

Arkan berdiri mematung di balik dinding kaca kantornya yang menjulang tinggi di lantai 45. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu Jakarta di bawah sana tampak seperti butiran berlian yang berserakan, namun pikiran Arkan tidak sedang tertuju pada pemandangan kota. Di tangannya, sebuah undangan pernikahan eksklusif berbahan beludru putih tulang dengan aksen emas terasa berat. Nama "Arkan Aditama" dan "Aqeela Putri" terukir indah dengan tinta emas yang timbul.
Bagi Arkan, pernikahan ini adalah pencapaian puncaknya. Setelah sepuluh tahun membangun imperium bisnisnya dari nol hingga menjadi salah satu pengembang properti paling disegani, ia merasa sudah saatnya memiliki pelabuhan terakhir. Dan Aqeela adalah wanita yang sempurna untuk itu. Wanita yang tenang, lembut, dan tidak pernah menuntut macam-macam. Selama dua tahun bertunangan, Arkan merasa hidupnya sangat terkendali,persis seperti yang ia sukai.
"Satu bulan lagi," gumam Arkan pelan. Suaranya rendah dan penuh dengan aura kewibawaan yang biasanya membuat lawan bicaranya di meja negosiasi merasa terintimidasi.
Ia membetulkan letak jam tangan Patek Philippe-nya yang melingkar rapi di pergelangan tangan kiri. Arkan adalah pria yang memuja presisi. Baginya, keterlambatan satu detik adalah kegagalan. Begitu juga dalam hubungan. Ia sudah menyusun rencana masa depan yang matang: rumah mewah di kawasan elite, bulan madu ke Eropa, dan kehidupan yang stabil tanpa guncangan. Namun, entah mengapa, malam ini perasaannya sedikit gelisah.
Malam itu, Arkan menjemput Aqeela untuk makan malam di sebuah restoran mewah yang letaknya tersembunyi di atap salah satu gedung tertinggi. Ia sudah memesan meja terbaik dengan pemandangan langsung ke jantung kota. Ia ingin merayakan persiapan pernikahan mereka yang sudah mencapai tahap akhir.
Saat Aqeela turun dari rumahnya mengenakan kaftan modern berwarna soft pink yang dipadukan dengan hijab senada, Arkan sempat terpana. Kecantikan Aqeela selalu membuat tenang, tidak mencolok, namun sangat merasuk.
Namun, saat Aqeela masuk ke dalam mobil, Arkan menangkap sesuatu yang tidak biasa.
"Kamu wangi sekali malam ini, Qeela," sapa Arkan sambil mulai menjalankan mobil sedan hitam mewahnya dengan halus.
"Terima kasih, Mas," jawab Aqeela singkat. Ia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
Sepanjang perjalanan, Aqeela lebih banyak menatap keluar jendela. Tangannya terus menggenggam ponsel di pangkuannya. Biasanya, mereka akan berdiskusi tentang bisnis atau rencana rumah baru mereka, namun kali ini Aqeela tampak seperti sedang berada di dunia lain.
Sesampainya di restoran, suasana romantis yang sudah Arkan siapkan seolah tidak berpengaruh banyak. Saat pelayan menyajikan hidangan pembuka berupa wagyu tartare, Aqeela hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Arkan dengan nada tenang namun penuh selidik. Matanya yang tajam menatap langsung ke manik mata Aqeela, seolah ingin menembus ke dalam pikiran calon istrinya itu.
Aqeela tersentak, sedikit terkejut dengan pertanyaan Arkan. "Eh, tidak ada, Mas. Hanya... sedikit pusing karena banyak revisi pekerjaan di kantor tadi siang."
Arkan menyesap wine non-alkoholnya dengan perlahan. Sebagai seorang CEO, ia sudah sangat terlatih untuk mendeteksi kebohongan sekecil apa pun. Ia tahu ada variabel yang tidak sinkron dalam perilaku Aqeela malam ini. Ia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan di balik sikap diamnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Qeela. Jika kamu butuh asisten tambahan di kantor atau ingin cuti lebih awal, katakan saja. Aku tidak mau calon pengantinku terlihat pucat saat hari besar kita nanti," ucap Arkan, suaranya terdengar seperti perlindungan, sekaligus penuh perintah.
