

Pagi itu, langit Jakarta diselimuti mendung tipis. Angin yang berembus melalui jendela gedung Fakultas Ekonomi Universitas Pratama membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan dini hari. Lorong kampus yang biasanya riuh oleh mahasiswa kini terasa lebih sunyi karena sebagian besar tengah mengikuti ujian akhir semester.
Di salah satu ruang sidang, seorang pemuda berdiri tegak di depan layar proyektor.
Kemeja putih yang dikenakannya tampak rapi meski bagian kerah mulai memudar dimakan usia. Celana kain hitamnya sudah beberapa kali dijahit di bagian lipatan bawah. Sepatu pantofelnya memang mengilap, tetapi hanya karena ia menggosoknya setiap malam dengan kain bekas.
Pemuda itu bernama Catra Bimantara.
Usianya baru menginjak dua puluh dua tahun. Mahasiswa tingkat akhir yang selama empat tahun terakhir selalu masuk daftar penerima beasiswa prestasi—setidaknya sampai keadaan ekonomi keluarganya benar-benar runtuh.
"... berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan selama enam bulan, strategi digitalisasi UMKM terbukti mampu meningkatkan omzet rata-rata hingga tiga puluh persen apabila didukung oleh literasi keuangan yang memadai." Suara Catra terdengar mantap.
Tatapannya bergantian mengarah kepada tiga dosen penguji yang duduk di depannya.
Profesor Hendra, penguji utama yang terkenal paling sulit memberikan nilai, melepas kacamatanya sambil mengangguk pelan. "Saudara Catra."
"Iya, Prof."
"Metodologi penelitian yang Anda gunakan cukup rapi. Saya sudah membaca naskah Anda semalam."
Jantung Catra berdegup lebih cepat. "Terima kasih, Prof."
"Jarang ada mahasiswa yang mampu mempertahankan argumennya sebaik ini."
Kalimat itu membuat kedua dosen lain ikut mengangguk.
Seorang dosen perempuan tersenyum tipis. "Kalau bukan karena beberapa kesalahan kecil dalam penulisan daftar pustaka, saya rasa skripsi ini hampir tidak memiliki kekurangan."
Catra mengembuskan napas lega.
Selama beberapa bulan terakhir, ia hampir tidak pernah tidur lebih dari empat jam setiap malam. Siang hari digunakan untuk kuliah, sore menjadi kurir paruh waktu, malam mengerjakan revisi skripsi hingga dini hari.
Semua kelelahan itu terasa sepadan ketika mendengar pujian tersebut.
Profesor Hendra menutup map berisi berkas sidang. "Baik. Kami tidak memiliki pertanyaan tambahan."
Beliau saling berpandangan dengan dua penguji lainnya sebelum akhirnya tersenyum.
"Selamat. Anda dinyatakan lulus sidang skripsi dengan revisi ringan."
Kalimat sederhana itu membuat dunia Catra seolah berhenti beberapa detik.
Lulus, akhirnya... ia membungkukkan badan dalam-dalam.
"Terima kasih banyak, Prof. Terima kasih, Bu."
Begitu keluar dari ruang sidang, beberapa teman seangkatannya langsung menyambut.
"Catra!" Sebuah tepukan mendarat di bahunya.
Rian, sahabatnya sejak semester satu, tersenyum lebar. "Gila, bro! Gue dengar Prof Hendra sampai muji presentasi lo."
Catra terkekeh kecil. "Cuma kebetulan aja."
"Ah, rendah hati terus. Nanti kalau wisuda jangan lupa traktir."
Yang lain ikut tertawa.
"Katanya IPK lo bakal cumlaude."
"Wah, bentar lagi jadi sarjana nih."
"Cari kerja di perusahaan besar, jangan lupa sama kita."
Ucapan demi ucapan memenuhi telinganya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Catra ikut tertawa tanpa beban. Di dalam benaknya, ia membayangkan wajah ibunya ketika mendengar kabar kelulusannya.
Ibunya pasti akan menangis bahagia.
Adiknya mungkin akan berteriak kegirangan.
Mungkin...semua penderitaan mereka akan segera berakhir. Setidaknya, itulah yang ia yakini beberapa menit yang lalu.
"Catra Bimantara?" Sebuah suara memanggil dari arah belakang.
Seorang perempuan berseragam staf administrasi berdiri di ujung lorong sambil membawa map cokelat. "Maaf, bisa ikut saya sebentar?"
Senyum di wajah Catra perlahan memudar. "Ada apa ya, Bu?"
"Ikut saja dulu." Nada suaranya terdengar datar.
Entah mengapa, firasat buruk mulai merayapi dada Catra.
Ia berpamitan kepada teman-temannya sebelum mengikuti staf tersebut menuju gedung administrasi.
Semakin jauh mereka melangkah, suasana kampus yang ramai berubah menjadi lorong-lorong sepi dengan pintu-pintu kantor yang tertutup rapat.
Langkah Catra terasa semakin berat.
Ia tidak tahu...bahwa beberapa menit ke depan, kabar yang baru saja membuatnya merasa berada di puncak dunia akan berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Ruangan administrasi akademik berada di lantai dasar gedung rektorat. Berbeda dengan suasana kampus yang dipenuhi obrolan mahasiswa, tempat itu terasa kaku dan sunyi. Bunyi ketikan keyboard serta dering telepon menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Staf yang mengantar Catra berhenti di depan sebuah meja.
"Silakan duduk."
Catra mengangguk pelan.
Seorang pria berkacamata yang tampak berusia sekitar lima puluh tahun membuka map berwarna biru. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun selain sikap profesional.
"Kamu Catra Bimantara?"
"Iya, Pak."
Pria itu mengecek beberapa lembar berkas sebelum mendorong sebuah map cokelat ke arah Catra.
"Tolong dibaca."
Dengan perasaan yang mulai tidak nyaman, Catra membuka map tersebut.
Baru beberapa detik membaca halaman pertama, darah di wajahnya seolah menghilang.
Pemberitahuan Tunggakan Administrasi Akademik.
Matanya bergerak cepat ke bagian nominal.
Empat semester.
Jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah.
Tangannya perlahan gemetar. "Pak... ini...."
Pria itu menghela napas pendek. "Kami sebenarnya sudah beberapa kali mengirimkan surat pemberitahuan ke alamatmu."
Catra menelan ludah. "Saya... saya tahu, Pak."
"Lalu kenapa tidak pernah ada pelunasan?"
Catra terdiam.
Haruskah ia menjelaskan bahwa setiap rupiah yang berhasil ia kumpulkan selalu habis untuk membeli obat ibunya?
Bahwa setelah ayahnya meninggal akibat gagal ginjal, keluarganya hidup dari utang yang belum lunas?
Bahwa sering kali ia harus memilih antara membayar listrik atau membeli beras?
Semua alasan itu terdengar nyata baginya.
Namun, ia juga tahu alasan tidak akan mengubah angka yang tertulis di atas kertas.
"Saya masih berusaha, Pak."
Pria itu melepas kacamatanya. "Saya menghargai perjuanganmu. Prestasimu juga sangat baik. Bahkan beberapa dosen sering memujimu."
Catra mengangkat wajahnya, seolah menemukan secercah harapan.
"Tapi..."
Satu kata itu langsung menghantam dadanya.
"...universitas memiliki aturan yang harus berlaku untuk semua mahasiswa."
Suasana mendadak terasa jauh lebih dingin.
"Sidang skripsimu memang sudah selesai."
Jantung Catra berdegup lebih cepat.
"Namun hasil sidang belum dapat diproses ke tahap yudisium."
Catra mengernyit. "Maksud Bapak?"
"Status kelulusanmu belum bisa disahkan sebelum seluruh kewajiban administrasi dilunasi."
Seolah ada sesuatu yang menghantam kepalanya.
"Tapi... saya sudah dinyatakan lulus tadi...."
"Lulus secara akademik."
Pria itu berbicara dengan nada tenang.
"Bukan secara administrasi."
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.
Catra menatap lembar pemberitahuan di tangannya.
Huruf-huruf yang tadi masih jelas kini tampak kabur.
"Kalau... kalau saya mencicil dulu bagaimana, Pak?"
Pria itu menggeleng. "Keputusan ini sudah ditetapkan pihak universitas."
"Tolonglah, Pak...." Suara Catra mulai bergetar. "Saya tinggal selangkah lagi."
"Saya mengerti."
"Tolong beri saya kesempatan."
Pria itu terdiam beberapa saat, lalu membuka layar komputernya. "Karena melihat riwayat akademikmu yang baik, pihak universitas memberikan dispensasi terakhir."
Catra langsung menegakkan badan.
"Batas waktunya sampai besok sore."
Hanya satu kalimat. Namun rasanya seperti vonis.
"Besok...?"
"Iya."
"Pak, mana mungkin saya mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu hari?"
Pria itu tidak segera menjawab. Tatapannya justru menyiratkan rasa iba yang berusaha disembunyikan.
"Kalau sampai besok belum ada pelunasan…maka proses kelulusanmu akan dibatalkan sementara sampai kewajiban administrasi dipenuhi."