
Merangkai mimpi,menemukan genggaman erat ibu yang tak terucap
camelia segaf|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
haikal adalah sosok anak laki laki yang dipaksa kuat oleh keadaan yang tumbuh dengan luka hingga ia meranjak dewasa ia baru menemukan ternyata luka nya adalah genggaman erat sang ibu yang tidak ia sadari luka ibunya yang tak pernah diucapkan nya menjadi lukanya tapi dibalik semua itu banyak mimpi yang ibunya rajut dalam diam agar putranya tidak merasakan pahitnya kehidupan yang ibunya alami
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 RINDU AYAH
Udara sore disebuah rumah sederhana sedikit dingin,Angin sore membuat seorang anak laki laki kecil mengingat kenangan indah tentang Ayahnya
Haikal adalah nama yang ayahnya berikan kepadanya dia adalah anak bungsu dari ke 4 bersaudara dia punya 3 kakak satu diantara nya laki2 tapi semua sangat menyayanginya
Ketika sedang duduk bersama Haikal menatap lurus ke arah pohon didepan rumahnya
"Kak liat pohon itu dulu kita sering bermain kembang api bersama ayah lalu ayah melempar kembang api ke pohon jadi seperti buah pohon yang menyala padahal itu kembang api tapi ayah bilang itu sulap" ucap Haikal dengan tersenyum
Kenangan Ayahnya yang meninggal ketika dia berusia 5 tahun kini ia telah berusia 7 tahun,meski sudah 2 tahun berlalu Haikal masih jelas ingat bagaimana tangan nya digenggam saat berjalan bersama,bagaimana suata lembut ayahnya yang selalu bertanya apa yang dia inginkan ketika ayahnya akan pergi dan pelukan hangat ayahnya ketika pulang ke rumah dengan membawa apa yang Haikal sukai
"Kak aku rindu Ayah" ujar Haikal dengan menatap ke pohon
"Tapi Ayah sudah bahagia di syurga Haikal" ujar kak Lila yang sedang menyisir rambut Haikal dengan lembut meski dalam hatinya dia juga merasakan hal yang sama
"Nanti malam kita main kembang api yaa seperti dulu ayah masih ada" ujar kak Zaidan kakak kedua Haikal yang merupakan kakak laki laki satu satunya
Suara itu membuat Haikal tersenyum lebar tapi tiba tiba saja ibu Aisyah pulang setelah seharian berdagang,tangan nya membawa tas dagangan wajahnya lelah tapi tatapan nya tegas
"Haikal kenapa kamu masih duduk disini,ibu sudah bilang kan kalau setelah mandi langsung solat lalu hafalan bersama kakak kakak mu dan kalian bertiga harusnya mengajak adik kalian murojaah bersama bukan mengajak main hingga haikal lupa tugasnya bukan nya kalian juga punya hafalan yang harus disetorkan pada ibu nanti" ujar bu Aisyah dengan suara tegas
Haikal langsung berdiri masuk kedalam rumah dia melihat ibunya yang langsung masuk ke arah dapur untuk menyiapkan makan dan rasa sakit muncul didadanya.
