
- Jumlah kata
- 138.8K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 101
Sinopsis
Hendri Danantya, seorang pengusaha kontraktor, pindah ke suatu desa di Cianjur, untuk menyelesaikan proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan dua kecamatan. Hendri tidak menduga bila kepindahannya itu akan menimbulkan berbagai masalah. Dimulai dari hilangnya Irshava, (istri Hendri), hingga perjumpaan Hendri dengan Nyai Centini, legenda wilayah itu. Hendri yang dibantu rekan-rekannya sesama anggota perguruan olah napas, berjuang keras untuk mengungkap tabir misteri tentang Nyai Centini.
Ulasan
3 ulasan
Aulia Hazuki
20/7/25 01:35
Hai kak semangat terus nulisnya ya 🙏 kalau berkenan boleh mampir ke novelku "Rumah Laba-laba" dan subscribe balik terima kasih banyak kak 🙏
Rr.Tasyari
17/3/25 02:20
Di tunggu update nya ya kak aku penasaran kelanjutannya .. seru banget aku penasaran akankan banyak korban lagi
Bab 01 - Hilang
01
Bunyi kentongan bergema di seantero Desa Sukaresmi, pinggir Kota Cianjur. Puluhan orang membentuk kelompok dan mengelilingi seluruh penjuru desa, untuk mencari orang yang dikabarkan hilang sejak tadi pagi.
Irshava Kartawinata, dilaporkan telah menghilang oleh suaminya, Hendri Danantya. Menurut keterangan Ningrum, asisten rumah, Irshava pergi ke pasar sekitar jam 9 pagi, dengan menggunakan mobil SUV putih miliknya.
Akan tetapi, hingga sore menjelang, Irshava tak kunjung kembali. Ningrum panik dan segera menelepon Hendri yang tengah berada di tempat proyek jembatan penyambung dua kecamatan.
Hendri mengerahkan semua karyawan proyek untuk ikut mencari keberadaan istrinya. Hendri juga melaporkan berita itu pada kepala desa, yang segera meminta bantuan warga untuk mencari Irshava.
Tidak ada warga yang berpangku tangan. Sebab mereka menyukai pasangan Hendri dan Irshava yang ramah serta sopan pada siapa pun. Sehingga mereka ikut membantu mencari perempuan berparas ayu tersebut.
Malam bergerak kian larut. Belasan mobil memasuki pekarangan besar rumah sewaan Hendri. Semua penumpangnya turun dan disambut Ningrum dengan tangisan.
"Stop dulu nangisnya, Rum. Sekarang, coba ceritakan semuanya dengan detail, karena waktu Hendri telepon, suaranya terputus-putus," tukas Wirya Arudji Kartawinata, Kakak tertua Irshava, sekaligus sahabat Hendri sejak masih kuliah dulu.
Ningrum mengangguk patuh. Dia mengusap pipinya yang basah dengan tisu, lalu berkata, "Teh Irsha pergi ke pasar kecamatan, sekitar jam 9 tadi. Tapi, sampai jam 3 sore, dia nggak pulang juga."
"Aku sudah belasan kali kirim pesan dan nelepon Teteh, tapi nggak masuk-masuk. Akhirnya aku telepon Kang Hendri, yang langsung pulang ke sini buat lapor ke kepala desa. Lalu, Kang Hendri dan semua pekerja proyek, berpencar untuk mencari Teteh," terang Ningrum.
Wirya tertegun sesaat. Dia memaksa otaknya untuk berpikir cepat, kemudian Wirya memutar badan dan berbincang dengan rekan-rekannya sesama petinggi PBK.
Ketujuh pria berkaus biru tua, berpencar untuk mendatangi asisten masing-masing. Mereka mengatur rencana pencarian di berbagai tempat, lalu menaiki beberapa mobil Jeep Mercedes-Benz hitam.
Harsa Kartawinata, Ayah Irshava dan Wirya, mengambil kunci motor Hendri dari laci buffet. Kemudian Harsa mengeluarkan motor matic dari garasi dan menyalakan mesinnya.
Arsyad Danantya, Ayah Hendri, membonceng di belakang Harsa. Motor segera melaju keluar dari pekarangan luas itu dan menuju kediaman kepala desa.
Ningrum dan Murti, Ibu Irshava, hanya bisa termangu sambil memandangi motor yang bergerak menjauh. Keduanya saling menatap, kemudian Murti mengajak Ningrum memasuki rumah, dengan diikuti beberapa perempuan lainnya.
Belasan menit terlewati, kelompok Wirya telah bertemu dengan tim Hendri, di tepi hutan antara dua kampung. Para warga tengah menyisir hutan, karena tempat itu sering terjadi kecelakaan yang menyebabkan banyak kendaraan terguling ke jurang.
"Tenang, Hen," bisik Wirya sambil merangkul pundak Adik iparnya.
"Aku takut dia kenapa-kenapa," sahut Hendri.
"Intuisiku mengatakan, dia dalam kondisi sehat."
"Ya, aku juga sudah coba menerawang, sinyal kehidupannya masih kuat, tapi lokasinya kayak jauh banget."
Wirya mengangguk mengiakan. "Pak Mulyadi, sudah dihubungi?"
"Ya. Beliau sedang dalam perjalanan ke sini, sama Zein."
