
TABIB NAGA DIKOTA SERUNI
Haruka Ayaka|Tamat
- Jumlah kata
- 614.4K
- Popular
- 60.5K
- Subscribe
- 3.5K
- Jumlah kata
- 614.4K
- Popular
- 60.5K
- Subscribe
- 3.5K
Sinopsis
"Rafael Atmaja, pemuda misterius yang “turun gunung” dengan ilmu penyembuhan dan bela diri, nggak sengaja kebawa masuk ke hidup Clara Santoso, CEO muda pewaris konglomerat Seruni, gara-gara satu malam kacau di Hotel Kayana. Clara pengin ngelupain skandal itu, tapi Rafael justru pengin tanggung jawab. Sampai akhirnya, namanya beneran muncul di depan pintu keluarga Santoso, bareng warisan perjodohan dari sang guru. Di tengah penolakan Clara dan intrik keluarga besar, Rafael malah nunjukin kemampuan luar biasa: ngebongkar kutukan gelap yang nyimpen rahasia di rumah megah Santoso. Dari sana, jalan hidupnya udah nggak bisa balik lagi. Satu keputusan bikin buku nikah, satu aksi penyelamatan di jalan raya bikin orang kagum, dan satu kunjungan ke mal nyalain api iri dari masa lalu Clara. Clara boleh aja ngeyel nolak cintanya. Tapi cepat atau lambat, dunia bakal sadar: nama Rafael Atmaja bukan cuma sekadar menantu… dia legenda yang lahir kembali."
Ulasan
8 ulasan
Resia Noir
14/5/26 12:44
Izin Promosi novel saya ya kk. Judul : Bupati Muda yang Misterius Penulis : Resia Noir Dulu Mika hanya anak supir yang hidup di belakang pasar dan dihina semua orang. Kini… ia kembali sebagai Bupati termuda di Kabupaten Arunika. Namun jabatan itu bukan untuk kekuasaan. Ia datang membawa dendam, rahasia, dan pencarian tentang kematian ayahnya yang misterius. Di balik dunia politik yang penuh korupsi, pengkhianatan, dan permainan kekuasaan… Mika harus melawan orang-orang paling berbahaya di kotanya sendiri. Dan saat hatinya mulai terusik oleh seorang pustakawan sederhana bernama Alena, rahasia besar perlahan mulai terungkap. 🔥 Penuh misteri 🔥 Politik dan balas dendam 🔥 Romance yang bikin baper 🔥 Banyak plot twist dan rahasia gelap 📖 BUPATI YANG MISTERIUS Siapkah kamu masuk ke dunia Mika Ardian?
Hendri 207
Bab 01
Di sebuah suite mewah di Hotel Kayana, Kota Seruni, sisa aroma parfum bercampur dengan jejak malam yang liar masih memenuhi udara. Tirai tebal setengah terbuka, membiarkan cahaya mentari pagi menembus masuk, menyapu ruangan dengan warna keemasan. Lantai dipenuhi pakaian yang berserakan—kemeja putih, rok hitam, dasi sutra—seolah menjadi saksi bisu dari badai yang baru saja reda. Di kursi dekat jendela, sebuah bra renda merah tergantung setengah jatuh, begitu mencolok di antara kekacauan itu.
Rafael Atmaja terbangun oleh suara teriakan. Kesadarannya yang masih setengah terhanyut segera diguncang oleh suara keras itu. Begitu matanya terbuka, pandangannya langsung bertemu dengan kulit putih mulus Clara Santoso, yang ditutupi selimut seadanya. Bekas ciuman merah menghiasi leher jenjangnya, kontras dengan ekspresi wajahnya yang cantik namun kini dipenuhi amarah.
“APA yang sudah kau lakukan padaku, Rafael?!” teriak Clara, matanya berkilat penuh tuduhan.
Ia setengah berdiri di tepi ranjang, satu tangan menarik selimut menutupi tubuhnya, sementara tangan satunya meraih lampu meja, siap melayang ke arah Rafael kapan saja.
