
Bruno Si Mantri Ajaib
Juru Parkir|Tamat
- Jumlah kata
- 211.7K
- Popular
- 68.5K
- Subscribe
- 8.0K
- Jumlah kata
- 211.7K
- Popular
- 68.5K
- Subscribe
- 8.0K
Sinopsis
Istri tetanggaku masih belum hamil. Diam-diam dia menyuruhku ke rumahnya. Siapa sangka setelah itu aku malah mendapatkan warisan misterius: Ilmu medis yang ajaib!
Ulasan
10 ulasan
ARIES ARIES
29/9/25 10:53
nnmM2M2 nnmnmpnmmmnmnmmnnnmmpinmnnmnnmnnnnnlnnnmnnnm nnmmnnnnmmnnnnnnnnnnnmmmnnnMmmm Mmmm Kem hmmm mmmnnopmnnmmmnnnnnnnnnxnnnnnnnmnnnnn
im Quantum
8/9/25 09:42
Izin Promosi Novelku yang berjudul: Sistem Dewa Harem: Simfoni Hasrat dan Ambisi Don Juan, pemuda biasa, terpilih Sistem Dewa! Terjerat hasrat, cinta, dan ambisi, ia hadapi pertarungan epik dan intrik memikat. Romansa harem menggoda, sihir memukau, dan pilihan menentukan takdir!
Bab 1
"Bruno," panggilan lirih yang hampir terdengar seperti desahan itu terdengar dari beberapa wanita yang menyapa Bruno yang saat itu sedang berjalan-jalan di sekitaran desa.
Mereka terang-terangan melayangkan tatapan genit pada Bruno, sengaja menunjukan bahwa mereka sangat menginginkan Bruno lebih dari apapun yang berharga yang ada di desa ini. Seolah mereka sangat haus dan Bruno lah satu-satunya pemuas dahaga mereka.
Bagaimana tidak seperti itu, Bruno Saputra adalah pria paling terkenal di desa karena wajah tampannya yang tidak manusiawi, dai memiliki kulit cerah, dan bertubuh yang sangat bagus, sehingga memicu banyak imajinasi kaum wanita. Tak jarang orang-orang menganggap Bruno sebagai perwujudan sempurna dari seorang Dewa, saking indahnya Bruno dengan segala aspek yang ada di dirinya hampir sempurna.
"Ayo Bruno, kemarilah sebentar. Mampirlah dulu," ujar seorang wanita yang bahkan berani menggandeng lengannya Bruno tanpa aba-aba.
"Terima kasih, saya harus buru-buru pergi karena ada urusan penting," tolak Bruno secara halus sembari mengurai gandengan tangan si wanita itu agar segera lepas darinya.
Lantas Bruno pun semakin mempercepat langkahnya. Terlebih ketika dia selalu menyadari bahwa para pria di desa terlihat sangat tidak menyukainya, dengan ternjadinya situasi dimana para wanita yang secara terang-terangan melakukan kontak fisik dan menunjukan ketertarikan mereka pada Bruno, maka para pria di desa pun terlihat semakin benci terhadapnya.
"Cih! Dasar pria tampan tak berguna!"
"Apa bagusnya para wanita menyukai pria yang tampan saja tapi hidupnya sengsara!"
"Halah! Pria tak berguna seperti dia hanya mampu menggoda wanita desa saja!"
Cibiran demi cibiran yang serupa sering diucapkan beberapa pria tiap kali Bruno melintas di hadapan mereka. Kebencian mereka kepada Bruno begitu sarat. Padahal tak satupun tuduhan mereka adalah kebenaran. Pada akhirnya Bruno hanya berpura-pura tak mendengar cemoohan apapun yang orang-orang katakan tentangnya.
Bruno hanya menanggapi para wanita dengan beberapa kata basa-basi, lalu semakin mempercepat langkahnya untuk masuk ke pegunungan. Setidaknya, setelah berada di dalam hutan, Bruno bisa merasa tenang dan bisa menghela napas lega.
