
- Jumlah kata
- 56.9K
- Popular
- 352
- Subscribe
- 59
Sinopsis
Alya, seorang mahasiswi yang hobi kepo dan suka mengaitkan segala sesuatu dengan teori konspirasi, menemukan dirinya bekerja paruh waktu di Kafe Senja, sebuah kafe kecil yang terkenal bukan karena kopinya, tapi karena gosip bahwa tempat itu angker. Namun, bukannya bertemu hantu, Alya malah berhadapan dengan Raka, barista ganteng yang punya sifat super dingin dan penuh rahasia. Sialnya, setiap kali Alya mencoba menyelidiki misteri di kafe itu—mulai dari suara aneh di malam hari, buku catatan yang tiba-tiba hilang, hingga pelanggan misterius yang hanya datang saat hujan—ia selalu berakhir dalam situasi konyol dan memalukan… yang justru semakin mendekatkannya dengan Raka. Tapi, apa benar Raka hanya barista biasa? Atau dia justru kunci utama dari semua misteri Kafe Senja? Dan yang lebih parah: bagaimana jika, di tengah segala kekacauan itu, Alya justru jatuh cinta?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
bab.1
“Lowongan Kerja yang Aneh”
“Kerja di kafe angker? Serius lo, Ly?” tanya Dini, sahabat sekampus Alya, sambil melipat tangannya di depan dada.
Alya, dengan wajah penuh percaya diri, menepuk brosur lowongan kerja yang baru ditemukannya di papan pengumuman kampus.
“Tulisannya jelas kok, ‘Dicari pegawai paruh waktu untuk shift malam. Gaji besar. Makan gratis.’ Ini rezeki namanya, Din. Lagian, siapa sih yang masih percaya kafe bisa angker?”
“Eh, semua orang percaya, makanya kafenya sepi kalau udah jam malam,” Dini menimpali. “Katanya ada suara-suara aneh kayak orang ketawa, padahal kafe lagi kosong.”
Alya justru makin semangat. “Ya ampun, ini kesempatan emas! Kalau beneran ada suara hantu, gue bisa jadi YouTuber horor. Judulnya: ‘Hantu Kafe Senja Tertangkap Kamera’. Subscriber langsung naik, Din!”
Beberapa jam kemudian, Alya benar-benar datang ke Kafe Senja. Dari luar, bangunannya terlihat manis, dengan lampu kuning temaram dan papan kayu bertuliskan nama kafe. Tapi entah kenapa, hawanya dingin—bukan dingin AC, tapi dingin yang bikin bulu kuduk berdiri.
Begitu masuk, ia disambut aroma kopi yang harum… dan tatapan dingin seorang barista cowok tinggi berambut hitam yang sedang mengelap gelas.
“Shift malam?” tanyanya datar, tanpa basa-basi.
“I-iya…” jawab Alya kikuk, merasa tatapan mata cowok itu menusuk sampai ke hati.
“Nama saya Raka. Mulai malam ini, kamu kerja di bawah pengawasan saya.”
Alya menelan ludah. Sial, dari sekian banyak kemungkinan yang ia pikirkan—ketemu hantu, dikejar bayangan, kursi goyang bergeser sendiri—tak satu pun yang mempersiapkannya untuk ini: barista ganteng tapi dingin yang bikin deg-degan sekaligus pengen ngejitak
Raka tidak berkata apa-apa lagi setelah memperkenalkan diri. Ia hanya menunjuk ke sebuah meja dekat jendela.
“Duduk. Tunggu sebentar.”
Alya menurut. Sambil duduk, ia menatap sekeliling. Kafe itu cantik, tapi ada nuansa aneh yang tak bisa ia jelaskan. Kursi-kursi kayu tertata rapi, lampu gantung berayun pelan meski tak ada angin, dan di pojok ruangan ada jam tua berdentang… padahal jarumnya macet di angka 11.
“Udah kayak setting film horor,” gumam Alya sambil mengeluarkan ponsel, iseng selfie dengan caption: ‘Hari pertama di Kafe Senja. Kalau aku nggak update besok, tolong hubungi polisi.’
Belum sempat ia posting, suara berat Raka memotong.
“Ponsel taruh dulu. Di sini, kita nggak suka karyawan main HP saat kerja.”
Alya kaget. “Eh? Oh… iya, iya.” Ia buru-buru menyimpan ponselnya. Wow, galak banget nih orang. Mana ganteng pula. Fix, kayak cowok-cowok di drama, tipe dingin, ngeselin, tapi bikin penasaran.
Tak lama, seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu dapur, membawa map. Wajahnya ramah, sangat kontras dengan aura Raka.
“Halo, kamu Alya, kan? Saya Bu Ratna, pemilik Kafe Senja. Terima kasih sudah mau melamar.”
“Ah, iya, Bu. Sama-sama!” Alya berdiri, tersenyum cerah.
Bu Ratna duduk, membuka mapnya. “Sebelum kamu mulai bekerja, saya harus tanya beberapa hal dulu. Biasa, formalitas.”
Alya mengangguk mantap. “Siap, Bu. Saya jujur orangnya.”
Pertanyaan pertama terdengar normal: nama lengkap, umur, jurusan kuliah. Tapi kemudian, Bu Ratna mulai melempar hal-hal aneh.
