
- Jumlah kata
- 25.8K
- Popular
- 237
- Subscribe
- 77
Sinopsis
Di usia tujuh belas tahun, Ezra hampir kehilangan nyawanya dalam sebuah kecelakaan aneh di dekat sungai tua yang di kenal warga desa sebagai “Sungai Arwah”. Ia koma selama Dua Minggu. tapi saat terbangun, bukan hanya luka di tubuhnya yang terasa asing, melainkan pikiran nya Sendiri. Ada suara lain di dalam dirinya, Bukan gema, bukan khayalan, tapi benar-benar..... seseorang. Ezra menyadari bahwa ada sosok lain yang hidup bersamanya. seorang pria bernama Aerion, yang mengaku berasal dari duni lain bernama Ravareth. sebuah Dunia yang telah musnah dalam perang besar antara penyihir ribuan tahun lalu.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
01. Kembali Dari Kematian
***
Angin Sore menyusup dari sela-sela jendela rumah sakit, membawa aroma obat yang tajam dan udara lembap Jakarta yang tak pernah benar-benar sejuk.
Di Ranjang No Lima belas, Ezra membuka Matanya untuk pertama kalinya setalah Dua Minggu koma. Cahaya lampu-lampu langit menusuk pandangannya, membuat menyipitkan Mata.
“Ezra....Ezra.”
Suara itu...suara Ibunya. Gemetar, penuh harap, cemas, bercampur Isak tangis yang tertahan.
“Bu?” Suara Ezra serak. bibirnya kering, Lidahnya nyaris mati rasa. ia mencoba mengangkat tangan, tapi tubuhnya terasa seperti bukan miliknya.
Tangis Ibu nya pecah, “Ya Tuhan...kamu bangun, Nak. kamu bangun.... Puji tuhan.”
Dari Balik bayang-bayang kesadaran, Ezra mendengar langkah kaki tergesa masuk. Suara Perawat, suara Dokter, detak jantung mesin monitor Berdetak cepat. seiring dengan denyut kepala Ezra yang mulai menyuarakan sesuatu yang lain, sesuatu yang bukan miliknya.
“Akhirnya....kita sadar.”
Ezra membeku.
itu bukan suara Dokter, bukan suara siapapun di ruangan itu.
Itu suara di dalam kepala nya.
.
Hari-hari berikutnya berjalan aneh, Ezra menjalin Pemeriksaan fisik dan psikologis. tapi hasilnya selalu sama, Ezra sehat. sangar sehat, bahkan untuk seseorang yang sempat koma akibat tenggelam di sungai yang deras. tidak ada kerusakan otak, tidak ada trauma serius.
Namun, Ezra tahu ada yang salah.
Malam hari, Ia selalu terbangun dengan tubuh penuh keringat. Dalam mimpi ia melihat Dunia aisng yang terbakar, Benteng melayang di udara, dan sosok pria berambut putih berdiri sendirian di atas reruntuhan. memegangi tongkat sihir.
Dan Aneh nya,
Pria itu selalu menoleh ke arah Ezra, dan tersenyum.
“Namaku Aerion, aku tidak akan menyakitimu, Ezra.tapi kamu harus mendengarkan aku.”
Ezra mencoba mengabaikannya. Tapi semakin ia menolak, suara itu semakin kuat. kadang muncul saat ia sedang diam, kadang tiba-tiba di tengah keramaian. seperti desingan Angin yang menyusup lewat celah pikiran.
Puncaknya terjadi setelah satu Minggu ia pulang ke Rumah.
Saat itu Malam hari, Ezra sedang berjalan sendirian menuju dapur untuk mengambil Air. Lampu Ruang tengah padam, hanya cahaya bulan dari jendela yang menerangi langkah nya. saat itulah ia melihat bayangan.
Bayangan seseorang berdiri di ujung lorong, tinggi, tegap, tidak bergerak, tidak bernapas.
Ezra membeku. Tetapi ketika ia mencoba melangkah mundur, tubuhnya justru maju. tangan kanan terangkat...dan dari ujung jarinya, muncul lah Cahaya kecil, seperti api biru, berputar dalam bentuk simbol kuno yang tak di kenal nya.
“APA INI?” Ezra berteriak.
“Tenang, itu hanya percikan energi. bakat alamimu dan milikku.”
Cahaya itu menyala lebih terang, lalu menghilang dalam sekejap. Menyisakan kegelapan dan jantung Ezra yang berdetak kencang. Bayangan itu pun lenyap, seolah tidak pernah ada.
Hari itu, Ezra tidak bisa tidur sampai pagi.
.
Keesokan harinya, Ezra memutuskan untuk menjadi jawaban. ia kembali ke tempat kecelakaan, Sungai Arwah. begitu orang-orang menyebutnya.
Tempat yang menurut mitos desa, menjadi jalur arwah gentayangan menuju alam berikutnya. Ezra Tidak percaya tahayul. tapi sekarang, setalah semua yang terjadi, ia tak punya pilihan lain.
Ezra berdiri di tepian Sungai yang tenang. Matahari sore mulai tenggelam di baik pepohonan, dan kabut tipis mulai merayap di atas air.
“Kamu merasa tertarik kesini bukan karena kebetulan, Ezra. Sungai ini adalah celah. Dunia kami hancur ribuan tahun lalu, dan aku adalah satu dari sedikit jiwa yang selamat. Tanpa tubuh, Tanpa bentuk. Hingga...aku masuk ke dalam mu.”
