
Si Juki Idaman Wanita
Marshmallow|Bersambung
- Jumlah kata
- 165.6K
- Popular
- 23.6K
- Subscribe
- 2.3K
- Jumlah kata
- 165.6K
- Popular
- 23.6K
- Subscribe
- 2.3K
Sinopsis
Warning! Cerita 21+ "Dasar miskin! Sudah saya bilang jauhi anak saya. Kamu tuli atau dungu, hah?! Marjuki alias Juki, pemuda penjual asongan yang dihina dan direndahkan oleh orang tua kekasihnya secara tidak sengaja bertemu kakek tua misterius yang memberinya koin keberuntungan. Hidupnya berubah. Orang-orang yang dulu menghinanya, kini bertekuk lutut di kakinya.
Ulasan
2 ulasan
Pengunjung
13/10/26 04:40
kapan mau di lanjut kak udah jauh ini babya biar lanjut lagi ceritanya kakbjgn diulang ya kak biar enak nyambung ceritanya kalau bisa di perpanjang lagi ceritanya kk
Pengunjung
27/9/26 14:16
mudah" gak di ulang dari awal lagi ya kakk dan ceritanya bagus biar setiap malam baca ya kk kaya cerita si Bejo bagus sayang di ulang dari awal lagi saya udah jauh bacanya tp di ulang dari awal mknya saya berharap cerita kali ini gak ya kk
Bab 1
"Rokok! Kopi! Air mineral!"
Suara Juki memecah keramaian terminal Wanajaya yang padat oleh bus-bus antar kota. Rak kayu kecil yang digantung di depan dadanya dengan tali rafia bergoyang-goyang mengikuti langkahnya, berisi rokok eceran, kopi sachet, dan beberapa botol air mineral yang sudah tidak dingin lagi. Ia menyelinap di antara bus-bus yang berderet, mengetuk-ngetuk pintu yang terbuka, menawarkan dagangan ke penumpang yang menunggu dengan wajah bosan.
Seorang sopir bertubuh tambun mengulurkan tangan. "Ji Sam Su satu."
"Siap, Bang."
Juki menyerahkan sebatang rokok dan menerima uang receh. Begitulah hidupnya sehari-hari. Seribu, dua ribu, tiga ribu, dikumpulkan pelan-pelan seperti semut mengangkut remahan roti.
Di usianya yang ke dua puluh dua tahun, pemuda itu sebenarnya memiliki wajah tampan bawaan lahir. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, matanya tajam seperti tokoh protagonis di film layar lebar. Hanya saja matahari terminal dan debu jalanan sudah menggelapkan kulitnya, dan kemiskinan sudah menenggelamkan segala potensinya. Kalau saja ia terlahir di keluarga berada, mungkin ceritanya akan sangat berbeda.
"Ki!"
Juki menoleh. Dari arah gerbang terminal, seorang gadis berjalan menghampirinya. Gadis itu memakai seragam SMA putih abu-abu, rambutnya panjang diikat ekor kuda, tas ranselnya tersandang di satu bahu, dan tangan kirinya menjinjing kantong plastik berisi kotak makanan.
Namanya Lilis. Satu-satunya hal indah dalam hidup Juki yang serba pas-pasan.
"Aku bawain makan siang." Lilis tersenyum, menyodorkan kantong plastik itu. "Nasi goreng sama telur dadar, bikin sendiri tadi pagi."
Juki menerimanya dengan senyum lebar yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Sudah setahun mereka berpacaran diam-diam karena ayah Lilis, Pak Haji Nawawi, pemilik toko bangunan terbesar di desa, melarang keras anak gadisnya berpacaran selama masih sekolah, apalagi dengan pemuda yang bekerja sebagai penjual asongan di terminal.
Mereka berdua duduk di bangku halte yang agak sepi di ujung terminal, menikmati waktu berdua yang jarang didapatkan.
"Hari ini pengumuman kelulusan, kan?" tanya Juki sambil membuka kotak nasi. "Gimana hasilnya?"
"Lulus dong." Lilis menyandarkan kepalanya di bahu Juki.
