
- Jumlah kata
- 33.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2

Semua orang mengira Damar beruntung karena selamat dari pembantaian Kalisuren. Damar tahu kenyataannya lebih kejam: ia hanyalah lelaki yang gagal mati bersama keluarganya. Dua tahun ia hidup sebagai pesuruh, menerima penghinaan seolah penderitaan dapat menebus keselamatannya. Namun sebuah tugas mengantarkan obat ke markas gerilya mempertemukannya dengan Ki Suryanata—pendekar tua yang mengenali sesuatu dalam diri Damar yang bahkan tidak dipahaminya sendiri. Dari sang kakek, Damar menerima dua pusaka: Kitab Rasa Jati dan liontin Puspa Manah. Keduanya menyimpan jalan menuju Wahyu Pengikat Hati, ilmu yang membuatnya mampu menangkap rasa tersembunyi, mengenali ikatan antarmanusia, dan memperkuat perasaan yang telah tumbuh di dalam hati seseorang. Namun wahyu itu tidak dapat menciptakan cinta dari kehampaan. Ketertarikan bukan persetujuan. Rasa bukan kebenaran. Dan hati manusia bukan benda yang boleh dimiliki hanya karena Damar mampu menyentuhnya. Ketika darah seorang kawan menuliskan nama Damar pada halaman kitab, ia terseret kembali ke tengah perang kemerdekaan—ke dalam jaringan pengkhianatan, perburuan pasukan kolonial, dan rahasia lama di balik kehancuran keluarganya. Dalam perjalanan itu, Damar berhadapan dengan perempuan-perempuan yang tidak sekadar menunggu untuk dicintai: ada yang menyimpan rahasia, ada yang menjadikannya jalan menuju kekuasaan, dan ada yang mungkin mencintainya ketika ia sendiri merasa tidak pantas dicintai. Setiap ikatan dapat menyelamatkan nyawa. Setiap hasrat dapat membuka pintu pengkhianatan. Untuk menemukan kebenaran dan melindungi orang-orang yang memilih berdiri bersamanya, Damar harus belajar menjadi kuat tanpa merampas kebebasan mereka. Sebab bahaya terbesar Wahyu Pengikat Hati bukanlah kemampuannya memikat manusia, melainkan godaan untuk mengikat sebuah hati begitu erat hingga hati itu kehilangan hak untuk pergi.
Priangan timur, Juli 1947
Sepatu itu melayang melewati pipi Damar dan jatuh ke dalam baskom.
Air berlumpur memercik ke bibirnya. Ia belum sempat mengusap wajah ketika sepatu kedua menghantam lututnya.
“Yang bersih, Mar. Besok dipakai membela Republik lagi.”
Tawa pecah di beranda.
Damar mengangkat sepatu dari baskom. Air cokelat mengalir dari lubang talinya, membasahi celana yang sejak pagi belum kering. Di atasnya, Bram Wiranegara bersandar pada tiang dengan senapan tersampir di bahu.
“Iya, Kang.”
“Jangan cuma iya. Kemarin masih ada tanah di tumit.”
“Bagian jahitannya mulai terbuka. Kalau disikat keras—”
“Nah, dengar!” Bram menoleh kepada orang-orang di belakangnya. “Musuh boleh ditembak. Lumpur jangan dilukai.”
Ujang tertawa paling keras. Damar mengenali tawanya sama mudahnya dengan mengenali sepatu lelaki itu: tumit kanan miring, tali kiri disambung benang kasur.
Ia menunduk lagi.
Di bawah ujung celana Bram, ada darah yang belum mengering. Bukan darah Bram. Tadi Damar melihatnya kembali melalui pintu timur sambil memapah seorang pejuang yang betisnya dibebat kain. Ketika yang lain berhenti mengatur napas, Bram terus membawanya sampai ke balai pengobatan.
Lelaki itu punya alasan untuk disambut dengan tepukan bahu.
Damar meraih sikat sabutnya.
