

Pesisir Kepulauan Seribu tidak pernah peduli pada cita-cita seorang anak muda. Di tempat ini, ombak tidak menanyakan apakah kau ingin menjadi sarjana ilmu kelautan atau ahli hukum laut; ombak hanya bertanya apakah kau punya cukup tenaga untuk menarik jaring atau tidak.
Samudra Perkasa, nama yang terbilang cukup megah untuk seorang pemuda yang kaos oblongnya memiliki lebih banyak lubang ventilasi daripada benang aslinya, sedang berdiri di atas pasir basah. Di tangannya, sebuah ember plastik bekas cat dinding berwarna putih kusam tergenggam erat. Ember itu mengandung seluruh modal hidupnya hari ini: lima ekor kepiting bakau ukuran sedang yang menjepit-jepit udara dengan putus asa, seolah-olah mengerti bahwa nasib mereka sebentar lagi akan berakhir di wajan restoran seafood.
"Sam! Itu kepiting apa laba-laba kelaparan? Kecil amat!" teriak Bang Jarwo dari balik meja kayu tempat ia menimbang hasil tangkapan nelayan lokal.
Bang Jarwo adalah pengepul lokal yang perutnya berukuran kira-kira dua kali lipat dari lingkar dada Samudra. Jika ada orang yang paling menikmati indahnya kapitalisme di pulau ini, dialah orangnya.
"Ini kepiting kualitas ekspor, Bang," sahut Samudra santai sambil menggeser embernya ke atas timbangan. "Ototnya kencang-kencang karena rajin fitnes di dasar laut. Dagingnya padat, bukan cuma isi air kayak harapan palsu."
Bang Jarwo terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang menguning akibat ketagihan kopi hitam dan rokok kretek. "Halah, gayamu kayak sales mobil bekas. Ini cuma dapet empat puluh ribu. Ambil nih."
Samudra menerima dua lembar uang dua puluh ribuan yang sudah lecek dan berbau amis. Ia menghela napas pendek, namun tetap menyimpannya dengan cermat di saku celana pendeknya. Empat puluh ribu rupiah. Lumayan. Bisa untuk beli beras dua kilo dan sedikit minyak goreng untuk Nenek.
Jika ada orang yang bertanya mengapa Samudra tidak duduk di ruang kuliah seperti teman-temannya yang lulus SMA tahun ini, jawabannya sangat sederhana: garis takdirnya bengkok di tengah jalan.
Dahulu, ketika Samudra masih duduk di bangku SMP, ayahnya, Barata adalah seorang nelayan sejati. Barata adalah tipe pria yang percaya bahwa laut adalah sahabat terbaik manusia, sampai pada suatu malam, sahabat terbaiknya itu mengirim badai kategori lima dan melempar perahunya hingga hancur berkeping-keping. Barata tidak pernah pulang. Yang tersisa hanya sepasang sepatu bot karetnya yang terdampar di pantai dua hari kemudian.
Lalu, bagaimana dengan ibunya? Ah, Candrika. Ibunya adalah kisah bab tersendiri yang lebih mirip sinetron petang di televisi. Tiga bulan... ya, tepat sembilan puluh hari, setelah Barata hilang ditelan laut, Candrika memutuskan bahwa masa berduka sudah cukup. Ia menikah lagi dengan Ridho, seorang pria klimis asal Bandung yang mengaku bekerja di bidang "bisnis kreatif" (yang belakangan diketahui hanya menjual kaus polos di Pasar Baru). Mereka berdua memboyong barang-barang dan pindah ke Kota Kembang, meninggalkan Samudra yang masih mengenakan seragam putih-biru.
Belakangan, dari rumor tetangga yang lebih tajam dari sembilan puluh persen pisau dapur, Samudra tahu bahwa hubungan ibunya dan Ridho sebenarnya sudah bersemi indah bahkan sebelum perahu ayahnya dihantam badai.
"Ibumu itu alergi bau amis, Sam," begitu kata Nenek suatu hari sambil mengulek sambal. "Makanya dia cari yang baunya pelembut pakaian."
