

"Ambil yang ini saja, Jal," kode dari salah satu pekerja dengan jarinya menunjuk salah satu keranjang.
"Iya, Pak. Ini keranjang terakhir saya hari ini."
"Hati-hati."
Peluh membanjiri badan Jala— pemuda 20 tahun yang hanya dibalut kaos oblong lusuh. Di pundaknya, satu keranjang besar berisi ikan kembung seberat 60 kilogram menekan tulang selangka hingga muncul memar merah. Jala berjalan tertatih dari dermaga menuju gudang pengasinan.
"Cepat, Jala! Dasar miskin tidak berguna!" bentak Juragan Mamat. Pria tambun itu berdiri di bawah payung, mengipasi diri dengan kertas catatan yang ia bawa.
"Ikan-ikan ini bisa busuk karena kamu lambat!"
Juragan Mamat hampir saja menendang Jala kalau saja dia tidak segera berlari. Jala tidak menjawab. Napasnya memendek. Dia tahu, di desa ini, orang miskin tidak punya hak bicara. Setelah menurunkan keranjang terakhir, Jala menghampiri Juragan Mamat dengan tangan gemetar karena kelelahan.
"Sudah selesai, Juragan. Total dua belas keranjang saya angkut tadi," ucap Jala lirih sambil mengatur napasnya.
Mamat meludah ke tanah, tepat di atas jempol kaki Jala yang pecah-pecah tanpa alas kaki. Ia menarik tiga lembar uang sepuluh ribuan dari saku celananya. "Ini. Pergi sana."
Jala tertegun melihat uang tiga puluh ribu itu. "Maaf, Juragan... tapi janjinya lima ribu per keranjang. Harusnya enam puluh ribu."
Mamat berdiri menantang, wajahnya memerah. Ia menusuk dada Jala dengan telunjuknya yang memegang bolpoin.
"Kamu pikir air minum yang kamu tenggak di pojokan itu gratis? Belum lagi tadi kamu merusak satu keranjang saat mengangkatnya! Masih untung aku tidak menyuruhmu ganti rugi satu juta! Mau terima atau aku lapor polisi karena kamu merusak barangku?!"
Jala mengepalkan tangan dengan uang teremat. Dia bisa saja merobek tenggorokan pria di depannya ini dalam hitungan detik dengan badan kekarnya karena kerja paksa bertahun-tahun. Tapi dia tahu, polisi di sini adalah teman minum Mamat dan para penguasa lainnya. Melawan berarti penjara. Jala menunduk, dengan uang di genggamannya dan berbalik tanpa kata.
Baru saja ia keluar dari area gudang, sekelompok pemuda desa yang nongkrong di bawah pohon kersen di ketuai Riko—anak juragan tambak udang di desa—menghadang kakinya. Riko jelas sengaja hingga Jala terjerembab ke kubangan air payau yang bau anyir dan kotor.
"Lemah banget sampah satu ini," ejek Riko disambut tawa kencang teman-temannya.
Dua gadis desa yang dulu sering dibantu Jala membetulkan atap rumah mereka, Sari dan Maya, ikut menonton di pinggir jalan di atas motor matik mereka. Bukannya menolong, mereka justru menutup hidung dengan wajah jijik.
"Ih, amis banget! Jala, kamu kalau miskin setidaknya tahu diri, jangan lewat jalan sini lah, bikin polusi saja," cibir Sari dan berlalu dengan Maya boncengan motor.
"M-maaf"
Dia terus berjalan, menyisir trotoar yang sepi siang ini. Panas terik dengan baju kotor dan basah. Ada warung kopi diseberang sana, Jala di panggil untuk membantunya memasang gas. Pemilik warung seorang janda bernama Mbak Lastri, sehari-hari biasa pakai daster tipis dan sexy.
"Terimakasih Jala tapi mbak belum ada pelanggan buat kasih kamu uang. Gimana kalau—"
"Ndak apa-apa mbak. Saya bantu mbak ikhlas kok."
Lastri terus saja maju dan membuat Jala terpojok. Warung siang itu sepi dan Jala dalam kondisi kotor. Entah ada setan apa, mbak Lastri tidak jijik dengan kondiai Jala.
"Jala, kamu suka mbak, kan?" Lastri mendekat perlahan, jarinya mulai menyentuh ujung jari Jala yang saling bertaut dengan sensual.
"Mbak, maaf jangan seperti ini."
Jala berusaha menariknya perlahan takut Lastri tersinggung, tapi wanita itu seolah kerasukan jin birahi siang bolong. Tangannya semakin nakal perlahan naik ke lengannya dengan pelan sedikit menggoreskan kuku panjangnya.
"Ssshhh, Mbak."
"Jala... Mbak mau...." suaranya mendesis membuat bulu kuduk Jala tiba-tiba meremang.
Lastri semakin menjadi, tubuhnya mendekat, ia membisikkan kata-kata yang selama ini berhasil membuat para pria langsung naik.
"Hmmm... Jala, bantuin Mbak ya...ahhh."
Lastri bahkan sedikit menjilat telinganya dan menggigit cuping, badan Jala bergetar aneh, "ahhh" suaranya mendesis spontan.
"Mbak, jangan...."
Jala sedikit mendorong. Lastri malah tidak terima, dengan cepat ia berlari keluar dengan baju yang sengaja dikoyak di bagian bahu. Ia berteriak histeris sambil menunjuk Jala yang masih ada di dalam warungnya mematung.