Operasi di jalan pengangkutan beras telah selesai sebelum tengah hari. Laskar Wanasari kembali membawa dua karung beras, sebuah peti peluru, dan seorang kawan yang harus ditahan bahunya ketika lukanya diperiksa. Sekarang bekas gudang pengeringan tembakau itu dipenuhi suara orang mengulang cerita yang sama.
Siapa yang pertama melompat dari pematang. Siapa yang hampir tertembak. Siapa yang berteriak ketika gerobak terperosok.
Setiap kali cerita diulang, tawa datang lebih cepat.
Damar menata sepatu-sepatu di atas papan. Pasangan yang baru datang dipisahkannya dari yang sudah kering. Ia bekerja dekat tiang beranda, tempat angin membawa bau tembakau tua dan minyak senjata, tetapi asap dapur tidak langsung mengenai wajahnya.
Umurnya dua puluh tiga. Di markas ini, orang masih memanggilnya Bocah Dapur.
Ia sebenarnya ingin mendengar cerita tentang jalan yang mereka lewati. Di mana penjagaan musuh bertambah. Apakah jembatan bambu masih bisa dilalui. Tetapi cerita selalu berakhir pada keberanian seseorang, dan ketika Damar mengangkat kepala, selalu ada cangkir kosong yang disodorkan kepadanya.
“Tambah airnya.”
“Iya.”
Ia berdiri, mengambil teko, lalu kembali ke sepatu.
Sepatu Bram paling berat. Kulitnya keras, bagian depan penuh retak. Bekas sayatan kecil melintang di sisi kiri, peninggalan kawat pagar yang pernah dicabut Damar dengan tang. Di bawah tumitnya terselip pasir pucat.
Sepatu Ujang lebih ringan, tetapi sol depannya mulai menganga. Ada lempung kelabu di dalam celah itu dan sehelai rumput panjang yang tergilas sampai pipih.
Damar meletakkan keduanya berdampingan.
Mereka tidak pulang lewat jalan yang sama.
Bram datang dari pintu timur. Ujang muncul belakangan dari belakang kandang, membawa peti bersama seorang lelaki bersandal. Damar mengingat bunyi peti itu ketika diletakkan: dentang pendek, lalu teguran agar jangan dibanting.
Ia mengorek lempung dari sol Ujang dengan serpihan bambu.
Di beranda, Bram sedang menjelaskan bagaimana ia membawa kawannya menyeberangi parit. Damar melirik pasir pada sepatu lelaki itu. Parit di sebelah timur memang berpasir pucat. Ia pernah turun ke sana mencari kuda yang lepas.
“Ujang, giliranmu jaga sesudah makan!”
Suara Hasan Wiratama membuat percakapan mereda. Komandan laskar itu berdiri di ambang ruang tengah dengan lengan baju tergulung.
“Sekarang?” Ujang mengangkat kepalanya.
“Sesudah makan.”
“Saya kira Bung lupa kita baru pulang.”
“Belanda juga tidak menunggu kau selesai tidur.”
Ujang mendesah. Ia turun dari beranda, mengulurkan tangan ke arah sepatunya.
Damar belum menyerahkannya.
“Yang ini perlu diikat dulu, Kang.”
“Talinya masih ada.”
“Solnya.” Damar menekuk ujung sepatu sedikit. Celah di bawahnya membuka. “Kalau menginjak akar, bisa tersangkut.”
Ujang berjongkok. Sisa tawanya hilang ketika ia memasukkan jari ke celah itu.
“Pantas tadi seperti ada yang menggigit jempol.”
“Aku ambilkan benang.”
“Kau ini tukang sepatu atau tukang ramal?”
Damar berdiri tanpa menjawab. Di dinding gudang ada kantong perkakas yang digantung terlalu tinggi. Ia meraihnya dengan berjinjit, menarik jarum besar dan seutas benang, lalu duduk lagi.
“Tidak akan kuat lama,” katanya. “Tetapi bisa dipakai jaga.”
