
Tabib Super Penagih Hutang
Pelantun Mimpi|Tamat
- Jumlah kata
- 559.6K
- Popular
- 65.1K
- Subscribe
- 2.5K
- Jumlah kata
- 559.6K
- Popular
- 65.1K
- Subscribe
- 2.5K
Sinopsis
Maxwell adalah murid tabib sakti yang dibesarkan di atas gunung. Setelah gurunya sekarat dan memaksanya turun gunung, Maxwell sebenarnya tahu satu hal penting, gurunya hanya pura-pura mati! Alih-alih membongkar kebohongan itu, Maxwell pura-pura polos dan diam-diam mencuri surat utang milik gurunya, lalu turun gunung dengan "misi mulia" yaitu menagih utang dan hidup dengan nyaman. Mampukah si tabib licik melewati berbagai tantangan dan rintangan untuk mewujudkan "misi mulia" ini?
Ulasan
10 ulasan
Daozhun
29/6/26 02:16
buku yang bagus Author numpang promo yaa 🙏 Baca: Reinkarnasi, Bertani Untuk Menjadi Abadi Bayangin gini, mau jadi abadi di dunia kultivasi tapi caranya bukan gelut tiap hari... tapi malah bertani. Nanem tanaman roh, panen, dimakan, level up. Chill banget kan? Cerita anti mainstream yang bikin susah berhenti scroll. Sekali baca, dijamin nagih!
kiann'szee
20/6/26 01:48
permisi izin promosi novel baru judul = ren ashborn : dari dibuang menjadi raja harem jangan lupa mampir dijamin ga bosen 🤗
Bab 1.
Di puncak Gunung Merak yang menjulang tinggi dan diselimuti kabut tipis, sebuah rumah kayu sederhana berdiri kokoh menghadap ke jurang. Di dalam rumah tersebut, seorang lelaki tua terbaring sekarat di atas ranjang bambu.
Napasnya putus-putus, dada naik turun tidak teratur. Di sela-sela batuknya, ia memanggil-manggil murid satu-satunya dengan suara semakin serak.
"Maxwell… ke sini… cepat…!"
Tak lama kemudian, dari luar terdengar suara langkah lebih mirip suara orang berlari tergopoh-gopoh, dan dalam hitungan detik… BRUKK!
Seorang pemuda menabrak pintu kayu yang ia lewati lalu nyungsep sampai dagunya menghantam lantai papan.
Lelaki tua itu hanya bisa menutup wajahnya. "Kau ini murid atau bencana alam…"
Maxwell Buana mengangkat wajahnya sambil meringis. "Guru… maaf… aku terburu-buru…"
"Sampai mau mati pun aku masih harus melihat kebodohanmu," omel lelaki tua itu sembari menggelengkan kepala. "Ayo sini! Jangan menangis dulu, aku belum mati!"
Maxwell merangkak ke sisi ranjang, matanya sudah berkaca-kaca. "Guru, bertahanlah… aku akan buatkan sup kesukaanmu supaya Guru cepat sembuh. Mau ya?"
"Sudahlah, tak ada gunanya!" Sang Guru menggeleng malas, "lagipula sup buatanmu rasanya seperti air comberan."
"Guru, jangan begitu… aku ambilkan obat saja ya? Tunggu sebentar…."
Tangan keriput Guru menahan lengan Maxwell, lalu menepuk pipinya pelan. "Sudah terlambat, Bocah. Kalau bisa sembuh, aku tidak akan memanggilmu sampai nyaris putus napas seperti tadi."
Mendengar kata-kata sang Guru, air mata Maxwell tak bisa dibendung lagi. Ia menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan kembang gula.
Sejak sepuluh tahun lalu, ia sudah diadopsi oleh lelaki tua itu dan tinggal berdua saja di puncak gunung. Keduanya saling bergantung satu sama lain selama bertahun-tahun.
"Guru, kumohon jangan tinggalkan aku!"
"Maxwell, kemampuanmu sudah melampaui gurumu sendiri," Sang Guru mengusap pipi murid tunggalnya dengan penuh kasih. "Ilmu pengobatan, ramalan, dan bela diri… semuanya sudah kau kuasai. Aku tidak bisa lagi menahanmu di sini."
Maxwell makin kencang menangis. "Guru, jangan bicara seperti sedang berwasiat…"
"Memang sedang," jawab lelaki tua itu santai. "Aku sebenarnya tak tega meninggalkanmu, tapi… kelahiran, usia tua, sakit, dan kematian adalah hukum alam. Aku hanya menunggu giliranku tiba..."
Napasnya melemah. Tangan yang tadinya menyentuh pipi muridnya perlahan terkulai.
"Guru…?"
Hening memenuhi ruangan. Kabut dari luar seakan menyusup masuk, membungkus kesunyian. Guru telah pergi untuk selamanya.
