka dia akan menghadapi kematiannya dengan kepala tegak.
Dengan seluruh sisa kekuatannya, dia berlari menuju Zethran.
Langkahnya berat, tetapi hatinya ringan.
Pedangnya terangkat, siap untuk serangan terakhirnya.
"Jika aku mati hari ini..." gumamnya, matanya bersinar dengan tekad.
"AKU BERSUMPAH AKAN KEMBALI!"
Dan tepat saat dia mengayunkan pedangnya, energi hitam itu menelannya.
Dunia menjadi gelap.
Sunyi.
Dan Alcandros Asterios pun menghilang dari dunia ini.
Daftar bab
37 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