“Apakah kamu berani bekerja sendirian di ruangan kosong?”
“Kalau mendengar suara-suara aneh, biasanya kamu teriak atau diam?”
“Pernahkah kamu mimpi didatangi seseorang yang tidak kamu kenal, lalu keesokan harinya bertemu orang itu di dunia nyata?”
Alya ternganga. “Bu… ini… wawancara kerja atau audisi jadi cenayang?”
Raka menahan tawa kecil di balik meja bar, tapi segera pura-pura batuk untuk menutupi.
Bu Ratna justru tersenyum samar. “Anggap saja… uji mental. Di Kafe Senja, kadang ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan.”
Alya menelan ludah, merinding sejenak. Tapi, demi gaji besar, ia mengangkat dagu dengan gaya heroik.
“Tenang, Bu! Saya sudah berpengalaman nonton ratusan film horor. Saya siap menghadapi apapun!”
Raka melirik sinis. “Jangan sampai besok kamu kabur, ya.”
Alya mendelik balik. “Eh, jangan meremehkan saya. Saya ini pejuang—”
BRAK!
Tiba-tiba pintu belakang kafe terbanting keras. Semua terdiam. Suasana hening, hanya suara detak jam tua yang entah bagaimana ikut berdentang tiga kali.
Alya langsung merapat ke kursinya, menatap Raka dengan panik.
“Eh… itu… pintunya kebetulan angin lewat, kan?”
Raka hanya menatap datar, lalu berjalan perlahan ke arah pintu. Dan anehnya, ia tidak terlihat kaget sama sekali.
Alya meneguk ludah. Ya ampun… apa yang baru aja gue masukin diri gue sendiri?
Pintu belakang yang terbanting itu masih berayun pelan. Angin? Atau sesuatu yang lain?
Alya memegang dadanya yang berdegup kencang. Kalau bukan karena gengsi, mungkin ia sudah lari keluar kafe.
Raka menutup pintu itu dengan tenang, lalu kembali ke bar. Wajahnya tetap dingin, seolah kejadian tadi cuma hal biasa.
“Kalau takut, masih bisa mundur sekarang,” katanya datar.
Alya menegakkan punggung, pura-pura berani. “Siapa takut? Saya cuma… kaget aja. Itu pintu udah waktunya diganti engsel kali, ya?”
Raka menatapnya lama, bibirnya bergerak sedikit… seperti menahan senyum, tapi buru-buru dialihkan lagi dengan mengelap meja.
Bu Ratna menutup mapnya. “Baiklah. Kamu resmi kami terima, Alya. Mulai malam ini, kamu kerja shift malam. Anggap saja kejadian barusan sebagai… penyambutan.”
“Penyambutan?!” Alya hampir berdiri. “Bu, itu kedengarannya lebih mirip ancaman.”
Bu Ratna hanya tertawa kecil. “Kamu akan terbiasa. Nanti Raka yang akan mendampingi kamu di minggu pertama.”
Mendengar itu, Alya melirik ke arah barista dingin itu. Mendampingi katanya. Wah, ini antara mimpi indah atau mimpi buruk…
“Kalau begitu, saya pamit dulu. Raka, tolong ajari dia aturan dasar.” Bu Ratna berlalu ke arah dapur, meninggalkan mereka berdua.
Suasana jadi canggung. Alya duduk, pura-pura sibuk merapikan tas. Raka masih mengelap gelas dengan wajah tanpa ekspresi.
Akhirnya, Alya yang membuka suara.
“Jadi, aturan dasarnya apa?”
Raka menaruh gelas, menatapnya. “Pertama, jangan pernah tinggalkan kafe sendirian setelah tengah malam.”
Alya mengangkat alis. “Kenapa? Ada maling?”
“Bukan maling.” Suaranya rendah, nyaris berbisik.
Alya menelan ludah. “Jangan-jangan… hantu?”
Alih-alih menjawab, Raka malah mengambil teko kopi dan mulai menuang, seakan pertanyaan itu terlalu konyol.
Alya mendengus. “Oke, noted. Apa lagi?”
“Kedua, jangan buka pintu belakang kalau ada yang mengetuk.”
“Kenapa? Bahaya?”
Raka menatapnya serius. “Karena… biasanya yang mengetuk bukan orang.”
Alya membeku. Sekian detik kemudian, ia memaksa tertawa. “Haha… lucu banget. Kamu suka ngelawak juga, ya?”
Raka tidak tertawa. Sama sekali.
Alya langsung berhenti tertawa. “Oke, fine. Aku anggap itu bagian dari training mental.”
Raka mengangguk singkat, lalu menambahkan:
“Dan terakhir… jangan pernah duduk di meja nomor tujuh.”
“Kenapa?”
“Karena meja itu… sudah ada yang punya.”
Alya refleks menoleh ke meja nomor tujuh. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Kursinya bahkan sedikit bergeser, seperti habis dipakai orang.
Bulu kuduknya merinding.
Ya ampun, apa sih ini? Lowongan kerja atau audisi uji nyali?
Namun di sisi lain, ia mencuri pandang ke arah Raka. Cowok itu tetap dingin, misterius, dan entah kenapa… justru bikin jantung Alya berdebar bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu yang lain.
Daftar bab
46 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