"Setidaknya tak ada suara kebencian apapun selain suara burung dan juga semilir angin," gumam Bruno seraya menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Bohong, jika Bruno bilang bahwa dia baik-baik saja dengan situasi menyakitkan seperti tadi. Nyatanya dia merasa bahwa terlalu populer juga menjadi beban dan beban itu hanya bisa sedikit reda jika dia melarikan ke dalam hutan yang ada di pegunungan ini.
"Ada kolam, sepertinya segar sekali kalau aku menceburkan diri di sana," gumamnya berbicara sendiri saat melihat ada sebuah kolam di gunung itu.
Suasananya sangat sejuk,rasa ingin Bruno untuk mandi di sana pun tak bisa dibendung lagi. Dengan semangat dia melepas satu persatu pakaiannya tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.
BYUUUUUR!
Dengan tubuh yang seluruhnya polos tanpa sehelai benang pun, Bruno langsung melompat ke dalam air tanpa sekalipun mengecek situasi. Keinginannya untuk segera berendam, membuat kewaspadaannya menurun.
"AAAAAAAARGH!" tiba-tiba terdengar jeritan. Di dalam air ada seorang wanita yang panik menatap Bruno Saputra sembari berjalan mundur dan menyilangkan kedua lengannya untuk menutupi bagian dadanya.
Wanita itu sangat cantik, terkenal di desa sebagai kecantikan nomor satu. Dia adalah Videlia Farko, perempuan yang berusia sekitar tiga puluhan dengani bentuk tubuhnya masih sama indah seperti gadis remaja.
"Oh, maaf aku tidak tahu kalau ada orang lain di sini!" sahut Bruno terkejut dan langsung terpaku menatap ke arah Videlia.
Pada momen itu Bruno meringis saat mengenali wanita cantik itu sebagai Videlia. Sebab, Bruno tahu tentang kisah Videlia yang suaminya sudah bertahun-tahun jarang pulang dan hal itu membuat Bruno secara sadar sering berfantasi tentang tubuh indah Videlia Farko.
Bruno Saputra melihat kulit indah Videlia Farko dan siluet tubuh moleknya yang terlihat dari pantulan air, membuatnya Bruno tanpa sadar menelan ludah dengan susah payah, kedua matanya pun sulit berpaling dari pemandangan yang ada di hadapannya ini.
"Aku juga sangat terkejut karena ada orang lain yang melompat ke dalam air," keluh Videlia.
Wajah Videlia Farko semakin merah. Tadi ia sedang mandi dengan santai di kolam itu sembari menikmati ketenangan suasana di gunung itu, sampi tiba-tiba dia melihat kedatangan Bruno Saputra. Dia pun semat berjongkok untuk bersembunyi di dalam air, berharap Bruno Saputra tak melihatnya dan segera pergi agar ia bisa keluar. Tak disangka Bruno Saputra jutru malah melompat ke dalam air dan itu sangat mengejutkannya.
"Tadi aku sungguh tidak memperhatikan sekitar, sehingga aku tak menyadari keberadaanmu di dalam air. Karena tempat ini cukup tersembunyi di dalam pegunungan, aku pikir hanya diriku saja yang mengetahui keberadaannya, taku tak mengira kalau akan ada orang lain yang juga datang ke sini ."
"Kau benar-benar ceroboh. Sekarang balikkan badanmu dan berhenti menatap ke arahku!" pintanya.
Meski kesal, Videlia Farko sadar tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Bruno Saputra. Ia pun meminta Bruno Saputra membalikkan badan supaya ia bisa berpakaian. Videlia Farko menatap punggung Bruno Saputra dengan hati-hati, takut dia mendadak menoleh mencuri pandang. Namun, saat melihat tubuh indah Bruno, ia justru sempat terpana.
Untuk beberapa saat Videlia termenung melihat tubuh kekar Bruno, dia jadi teringat bahwa saat ini kehidupannya tak jauh beda seperti seorang janda, dan ingatan itupun membuanya hanya bisa menghela napas berat. Baru saja, dia berjalan menuju ke tepian untuk segera berpakaian, tiba-tiba sayup-sayup mendengar suara orang yang tengah berbicara.