Rafael tetap duduk tenang, meski di dalam dadanya ia bisa merasakan hawa dingin dari tatapan itu. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak bermaksud menyerang.
“Clara, dengarkan aku dulu,” ucapnya pelan namun mantap. “Semua ini hanya salah paham.”
Clara mengerutkan kening, genggaman tangannya di lampu meja makin kuat. “Salah paham? Kau pikir aku sebodoh itu untuk percaya?!”
Rafael menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Aku tidak berniat melakukan apapun padamu. Kemarin, setelah turun gunung, aku hanya ingin mencari hiburan. Tidak sengaja aku menemukanmu dalam keadaan... tidak biasa. Kau sudah terkena obat. Aku membawamu ke hotel ini agar aman. Tapi justru kau yang menubrukku. Aku sudah mencoba menolak, Clara, sungguh. Tapi—”
“Cukup!” potong Clara cepat, wajahnya memerah menahan malu sekaligus amarah. Namun, dalam hatinya, kilasan memori semalam muncul begitu saja. Samar-samar ia ingat bagaimana tubuhnya begitu panas, bagaimana kakinya lemas, dan bagaimana Rafael mencoba menjauh, namun dirinya justru menarik pria itu.
Kesadaran itu menghantamnya. Ia terdiam, tubuhnya bergetar bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa malu yang tidak bisa ia cerna. Jika bukan di hotel, jika bukan Rafael, mungkin ia sudah jatuh ke tangan pria lain yang lebih kejam.
“Aku benci kau...” bisik Clara lirih, suara nyaris pecah. “Paling tidak... paling tidak, kau seharusnya menahan diri!”
Rafael menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya kembali. “Kalau begitu, setidaknya letakkan lampu itu. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku hanya minta kau percaya satu hal—aku tidak bermaksud merusakmu.”
Clara menggertakkan gigi, tapi perlahan menurunkan lampu meja ke tempat semula.
Rafael mengalihkan pandangan, memberi ruang agar Clara bisa berpakaian. Dengan kikuk, Clara meraih pakaiannya satu per satu. Gerakan kecil itu membuat tubuhnya yang masih nyeri semakin kaku. Ketika akhirnya ia mengenakan gaun panjang ketat berwarna hitam, lekuk tubuhnya tampak semakin jelas. Kecantikan dan kewibawaan sebagai seorang wanita dewasa memancar kuat darinya.
Rafael menatap sekilas, lalu cepat-cepat menunduk. Namun matanya tak sengaja tertuju pada bercak darah samar di lantai. Jantungnya berdentum keras. Ia menyadari sesuatu yang sangat penting.
Dengan suara serius, ia berkata, “Clara... kau... ini pertama kalinya bagimu.”
Clara menghentikan gerakannya, wajahnya pucat. “Diam.”
“Aku juga...” Rafael menelan ludah, suaranya dalam dan jujur. “Aku juga baru pertama kali. Dan aku berjanji akan bertanggung jawab. Jika kau punya permintaan, selama wajar, aku akan penuhi.”
Clara berbalik menatapnya, matanya berkaca-kaca namun penuh kebencian. “Kita berasal dari dunia yang berbeda, Rafael. Aku Clara Santoso, CEO Grup Santoso, perusahaan bernilai triliunan di kota ini. Sedangkan kau... aku bahkan tidak tahu siapa dirimu. Anggap saja semalam tidak pernah terjadi. Lupakan aku.”
Ucapan itu tajam seperti pisau. Rafael terdiam, hanya bisa menatap punggung Clara yang anggun ketika wanita itu membanting pintu dan pergi.
Sunyi menyelimuti kamar. Pandangan Rafael jatuh pada bra renda merah yang masih tertinggal di kursi. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Kau pergi terlalu cepat, Clara... sampai lupa membawa ini.” Ia meraih bra itu dan menyimpannya di tas, entah sebagai tanda kenangan atau sesuatu yang lebih dalam.
