

Bab 1: Pengkhianatan
Langit di atas Puncak Mahakala berubah menjadi merah darah. Awan-awan bergumpal seperti luka terbuka, menyemburkan kilatan energi kosmik yang memecah dimensi ruang.
“Tuan ini tidak bagus,” lapor seorang pria bergaya rambut belah dua, “Pasukan gunung telah ditembus, dan sebentar lagi para kaisar suci bajingan itu akan datang.”
Kaisar sihir Angling Sapta yang sedang duduk di singgasananya, dan masih membaca gulungan kaisar kuno hanya tersenyum licik. “Tidak perlu panik. Mereka semua bukan tandinganku.”
Kaisar Angling Sapta melayang cepat keluar dari istana sihir untuk menemui para kaisar suci yang sudah mengepung wilayah istana sihir.
“Kaisar sihir iblis! Cepat serahkan gulungan itu pada kami!”
“Ya, cepat serahkan! Kalau tidak kutebas kepalamu!”
“Jangan mimpi untuk melawan kami!”
“... ….”
Tujuh sosok berdiri melingkar, masing-masing memancarkan aura yang mampu menghancurkan gunung dalam sekejap mata.
Mereka adalah Tujuh Kaisar Suci, penguasa tertinggi Kekaisaran Nusantara, yang untuk pertama kalinya dalam tiga ribu tahun terakhir berkumpul di satu tempat.
Di tengah lingkaran mematikan itu, Angling Sapta berdiri dengan jubah hitamnya berkibar diterpa angin badai.
Rambut panjangnya yang putih keperakan menari liar, dan mata kelabunya menatap tajam ke setiap penjuru.
"Kukira kalian punya harga diri," ujar Angling Sapta dengan nada mengejek. "Tujuh lawan satu. Sungguh pemandangan yang memalukan."
Kaisar Surya Wibawa yang berdiri tepat di hadapannya dengan mahkota api mengelilingi kepalanya, tertawa keras.
"Harga diri? Kau bicara tentang harga diri setelah mencuri Gulungan Cipta Jagat? Artefak kaisar kuno yang bahkan kami para kaisar tak boleh menyentuhnya?"
"Mencuri?" Angling meludah ke tanah. "Aku menemukannya di Reruntuhan Dimensi Ketiga. Tempat yang bahkan kalian semua takut untuk masuki."
"Itu bukan urusanmu!" bentak Kaisar Candra Nilam, seorang wanita cantik dengan kulit bercahaya kebiruan.
Energi bulan mengalir dari tangannya, membentuk kristal-kristal es yang melayang di udara. "Gulungan itu milik kekaisaran. Milik kami!"
Angling menggeleng pelan. Tangannya meraih ke dalam jubahnya, menyentuh permukaan dingin gulungan yang terbuat dari kulit naga purba.
Melalui sentuhan itu, dia bisa merasakan kekuatan luar biasa yang tersimpan di dalamnya, pengetahuan yang mampu mengubah hukum alam semesta.
"Kalian takut?" bisik Angling, suaranya terdengar jelas meskipun angin menderu kencang. "Takut karena aku sudah membaca setengahnya?”
“Takut karena aku sudah memahami semua rahasia yang kalian sembunyikan?”
Wajah para kaisar berubah merah padam.
"Bunuh dia," titah Kaisar Garuda Perkasa, pria besar dengan sayap emas terbentang lebar di punggungnya. "Sebelum dia sempat mengungkapkan apapun."
Dalam sekejap, serangan datang dari tujuh arah sekaligus.
Kaisar Surya Wibawa menghujamkan bola api sebesar gunung. Kaisar Candra Nilam meluncurkan ribuan jarum es yang masing-masing tajam seperti pedang legendaris.
Kaisar Naga Antaboga melepaskan semburan asam temporal yang bisa mengurai materi hingga ke tingkat molekul. Sisanya tak kalah mematikan.
Angling melompat tinggi, tangannya membentuk segel rumit di udara. "Ancient secret art: Seven-layered star formation!”
Tujuh lapisan perisai energi muncul mengelilingi tubuhnya, masing-masing berputar dengan kecepatan berbeda dan memantulkan serangan dengan cara yang tidak terduga.
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh puncak gunung. Bebatuan sebesar rumah terlempar ke segala arah, dan tanah retak membentuk jurang sedalam ratusan meter.
Namun ketika asap menghilang, Angling masih berdiri. Perisainya retak parah, tetapi masih bertahan.
"Bagus," puji Kaisar Baruna Samodra, pria tua dengan jenggot panjang berwarna biru laut. "Tapi berapa lama kau bisa bertahan?"
Pertarungan berlanjut dengan intensitas yang semakin gila. Angling bergerak seperti bayangan, menghindari serangan mematikan sambil balik menyerang.
Energi spiritual dari tubuhnya sudah mencapai batas, tetapi dia terus memaksa diri. Setiap gerakan diperhitungkan, setiap segel disusun dengan sempurna.
Dalam benaknya, Angling tahu dia tidak mungkin menang, tetapi masih ada harapan.
Tujuh Kaisar Suci adalah puncak bela diri di Kekaisaran Nusantara. Masing-masing sudah hidup ribuan tahun dan menguasai teknik yang tak terhitung jumlahnya.
Bahkan dia yang dijuluki Kaisar Bayangan, dan pernah mengalahkan lima kaisar biasa sekaligus, tak mungkin mengalahkan mereka semua.
