Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gairah Liar Kang Sayur

Gairah Liar Kang Sayur

ST | Bersambung
Jumlah kata
155.0K
Popular
119.4K
Subscribe
8.3K
Novel / Gairah Liar Kang Sayur
Gairah Liar Kang Sayur

Gairah Liar Kang Sayur

ST| Bersambung
Jumlah Kata
155.0K
Popular
119.4K
Subscribe
8.3K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremMengubah NasibZero To Hero
Herman Wijaya harus rela gagal menikah dengan pujaan hatinya Miranda Kusuma hanya karena dia pedagang sayur. Orang tua Miranda menolak mentah mentah lamaran Herman. Belakangan Herman juga tahu kalau Miranda memang tak ingin menikah dengannya dan diam diam sudah berselingkuh dengan pengusaha muda Randi Winata. Mengetahui fakta pahit itu membuat Herman hampir mengakhiri hidupnya dengan lompat dari jembatan. Untungnya ada seorang kakek renta yang menyelamatkannya. Si kakek juga menitipkan sekantung bibit sayuran kepada Herman, dan berpesan Herman akan menjadi pengusaha sukses selama dia terus menanam tanaman dari bibit yang ia berikan.
Bab 1

"Mas Herman.. kok bengong aja sih.. jadi berapa ni total belanjaan saya." Sapa Ibu Monic membuat lamunan Herman buyar.

Herman Wijaya, 25 tahun, kang sayur muda dan tampan yang sering wara-wiri di sekitaran Komplek Griya Asri. Wajahnya yang tamvan, senyumnya yang ramah, dan tubuhnya yang tegap membuatnya jadi primadona di kalangan ibu-ibu komplek.

"Ohh iya.. maaf Bu Monic.. tadi saya lagi ingat jemuran di rumah. Heheh.." balas Herman sambil menggaruk tengkuknya. Dia buru-buru menghitung ulang belanjaan ibu Monic. "Totalnya 75 ribu ya Bu Monic."

"Biasa ya Mas Herman.. bon dulu." Balas Bu Monic sambil mengedip genit, tangannya menyentuh lengan Herman sebentar.

"Waduh.. tapi oke deh Bu.. gapapa. Kalau buat Bu Monic yang cakep sih gapapa." Herman balas menggoda dengan senyum tipis, meski hatinya sedang kacau balau.

Bu Monic tertawa kecil, lalu melambaikan tangan sebelum berjalan pulang. Herman menatap punggungnya sebentar, lalu menghela napas panjang. Senyum di wajahnya langsung pudar begitu ibu Monic menghilang di tikungan.

Ia mendorong gerobak sayurnya pelan-pelan menyusuri jalan komplek yang masih sepi. Roda gerobak berderit pelan di aspal, tapi pagi ini terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena muatan sayuran, tapi karena beban di dada yang tak kunjung hilang.

Kenangan itu kembali menyergap seperti pisau yang menusuk-nusuk.

Herman ingat betul bagaimana ia berdiri tegang di ruang tamu rumah keluarga Kusuma. Tangannya berkeringat dingin, suara bergetar saat mengutarakan niatnya: "Saya ingin melamar Miranda, Pak. Saya serius. Saya akan berusaha keras supaya dia bahagia."

Pak Kusuma hanya diam. Tapi Bu Kusuma langsung meledak.

"Kamu gila ya, Herman? Kamu cuma tukang sayur! Mau bawa anak saya hidup susah? Miskin terus? Miranda itu anak kami satu-satunya. Kami tidak mau dia jatuh ke lembah kemiskinan kayak kamu!"

Kata-kata itu masih terngiang. Lalu Pak Kusuma bangkit, membuka pintu lebar-lebar. "Pulanglah. Jangan dekati anak kami lagi. Kalau sampai ketahuan, kami tidak segan-segan lapor polisi."

Herman diusir seperti hewan liar yang masuk ke dalam rumah. Yang paling sakit, Miranda kekasihnya, hanya berdiri di belakang ibunya dengan kepala tertunduk. Tidak ada pembelaan. Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya.

Dan tadi pagi, sebelum berangkat jualan, Herman mendengar kabar dari tetangga yang kebetulan lewat. "Man.. pacarmu itu sering ku lihat sama cowok lain. Udah tinggalin aja. Ngapain juga masih dipacari."

Herman tertawa getir sendiri. "Bodoh... aku yang bodoh..."