"Tolong! Jala... kurang ajar! Dia mau memperkosaku di belakang warung!" teriak Lastri. Dia sudah kepalang malu karena niatnya di tolak mentah-mentah oleh pemuda yang sudah lama dia idamkan.
Dunia berhenti bagi Jala hari itu juga. Dia bahkan tidak menyentuh Lastri sama sekali. Namun, warga yang datang langsung emosi setelah mendengar teriakan keras janda satu ini. Fitnah itu menyebar secepat kilat. Jala diseret ke halaman warung.
"Apa?! Dasar anak tidak tahu diuntung!"
Seorang nelayan tua menghantamkan punggung tangannya ke wajah Jala.
PLAK!
Sudut bibir Jala pecah, darah keluar dari cela bibir.
"B-bukan saya... saya baru saja selesai bantu Mbak Lastri pasang gas. Sumpah..." Jala mencoba membela diri dengan wajah ketakutan.
CUIH!
Riko meludahi wajah Jala. Momen yang sudah lama dia tunggu akhirnya datang juga. "Mbak Lastri itu orang baik, sering ngasih kamu kopi, tapi ini balasanmu? Dasar sampah!"
Satu tendangan mendarat di perut Jala tanpa peringatan, membuatnya terjungkal dan memuntahkan cairan kuning karena perutnya masih kosong. Warga mulai beringas. Ada yang melemparinya dengan kerikil, ada yang menendang kakinya. Jala hanya bisa meringkuk, melindungi kepalanya di atas tanah becek. Dia tidak melawan. Tidak berani. Satu pukulan balasan darinya akan dianggap sebagai bukti kejahatannya.
"Sudah! Berhenti! Kalian mau membunuhnya?!"
Suara parau itu milik Pak Wasto, Pak RT yang sudah sepuh. Ia dan istrinya, Bu Ningsri, menerobos kerumunan. Mereka menarik Jala berdiri. Wajah Bu Ningsri kaget melihat kondisi Jala yang babak belur.
"Dia mencoba memperkosa Lastri, Pak RT! Anak ini harus diusir!" teriak warga.
"Saya tahu Lastri! Saya tahu dia hanya mencari alasan!" balas Bu Ningsri berbicara dengan berani.
"Bubar kalian! Atau saya laporkan kalian semua ke Pak Babim!"
"Kamu Lastri. Berani sekali fitnah anak yatim. Kamu akan dapat balasannya nanti," geram Bu RT memapah Jala untuk pulang.
Lastri hanya menunduk, masih pura-pura menjadi korban. Warga perlahan bubar sambil tetap memaki dan meludah ke arah Jala. Pak Wasto ikut memapah Jala ke rumahnya yang sederhana. Di sana, Bu Ningsri memberikan Jala kaos lusuh bekas Pak Wasto agar bisa membersihkan diri di kamar mandi mereka. Setelah badannya bersih, Bu RT memberi Jala sepiring nasi dingin, sepotong tempe, ikan asin dan satu kerupuk putih dengan sedikit sambal di ujung piring.
"Makan, Nak. Maaf Ibu cuma punya ini," bisik Bu Ningsri sambil mengompres luka Jala dengan air hangat.
"Terimakasih Bu, Pak."
Jala menatap nasi itu. Air matanya jatuh, membasahi piring plastik di tangannya.
"Kenapa, Pak? Kenapa mereka jahat sekali? Saya kerja sampai tulang mau patah, tapi cuma dianggap sampah sama warga yang lain."
Pak Wasto hanya bisa terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar keluhan Jala untuk pertama kalinya. Tarikan napas beliau berat. Kemiskinan telah merenggut martabat Jala hingga ke titik terendah.
Malam itu, Jala kembali ke gubuknya. Kosong. Gelap. Tanpa listrik. Dia menatap langit-langit bambu yang sudah bocor sana-sini. Di luar, suara guruh menggelegar tanda akan turun hujan. Perutnya masih melilit lapar, sepiring nasi pemberian Bu RT tadi siang tidak bisa mengganjal perutnya malam ini. Ditambah rasa sakit hatinya dengan luka di wajah dan badannya.
Ia berdiri, mengambil dayung rongsok, dan berjalan ke pinggir pantai. Ada sebuah sampan kecil milik warga yang sudah dibuang karena bocor halus. Jala mendorongnya ke laut yang sedang mengamuk. Gelombangnya mulai tinggi.
"Mbah Wati... Jala ikut Mbah saja," bisiknya parau. Almarhumah, sosok yang merawatnya dari kecil tapi sudah berpulang saat umurnya baru 17 tahun.
Jala mulai mendayung ke tengah laut. Terus ke tengah. Ia menantang ombak setinggi tiga meter yang siap menelannya mentah-mentah. Dia tidak takut mati. Baginya, mati di laut jauh lebih terhormat daripada hidup dihina terus menerus di daratan.
Satu ombak raksasa datang dari samping. Sampan itu hancur berkeping-keping. Tubuh Jala terlempar, tenggelam ke dalam kegelapan laut yang dingin. Sebelum kesadarannya hilang, dia merasa tangannya menyentuh sesuatu yang keras di saku celananya—benda yang tidak pernah dia miliki sebelumnya.
Lalu, semuanya gelap.