
Tukang Ojek Pemikat Hawa
senjamalam"|Bersambung
- Jumlah kata
- 58.3K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 207
- Jumlah kata
- 58.3K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 207
Sinopsis
Lengkap sudah penderitaan Hasan—diusir dan diceraikan oleh Maya, istrinya, hanya karena hidup melarat sebagai tukang ojek desa. Mengandalkan harga diri dan tubuh atletisnya, Hasan nekat merantau ke Jakarta demi mengubah nasib.Di tengah riuh ibukota, pesona Hasan justru memikat perhatian wanita-wanita kelas atas, termasuk Sisca, seorang direktur muda nan anggun dan dingin. Pertemuan tak terduga dalam sebuah perjalanan ke Bekasi membawa Sisca terpesona oleh ketampanan, ketegasan, serta integritas Hasan yang menolak uang tip secara terhormat. Takdir pun mulai berputar, membuka lembaran baru dalam perjalanan Hasan membuktikan diri di ibukota.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Diceraikan dan Diusir
Kertas surat cerai bermaterai itu dilempar tepat ke dada Hasan. Kertas itu jatuh melayang ke lantai semen rumah kontrakan mereka yang sempit.
"Tanda tangani, Hasan! Aku sudah tidak sudi hidup melarat bersamamu!" bentak Maya, matanya membelalak penuh amarah.
Hasan memandangi istrinya dengan tatapan tak percaya. Usia pernikahan mereka bahkan belum genap dua bulan.
"Maya... pernikahan kita baru seumur jagung. Kenapa kamu tega melakukan ini?"
"Seumur jagung?" Maya tertawa sinis, merapikan rambut pendeknya. "Justru karena baru seumur jagung aku sadar! Penghasilanmu dari narik ojek di desa ini cuma cukup buat beli beras sama tempe! Mana bisa kamu membahagiakan aku?"
"Aku bekerja keras dari pagi sampai malam, Maya. Selalu ada rezeki kalau kita sabar—"
"Sabar? Sabar sampai aku mati kelaparan?!" potong Maya tajam. Ia melangkah mendekati Hasan, menunjuk-nunjuk dada bidang suaminya. "Percakapan ini selesai. Kamu cuma punya tubuh kekar dan wajah tampan, tapi tidak punya uang! Ketampananmu itu tidak bisa dimakan, Hasan!"
Hasan menghela napas panjang. Otot tangannya menegang, menahan gemuruh di dadanya. "Jadi cuma karena harta kamu membuangku?"
"Ya! Buat apa punya suami tampan dan gagah kalau tiap hari tetangga mengejekku karena suamiku cuma tukang ojek miskin?" Maya menyodorkan pulpen. "Cepat tanda tangan!"
Dengan jemari yang bergetar menahan harga diri yang terinjak, Hasan mengambil pulpen itu dan membubuhkan tanda tangannya.
"Puas kamu?" Suara Hasan terdengar berat dan dalam.
"Bagus. Sekarang angkat kaki dari rumah ini!" seru Maya tanpa rasa iba sedikit pun.
Hasan berjalan keluar dari rumah kontrakan kecil itu hanya membawa satu tas ransel lusuh berisi beberapa helai pakaian. Begitu kakinya melangkah di jalanan desa, bisik-bisik warga langsung menyambutnya.
"Lihat tuh, si Hasan. Baru menikah sudah diceraikan Maya," cerocos Bu RT yang sedang berkumpul di warung.
"Lagian sok-sok nikah. Tampan doang, tapi tidak punya masa depan. Cuma tukang ojek kampung!" timpal wanita lain seraya tertawa mencibir.
"Kasian ya, dada kekar tapi dompet kempes!"
Hasan mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia sengaja mempercepat langkah kakinya, mengabaikan tatapan remeh dan tawa mengejek dari tetangga desa yang selama ini ia kenal.
Hasan berhenti di pinggir jalan raya, menunggu bus jurusan Jakarta. Ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela warung yang tutup. Wajahnya yang bersudut tegas, rahang kokoh, dan tubuhnya yang tinggi atletis memang terlihat sangat menonjol. Sayangnya, di desa, penampilan itu hanya jadi bahan cemoohan.
'Kalau di desa aku cuma dihina dan dianggap sampah... aku akan membuktikan kemampuan diriku di Jakarta!' batin Hasan membara.
Beberapa hari kemudian, riuh ibukota menyambut Hasan. Berbekal tabungan terakhirnya, ia menyewa sepeda motor dan mendaftar sebagai pengemudi ojek online.
Siang itu, matahari Jakarta menyengat terik. Hasan berdiri di pinggir jalan kawasan perkantoran mewah di Jaksel. Ia membuka jaket ojeknya sebentar karena gerah, memperlihatkan kaus ketat warna hitam yang membungkus dada bidang dan otot lengannya yang terbentuk sempurna. Rambutnya yang sedikit basah oleh keringat justru menambah kesan maskulin yang kuat.
"Aduh, Mbak... lihat driver yang di sana itu deh," bisik seorang wanita dengan setelan kantor ketat kepada temannya saat berjalan keluar dari lobi gedung.