Gerobaknya terus didorong, tapi langkahnya semakin berat. Keringat bercampur air mata yang tak ingin jatuh. Ia melewati warung-warung kecil, anak-anak yang berlarian ke sekolah, tapi dunia terasa hampa.

Akhirnya, ia tiba di Jembatan Desa Surya. Jembatan tua yang sepi, melintasi sungai yang cukup dalam. Pagi itu tidak ada orang lewat. Hanya suara air mengalir di bawah sana.

Herman menghentikan gerobaknya di pinggir jembatan. Tangannya mencengkeram pagar besi yang berkarat. Pandangannya kabur. Rasa putus asa yang luar biasa menyergap dada seperti banjir bandang.

"Buat apa lagi aku hidup...?" gumamnya pelan. "Miranda sudah punya orang lain. Orang tuanya benci aku. Aku cuma kang sayur. Selamanya begini..."

Ia memanjat pagar besi dengan gerakan lambat. Kakinya gemetar, tapi tekadnya sudah bulat. Di bawah sana, air sungai mengalir deras. Satu lompatan, dan semua ini selesai.

Tepat saat kakinya hendak melangkah ke void, sebuah tangan kuat menarik lengannya keras dari belakang.

"HEI! MAU APA KAU?!"

Herman tersentak. Seorang kakek berusia sekitar 70 tahun, berpakaian sederhana dan lusuh, berdiri di belakangnya.

"LEPASIN, KEK! INI URUSAN SAYA!" teriak Herman sambil berusaha melepaskan diri.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Herman. Kepalanya tersentak ke samping. Rasa perih yang menyengat langsung menyadarkannya.

"Dasar anak bodoh.. Anak tolol!" bentak kakek itu dengan suara serak tapi penuh wibawa. "Mau mati kok nyusahin orang!"

Herman terdiam. Tubuhnya ambruk ke lantai jembatan. Air mata akhirnya tumpah tanpa bisa ditahan. Ia menangis seperti anak kecil, bahunya terguncang-guncang.

"Maaf, Kek... maaf..." isaknya. "Saya... saya sudah nggak tahu harus berbuat apa lagi..."

Kakek itu menghela napas panjang, lalu duduk di samping Herman. Tangannya yang kasar menepuk-nepuk punggung pemuda itu pelan.

"Kamu ada masalah apa? Aku lihat kamu dari tadi dorong gerobak dengan muka putus asa begitu."

Herman mengangkat wajahnya yang basah, "Saya.. saya putus asa Kek. Lamaran saya ditolak mentah mentah. Dan pacar saya sepertinya sudah punya kekasih yang baru."

"Bodoh.. dasar anak tolol! Cuma gara gara wanita kamu mau bunuh diri."

Herman terdiam. Tak mampu berkata kata lagi.

"Sekarang.. Siapa namamu?"

"Herman, Kek. Herman Wijaya."

Pak Tua itu menatap Herman dari atas kepala sampai ujung kaki. "Jadi sehari harimu cuma berdagang sayuran keliling?"

"Iya Kek.. Saya cuma dagang sayuran keliling tiap hari."

Pak Tua menghela napas panjang. Ia merogoh saku celananya yang sudah usang, lalu mengeluarkan sebuah kantung kecil berwarna cokelat tua, terbuat dari kain yang agak kusut. Kantung itu terlihat biasa saja, tapi ada sesuatu yang aneh, seperti cahaya samar yang memancar dari dalamnya.

"Nak Herman," kata Pak Tua dengan suara pelan, matanya menatap lurus ke bola mata Herman. "Dengar baik-baik. Tanam bibit ini. Cukup satu saja. Tanam di tanah yang subur dekat rumahmu. Siram setiap pagi dan sore. Setelah itu, makanlah sayuran yang tumbuh darinya. Kalau sudah habis, boleh kamu tanam lagi."

Herman mengerutkan kening, masih terisak pelan. Air matanya belum kering sepenuhnya. "Kalau sayurannya dijual boleh gak, Kek?"

Si Pak Tua tersenyum tipis, "Boleh.. tapi kamu harus siap dengan konsekuensinya."

"Apa itu Kek?"

Pak Tua tak membalas lagi. Dia hanya tertawa pelan lalu beranjak pergi.

"Kek.. kek.. tunggu!" Tapi dalam sekelebat mata tubuh Kakek itu hilang entah kemana.

Herman tersentak kaget, lalu buru buru bangkit dan mendorong gerobaknya cepat cepat.

** Bersambung **

Lanjut membaca
Lanjut membaca