Namun dia hanya perlu bertahan cukup lama untuk kabur.
"The forbidden technique: Existence cleavage!" teriak Angling.
Tubuhnya tiba-tiba membelah menjadi sembilan bayangan identik. Delapan diantaranya langsung melesat ke arah berbeda dengan kecepatan cahaya, sementara yang asli bersiap membuka portal pelarian.
"Jangan biarkan dia kabur!" perintah Kaisar Surya Wibawa.
Namun sebelum para kaisar bisa bereaksi, sebuah suara familiar berbisik tepat di belakang Angling.
"Maafkan aku, Guru."
Angling membeku. Dia mengenali suara itu. Suara yang telah dia dengar setiap hari selama dua puluh tahun terakhir. Suara muridnya. Suara Wira Kusuma.
Sebelum dia sempat berbalik, rasa sakit menusuk menembus punggungnya.
Sebuah pedang, pedang yang dia sendiri berikan sebagai hadiah saat Wira mencapai tingkat Emperor Realm. Wira menusuk tepat di jantung spiritualnya.
"K-kau ...."
Angling menyemburkan darah dari mulutnya. Kedelapan bayangannya langsung menghilang, dan portal yang hampir terbuka runtuh.
Wira Kusuma menarik pedangnya perlahan, wajah tampannya tidak menunjukkan emosi apapun. Pemuda berusia tiga puluh tahun itu melangkah mundur, berdiri di sisi para kaisar suci.
"Kenapa?"
Angling terjatuh berlutut, tangannya mencengkeram dada yang berlubang. Energi spiritualnya bocor dengan cepat, meninggalkan jejak cahaya keemasan yang memudar.
"Karena kau terlalu serakah, Guru," jawab Wira datar. "Para Kaisar Suci berjanji akan memberikan kepadaku tahta, dan kekuatan tanpa batas jika aku memberitahu mereka tentang Gulungan Cipta Jagat. Mereka juga berjanji akan menjadikanku Kaisar Kedelapan."
Angling tertawa pahit. Darah terus mengalir dari luka di dadanya. "Bodoh …. Kau begitu bodoh, Wira. Kau pikir mereka akan menepati janji?"
"Tentu saja." Kaisar Garuda Perkasa tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya ke arah Wira. "Kami selalu menepati janji."
Dalam sekejap, tangan Kaisar itu menembus dada Wira dari belakang.
Pemuda itu membelalak, darah menyembur dari mulutnya. "A-apa …?!"
"Kau pikir kami akan membiarkan pengkhianat hidup?" bisik Kaisar Garuda Perkasa di telinga Wira. "Kau berguna untuk memberitahu kami informasi tentang gulungan cipta jagat, dan menusuk gurumu dari belakang. Tapi sekarang? Kau hanya sampah yang harus dibuang."
Wira Kusuma jatuh tersungkur di tanah, matanya masih terbelalak tidak percaya. Nafasnya tersendat-sendat, dan cahaya kehidupan perlahan memudar dari matanya.
Angling menatap muridnya yang sekarat. Meskipun rasa sakit menusuk dadanya, meskipun kemarahan membakar seluruh jiwanya, ada secuil rasa kasihan yang muncul.
"Kusuma," panggilnya pelan. "Seandainya kau bersabar …. Seandainya kau percaya padaku …. Aku akan memberikan setengah dari pengetahuan gulungan itu kepadamu."
Air mata mengalir dari mata Wira yang sudah kehilangan fokus. Bibir pemuda itu bergetar, berusaha mengucapkan sesuatu, tetapi kematian lebih cepat mengklaimnya.
Kaisar Surya Wibawa melangkah mendekati Angling. "Serahkan gulungannya."
Angling menatap balik dengan tatapan tajam. Tangannya bergerak cepat, menarik Gulungan Cipta Jagat dari dalam jubahnya.
Namun sebelum para kaisar bisa meraihnya, dia sudah merobek gulungan itu menjadi tujuh bagian.
"Kalian ingin ini?" teriaknya sambil tertawa gila. "Kalau begitu carilah!"
Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Angling meluncurkan kesembilan potongan gulungan ke arah berbeda.
Masing-masing terbungkus energi pelindung, dan melesat menembus dimensi ruang, menghilang ke sudut-sudut kekaisaran yang berbeda.
"Tidak …!" raung para kaisar bersamaan.
Kaisar Candra Nilam langsung meluncurkan serangan terakhir. Pilar es raksasa menghantam tubuh Angling, dan menghancurkan setengah puncak gunung.
Ketika debu mengendap, tubuh Angling Sapta sudah tidak utuh lagi. Namun bibirnya masih tersenyum.
"Kalian ... akan ... menyesal …," bisiknya sebelum mata kelabu itu tertutup untuk selamanya.
Tujuh Kaisar Suci berdiri dalam keheningan, menatap reruntuhan di kaki mereka. Rencana sempurna mereka hancur. Gulungan Cipta Jagat yang seharusnya utuh, kini tersebar ke seluruh penjuru kekaisaran.
"Kirim pasukan," titah Kaisar Surya Wibawa dingin. "Temukan setiap potongan, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan."
Yang lainnya mengangguk, lalu satu per satu menghilang meninggalkan puncak yang hancur.
Hanya angin yang berhembus pelan, membawa aroma darah, dan pengkhianatan yang akan bergema sepanjang sejarah Kekaisaran Nusantara.