Saat Aqeela pamit ke toilet untuk membasuh wajahnya, ia meninggalkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke atas. Itu adalah kesalahan fatal bagi seseorang yang sedang menyimpan rahasia. Arkan sebenarnya bukan tipe pria yang suka mengintip privasi orang lain, namun insting pelindungnya yang dominan tidak bisa ditahan saat sebuah notifikasi pesan masuk dan menyalakan layar ponsel itu.
Nama pengirimnya tidak ada, hanya sebuah nomor asing. Tapi pesan yang tertulis di sana membuat seluruh aliran darah Arkan seolah berhenti sejenak sebelum akhirnya mendidih.
"Sepuluh tahun aku menyimpan perasaan ini, Qeela. Aku kembali ke Jakarta hanya untuk satu tujuan: mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak dulu. Aku tahu kamu masih menyimpan foto kita. Sampai bertemu besok, Aryan"
Rahang Arkan mengeras. Tangannya yang memegang garpu mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Aryan. Nama itu bergema di kepalanya seperti guntur di tengah langit cerah. Bagi Arkan, ini bukan sekadar pesan romantis yang tersasar. Ini adalah ancaman nyata bagi otoritas dan harga dirinya sebagai seorang pria.
Siapa Aryan ini? Beraninya dia menyebut Aqeela sebagai "miliknya"?
Selama ini, Arkan menganggap dirinya adalah satu-satunya pria yang berhak atas masa depan Aqeela. Ia telah memberikan segalanya, keamanan finansial, perlindungan, dan kesetiaan. Dan sekarang, seorang pria dari masa lalu berani muncul dan mencoba merusak tatanan hidup yang sudah ia bangun dengan susah payah?
Arkan segera meletakkan kembali ponsel itu saat ia melihat Aqeela kembali dari kejauhan. Wajahnya kembali tenang dan berwibawa dalam hitungan detik, sebuah topeng yang sangat ia kuasai di dunia bisnis. Namun, di dalam hatinya, Arkan sedang menyusun sebuah strategi perang.
"Semuanya baik-baik saja di toilet?" tanya Arkan saat Aqeela duduk kembali.
"Iya, Mas. Sudah merasa lebih baik," jawab Aqeela dengan senyum yang dipaksakan.
Arkan tersenyum tipis, senyuman dingin yang biasanya menandakan bahwa ia sudah tahu kartu AS lawannya. "Baguslah. Mari kita selesaikan makan malam ini. Aku ingin kamu istirahat total malam ini, karena mulai besok, mungkin akan ada banyak hal yang harus kita bereskan."
Di sepanjang jalan pulang, Arkan tetap diam, namun otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Ia tidak akan bertanya langsung pada Aqeela. Itu terlalu rendahan. Ia akan mencari tahu sendiri siapa Aryan dan apa motif sebenarnya. Baginya, jika ada pria yang mencoba merebut apa yang sudah menjadi miliknya, maka pria itu harus bersiap menghadapi konsekuensi terberat.
Arkan tidak pernah kalah dalam persaingan bisnis, dan ia tidak punya niat untuk mulai kalah dalam urusan wanita yang ia cintai. Sepuluh tahun masa lalu tidak akan sebanding dengan kekuatan dan dominasi yang ia miliki sekarang.
Malam itu, setelah mengantar Aqeela pulang, Arkan tidak langsung pulang ke apartemennya. Ia memarkir mobilnya di pinggir jalan yang sepi, mengambil ponsel pribadinya, dan menghubungi asisten kepercayaannya.
"Cari tahu semua informasi tentang pria bernama Aryan. Hubungannya dengan Aqeela Putri di masa lalu, pekerjaannya sekarang, dan keberadaannya di Jakarta. Aku ingin laporannya ada di mejaku besok pagi sebelum jam delapan," perintah Arkan dengan suara yang tajam dan tidak menerima bantahan.
"Siap, Pak Arkan," jawab asistennya singkat.
Arkan menutup teleponnya. Ia menyandarkan punggungnya di jok kulit mobilnya yang empuk, menatap ke arah kemudi. Baginya, tantangan ini justru memicu adrenalinnya. Ia akan membuktikan kepada Aryan, atau siapa pun pria itu, bahwa Aqeela Putri sudah berada di bawah naungan "takhtanya", dan takkan ada yang bisa membawanya pergi tanpa izin darinya.
'Selamat datang di permainanku, Aryan,' batin Arkan dengan tatapan mata yang berkilat penuh ambisi dan ketegasan.