Saat berjalan keluar hotel, pesan gurunya kembali terngiang jelas di telinganya: “Rafael, kau sudah belajar semua ilmu yang bisa diajarkan. Dunia luar menantimu. Ingat, dulu karena budi baik, aku telah menjodohkanmu dengan seseorang. Jika tak cocok, kau boleh menolak. Tapi ingat, bila ia dalam kesulitan, kau harus melindunginya. Pergilah ke Paman Wira jika butuh pertolongan. Dan satu hal, jangan pernah tunjukkan tanda lahir naga di dada kirimu. Jangan cari tahu asal-usulmu. Itu akan membawa bencana.”
Namun, Rafael justru mengeratkan genggamannya. “Guru, aku berjanji, aku akan melindunginya. Tapi aku juga akan menemukan siapa diriku sebenarnya.”
Sementara itu, di kantor pusat Grup Santoso yang menjulang megah di pusat Kota Seruni, langkah Clara Santoso terdengar mantap meski tubuhnya terasa nyeri. Sekretaris pribadinya, Livia, segera berlari menghampiri dengan wajah panik.
“Nona Clara, Anda baik-baik saja? Jalan Anda terlihat—”
“Batalkan semua agenda hari ini,” potong Clara dingin.
“Tapi—”
“Tidak ada tapi. Lakukan saja.”
Livia langsung menunduk dan bergegas. Clara terus berjalan menuju lift eksekutif, menekan tombol ke lantai paling atas—ruang kerja ayahnya, Bram Santoso.
Begitu pintu terbuka, aroma cerutu langsung menyambut. Bram Santoso, pria berambut separuh uban dengan wajah tegas penuh wibawa, duduk di balik meja kayu besar. Tatapannya langsung menusuk ketika melihat putrinya masuk.
“Kau di mana semalam?” suaranya berat dan dingin.
Clara menunduk sedikit. “Aku... menginap di rumah sahabat ku, Pa.”
Bram menyeringai sinis. Ia menggeser sebuah foto di atas meja, memperlihatkannya pada Clara. Foto itu jelas memperlihatkan dirinya masuk ke Hotel Kayana bersama seorang pria muda—Rafael Atmaja.
“Jangan bohong pada Papa, Clara.” Suara Bram meninggi, nadanya menggelegar memenuhi ruangan. “Kau tahu betapa pentingnya reputasi keluarga ini? Kau akan dijodohkan dengan keluarga besar rekan bisnis kita! Dan sekarang apa yang kau lakukan? Membuat skandal murahan di hotel!”
Wajah Clara memucat, namun justru sebuah keberanian muncul di dalam dirinya. “Papa, aku tidak mau perjodohan itu. Aku tidak mencintai dia. Dan sekarang...” ia menarik napas dalam, menatap ayahnya dengan mata berkaca. “Sekarang aku bahkan sudah tidak suci lagi. Siapa pun yang Papa pilih... dia pasti tidak mau menerima aku.”
Bram Santoso tertegun, lalu wajahnya memerah menahan amarah. “Clara! Apa yang kau katakan?! Kau tahu kata-katamu itu bisa menghancurkan kita semua?!”
“Aku serius, Pa!” Clara berseru dengan nada putus asa. “Aku tidak bisa lagi dijadikan pion dalam permainan bisnis ini. Aku ingin hidupku sendiri!”
Bram begitu marah hingga tangannya bergetar. Ia hampir pingsan, tubuhnya menegang karena emosi yang tak terbendung.
Di luar ruangan, suara deru mesin taksi berhenti di depan gerbang besar kediaman keluarga Santoso. Dari dalam, sosok Rafael Atmaja turun dengan langkah tenang, matanya tajam menatap bangunan megah yang berdiri kokoh.
Tanpa mereka sadari, takdir perlahan mempertemukan kembali dua dunia yang berbeda itu.
Daftar bab
486 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
486 bab