"Selamat ya, Lis. Kamu memang pintar."
Juki makan dengan lahap sementara Lilis bercerita tentang rencana liburan bersama teman-temannya setelah kelulusan. Sesekali Lilis menyeka nasi yang menempel di sudut bibir Juki dengan jari-jarinya, dan Juki tertawa malu. Untuk sesaat, dunia terasa baik-baik saja. Terminal yang panas dan berdebu ini terasa seperti tempat paling indah di dunia.
Tapi dunia tidak pernah membiarkan Juki merasa nyaman terlalu lama.
Sebuah mobil SUV hitam mengkilap melambat di jalan depan halte. Kaca jendela penumpang turun perlahan, dan wajah yang muncul dari dalamnya membuat jantung Juki seketika berhenti berdetak.
Pak Haji Nawawi.
"Lilis!" Suaranya menggelegar seperti petir di siang bolong. Pintu mobil terbuka kasar, dan pria bertubuh besar berperut buncit itu turun dengan muka merah padam, urat lehernya menonjol. "Kamu ngapain di sini sama dia?!"
Lilis tersentak dan langsung berdiri, wajahnya memucat. "B-Bapak—"
"Masuk mobil! Sekarang!"
Dari pintu penumpang lain, ibu Lilis ikut turun. Wanita paruh baya berkebaya mahal itu langsung memelototi Juki dari ujung rambut sampai ujung sepatu ketsnya yang murahan, lalu mendecih jijik.
"Kamu!" Pak Nawawi menunjuk tepat ke wajah Juki, jarinya hampir menyentuh hidung pemuda itu. "Sudah saya bilang jauhi anak saya. Kamu tuli atau dungu, hah?"
“Pak, Juki nggak salah. Lilis yang—” Lilis mencoba membela kekasihnya.
“Diam, kamu! Bapak bilang masuk ke mobil!” tunjuk Pak Nawawi ke mobilnya yang terparkir di sisi jalan.
Tapi Lilis tidak mendengar, ia hanya melangkah mundur.
Juki berdiri, kotak nasi masih di tangannya. "Pak, saya—"
"Saya apa?!" Pak Nawawi maju selangkah dan menepis kotak nasi dari tangan Juki hingga jatuh berserakan di lantai. "Kamu pikir siapa dirimu? Tukang asongan dekil sepertimu mau jadi apa di samping anak saya?"
"Iya, nggak punya malu!" Bu Nawawi menyahut, suaranya melengking. "Baju butut, kumal, bau keringat, rumahnya saja seperti kandang sapi. Mau kasih makan anak saya pakai apa? Rokok sama kopi sachet?"
Beberapa penumpang terminal mulai menoleh. Ada yang berbisik-bisik, ada yang terang-terangan menonton sambil menunjuk-nunjuk. Juki merasakan wajahnya terbakar, bukan oleh matahari tapi oleh rasa malu yang membakar seluruh harga dirinya di hadapan orang-orang yang setiap hari melihatnya berjualan.
Pak Nawawi menoleh ke anaknya. "Lilis! Kamu dengar Bapak tidak?! masuk mobil!" bentaknya.
Lilis menatap Juki dengan mata berkaca-kaca. Tapi ia tidak bisa melawan, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sangat hafal dengan sifat ayahnya, semakin ia melawan, ayahnya akan semakin murka.
Gadis itu akhirnya menunduk dan berjalan menuju mobil dengan langkah berat.
"Lis …," Juki mengulurkan tangan.
"Jangan sentuh anak saya!" Pak Nawawi mendorong dada Juki hingga ia terhuyung. Kakinya tersandung bangku halte dan ia jatuh terduduk di lantai. Rak dagangannya ikut jatuh, botol dan sachet kopi berhamburan.
"Heh!"
Cecep, sahabat Juki, muncul dari arah deretan bus, langsung berdiri di depan Juki menghalangi Pak Nawawi dengan dada membusung walau tubuhnya lebih kecil.
"Nggak usah main tangan, Pak! Mau sehebat apapun Bapak, nggak ada hak dorong-dorong orang! Ini terminal umum, bukan tanah Bapak!"
"Jangan ikut campur urusan keluarga saya!"
"Urusan keluarga Bapak bukan alasan buat ngehina dan nyakitin orang! Mau saya panggilin satpam terminal?"
Pak Nawawi mendecih, berbalik masuk ke mobil sambil membanting pintu. Bu Nawawi menyusul sambil melempar tatapan jijik terakhir. SUV hitam itu melaju pergi, meninggalkan kepulan debu. Di balik kaca belakang, Lilis bahkan tidak menoleh.
Cecep membantu Juki berdiri dan membereskan dagangan yang berhamburan dalam diam. Ia tidak berkata apa-apa karena tahu tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki apa yang baru saja terjadi.
***
Sore hari, ponsel jadul Juki bergetar. Satu pesan masuk dari Lilis.
[Ki, maaf. Aku nggak bisa lanjutin hubungan ini. Bapak mau aku kuliah di Bandung.]
Belum genap lima menit ia meratapi nasibnya, Pak Rojak, tetangga sebelah yang badannya pendek tapi suaranya paling keras se-RT, menelepon, menagih utang seratus ribu yang harus dibayar malam itu juga.
“Pokoknya saya nggak mau tahu ya, kamu harus kembalikan uang saya yang seratus ribu malam ini juga! Kalau nggak, jangan harap bisa pinjam ke saya lagi! Ngerti?!”
Juki hanya bisa menghela napas. Hidupnya begitu tragis. ia bahkan tidak punya waktu untuk bersedih.
“Rokok … kopi ….” Pemuda itu beranjak dari duduknya, kembali berjualan.
***
Malam pun tiba, ia menjajakan dagangannya sampai terminal sepi. Tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Ia hanya mendapat lima puluh ribu. Masih kurang separuhnya dari utangnya ke Pak Rojak.
Ia duduk sendirian di bangku halte, menyandarkan kepalanya ke dinding lalu memejamkan mata. Hari ini, semesta seolah menghajarnya habis-habisan. Dipermalukan, dicampakkan, ditagih utang. Ia bahkan tidak punya waktu untuk sekadar patah hati.
"Nak."
Suara serak itu datang begitu saja. Di hadapannya berdiri seorang kakek tua, entah muncul dari mana. Tubuhnya kurus dan ringkih, baju kokonya compang-camping, peci hitamnya lusuh hampir berubah kelabu. Wajahnya penuh keriput, tapi matanya terang dan jernih, tidak cocok dengan penampilannya yang kumal.
"Kopi hitam ada, Nak?"
"Ada, Kek." Juki menuangkan air panas dari termos yang tinggal seperempatnya. "Empat ribu, Kek."
Kakek itu menyeruput kopinya pelan-pelan, lalu merogoh saku celana dan meletakkan sekeping koin kuning di telapak tangan Juki. Koin itu bukan rupiah. Lebih tebal dan lebih berat, permukaannya terukir aksara aneh, dan tertera angka tahun 1752.
"Kek, ini sudah nggak berlaku."
"Maaf, Nak. Hanya itu yang kakek punya. Tapi koin itu akan membawa keberuntungan."
Kakek itu kemudian melangkah pergi ke ujung terminal yang gelap.
Juki mendecak. "Beruntung katanya? Dirinya sendiri saja seperti orang nggak beruntung."
Tapi kemudian, koin itu mulai terasa hangat di telapak tangannya. Bukan hangat biasa, tapi hangat dari dalam logam itu sendiri. Cahaya kekuningan muncul dari permukaannya, semakin terang, sampai seluruh telapak tangannya bermandikan sinar kuning keemasan yang membuat matanya silau.
"Aduh—!"
Juki menjatuhkan koin itu ke tanah. Ia mengangkat kepala, melihat ke arah dimana kakek tadi berjalan. Tapi terminal sudah kosong, gelap dan sunyi.
"Lah, kemana perginya?"
Daftar bab
153 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
153 bab