Ujang memperhatikan tangannya membuat lubang pada kulit yang sudah lunak.
“Tadi pulang lewat bawah kebun pisang?” tanya Damar.
“Kenapa?”
“Tanahnya masuk sampai ke dalam.”
Ujang mengangkat kaki telanjangnya. Lumpur kelabu mengering di sela jari.
“Jalan atas ditutup pohon tumbang. Kami memutar. Petinya berat pula.”
Damar mengangguk. Ia menarik benang sampai kedua sisi sol kembali rapat.
Di kepalanya, jalan pulang Ujang kini tersambung: kebun pisang, tanah becek, belakang kandang. Ia tidak sengaja menghafalnya. Tempat-tempat itu menempel begitu saja, bersama bunyi langkah dan barang-barang yang dibawa orang.
“Sudah?”
“Sebelah lagi.”
“Sebelah lagi tidak rusak.”
“Benangnya hampir putus.”
Ujang mendecakkan lidah, tetapi membiarkan Damar bekerja.
Dari balai pengobatan terdengar panggilan meminta air bersih. Damar menoleh ke tempayan di samping pintu. Sebelum ia bangkit, seorang pemuda lain sudah mengangkat gayung.
Ia kembali menarik jarumnya.
Sebentar tadi, ketika Ujang berjongkok dan mendengarkan, Damar hampir mengatakan sesuatu. Besok, kalau ada yang harus dibawa, ia bisa ikut. Beras, obat, apa saja. Ia mengenal jalan ke kebun pisang. Ia juga tahu tempat menyeberang apabila air parit naik.
Tetapi jarum di tangannya tersangkut.
Ia ingat terakhir kali meminta senapan. Hasan tidak marah. Komandan itu hanya memandang tangannya, kemudian menunjuk tumpukan kayu yang harus dipindahkan ke dapur.
Sejak itu, Damar menunggu ada orang yang memanggilnya untuk pekerjaan lain.
“Nah. Selesai.”
Ujang mencoba sepatunya, menghentakkan kaki dua kali, lalu berdiri.
“Lumayan.”
Damar memungut potongan benang sebelum terinjak.
“Mar!” Bram memanggil dari beranda. “Sepatuku belum juga?”
“Sebentar.”
“Kau mendahulukan dia?”
“Ujang mau jaga.”
“Aku mau bertemu komandan.”
Damar memandang kaki Bram yang masih terjulur dari bangku. Ia ingin mengatakan bahwa ruang Hasan hanya beberapa langkah dari tempat mereka duduk.
Tangannya sudah bergerak mengambil sepatu itu sebelum kata-katanya sampai ke mulut.
Bram turun dan berdiri di depannya. Bayangan lelaki itu menutupi baskom.
“Kau tahu kenapa sepatu pejuang harus bersih?”
Damar diam.
“Supaya kalau mati, tidak dikira maling ayam.”
Beberapa orang tertawa lagi. Bram menunggu sampai Damar mengangkat wajah.
“Kau beruntung. Tidak perlu memikirkan itu.”
Sikat sabut berhenti di tangan Damar.
Di seberang halaman, papan nama pejuang gugur tergantung di bawah atap. Ada ruang kosong di bagian bawahnya. Damar pernah mengecat papan itu, menahan kayunya dengan lutut agar tidak bergeser.
Ia tidak ingin mati.
Pikiran itu membuat wajahnya panas, seolah Bram baru saja menangkapnya mencuri.
“Bram.” Hasan muncul lagi. “Laporannya.”
“Sebentar, Bung. Saya sedang memberi pelajaran.”
Hasan melirik Damar, baskom, lalu sepatu yang belum selesai dibersihkan.
“Jangan lama-lama. Masih banyak urusan.”
Komandan itu masuk kembali. Bram menepuk tengkuk Damar sekali, cukup keras untuk membuat kepalanya terangguk.
“Dengar itu? Masih banyak urusan.”
Damar mengusap bagian terakhir dengan kain. Ia menyerahkan sepatu tersebut, talinya dilonggarkan supaya mudah dipakai.
