Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pendekar Bayangan Nusantara

Pendekar Bayangan Nusantara

Zach Consir | Bersambung
Jumlah kata
99.8K
Popular
314
Subscribe
32
Novel / Pendekar Bayangan Nusantara
Pendekar Bayangan Nusantara

Pendekar Bayangan Nusantara

Zach Consir| Bersambung
Jumlah Kata
99.8K
Popular
314
Subscribe
32
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurSilatPedangPendekar
Di akhir runtuhnya kerajaan Nusantara, dunia persilatan diliputi darah, pengkhianatan, dan ilmu terlarang. Wira Satmata, pemuda cupu dari padepokan kecil yang dihancurkan, terpaksa mengembara demi bertahan hidup. Di tengah pelarian, ia bertemu Ratna—seorang pendekar perempuan yang lebih kuat, lebih dingin, dan menyimpan luka lebih dalam. Saat perguruan saling membinasakan dan pusaka kuno mulai bangkit, Wira perlahan berubah. Dari yang diremehkan… menjadi bayangan yang ditakuti. Di dunia silat, tidak semua pendekar layak disebut suci. Dan tidak semua kekuatan datang tanpa harga.
BAB 1 — PADEPOKAN YANG TERBAKAR

Hujan turun tipis sejak senja, membasahi tanah padepokan kecil di kaki Gunung Wilis. Atap ijuk yang sudah tua meneteskan air, sementara angin dingin menyusup lewat celah dinding bambu. Di halaman belakang, seorang pemuda bertelanjang dada masih berdiri terengah-engah, kedua kakinya gemetar.

Namanya Wira Satmata.

Tangannya mengepal, tapi bukan karena marah—melainkan karena menahan rasa sakit. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Di hadapannya, seorang pemuda lain berdiri tegak, bersedekap, wajahnya penuh ejekan.

“Segitu doang?” pemuda itu terkekeh. “Udah latihan tiga tahun, jurus Rajah Wesi dasar aja masih kayak orang nyapu halaman.”

Beberapa murid lain tertawa kecil. Ada yang menunduk, ada yang terang-terangan mencibir.

Wira menelan ludah. Keringat bercampur air hujan mengalir di pelipisnya. Ia ingin membalas, ingin berteriak, ingin membuktikan bahwa dirinya bukan beban. Tapi tubuhnya menolak. Setiap kali ia mencoba mengerahkan tenaga, aliran dalamnya tersendat, seolah ada simpul mati di dadanya.

“Ulangi,” suara berat terdengar dari serambi.

Semua tawa langsung meredup.

Seorang lelaki tua berjubah cokelat keluar perlahan. Rambutnya memutih, wajahnya keras seperti pahatan kayu tua. Dialah Ki Brata, kepala Padepokan Satmata—dan satu-satunya orang yang masih percaya pada Wira.

Wira mengangguk cepat. Ia mengambil kuda-kuda lagi. Kaki dibuka, lutut ditekuk, tangan kanan ditarik ke belakang. Jurus pertama Rajah Wesi: Pukulan Tulang Pendek.

Ia melangkah.

Dan… meleset.

Keseimbangannya buyar. Tubuhnya terhuyung, lalu jatuh berlutut di tanah basah. Lututnya menghantam keras, nyeri menjalar sampai ke pinggang. Untuk sesaat, dunia seperti berputar.

Hening.

Ki Brata memejamkan mata. “Cukup.”

Wira menunduk dalam-dalam. Dadanya terasa sesak, bukan karena kelelahan, tapi karena rasa malu yang menyesakkan. Ia tahu—di padepokan kecil ini pun, ia tetap yang paling lemah.

Malam itu, setelah latihan dibubarkan, Wira duduk sendirian di gubuk belakang. Ia membersihkan lukanya dengan kain basah, menggigit bibir menahan perih. Dari kejauhan, terdengar suara murid-murid lain tertawa, membicarakan rencana mereka turun gunung mengikuti seleksi perguruan besar.

“Wira mana mungkin ikut,” suara seseorang terdengar samar. “Bisa-bisa mati di jalan.”

Ia menutup mata.

Sejak kecil, hidupnya memang selalu seperti itu. Datang tanpa diundang, bertahan tanpa diharapkan.

Ia tidak tahu siapa orang tuanya. Ki Brata menemukannya belasan tahun lalu di pinggir hutan—masih bayi, dibungkus kain lusuh, dengan tanda aneh di punggungnya: rajah hitam menyerupai simpul berpilin. Sejak itu, Wira dibesarkan di padepokan, tapi tidak pernah benar-benar diterima.

Malam semakin larut.

Tiba-tiba, angin berubah.

Wira merasakan sesuatu. Bukan suara, bukan bau—melainkan tekanan. Seperti ada sesuatu yang menginjak-injak udara di sekitar padepokan. Bulu kuduknya berdiri.

Lalu… jeritan.

“ADA ORANG—!”

Suara itu terputus oleh dentuman keras. Api menyala di sisi depan padepokan, menjilat dinding bambu dengan rakus. Wira terlonjak berdiri. Jantungnya berdegup liar.

Serangan.

Ia berlari keluar, hujan langsung menyambut wajahnya. Di halaman utama, kekacauan sudah pecah. Beberapa orang berpakaian hitam melompat masuk dari pagar, gerakan mereka cepat dan terlatih. Kilatan senjata pendek berkelebat di bawah cahaya api.

“LINDUNGI MURID!” suara Ki Brata menggelegar.