Maka jadilah Samudra bertumbuh di bawah pengasuhan Nenek Marni, atau yang lebih sering disapa Mbah Marni. Seorang wanita tua berhati baja dengan tulang punggung sekeras kayu jati, yang berhasil mengantarkan Samudra menyelesaikan SMA hanya dari hasil mengais kepiting dan menjual kerang kapis.
"Nek, Samudra pulang!" teriak Samudra begitu melangkahkan kaki ke dalam rumah panggung kayu mereka yang condong lima derajat ke kiri.
"Nggak usah teriak-teriak, Sam! Nenek belum tuli, cuma pendengarannya saja yang agak milih-milih!" balasan suara melengking dari arah dapur menyambutnya.
Mbah Marni keluar sambil memegang ulekan batu. Pakaian daster motif batiknya sudah pudar warna bunganya. Meskipun usianya sudah menembus angka enam puluh lima, matanya masih setajam elang jika melihat kepiting yang bersembunyi di balik lumpur mangrove.
"Dapat berapa hari ini?" tanya Mbah Marni.
"Empat puluh ribu, Nek. Kepitingnya lagi pada arisan barangkali, susah banget dicari," ujar Samudra sambil meletakkan uang kertas tadi di atas meja makan.
Mbah Marni melirik uang itu, lalu menepuk bahu cucunya pelan. "Ya sudah, bersyukur. Tadi ada surat datang dari pos. Nenek tumpuk di bawah tempat tidur."
Jantung Samudra berdesir sebentar. Surat. Ia tahu betul surat apa itu. Itu adalah surat balasan penolakan beasiswa dari perguruan tinggi negeri di Jakarta yang sempat ia daftarkan secara sembunyi-sembunyi dua bulan lalu. Tanpa perlu membukanya, ia sudah tahu isinya. Kampus mana yang mau menerima anak nelayan miskin tanpa uang pangkal dan tanpa jaminan masa depan?
Samudra berjalan ke kamar kecilnya, mengambil amplop cokelat di bawah kasur kapuknya, dan membukanya perlahan. Benar saja. Kalimat pembukanya diawali dengan kata-kata klasik yang teramat sopan: "Dengan berat hati kami menginformasikan..."
Samudra menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding papan. Cita-citanya untuk menjadi seorang Oceanografer, seorang ahli yang memahami rahasia lautan, resmi terkubur bersama amplop cokelat tersebut. Sekarang realitasnya hanya: Lumpur, kepiting, dan Bang Jarwo.
"Sam! Bantu Nenek angkat jemuran terasi!" teriak Mbah Marni dari luar.
"Iya, Nek!" Samudra melipat surat itu, menyimpannya di dalam laci meja tua, lalu berjalan keluar.
Sore itu, matahari terbenam dengan warna jingga yang luar biasa indah di ufuk barat Kepulauan Seribu. Angin laut bertiup lembut, membawa aroma garam dan terasi udang yang sedang dijemur Mbah Marni. Samudra berdiri di tepi dermaga kayu kecil di belakang rumahnya, memandang jauh ke lautan lepas.
"Kalau Ayah masih ada, mungkin Ayah bakal ketawa ngeliat aku jadi pemburu kepiting kelas teri gini," gumam Samudra pada dirinya sendiri.
Ia melempar sebuah kerikil kecil ke dalam air laut yang tenang.
Cemplung.
Air laut memercik. Namun, bukannya membentuk lingkaran riak air biasa seperti hukum fisika pada umumnya, percikan air itu mendadak berhenti di udara.
Samudra mengedipkan matanya beberapa kali. Ia menggosok matanya dengan punggung tangan, berpikir bahwa rasa lelah dan kurang gizi telah membuatnya berhalusinasi. Namun, kerikil itu benar-benar mengapung di udara, tepat sepuluh sentimeter di atas permukaan air.
Tiba-tiba, sebuah suara mekanik bertajuk dingin namun memiliki nada agak jenaka berbunyi tepat di dalam kepalanya, bukan di telinganya, melainkan langsung bergema di dalam tempurung kepalanya.
【Bip! Inisialisasi Kriteria Pengguna Berhasil.】
【Kriteria Terpenuhi:
1. Nama mengandung unsur laut (Samudra Perkasa).
2. Berada di bawah garis kemiskinan ekstrem.
3. Ditinggal nikah lagi oleh ibu kandung.
4. Memiliki dendam terselubung pada kepiting.】
【Selamat! Anda telah terpilih sebagai Inang Utama dari: Sistem Bawah Laut (Sub-Oceanic Conquest & Survival System) versi 1.0.4 - Beta Test.】
Samudra melompat ke belakang, hampir saja jatuh terlentang di atas pasir. "Siapa itu?! Siapa yang ngomong?! Bang Jarwo, elo ngumpet di bawah dermaga ya?!"
【Pengguna tidak perlu berteriak. Sistem beroperasi secara neuro-link di dalam otak Pengguna. Harap tetap tenang dan jangan terlihat seperti orang aneh di depan publik.】
Sebuah layar hologram biru transparan mendadak muncul melayang tepat di depan mata Samudra. Layar itu menampilkan angka-angka dan statistik yang terlihat seperti antarmuka video game RPG modern.
[STATUS PENGGUNA]
* Nama: Samudra Perkasa
* Usia: 18 Tahun
* Gelar: Pemburu Kepiting Amatir / Korban Broken Home
* Tingkat Kebugaran: 45/100 (Kurang Gizi)
* Kekayaan: Rp 40.000,- (Tunai)
* Kemampuan Khusus: Menahan Napas saat Menangis (Level 3), Negosiasi Harga Kepiting (Level 1)
* Poin Pengalaman (EXP): 0 / 100
Samudra melongo. Matanya melotot menatap baris "Kemampuan Khusus".
"Menahan napas saat menangis?! Sistem macam apa ini?!" protes Samudra setengah berbisik, takut Mbah Marni mendengarnya dan menganggapnya sudah gila.
【Itu adalah data otentik yang direkam saat Pengguna menangis di kamar mandi setelah menerima surat penolakan kampus 10 menit yang lalu. Sistem tidak pernah berbohong.】
Samudra memegang dahinya. Rasanya ia mau pingsan saja. "Oke... katakanlah aku nggak gila dan ini bukan efek racun kepiting. Kenapa kamu memilih aku? Dan apa itu Sistem Bawah Laut?"
【Pertanyaan yang bagus. Lautan bumi menyimpan 95% rahasia yang belum terjamah oleh manusia, termasuk kekayaan bernilai jutaan triliun dolar, teknologi kuno, dan spesies mutasi. Sistem hadir untuk membantu Pengguna menguasai seluruh lautan bumi, keluar dari garis kemiskinan, dan menjadi Penguasa Samudra.】
【Misi Pertama Diterbitkan!】
* Misi: Langkah Awal Sang Penguasa Laut.
* Tugas: Selam laut kedalaman 3 meter dan tangkap 1 ekor Gurita Bertotol Biru dengan tangan kosong.
* Waktu: 30 Menit.
* Hadiah: 100 EXP, Skill Passive: Napas Fish-Gene (Level 1), dan Uang Tunai Rp 1.000.000,- yang akan ditransfer secara gaib ke dalam ember Anda.
* Hukuman Gagal: Tersengat listrik 220 Volt di bagian pantat selama 5 detik.
Samudra menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya tertuju pada baris "Hadiah: Uang Tunai Rp 1.000.000,-" dan kemudian ke baris "Hukuman: Tersengat listrik".
"Satu juta rupiah?" gumam Samudra. Matanya mendadak berbinar. Masa bodoh dengan halusinasi atau alien atau sistem gaib. Satu juta rupiah berarti Mbah Marni tidak perlu jualan terasi selama seminggu penuh, dan mereka bisa makan ayam goreng enak besok siang!
"Waktu dimulai dari sekarang," ujar suara dalam kepalanya.
Sebuah penghitung waktu mundur berwarna merah mendadak muncul di pojok kanan penglihatannya: ......
"WOI! Kenapa langsung jalan waktunya?!" teriak Samudra panik. Tanpa berpikir panjang lagi, ia melepas kaus oblongnya, menyisakan celana pendeknya, dan langsung melompat berenang menceburkan diri ke dalam air laut sore itu.
Petualangan Samudra Perkasa di bawah garis kemiskinan dan di bawah permukaan laut resmi dimulai.