“Kenapa, Aku?” Bisik Ezra.
“Karena kamu memiliki Jiwa kedua.”
Jiwa kedua?
Ezra menunduk menatap permukaan Sungai. bayangan nya sendiri terlihat tenang, tapi perlahan bentuk wajah itu berubah. Bukan dirinya, tapi seseorang yang tampak penuh tua. berwajah tajam, dengan sorot mata menyala. Ezra mundur selangkah, Tubuhnya gemetar.
“Keluar dari tubuhku.” Teriak Ezra.
“Jika aku keluar, kamu akan mati bersamaku. Jiwa kita kini terikat, Ezra. kamu adalah Rumah ku...Dan mungkin harapan terakhir bagi Ravareth.”
Dan untuk pertama kalinya Ezra menangis di tempat umum.
Bukan karena takut, tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidup nya ia mengalami seperti ini. ia sadar, ia bukan manusia biasa. Hidup nya tidak akan pernah kembali Normal.
.
Ezra terduduk di tanah berumput yang dingin dan lembap, hanya beberapa sentimeter dari tepian Sungai Arwah. Nafasnya berat, satu tangan menopang tubuh, satu lagi mencengkram Dada nya seolah berusaha menghentikan degup jantung nya yang terus menggebu.
“Aku bukan penyelamat, aku bukan siapa-siapa.” Gumamnya lirih.
“Mungkin bukan di Dunia ini, tapi di dunia yang telah hancur. Jiwa mu memiliki resonansi, getaran berbeda dengan manusia biasa. Kamu bukan hanya Ezra, kamu adalan tempat berlindung, jembatan.”
“Jembatan untuk apa? untuk di manfaatkan?untuk di jadikan wadah?”
“Untuk penyelamatan.”
Ezra memejamkan Mata, ia ingin menolak semuanya. suara asing di kepala nya, penglihatan-penglihatan aneh, percikan sihir di jarinya, dan mimpi-mimpi tentang Dunia asing yang sangat mengerikan.
Ia ingin menjadi remaja biasa, yang hanya perlu memikirkan tugas sekolah, bulan Dunia lain atau pertempuran dimensi.
Tapi sesuatu dalam dirinya.... tahu sudah terlambat.
Ketika Ezra membuka Mata, angin berdesir pelan. Rumput bergoyang, kabut merayap, dan suasana alam tiba-tiba.... Hening, terlalu hening. bahkan suara jangkrik dan burung pun hilang.
Lalu Ezra merasaka kehadiran lain, di balik pepohonan Seberang Sungai, muncul sosok berjubah hitam. tak terlihat wajahnya, hanya bayangan gelap yang menyatu dengan kabut. Tapi Ezra tahu, mahluk itu bisa melihatnya.
“Mundur, Ezra. itu bukan manusia.”
Seketika Tubuh Ezra menegang, sosok itu mengangkat tangannya yang panjang. dan di balik lengan jubahnya muncul cahaya kehijauan yang seperti kabut racun.
“Lari?” Bisik Ezra.
“Tidak akan sampat, percayakan padaku.”
Sebelum Ezra sempat bertanya apa maksudnya, tubuhnya seperti ditarik ke dalam. pandangan nya gelap sejenak, lalu matanya mendadak terbuka lebar. namun kali ini ia melihat Dunia berbeda.
Warnanya lebih tajam, udara terasa lebih ringan. dan segala suara di sekelilingnya bergema dalam ritme yang asing. tangannya terangkat sendiri, jari-jari Ezra membentuk simbol rumit di udara,dan dari simbol itu muncul cahaya biru keunguan yang menyebar seperti jaring halus.
SHUAAAKKK
Cahaya itu melesat menghantam sosok hitam tersebut, menghentikan nya beberapa meter sebelum menyentuh Ezra. makhluk itu mengeluarkan suara yang mengerikan, seperti jeritan logam yang berkarat. seketika ia menghilang, mencair menjadi bayangan tipis yang larut bersama kabut.
Ezra terduduk lemas, nafasnya tersengal, tangannya bergetar hebat.
“Apa yang....barusan....?”
“Itulah kekuatanmu, atau lebih tepatnya kekuatan kita. tapi kamu belum menguasai nya, kamu perlu belajar.”
“Aku bahkan tidak tahu siapa kamu sebenarnya.” seru Ezra putus asa.
“Namaku Aerion Kael'Thas. aku adalah Archon terkahir dari Ravareth, pemimpin para penjaga sihir. Tapi aku gagal, Dunia kami hancur. dan sekarang para Roh liar mulai bangkit kembali, mereka mencari celah, dan tubuhmu adalah pintu terakhir.”
Ezra menunduk, Dada nya naik turun cepat. ia menatap tangannya sendiri, yang tadi memancarkan cahaya tak di kenal. Tangannya. tapi bukan Tangan nya.
Dan di detik itu juga, Ezra tahu. Hidupnya tak akan pernah kembali seperti semula, ia tidak bisa lari dari ini, tidak dari Aerion, tidak dari Sihir, Tidak dari dirinya sendiri.
Langit mulai gelap, dan suara alam kembali berdengung. Tapi di benaknya, Ezra hanya mendengar satu suara tenang, tegas, dan tak terbantahkan.
“Waktumu sebagai manusia biasa telah habis, Ezra. Dunia sedang menunggu di selamatkan oleh dua jiwa dalam satu tubuh.”
Daftar bab
23 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