Wira membeku sejenak. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin. Inilah dunia persilatan yang sebenarnya—bukan latihan, bukan ejekan. Ini nyata. Ini mematikan.

Seorang penyerang melihatnya.

“Anak kecil,” gumam pria itu, lalu bergerak cepat.

Wira refleks menghindar. Terlambat. Tendangan menghantam rusuknya. Ia terpental, menghantam tiang kayu. Udara keluar dari paru-parunya. Pandangannya berkunang.

“Jangan bunuh yang itu,” suara lain terdengar. “Lihat dulu rajahnya.”

Rajah?

Wira berusaha bangkit, tapi tubuhnya tak menurut. Di tengah kabut penglihatannya, ia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku.

Di sisi lain halaman, seorang gadis berpakaian hitam kelam berdiri di bawah hujan. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya pucat namun tenang. Di tangannya, sebilah pedang tipis berkilau redup. Gerakannya… berbeda.

Halus. Efisien. Mematikan.

Satu penyerang maju—dan jatuh tanpa suara. Yang lain mencoba mengepung—tapi gadis itu sudah berpindah tempat, seolah menyatu dengan hujan. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah di wajahnya. Hanya mata dingin, fokus, seakan semua ini hanyalah tugas yang harus diselesaikan.

Wira menatapnya, terpukau.

“Ratna…” seseorang berbisik ketakutan.

Nama itu menggantung di udara, berat dan asing.

Di saat yang sama, Ki Brata berhadapan dengan seorang pria tinggi berjubah gelap. Aura mereka bertabrakan, membuat api di sekitar bergetar.

“Sudah terlambat, Ki Brata,” kata pria itu tenang. “Ilmu terlarang tidak boleh tersisa.”

Wira ingin berteriak. Ingin memperingatkan. Tapi tenggorokannya terkunci.

Api semakin membesar. Jeritan kembali terdengar. Dan di tengah kekacauan itu, Wira merasakan sesuatu di dadanya… bergerak.

Panas. Dalam. Berbahaya.

Rajah di punggungnya berdenyut, seolah terbangun dari tidur panjang.

Dan tanpa ia sadari, malam itu—di bawah hujan dan api—takdir seorang pendekar bayangan mulai bergerak.

***

Api berkobar semakin liar, menjilat langit yang hitam. Hujan seakan kalah, jatuh sia-sia di atas bara dendam yang telah disulut. Wira terengah, tubuhnya masih tergeletak di tanah, tapi denyut panas di dadanya kian tak tertahankan.

Seperti ada sesuatu yang memaksa keluar.

“Argh…” erangnya tertahan.

Rajah di punggungnya terasa terbakar. Bukan panas api—lebih dalam, lebih hidup. Urat-urat di lehernya menegang, napasnya tersentak. Untuk sesaat, suara di sekelilingnya menghilang, digantikan dengung berat yang memekakkan kepala.

Di matanya, dunia berubah lambat.

Ia melihat langkah Ratna yang meluncur seperti bayangan, melihat pedangnya menebas tanpa ragu. Ia melihat Ki Brata menahan serangan dengan kedua tangan, darah menetes dari sudut bibir sang guru. Ia melihat… kematian, begitu dekat.

“Bangun…”

Suara itu bukan datang dari luar. Seolah berbisik langsung di dalam dadanya.

“Kalau kau tetap di tanah… kau akan mati.”

Wira menggertakkan gigi. Ia menekan telapak tangannya ke tanah basah. Rasa sakit di rusuknya masih ada, tapi… tertahan. Seperti ditelan sesuatu yang lebih besar. Perlahan, dengan gemetar, ia berhasil berdiri.

Seorang penyerang lain melihatnya dan tertawa kecil. “Masih hidup rupanya.”

Pria itu melangkah maju, santai, yakin. Terlalu yakin.

Saat itulah Wira melangkah—tanpa jurus, tanpa kuda-kuda yang benar. Gerakannya kacau, bahkan memalukan. Tapi di balik kekacauan itu, ada dorongan mentah, liar, yang belum pernah ia rasakan.

Tangannya menghantam.

Bukan pukulan Rajah Wesi. Bukan pula silat apa pun yang ia kenal.

Namun suara benturan itu berat. Tulang berbunyi retak. Tawa itu lenyap, digantikan jeritan pendek sebelum tubuh penyerang terlempar ke samping, menghantam dinding dan terdiam.

Wira terpaku. Ia menatap tangannya sendiri, napasnya memburu. “Apa… apa barusan itu?”

Ratna menoleh.

Untuk pertama kalinya, mata dingin gadis itu menatap Wira langsung. Bukan belas kasihan. Bukan kagum. Melainkan kewaspadaan—seperti melihat sesuatu yang berbahaya baru saja terbangun.

“Menjauh dari dia,” kata Ratna dingin kepada murid lain. “Anak itu… belum sadar.”

Wira ingin bertanya. Ingin berbicara. Tapi kepalanya berdenyut hebat. Dunia kembali berputar. Kakinya melemah.

Di kejauhan, suara Ki Brata terdengar parau namun tegas, “Wira… lari…!”

Terlambat.

Sosok berjubah gelap itu melangkah mendekat, auranya menekan seperti gunung runtuh. Ia menatap Wira dengan mata tajam, penuh minat.

“Jadi kau masih hidup,” gumamnya. “Benih itu… benar-benar ada.”

Api memantul di matanya.

Dan Wira tahu, tanpa mengerti alasannya—

mulai malam ini, ia tidak lagi diburu karena lemah…

melainkan karena apa yang ada di dalam dirinya.

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca