Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SI MISKIN KESAYANGAN TANTE-TANTE

SI MISKIN KESAYANGAN TANTE-TANTE

Azeela Danastri | Bersambung
Jumlah kata
37.2K
Popular
1.0K
Subscribe
219
Novel / SI MISKIN KESAYANGAN TANTE-TANTE
SI MISKIN KESAYANGAN TANTE-TANTE

SI MISKIN KESAYANGAN TANTE-TANTE

Azeela Danastri| Bersambung
Jumlah Kata
37.2K
Popular
1.0K
Subscribe
219
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKonglomeratPria MiskinHarem
Di balik gemerlapnya kota metropolitan yang kejam, Catra Bimantara (22 tahun) berada di titik terendah dalam hidupnya. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang cerdas, hari-harinya diisi dengan kecemasan ganda: ancaman Drop Out (DO) dari universitas bergengsi akibat menunggak uang semester, serta teror penagih utang yang terus mendatangi rumah petaknya demi melunasi sisa pengobatan mendiang ayahnya. Ibunya yang sakit-sakitan dan adiknya yang masih sekolah bergantung sepenuhnya pada pundaknya yang nyaris patah. Ketika harga diri dan idealismenya nyaris runtuh, sebuah peluang putus asa membawa Catra melangkah ke dalam dunia malam eksklusif kelas atas. Di sanalah takdirnya berubah drastis setelah ia tak sengaja menarik perhatian Sarah Wijaya (42 tahun), seorang janda konglomerat pemilik jaringan properti mewah yang dikenal dingin, anggun, namun memendam kesepian luar biasa di balik singgasana kekayaannya. Terpesona oleh kepolosan, ketulusan, dan kegigihan Catra di tengah kerasnya hidup, Sarah memutuskan untuk "mengadopsi" pemuda itu. Dalam sekejap, utang keluarga Catra lunas, ibunya mendapat perawatan medis terbaik, dan ia dipindahkan ke sebuah apartemen mewah. Namun, kebaikan itu datang dengan harga yang harus dibayar: dunia privat Sarah yang penuh gairah, dominasi emosional, dan ikatan rahasia yang mengaburkan batas antara pelindung dan kekasih. Kisah tidak berhenti pada Sarah. Kehadiran Catra yang mencolok di lingkaran sosial elit membuatnya menjadi pusat perhatian para wanita matang berpengaruh lainnya: Clara Sasmita (38 tahun), seorang direktur eksekutif media massa yang agresif, ambisius, dan terbiasa mendapatkan apa pun—dan siapapun—yang ia inginkan. Maya Soedirja (45 tahun), sosialita kaya raya yang gemar memanjakan pria muda demi mengisi kekosongan jiwanya. Catra yang tadinya hanya seorang pemuda polos, mendadak terjebak dalam pusaran harem modern yang penuh intrik, perebutan pengaruh, cemburu buta, dan kenikmatan duniawi yang adiktif. Ia harus berjalan di atas tali tipis: menjaga kewarasannya agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh harta, menghadapi kecurigaan keluarganya di rumah, serta menyelamatkan diri dari intrik para pesaing bisnis para tante yang ingin menghancurkannya lewat skandal moral. Menjelang babak akhir, ketika rahasia besar terbongkar dan ancaman kehancuran karier di depan mata, Catra bukan lagi pemuda miskin yang naif. Ia bangkit melawan manipulasi, menuntut kesetaraan di dalam lingkaran emas tersebut, dan membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar mainan, melainkan pria yang mampu mengendalikan takdirnya sendiri di antara para wanita paling berkuasa di kota.
Tagihan Terakhir Sebelum Mimpi Mati

Pagi itu, langit Jakarta diselimuti mendung tipis. Angin yang berembus melalui jendela gedung Fakultas Ekonomi Universitas Pratama membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan dini hari. Lorong kampus yang biasanya riuh oleh mahasiswa kini terasa lebih sunyi karena sebagian besar tengah mengikuti ujian akhir semester.

Di salah satu ruang sidang, seorang pemuda berdiri tegak di depan layar proyektor.

Kemeja putih yang dikenakannya tampak rapi meski bagian kerah mulai memudar dimakan usia. Celana kain hitamnya sudah beberapa kali dijahit di bagian lipatan bawah. Sepatu pantofelnya memang mengilap, tetapi hanya karena ia menggosoknya setiap malam dengan kain bekas.