"Mana? Yang pakai jaket hijau itu?" Temannya menengok, matanya melotot. "Astaga... tampan banget! Dadanya tebal begitu, mukanya mirip aktor film action!"
"Coba cek aplikasi! Semoga kita dapat driver yang itu!"
Tak jauh dari situ, sebuah mobil sedan mewah berhenti. Seorang wanita berparas sangat cantik dengan gaun merah elegan—Sisca, direktur wanita muda yang terkenal dingin—keluar dari pintu belakang. Langkah kakinya terhenti begitu matanya secara tidak sengaja menangkap sosok Hasan yang sedang mengusap keringat di lehernya.
Sisca menatap Hasan tanpa berkedip selama beberapa detik.
'Tukang ojek? Tapi aura dan fisiknya... luar biasa,' batin Sisca dengan jantung yang mendadak berdebar lebih cepat.
Ponsel di saku Hasan berbunyi nyaring. Sebuah notifikasi pesanan masuk.
Tring!
Hasan melihat layar ponselnya, lalu memakai kembali helmnya dengan gerakan yang sangat gagah. Ia tersenyum tipis.
"Jakarta... permainan baru saja dimulai."
"Mas Hasan! Sesuai aplikasi, ya!"
Seorang wanita dengan setelan kantor serba ketat itu melambaikan tangan dari depan lobi. Langkah kakinya tergesa, hak tingginya menepuk trotoar berirama cepat.
"Iya, Mbak. Atas nama Mbak Rini?" tanya Hasan seraya menyodorkan helm cadangan.
"Betul! Duh, untung Masnya cepat sampai," sahut Rini. Matanya membelalak kagum saat menatap wajah Hasan dari dekat, lalu menyapu pandang ke arah dada bidang Hasan yang terbungkus kaus ketat di balik jaket ojek yang tak dikancing sempurna. "Mas... aslinya ganteng banget, ya. Mirip model majalah."
"Bisa saja, Mbak. Monggo naik, helmnya dikancingkan dulu supaya aman," balas Hasan tersenyum tipis, tenang tanpa sedikit pun terbawa perasaan.
"Siap, Mas Ganteng! Tarikkk!"
Hasan menyalakan mesin motor, menarik gas halus, lalu membelah kemacetan Jakarta. Selama perjalanan pertamanya itu, ucapan syukur tak berhenti bergema di dalam hatinya.
Alhamdulillah... rezeki pertama di Jakarta. Langkah awal untuk bangkit.
Tak butuh waktu lama, penumpang pertamanya tiba di tujuan dengan selamat. Setelah menerima pembayaran dan rating bintang lima, Hasan kembali mengarahkan sepeda motornya menuju kawasan perkantoran mewah di Jakarta Selatan. Ia memarkirkan motornya tepat di seberang gedung pencakar langit berlantai puluhan yang tampak megah berbalut kaca kebiruan.
"Woy, Bro! Baru kelihatan, pengemudi baru ya?" tegur seorang pria paruh baya bernama Bang Jaka, sesama pengemudi ojek online yang sedang duduk di atas jok motornya.
"Iya, Bang. Baru hari ini mulai narik di sini," sahut Hasan ramah seraya mematikan mesin motor.
"Pantas! Tadi begitu kamu pergi antar penumpang, anak-anak kantor cewek pada bisik-bisik. Pada nanyain namamu!" gelak Bang Jaka menepuk bahu Hasan. "Muka sama badanmu itu lho, salah tempat kalau cuma buat narik ojek!"
Hasan terkekeh pelan. "Halah, Bang. Yang penting rezekinya halal. Sama-sama nyari makan."
"Tapi beneran, Bro. Gedung megah di depan kita ini namanya Grahadi Tower. Isinya orang-orang kaya kelas atas semua," ujar Bang Jaka seraya menunjuk gedung megah tersebut. "Khususnya direktur utamanya, Bu Sisca. Cantik luar biasa, tapi dinginnya minta ampun. Jangankan disapa, dilirik saja orang bisa langsung merinding."
Hasan memandang ke arah lobi gedung Grahadi Tower. Ia teringat wanita bergaun merah elegan yang tadi sempat memandangnya tanpa berkedip.
"Bu Sisca...?" gumam Hasan pelan.
"Napa, Mas? Mau dapet orderan dari sekretaris atau bosnya sekalian?" celekit seorang driver muda di sebelah mereka sambil tertawa.
"Gak usah aneh-aneh," balas Hasan tersenyum. "Yang penting ada orderan masuk saja sudah syukur."
Tring!
Bunyi nyaring dari ponsel di genggaman Hasan kembali memecah obrolan mereka. Hasan langsung melihat layarnya.
"Dapat lagi, Mas?" tanya Bang Jaka.
"Iya, Bang. Penjemputannya tepat di depan lobi Grahadi Tower," jawab Hasan seraya memakai helmnya kembali.
"Wah, mantap! Langsung cabut, Bro!"
Hasan memutar kunci kontak, menstarter motornya, dan perlahan menyeberang menuju area drop-off lobi gedung megah tersebut, siap menyambut takdir barunya di ibukota.
Daftar bab
51 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