Maxwell menunduk sampai dahinya menyentuh tangan gurunya. "Guru, terima kasih atas segalanya."
---
Beberapa jam kemudian, di depan gundukan tanah makam yang masih merah di belakang rumah, Maxwell berlutut dengan punggung tegap, lalu meletakkan tiga batang dupa dan menatap tulisan pada nisan yang ia ukir sendiri.
'Di sini terbaring Guru Terbaik (walaupun suka nyolong pakaian dalam janda desa).'
"Guru, Muridmu bersumpah!" Maxwell berikrar, kedua tangannya mengepal erat, "Aku akan mengembangkan semua ilmu yang telah kau ajarkan. Aku akan hidup dengan benar di dunia luar."
Seekor tupai di pohon memperhatikannya dengan tatapan meremehkan, tapi Maxwell tak peduli.
"Namamu tak akan pernah kulupakan, Guru... eh, tunggu! Nama asli Guru siapa ya? Kok aku cuma tahu panggilannya 'Guru' atau… mungkin namamu sebenarnya 'Si Tua Pelit'?"
Angin gunung mendadak berhembus kencang, seolah menjawab: "Dasar Murid durhaka!"
Maxwell bangkit sambil menepuk-nepuk celananya. "Oke, sudah cukup dramanya. Karena Guru sudah wafat, aku tak lagi memiliki keterikatan apapun. Saatnya cari duit!"
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah cepat menuruni gunung sambil bersiul riang.
Namun tak lama setelah sosoknya hilang di balik pepohonan, terdengar bunyi garukan aneh dari dalam makam.
Kreek... kreek... kreek…
Tiba-tiba Sebuah tangan menjulur keluar dengan gaya zombie di film horor. Kemudian kepala beruban muncul, lengkap dengan daun dan cacing nempel di rambut.
"Puih! Puih!" Sang Guru meludahkan tanah yang masuk ke mulutnya. "Siapa bilang pura-pura mati itu gampang?! Hidungku jadi kemasukan semut!"
Lelaki tua itu memanjat keluar sambil menggerutu. "Aku ngajarin Maxwell semua ilmuku, tapi apa balasannya? Dia malah bikin aku tidur di dalam tanah berjam-jam! Dasar murid nggak tahu diri!"
Setelah membersihkan diri, dengan cara mengibaskan badan, Sang Guru tertawa lepas penuh kemenangan.
"Hahaha! Akhirnya bocah sialan itu pergi!"
Ia melompat-lompat girang. "Sekarang saatnya menagih utang dan jalan-jalan dengan Erliana kekasihku! Kali ini aku mau ke Bali… mau nyobain surfing!"
"Ah... Aku tak sabar untuk menjilat-jilat chococip merah muda di dada bulat Erliana. Dan meremas-remas bokong kencangnya sambil terus merogoh gua nikmatnya dengan tongkat saktiku!" Jari-jari sang guru terbuka tutup sambil lidahnya keluar seperti sedang menjilat es krim. Matanya memejam dan terus membayangkan khayalan yang kotor. "Akan kubuat kau terkencing-kencing di atas kasur hotel bintang lima yang mahal itu, Erlianaku sayang!"
Namun tawa itu berhenti mendadak begitu Sang Guru merogoh saku bajunya, mencari bundel surat utang yang ia simpan selama bertahun-tahun. Kosong.
Senyumnya perlahan memudar. Ia merogoh saku celana, kosong juga.
"Lho?"
Tangannya meraba-raba sekeliling pakaiannya dengan panik. Bahkan sampai merogoh celana dalam.
"Mana?! Mana surat-surat utangku?!"
Kemudian otaknya yang sudah tua itu terkoneksi pada sosok murid semata wayangnya.
"Pasti Bocah sialan itu mengambil semuanya?! ARRGH! MAXWELL BRENGSEEEEK!"
Teriakannya menggema di seluruh puncak gunung, membuat burung-burung yang sedang tidur siang pun terbang ketakutan.
---
Sementara itu, di dalam kereta menuju Kota Kejora, Maxwell duduk dengan wajah berseri seperti orang yang baru memenangkan undian seumur hidup. Di pangkuannya ada bundelan tebal terbungkus kain merah.
Ia membukanya diam-diam, memastikan isinya.
Di dalamnya ada setumpukan surat utang yang tertata rapi, lengkap dengan nama debitur, alamat, tanda tangan, cap jempol, bahkan catatan-catatan kecil Sang Guru. Setiap lembar surat utang berisi perjanjian yang dibuat sebelum Guru mengobati pasien.
Ia mengambil selembar dan membacanya dengan teliti.