Pemuda itu bernama Catra Bimantara.

Usianya baru menginjak dua puluh dua tahun. Mahasiswa tingkat akhir yang selama empat tahun terakhir selalu masuk daftar penerima beasiswa prestasi—setidaknya sampai keadaan ekonomi keluarganya benar-benar runtuh.

"... berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan selama enam bulan, strategi digitalisasi UMKM terbukti mampu meningkatkan omzet rata-rata hingga tiga puluh persen apabila didukung oleh literasi keuangan yang memadai." Suara Catra terdengar mantap.

Tatapannya bergantian mengarah kepada tiga dosen penguji yang duduk di depannya.

Profesor Hendra, penguji utama yang terkenal paling sulit memberikan nilai, melepas kacamatanya sambil mengangguk pelan. "Saudara Catra."

"Iya, Prof."

"Metodologi penelitian yang Anda gunakan cukup rapi. Saya sudah membaca naskah Anda semalam."

Jantung Catra berdegup lebih cepat. "Terima kasih, Prof."

"Jarang ada mahasiswa yang mampu mempertahankan argumennya sebaik ini."

Kalimat itu membuat kedua dosen lain ikut mengangguk.

Seorang dosen perempuan tersenyum tipis. "Kalau bukan karena beberapa kesalahan kecil dalam penulisan daftar pustaka, saya rasa skripsi ini hampir tidak memiliki kekurangan."

Catra mengembuskan napas lega.

Selama beberapa bulan terakhir, ia hampir tidak pernah tidur lebih dari empat jam setiap malam. Siang hari digunakan untuk kuliah, sore menjadi kurir paruh waktu, malam mengerjakan revisi skripsi hingga dini hari.

Semua kelelahan itu terasa sepadan ketika mendengar pujian tersebut.

Profesor Hendra menutup map berisi berkas sidang. "Baik. Kami tidak memiliki pertanyaan tambahan."

Beliau saling berpandangan dengan dua penguji lainnya sebelum akhirnya tersenyum.

"Selamat. Anda dinyatakan lulus sidang skripsi dengan revisi ringan."

Kalimat sederhana itu membuat dunia Catra seolah berhenti beberapa detik.

Lulus, akhirnya... ia membungkukkan badan dalam-dalam.

"Terima kasih banyak, Prof. Terima kasih, Bu."

Begitu keluar dari ruang sidang, beberapa teman seangkatannya langsung menyambut.

"Catra!" Sebuah tepukan mendarat di bahunya.

Rian, sahabatnya sejak semester satu, tersenyum lebar. "Gila, bro! Gue dengar Prof Hendra sampai muji presentasi lo."

Catra terkekeh kecil. "Cuma kebetulan aja."

"Ah, rendah hati terus. Nanti kalau wisuda jangan lupa traktir."

Yang lain ikut tertawa.

"Katanya IPK lo bakal cumlaude."

"Wah, bentar lagi jadi sarjana nih."

"Cari kerja di perusahaan besar, jangan lupa sama kita."

Ucapan demi ucapan memenuhi telinganya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Catra ikut tertawa tanpa beban. Di dalam benaknya, ia membayangkan wajah ibunya ketika mendengar kabar kelulusannya.

Ibunya pasti akan menangis bahagia.

Adiknya mungkin akan berteriak kegirangan.

Mungkin...semua penderitaan mereka akan segera berakhir. Setidaknya, itulah yang ia yakini beberapa menit yang lalu.

"Catra Bimantara?" Sebuah suara memanggil dari arah belakang.

Seorang perempuan berseragam staf administrasi berdiri di ujung lorong sambil membawa map cokelat. "Maaf, bisa ikut saya sebentar?"

Senyum di wajah Catra perlahan memudar. "Ada apa ya, Bu?"

"Ikut saja dulu." Nada suaranya terdengar datar.

Entah mengapa, firasat buruk mulai merayapi dada Catra.

Ia berpamitan kepada teman-temannya sebelum mengikuti staf tersebut menuju gedung administrasi.

Semakin jauh mereka melangkah, suasana kampus yang ramai berubah menjadi lorong-lorong sepi dengan pintu-pintu kantor yang tertutup rapat.

Langkah Catra terasa semakin berat.