"Sepertinya ada beberapa orang yang sedang mendekat," gumam Bruno.
Mereka saat itu langsung panik, menyadari bahwa mereka harus cepat mencari tempat untuk bersembunyi, kalau tidak akan sulit bagi mereka untuk menjelaskan keadaan mereka saat ini yang berduaan di dalam air dalam keadaan yang sama-sama sedang telanjang.
Bruno Saputra menoleh dan melihat Videlia Farko memegang pakaian mereka dengan panik berlari ke arahnya. "Ayo, cepat kita harus naik! Orang-orang itu akan melihat kita!" ujar Videlia panik sembari berbicara sepelan mungkin.
Namun di sekitar tidak ada tempat bersembunyi, membuat Videlia Farko seketika berkeringat dingin. Bruno Saputra yang tahu ada satu tempat yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi, lalu dia pun menarik Videlia Farko keluar dari kolam menuju sebuah jebakan gua tua yang sudah ditinggalkan.
Di sana sudah tidak ada jebakan lagi, tapi cukup untuk menyembunyikan seseorang.
Ruang di dalamnya tidak besar, hanya muat satu orang, tapi karena sudah ada bayangan orang-orang muncul di tepi kolam, Bruno Saputra tidak punya pilihan selain ikut masuk bersama dengan VIdelia ke dalam ruang sempit itu. Mereka pun berhimpitan, tubuh polos mereka jadi menempel rapat.
Pada posisi itu Videlia bisa merasakan hangat dan kokohnya pelukan Bruno Saputra, membuat kakinya seketika mendadak lemas. Bruno Saputra yang sadar bahwa dia memeluk Videlia pun buru-buru menopang tubuhnya, tapi tanpa sengaja dia justri menyentuh bagian sensitif Videlia Farko.
"Engh…" Videlia tak bisa menahan erangan lirih itu,sehingga Bruno pun cepat-cepat menutup mulutnya.
"Jangan bersuara," bisik Bruno menegur. Saat itu Bruno malah jadi merasakan kelembutan bibir wanita itu, membuat suasana di dalam ruang kecil itu pun dipenuhi kecanggungan yang aneh.
Pada saat yang sama, kepala Desa Trabana yang berusia lima puluhan, Joko Halim, datang bersama seorang janda terkenal di desa, Elisa Saravo. Elisa Saravo adalah seorang janda, ibu dari dua anak, meski tidak secantik Videlia Farko, tapi penampilan dan tubuhnya tetap menonjol dibanding kebanyakan wanita desa. Joko Halim langsung berusaha merobek pakaian Elisa Saravo.
"Jangan lakukan itu, pak Joko." Elisa Saravo setengah menolak tindakan tak senonoh Joko Halim dengan menghalau tangan pria tua itu dari tubuhnya. "Bukankah pak Joko bilang akan ada keuntungan untuk keluargaku, tapi kenapa malah membawaku ke sini?" lanjutnya bertanya.
"Beberapa hari lalu kau kan pernah meminjam uang kepadaku dan kebetulan sekarang aku punya 10 juta untuk dipinjamkan kepadamu, tapi dengan syarat kau harus menuruti kemauanku, bagaimana?" Joko Halim menjawab.
Ellisa Saravo seketika terdiam. Hidup Elisa Saravo memang sulit, uang adalah penolong nyawa keluarganya.
"Baiklah, pak Joko saya akan menuruti apapun kemauan bapak." Pada ekhirnya, demi uang untuk menghidupi kedua anaknya… Ellisa pun menggertakkan gigi setuju.
Joko Halim tanpa aba-aba langsung memeluk dan mencumbu Elisa Saravo dengan kasar, membuat Bruno Saputra dan Videlia Farko yang bersembunyi pun melihat pemandanggan itu dengan tatapan terperangah.
Daftar bab
190 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
190 bab