Bram memasukkan kaki, menginjak tumitnya sampai pas, lalu naik ke beranda.
Di anak tangga, ia berhenti.
“Buburnya simpan untuk yang luka,” katanya kepada orang di dekat dapur. “Dia belum makan dari pagi.”
Kemudian ia masuk ke ruang Hasan.
Damar menatap serpihan tanah di sekitar baskom.
Ia mengambil papan kecil untuk mengerik kotoran dari lantai. Air di baskom sudah terlalu keruh. Ketika ia membuangnya ke selokan, punggungnya tertarik dan luka lama di rusuk kirinya terasa kencang.
Ia berhenti sejenak, menempelkan telapak tangan di sana.
Dari dapur datang bau nasi yang mulai mengerak. Perutnya berbunyi. Ia belum makan, tetapi masih ada dua pasang sepatu dan sebuah sandal yang talinya lepas.
Damar menyisihkan sandal itu agar tidak ikut basah. Kemudian ia mengambil air baru.
Hari merambat sore. Percak transformations di beranda berganti menjadi dengkur pendek dan bunyi orang memeriksa senjata. Sinar matahari menembus celah dinding gudang, memotong debu menjadi garis-garis tipis.
Damar sedang menjemur kain ketika penjaga memanggil dari pintu halaman.
“Kurir!”
Seorang lelaki berjaket kusam masuk setelah berbicara singkat dengan penjaga. Tas kainnya dijepit di bawah lengan. Ia berjalan cepat, tetapi setiap beberapa langkah bahu kanannya turun, seolah ada sesuatu yang mengganggu pijakannya.
Damar belum pernah melihat wajah itu.
Lelaki tersebut berhenti di kaki beranda. Ia mengeluarkan selembar surat dari dalam jaket dan bertanya kepada Ujang di mana komandan berada.
Ujang menunjuk pintu.
Sebelum naik, kurir itu menggesekkan sol pada tepi anak tangga. Segumpal tanah jatuh, tetapi langkah berikutnya masih membuatnya meringis. Ia melihat Damar dan sepatu-sepatu di atas papan.
“Ada batu. Tolong sebentar.”
Ia menarik sepatu kanannya, lalu menyerahkannya sambil berpegangan pada tiang.
Damar menerima sepatu itu. Kulitnya lembap dan dingin. Bagian atasnya dilapisi debu cokelat muda, tetapi di bawah tumit ada gumpalan yang berbeda.
Ia membaliknya mendekati cahaya.
“Cepat, ya. Suratnya ditunggu.”
Damar mengangguk. Dengan ujung bambu, ia mencongkel kerikil yang terselip di antara sol dan kulit. Kerikil itu jatuh ke papan bersama sedikit tanah.
Merah kehitaman.
Ia mengusapnya dengan ibu jari.
Lapisan luarnya sudah mengeras, tetapi bagian dalamnya masih liat. Ketika dibasahi, warnanya meninggalkan guratan merah tua di kulitnya. Ada butir-butir hitam kecil yang tidak hancur saat ditekan.
Damar menggosok ibu jarinya pada telunjuk.
Gerakan yang lama sekali tidak dilakukannya.
Dulu, tanah seperti itu menyelip di bawah kukunya setiap kali ia membersihkan saluran di belakang rumah. Ibunya selalu menyuruhnya menggosok tangan sekali lagi sebelum menyentuh makanan. Air saja tidak cukup. Warna merahnya bertahan sampai pagi.
“Sudah?” tanya kurir itu.
Damar tidak menjawab.
Ia pernah membersihkan tanah dari puluhan sepatu. Lumpur sawah, pasir parit, lempung kebun. Di antara semuanya, hanya ada satu tempat yang ia ingat memiliki tanah seperti ini.
Saluran air di belakang rumahnya.
Di Kalisuren.
Kampung yang telah dibakar bersama keluarganya.
Tempat terakhir ia mendengar suara ibunya.
21 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.