Ia tidak tahu...bahwa beberapa menit ke depan, kabar yang baru saja membuatnya merasa berada di puncak dunia akan berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.

Ruangan administrasi akademik berada di lantai dasar gedung rektorat. Berbeda dengan suasana kampus yang dipenuhi obrolan mahasiswa, tempat itu terasa kaku dan sunyi. Bunyi ketikan keyboard serta dering telepon menjadi satu-satunya suara yang terdengar.

Staf yang mengantar Catra berhenti di depan sebuah meja. 

"Silakan duduk."

Catra mengangguk pelan.

Seorang pria berkacamata yang tampak berusia sekitar lima puluh tahun membuka map berwarna biru. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun selain sikap profesional.

"Kamu Catra Bimantara?"

"Iya, Pak."

Pria itu mengecek beberapa lembar berkas sebelum mendorong sebuah map cokelat ke arah Catra.

"Tolong dibaca."

Dengan perasaan yang mulai tidak nyaman, Catra membuka map tersebut.

Baru beberapa detik membaca halaman pertama, darah di wajahnya seolah menghilang.

Pemberitahuan Tunggakan Administrasi Akademik.

Matanya bergerak cepat ke bagian nominal.

Empat semester.

Jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah.

Tangannya perlahan gemetar. "Pak... ini...."

Pria itu menghela napas pendek. "Kami sebenarnya sudah beberapa kali mengirimkan surat pemberitahuan ke alamatmu."

Catra menelan ludah. "Saya... saya tahu, Pak."

"Lalu kenapa tidak pernah ada pelunasan?"

Catra terdiam.

Haruskah ia menjelaskan bahwa setiap rupiah yang berhasil ia kumpulkan selalu habis untuk membeli obat ibunya?

Bahwa setelah ayahnya meninggal akibat gagal ginjal, keluarganya hidup dari utang yang belum lunas?

Bahwa sering kali ia harus memilih antara membayar listrik atau membeli beras?

Semua alasan itu terdengar nyata baginya.

Namun, ia juga tahu alasan tidak akan mengubah angka yang tertulis di atas kertas.

"Saya masih berusaha, Pak."

Pria itu melepas kacamatanya. "Saya menghargai perjuanganmu. Prestasimu juga sangat baik. Bahkan beberapa dosen sering memujimu."

Catra mengangkat wajahnya, seolah menemukan secercah harapan.

"Tapi..."

Satu kata itu langsung menghantam dadanya.

"...universitas memiliki aturan yang harus berlaku untuk semua mahasiswa."

Suasana mendadak terasa jauh lebih dingin.

"Sidang skripsimu memang sudah selesai."

Jantung Catra berdegup lebih cepat.

"Namun hasil sidang belum dapat diproses ke tahap yudisium."

Catra mengernyit. "Maksud Bapak?"

"Status kelulusanmu belum bisa disahkan sebelum seluruh kewajiban administrasi dilunasi."

Seolah ada sesuatu yang menghantam kepalanya.

"Tapi... saya sudah dinyatakan lulus tadi...."

"Lulus secara akademik."

Pria itu berbicara dengan nada tenang.

"Bukan secara administrasi."

Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.

Catra menatap lembar pemberitahuan di tangannya.

Huruf-huruf yang tadi masih jelas kini tampak kabur.

"Kalau... kalau saya mencicil dulu bagaimana, Pak?"

Pria itu menggeleng. "Keputusan ini sudah ditetapkan pihak universitas."

"Tolonglah, Pak...." Suara Catra mulai bergetar. "Saya tinggal selangkah lagi."

"Saya mengerti."

"Tolong beri saya kesempatan."

Pria itu terdiam beberapa saat, lalu membuka layar komputernya. "Karena melihat riwayat akademikmu yang baik, pihak universitas memberikan dispensasi terakhir."

Catra langsung menegakkan badan.

"Batas waktunya sampai besok sore."

Hanya satu kalimat. Namun rasanya seperti vonis.

"Besok...?"

"Iya."

"Pak, mana mungkin saya mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu hari?"

Pria itu tidak segera menjawab. Tatapannya justru menyiratkan rasa iba yang berusaha disembunyikan.

"Kalau sampai besok belum ada pelunasan…maka proses kelulusanmu akan dibatalkan sementara sampai kewajiban administrasi dipenuhi."

Lanjut membaca
Lanjut membaca