"Bareng pasukan pengejar hantu?"
"Hu um. Bang Zainal dan Bang Rahafi juga mau nyusul."
"Yups. Tadi dia ada nelepon aku, minta share location."
Hendri mengusap wajahnya dengan tangan kanan. "Sebetulnya, dari kemaren, perasaanku sudah nggak enak. Kupikir, akan ada masalah di tempat proyek. Tahunya, beda."
Wirya mengusap pelan punggung sahabatnya. "Kita nggak tahu bakal begini. Jangan menyalahkan dirimu."
"W, kalau dia ketemu, aku minta siapkan satu bodyguard lady khusus buat dia."
"Sudah kubawa orangnya. Ada di rumahmu."
"Siapa?"
"Asmiratih."
"Adik Aditya?"
"Yoih. Dia, kan, ajudan istriku. Tarik aja dulu, buat ngawal Neng Va."
Malam bergerak kian larut. Semua orang sudah lelah dan capai. Wirya yang mengambil alih komando pencarian adiknya, meminta semua orang untuk pulang ke rumah masing-masing dan beristirahat. Supaya bisa mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan pencarian esok hari.
Hendri melangkah gontai memasuki mobil Kakak iparnya. Dia menyandar ke belakang, lalu memijat dahinya yang berdenyut.
Wirya dan Zulfi Hamizan mendampingi Hendri di kursi belakang. Sedangkan Alvaro Gustav Baltissen menemani Yanuar Kaisar, yang bertugas sebagai sopir.
Konvoi kendaraan itu melaju membelah pekatnya malam. Wirya menelepon Asmiratih, dan meminta disiapkan suguhan buat semua anggota rombongan tersebut.
Sesampainya di tempat tujuan, ternyata kepala desa dan beberapa tetua, telah menunggu sejak tadi. Meskipun tubuhnya lelah, tetapi Hendri memaksakan diri untuk menemui para tamu dan berdiskusi.
"Kampung lainnya?" tanya Hendri, sesaat setelah Amran, sang kepala desa, menuntaskan penuturannya.
"Muhun, Kang," jawab Amran.
"Kita mesti mengerahkan banyak orang, Pak. Saya tidak mau merepotkan."
Amran menggeleng. "Tidak merepotkan. Justru kami tulus membantu. Neng Irsha dan Akang selama ini bersikap baik pada warga. Kami juga terbantu, dengan adanya proyek itu, banyak warga kami yang bisa bekerja di sana."
"Selain itu, Kang, sejak ada Neng Irsha, ibu-ibu di kampung ini jadi punya kesibukan tambahan. Yaitu mengerjakan berbagai kerajinan tangan, yang dijual Neng Irsha ke kota."
"Sudah sepatutnya kami membantu Akang. Kami juga sangat berharap agar Neng Irsha bisa segera ditemukan. Apalagi saat ini dia sedang hamil. Rawan, Kang," pungkas Amran.
Hendri memandangi orang-orang di sekitar. Dia mengucap syukur dalam hati, karena mendapatkan teman-teman baru yang sangat baik.
"Hatur nuhun pisan atas bantuannya," ujar Hendri sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Sami-sami, Kang," jawab Amran. Dia melirik rekan-rekannya, lalu dia bertutur, "Kami pamit dulu. Besok pagi, kami ke sini lagi."
Para pria itu berdiri dan bersalaman. Hendri dan yang lainnya mengantarkan kelima tamu ke depan rumah. Setelah tamu-tamu itu menjauh, mereka kembali memasuki ruangan dalam.
Hendri menolak saat ditawarkan makanan oleh Murti. Namun, perempuan tua itu memaksa, hingga sang menantu mau makan.
Murti mengamati lelaki yang telah dikenalnya sejak hampir 20 tahun silam. Murti sudah menyayangi Hendri sejak dulu, karena dia merupakan salah satu sahabat Wirya.
Tatapan Murti beralih pada Zeinharis Abqary, Ubaid Abdullah, Bayu Hendrawan, Zainal Ervansyah dan Rahadi Naratama. Mereka juga merupakan sahabat Wirya dan Hendri, yang rela datang dari jauh untuk membantu mencari Irshava.
Murti mengarahkan pandangan ke dinding, di mana foto pernikahan Irshava dan Hendri berada. Murti memejamkan mata sambil berdoa dalam hati, agar putri bungsunya bisa segera ditemukan.
Hendri memasuki kamar utama menjelang pergantian hari. Dia bergegas mandi dan berganti pakaian. Kemudian dia menghamparkan sajadah dan menunaikan salat Isya yang disambung dengan Tahajjud.
Selanjutnya, Hendri bersila dan menadahkan kedua tangannya ke atas. Dia mendoakan sang istri sambil menahan rasa tercekat di tenggorokannya.
Hendri sangat takut kehilangan istrinya. Apalagi saat itu Irshava tengah mengandung 4 bulan, dan janin itu telah ditunggu-tunggu kehadirannya semenjak 5 tahun silam.
Hendri memejamkan mata. Meskipun dia terbiasa kuat hati dan tegar, tetapi saat itu Hendri merasa kalah oleh keadaan. Dia hanya bisa memohon bantuan Tuhan, agar bisa menemukan Irshava. Secepatnya.
Daftar bab
130 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
130 bab