Padahal ibu Aisyah sudah terbiasa merawat ke empat anaknya seorang diri,sikap disiplin yang dia tunjukan adalah cara dia menjaga semua anaknya agar bisa lebih mandiri dan bertanggung jawab
Di dapur suara nyala kompor dan ledakan minyak saat menggoreng tempe terdengar jelas,ibu Aisyah sedang sibuk menyiapkan makan untuk anak anaknya sambil mengingat pesanan baju yang harus dikirim esok pagi
Sebagai pedagang baju yang berjualan dari rumah ke rumah dari pagi hingga sore hari dia harus mencari musola untuk setiap solat duhur dan asarnya agar kewajiban nya sebagai muslimah tidak dia tinggalkan demi berkerja keras untuk ke empat anaknya agar bisa makan cukup dan sekolah lancar
Dia sering ditolak dari rumah ke rumah tapi semangat nya tak pernah putus dalam hatinya selalu berdo'a agar sakit yang dia rasakan dia dirasakan oleh anak anaknya kelak
Sambil megaduk sayuran matanya menyelinap ke arah kamar anak anaknya dengan air mata yang menetes
Dia tahu pasti sikapnya terkadang tidak terasa melukai anaknya terutama Haikal karena Haikal masih terlalu kecil untuk memahami keadaanya,tapi semenjak suaminya meninggal dunia dia harus menanggung semuanya jadi dia merasa harus bersikap tegasdan disiplin karena ia khawatir umurnya juga tidak panjang untuk bisa selalu bersama anak anaknya ia ingin anak anaknya mandiri juga saling mengasihi itulah mengapa ia selalu membebankan tanggung jawab Haikal pada kakak kakaknya agar mereka belajar saling menyayangi satu sama lain dan belajar bertanggung jawab karena dia juga khawatir bagaimana ketika tuhan memanggilnya juga ketika anak anaknya belum siap bagaimana anak anaknya akan hidup tanpa nya nantinya
Satu satunya yang bisa dia lakukan adalah mempersiapkan segalanya semampu dia
"Ayo ke dapur kita makan"
panggil bu Aisyah dengan suara tegas
Ke empat bersaudara segera beranjak ke dapur kak Lila kakak pertama langsung menyiapkan piring dan sendok ke atas meja
Kak Zaidan mengambil gelas dan menuangkan air minum,sementara kak Salwa anak perempuan terakhir yang sedang membantu merapikan dagangan ibunya langsung berdiri menghampiri Haikal yang sedang bediri disamping meja dengan memainkan bajunya lalu mengajaknya duduk makan bersama
Setelah semua duduk dimeja makan lalu Aisyah menatap anaknya satu persatu
"Setelah makan langsung siap siap solat maghrib berjamaah lalu setorkan hafalan kalian pada ibu,Haikal kamu sudah hafal kan suratan pendek yang sudah ibu ajarkan??"
Haikal mengangguk pelan tangan nya bermain main dengan ujung bajunya
Dia ingat dulu Ayahnya juga sering mengajarkan nya mengaji tapi dengan cara yang lebih santai,seringkali mereka mengaji sambil duduk di teras menikmati angin sedangkan ibu selalu memberikan target yang harus dicapai membuatnya kadang merasa tertekan
Setelah selesai makan kak Lila mengajak Haikal ke kamar untuk membersihkan nya terlebih dahulu
"Jangan sedih yaa Haikal" ujar kak Lila dengan mengusap kepala adiknya dengan pelan "Ibu itu sayang banget sama kita cuma di khawatir kalo kita tidak pandai agama bagaimana kita hidup,kamu tau kan bagaimana ibu bangun tengah malam untuk berdo'a menangis buat kita,kakak yakin jauh dibalik setiap kemarahan ibu itu lebih besar kasih sayang nya untuk kita setelah kamu besar nanti kamu akan mengerti haikal"
ucap kak Lila dengan lembut
Haikal mengangguk tapi dalam hatinya masih merasa bingung dia mencoba mengingat wajah ibunya saat berdo'a tapi yang muncul adalah wajah ibunya yang tegas saat memerintahkan dia belajar sholat dengan benar tapi tiba tiba dia ingat sesuatu ayahnya dulu pernah berkata "Cinta seorang ibu itu sangat dalam seperti lautan yang kedalaman nya tidak terlihat dipermukaan"
Haikal tidak mengerti arti dari ungkapan ayahnya saat itu tapi kini ia mulai memikirkan nya
Tanpa disadari keduanya ibu Aisyah sedang mendengarkan dibalik pintu dengan menangis dia merasa gagal memberi kelembutan pada anak anak nya tapi luka yang dia pendam sendiri membuat nya menjadi terlihat terlalu tegas padahal jauh di dalam nya dia sangat lah rapuh dia hanya ingin yang terbaik bagi anak anak nya tanpa dukungan keluarga dia membesarkan ke empat anak nya sendiri
"Yaa Allah ampuni hamba karna masih belum bisa lembut pada titipanmu padahal engkau maha lembut dalam memberi kasih sayang tapi hamba hanya berusaha agar mereka tidak melihat sisi rapuh hamba yaa Raab biar engkau saja yang maha tahu segalanya biarkan anak anak hamba melihat hamba tanpa kerapuhan ini agar kelak mereka bisa tumbuh dengan rasa percaya diri "ucap bu Aisyah dengan derai air mata dan tangan dimulutnya agar anak anaknya tidak mendengarnya
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