'Bimo Taviro, Direktur Utama Grup Asteria. Utang: tiga miliar rupiah.' Maxwell bersiul kagum sambil mencomot keripik dan memakannya. 'Nyawa emang mahal banget ya? Guru ngobatin orang seperti menjual ginjal.'
Ia membaca perjanjian di bagian bawah surat utang dengan senyum lebar. 'Kalau saja Guru tak mabuk berat kemarin dan bocor mulut, aku nggak akan pernah tahu tentang rahasia surat utang ini.'
Dalam perjanjian itu juga tertulis aturan: sebelum menerima pembayaran, pemegang surat utang harus terlebih dahulu menyetujui satu permintaan dari pihak yang berutang. Jika pemegang surat utang menolak memenuhi permintaan itu, maka surat utang otomatis batal.
Namun, jika pihak yang berutang menolak membayar, mereka harus menerima hukuman. Selain itu, pemegang surat utang juga berhak memberi hukuman kepada pihak yang berutang.
'Si tua terlalu meremehkan kemampuan medisku,' Maxwell nyengir, 'mengira bisa menipuku dengan berpura-pura mati tanpa tahu kalau aku pura-pura percaya. Ini justru kesempatan emas bisa turun gunung dan melihat dunia luar!'
'Hehehehe... dengan surat-surat ini, aku bisa beli rumah, mobil, kulkas dua pintu…!" Maxwell tertawa bahagia.
"Kekekeke..."
"Nyahahaha..."
Pemuda itu tertawa semakin keras membayangkan kehidupan mewah di depan mata.
"MUAHAHAHA!"
Beberapa penumpang di sekitarnya menatapnya dengan pandangan aneh, seolah Maxwell kapan saja bisa meloncat dari jendela kereta yang melaju.
Seorang wanita cantik dengan dress yang menampilkan paha putih mulusnya dan dadanya yang bulat besar seperti berusaha keluar dari pakaiannya duduk tidak jauh dari Maxwell dan menatap Maxwell beberapa lama sebelum akhirnya membuka suara.
"Maaf… apakah kamu baik-baik saja?"
Maxwell tersentak kaget, keripik di tangannya melayang dan nyangkut di rambut penumpang depan.
"Aku baik-baik saja, Nona!" jawabnya polos. Tapi matanya tak bisa lari dari sembulan dua gunung yang nyaris menunjukkan dua tombol merah muda milik wanita tersebut.
"Kamu tertawa-tawa sejak tadi," ujar si Gadis cantik dengan nada khawatir, "aku kira kamu terkena demam tinggi atau semacamnya."
Maxwell cepat-cepat menutup bundelnya. "Eh maaf, aku hanya sedang terbawa suasana bahagia."
"Terbawa suasana sampai ketawa kayak penjahat sinetron?" Wanita itu tersenyum geli lalu memperkenalkan diri, "Namaku Gisella Prawina, kalau boleh tahu apa yang membuatmu begitu bahagia?"
Maxwell berpikir sesaat, lalu berkata jujur, "Maxwell Buana, dan aku berencana menagih utang."
Ekspresi Gisella seketika berubah. Sorot matanya berubah tajam penuh kemarahan.
"Menagih utang? Siapa yang tega menunggak gaji seorang buruh malang sepertimu?"
"Eh? Buruh?" Maxwell garuk-garuk kepala bingung. Kemudian mengamati dirinya sendiri, 'Pasti karena pakaianku yang terlalu sederhana ini sampai dikira seorang buruh kasar.'
"Aku bisa membayangkan betapa kerasnya kamu bekerja selama setahun dengan penghasilan tak seberapa, tapi masih ditipu soal upah. Sungguh keterlaluan!" Gigi Gisella begemeletuk menahan emosi.
Maxwell terkesima. "Kamu salah pa…."
"Tenang saja!" ujar Gisella sambil mengepalkan tangan mungilnya. "Aku benci perusahaan yang memperlakukan buruh seenaknya. Kalau perlu, aku akan membantumu menagih. Sebutkan saja namanya! Aku punya beberapa kenalan di serikat pekerja."
Maxwell merasa ucapan itu begitu gagah hingga ia tak tega langsung meluruskan.
Akhirnya ia menjawab setengah berbisik, "Orang yang mau kutagih bernama… Bimo Taviro."
Gisella berhenti bernapas sepersekian detik.
"B-Bimo Taviro?" suaranya bergetar. "Direktur utama Grup Asteria itu…?"
"Iya."
Gisella menatap wajah polos Maxwell, lalu menatap bundel kain merah di pangkuan pemuda itu dengan ragu, lalu kembali pada wajah pemiliknya.
"Maaf… sepertinya aku salah dengar. Grup Asteria itu memiliki nilai pasar miliaran. Bagaimana mungkin pemiliknya berutang kepada seorang buruh?"
Daftar bab
478 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
478 bab








