

Di Desa Sukamukti.
"Keluar kau Buta! "
Tok! Tok! Tok!
"Keluar! "
Pintu kayu lapuk itu digedor dengan paksa. Seolah tidak akan berhenti jika belum dibuka dari dalam.
Imron yang tengah membuat sebuah ramuan dalam ruangannya, tampak bingung. Sekelompok orang datang dan tiba-tiba menggedor pintunya sambil berteriak. Hingga rumah reyot miliknya nyaris roboh.
Ia segera berdiri, tangannya meraba-raba, meraih tongkat yang biasa ia gunakan untuk menuntun jalannya.
Belum sempat Imron melangkah lebih jauh, pintu rumahnya langsung didobrak hingga rusak. Orang-orang pun masuk lalu mendorongnya dan membuatnya berlutut.
Imron yang tidak tahu apa-apa merasa kaget dan bingung. "Ada apa ini?"
"Ada apa? Jangan pura-pura tidak tahu kau buta! Kau menggunakan ilmu hitam kan? "
Imron mengenali suara itu. Dia adalah pedagang kayu bernama Irfan.
Ia sangat terkejut kenapa Irfan tiba-tiba bertanya seperti itu padanya.
Dengan cepat ia menggeleng. "Tidak! Aku tidak menggunakan ilmu hitam! "
"Jangan bohong!" itu adalah suara Basuki. Petani yang pernah ia tolong beberapa bulan lalu karena dipatuk ular.
Terdengar suara langkahnya yang mendekat. "Padi milikku awalnya bagus, tapi setelah aku berobat padamu saat kaki kananku dipatok ular, tiba-tiba semuanya menguning dan mati. Itu pasti karena ulahmu kan?"
Imron menggeleng. "Itu tidak ada hubungannya denganku!"
"Semua sudah jelas!" tegas Irfan. Ia melangkah mendekat. "Sapi milik Nyonya halimah mati keesokan harinya tepat setelah kau menyembuhkan penyakit anaknya. Mau berbohong apa lagi?"
"Musibah yang terjadi tidak ada hubungannya dengan pengobatan yang aku lakukan!" tegas Imron. Menolak tudingan yang dilontarkan kepadanya.
"Percuma bertanya pada si buta ini, dia pasti tidak akan mengakui perbuatan busuknya. Aku rasa sebaiknya bawa saja dia ke tetua desa. " ucap sebuah suara yang Imron kenal bernama Rizal. Dia adalah seseorang yang selalu suka menghinanya sejak dulu.
"Benar! "
"Bawa dia supaya di adili!"
Akhirnya mereka membawa Imron menuju rumah tetua desa. Tangannya diikat ke belakang. Seseorang berdiri di sisi kanan, dan seorang lagi di sisi kirinya. Memegang lengannya seolah menjaga agar tidak kabur.
Begitu mereka sampai, tetua desa tidak sedang sendirian. Ia sedang bersama seorang guru tabib bernama Baskara yang sedang melakukan kunjungan, bersama dua murid yang selalu di sisinya, Jaka dan Wira.
Baskara adalah guru tabib yang cukup terkenal. Banyak muridnya yang tersebar di berbagai desa. Dan Desa Panah Api, desa yang bersebelahan dengan Desa Sukamukti, adalah pusat perguruannya.
Namun tidak ada orang Desa Sukamukti yang menjadi muridnya. Hanya Imron satu-satunya tabib di sana.
"Ada apa ini ramai-ramai?" tanya Baskara. Kemudian membelalak kaget saat melihat tangan Imron diikat dengan tali. "Apa yang terjadi?"
Tetua desa yang sudah mendengar kabar sebelumnya, hanya terdiam mengerutkan kening.
"Tetua, tolong lepaskan aku, aku tidak bersalah. " pinta Imron yang merasa yakin bahwa tetua desa pasti ada di sana meskipun tidak bersuara.
Tetua desa menatap Irfan dan Rizal. "Sudah aku katakan, sebelum kalian membuktikan Imron bersalah, kalian tidak boleh mengambil tindakan dan main hakim sendiri. "
"Tapi Tetua, si Buta ini sudah jelas bersalah. Baru saja aku mendapat kabar unggas tuan Bagas tiba-tiba mati secara mendadak tanpa sebab. Itu karena tiga hari lalu, tuan Bagas meminta bantuan Imron untuk mengobati anaknya yang demam. Sebelumnya Tuan Basuki gagal panen. Lalu sapi Nyonya Halimah yang mati. Semua itu sudah cukup sebagai bukti. Itu adalah ilmu hitam. Dia meminta tolong jin untuk mengobati orang, lalu memberikan tumbal sebagai balasan. Jadi siapapun yang berhasil disembuhkan Imron, pasti setelahnya ada sesuatu yang dikorbankan. Itu sudah jelas, Tetua. " jelas Irfan.
“Tidak bisa, Irfan. Asumsi bukanlah bukti. Kalian hanya menghubungkan semua kejadian itu dengan Imron. Tanpa bukti yang jelas, itu hanyalah tuduhan.” ucap tetua desa.
Ucapan tetua desa membuat warga yang sejak tadi berkerumun mulai saling pandang. Beberapa dari mereka tampak masih yakin bahwa Imron memang bersalah, sementara yang lain mulai terlihat ragu.
"Guru, izinkan aku berbicara." kata Wira tiba-tiba sambil memberi hormat kepada Baskara.
Baskara mengangguk, memberi izin kepada Wira untuk berbicara.
Tatapan semua orang tertuju padanya, penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Wira saat itu.
Wira mengahadap kerumunan. "Beberapa hari lalu, saat aku melewati rumah mantri Imron, aku tidak sengaja menemukan sebuah benda di dekat rumahnya. Awalnya aku ingin mengembalikannya, namun karena mantri Imron tidak ada di rumah. Aku membawanya pulang bermaksud untuk menyimpannya, khawatir barang ini penting bagi mantri Imron. Namun ketika teman seperguruanku yang pernah membaca buku tentang sihir tak sengaja melihatnya dan berkata bahwa benda yang aku temukan adalah alat sihir. "
Kerumunan langsung heboh. Tetua desa memejamkan mata. Sedangkan Imron yang tidak tahu benda apa yang telah ditemukan murid Baskara itu, hanya bisa kebingungan.
"Sudah jelas kan Tetua? Dia punya alat sihir!" seru Irfan.
"Coba perlihatkan padaku benda itu." kata tetua desa, berusaha untuk tetap bersikap tenang.
Wira mengambil barang itu dari dalam pakaiannya, lalu memberikan buntelan kain sekepalan tangan kepada tetua desa.
Kerumunan menyaksikan dengan tidak sabar.
Tetua desa membuka satu persatu lipatan kain. Lalu terpampang jelas isinya. Ada tulang, darah ayam dan sesuatu seperti jimat.
Warga langsung heboh.
"Keparat! Jadi kau benar-benar menggunakan ilmu hitam? Manusia terkutuk!" ucap salah seorang warga yang langsung menyerang Imron, memukul kepalanya dengan marah.
Kerumunan langsung pecah.
Satu persatu mulai ikut menyerang imron. Memukul, menendang dan melemparinya dengan batu tanpa belas kasihan. Tanpa memberikan Imron waktu untuk menjelaskan dan membela diri.
"Aku tidak bersalah! Aku tidak bersalah! " teriak Imron di tengah usahanya melepaskan diri.
Namun sayangnya tangannya diikat, sehingga Imron tidak dapat melakukan apa-apa. Menerima semua serangan itu tanpa perlawanan.
"Pantas saja kau tidak memiliki keluarga, siapa juga yang mau hidup denganmu! "
"Aku menyesal pernah membelamu saat kau dihina, tapi ternyata kau memang hina! "
"Lihat saja wajahnya, benar-benar menjijikan! "
"Kau pantas mati! "
"Dasar si miskin buta terkutuk! "
Hidung, mulut dan telinga Imron mengeluarkan darah. Wajahnya memar. Kepalanya luka karena lemparan batu. Ia nyaris tersungkur, namun seseorang dengan sengaja menahan lengannya agar pukulan itu tidak berhenti. Imron dibuat tak berdaya.
"Usir dia! Usir! "
"Di desa ini tidak boleh ada tukang sihir!"
"Tukang sihir membawa bencana!"
Irfan berhenti dan menoleh kepada tetua. "Tetua, aku rasa sebaiknya jangan hanya di usir keluar desa, atau dia akan membawa bencana bagi desa lain. "
"Betul! "
"Usir saja dia ke hutan terlarang! "
Mendengar kata hutan terlarang, sebagian orang langsung bergidik ngeri. Hutan itu seperti pemakaman atau tempat kematian karena sudah banyak beredar desas desus bahwa orang-orang yang pernah kesana tidak pernah kembali. Jadi tidak pernah ada orang yang berani masuk ke hutan itu secara sadar. Itulah kenapa hutan itu disebut hutan terlarang.
"Itu hukuman yang pantas! Usir dia ke hutan terlarang!" seseorang berteriak lantang.
"Usir! Usir! "
Akhirnya karena warga semua setuju, Imron pun dibawa ke hutan terlarang. Ia dilemparkan kesana setelah kedua tangannya dilepas.
"Jangan pernah kembali!"
"Kau si buta terkutuk! "
"Kau pantas mati!"