
Semua tentang tukang seblak
kiwil|Bersambung
- Jumlah kata
- 7.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 7.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
silahkan membaca dan di resapi dan di pahami
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
bab 1
Suara gemericik minyak panas di wajan besi itu terdengar seperti irama lagu lama yang pernah membuatnya teringat masa kuliah. Rafi mengusap peluh yang menetes di dahinya – bukan karena panas siang yang menyengat di depan begron kayu yang dia susun sendiri, tapi karena degup jantung yang masih belum bisa tenang sejak pukul lima pagi.
"Lagi tes masak ya, Mas?" suara lembut dari belakang membuatnya terkejut, membuat sendok besinya hampir terlepas dari genggaman.
Rafi menoleh, menemukan wajah wanita berkerudung pastel yang sedang menatap wajan dengan mata penuh rasa penasaran. Di belakangnya, beberapa orang lain sudah mulai berkerumun, tertarik dengan aroma bawang merah goreng yang menyebar ke udara pagi di sekitar Jalan Malioboro Kembang.
"Bukan tes... ini hari pertama saya berjualan, Bu," jawab Rafi dengan senyum yang sedikit goyah. Tangannya yang biasanya lincah mengoperasikan mouse komputer kini sedang berjuang mengaduk adonan tepung beras yang baru saja dia tuangkan ke dalam minyak.
Cerita itu dimulai tiga bulan yang lalu, ketika surat pemutusan hubungan kerja mendarat di meja kerjanya seperti bom kecil. Sebagai seorang analis keuangan di perusahaan multinasional, Rafi pernah membayangkan hari-harinya penuh dengan angka dan laporan, bukan dengan bumbu cabai dan krupuk kerupuk yang berserakan di atas meja begron.
"Ada yang bilang, kalau kamu bisa menguasai angka, kamu bisa menguasai apapun," ujarnya pelan sambil menambahkan bumbu merah yang sudah dia haluskan dengan cermat. Tapi yang tidak dikatakan orang adalah, angka tidak pernah mengajarkan dia bagaimana rasanya ketika tangan terbakar karena terkena percikan minyak, atau bagaimana cara membuat pelanggan puas meskipun mereka menunggu lebih dari sepuluh menit.
Begron kayu yang dia gunakan adalah hasil karya tangan ayahnya sebelum meninggal – rangka kayu jati yang dipoles hingga mengkilap, dengan atap dari genteng kayu kecil yang memberikan naungan tepat di atas area memasak. Di sudut kanan begron, ada sebuah papan tulis kayu dengan huruf-huruf yang dia ukir sendiri: SEBLAK RAFI – RASA YANG DIJAMIN MEMANGGIL KEMBALI.
"Buat saya satu porsi yang sedang aja, Mas. Tambah banyak bakso ya," ujar wanita itu dengan senyum hangat.
Rafi mengangguk dengan hati yang penuh haru. Dia mengambil mangkuk plastik yang sudah disiapkan, mulai menata seblak yang sudah matang dengan rapi – ditambah bakso sapi yang dia beli dari penjual tradisional di Pasar Beringharjo, tahu bulat yang lembut, dan taburan bawang goreng yang masih renyah. Saat menuangkan saus pedas yang dia ciptakan sendiri dari resep neneknya, dia merenungkan perjalanan panjang yang membawanya ke sini.
Setelah kehilangan pekerjaan, Rafi menghabiskan hampir sebulan terkunci di kamar menyendiri. Sampai pada suatu malam, dia menemukan kotak kayu tua di gudang belakang rumah – di dalamnya ada buku catatan tua yang penuh dengan resep masakan khas Jawa, termasuk resep seblak yang dulu membuat seluruh keluarga berkumpul di meja makan.
"Dari sekarang ini, saya akan menjadi tukang seblak yang terbaik di Yogyakarta," ujarnya dalam hati, sambil menyerahkan mangkuk seblak hangat ke tangan wanita itu.
Pelanggan pertama itu mencicipi satu suap, lalu mengangkat kepala dengan mata yang membelalak. "Wah, enak banget, Mas! Rasa bumbunya unik sekali!"
Kata-kata itu seperti obat yang menyembuhkan luka hati Rafi. Perlahan tapi pasti, orang-orang yang berkerumun mulai memesan satu per satu. Beberapa anak muda bahkan mengambil foto begron dan seblaknya dengan ponsel mereka, sambil memberikan semangat pada pria ganteng yang baru saja memulai perjalanan baru sebagai tukang seblak.
Di tengah hiruk-pikuk awal hari berjualan itu, Rafi merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan selama bertahun-tahun bekerja di kantor – rasa puas yang tulus, dan harapan yang mulai bersinar kembali di tengah masa yang penuh ketidakpastian.
Daftar bab
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








