

Hari kelima menjadi murid baru SMK Taruna Palas.
Pagi sebelum bell masuk berbunyi menyeru, Angkasa sudah naik ke lantai dua di mana kelas jurusannya ada di sana.
Lima langkah kakinya memasuki kelas, sudah terhenti. Sejurus tatapan mengikuti serempak mata teman-temannya mengarah, ke bangku tempat duduknya.
“Ada apaan, sih?” tanyanya pada Iskandar Hadiーwakil ketua kelas yang kalau ngomong suka rada muncrat, gampang emosi kalau ada yang menyinggungnya, tapi baik dan tidak sombongーmudah diajak bicara. Panggilannya cukup Andar saja.
“Ibrahim, kena lagi,” jawab Iskandar, setengah berbisik.
“Kena lagi?” Angkasa kurang mengerti, sambil melongok ke arah Ibrahim, tapi terhalang punggung seorang murid lain yang juga menonton.
“Iya, sama AW dkk,” terang Iskandar.
Tidak butuh detik yang banyak untuk memahami, pikiran Angkasa sudah sejurus. Jika sudah menyangkut AW yang ceritanya baru dia tahu dua hari lalu, maka urusannya pada hal-hal berbau kesintingan.
AW itu akronim dari Ardi Wiguna, ketua geng berandal yang menamai kelompok mereka ‘Gaijin’, nama geng nyeleneh dan sok asyik, merasa kebebasan milik mereka.
Angkasa bergeser posisi untuk meraih pandangan jelas, lalu dapat.
Selain AW yang duduk di bangku berbeda jajaran sebelah, dua temannya yang lain mepet ke dekat Ibrahim, samping dan depan—Piang dan Mongol.
Tiga papan atas Gaijin:
1. Ardi Wiguna, panggilan disingkat; AW. Porsi tubuh tegap dan tinggi standar Indonesia. Rambutnya sebatas pundak, menutup telinga, tapi sering diikat hun, jadi 'tak terlihat bentuk gondrongnya.
2. Guntur Cahyadi, punya nama beken 'Mongol, rambut plontos mirip tentara, sedikit kurus.
3. Alvian Hendra, nama panggilan Piang, paling pendek dan berisi di antara dua temannya, rambutnya standar anak sekolah.
Di tengah-tengah kuasa mereka, Ibrahim merunduk dalam, tidak berani mengangkat wajah.
Angkasa penasaran terus bertanya-tanya dalam benaknya. Sebagai anak pindahan yang bahkan belum genap seminggu menjadi murid SMK Taruna Palas, tentu saja dia belum banyak tahu apa saja kebiasaan teman-teman sekelasnya selain takut pada guru jurusan bernama Pak Bedi Kusnadi.
Dia menoleh sekitaran. Sudah banyak anak di sana. Mereka semua diam jadi penonton di tempat duduknya masing-masing, ada juga yang berdiri penasaran seolah mendapat hiburan seru.
“Lu anak yang baek, anak pinter, sekali-kali ngapa sih traktir kita bakso seorang semangkok, Im?!” Piang, duduk di atas meja tepat di depan Ibrahim, yang melontar kalimat itu.
Ibrahim menjawab dengan gemetar, “Gu-gua ... Gua gak punya uang.”
“Alah! Boong banget lu!” todong Piang, mengempas pengakuan si kacamata.
“Se-serius. Gua emang gak punya uang sebanyak itu.“
Mongol, tersenyum miring sambil membuang wajah dan berdecak. Dia mengambil posisi duduk tepat di sebelah Baim, mengisi kursi milik Angkasa. “Bakso semangkok dua puluh rebu, dikali tiga cuma nem puluh rebu. Segitu doang lu gak punya?”
“Iya! Tiap hari lu mendem di kelas jam istirahat, duit jajan lu pasti udah kekumpul banyak, 'kan?” Piang menimpali.
Sementara Ardi Wiguna masih duduk santai dengan senyuman kecut, melihat ke arah depan.
“Gua beneran gak punya uang!” Tangan kurus yang gemetar dipakai Ibrahim merogoh ke dalam saku celana yang dikenakannya. “Cu-cuma ada goceng ... buat ongkos pulang.”
Selembar lima ribuan lusuh, menggumpal, ada di telapak tangannya sekarang.
Mongol dan Piang saling melempar pandang, sama-sama bengong melihat uang yang lusuh itu.
“Goceng doang?!”
Keduanya lalu menoleh AW. Saat itu juga, mereka mendapat kode melalui gestur kepala, AW turun perintah.
Mongol mengangguk sekali dengan seringainya, berbagi tatap dengan Piang, lalu ... “Sini lu!”
Ibrahim terkejut dan kelabakan.
“Gua beneran gak punya uang!”
Tidak dipercaya, Mongol dan Piang menggeledah seluruh bagian saku seragam yang dikenakan si anak nahas.
Dan pemandangan itu tak lagi menyentuh, melainkan sudah memukul sisi terdalam nurani milik Angkasa. Ibrahim dan mereka teman sekelas, sudah melewati hampir dua tahun bersama, tapi kenapa masih tidak bisa berteman baik? Pikirnya rumit. Terdorong emosi, satu telapak tangannya mengepal ketat, dan ....
“STOP!”
Gelegar suaranya merebut segenap perhatian, sekaligus menghentikan pergerakan dua Gaijin yang tengah menggeledah seragam Ibrahim.
Untuk sesaat keadaan membeku hampa.
AW menatap anak baru itu dengan kelopak mengecil dan punggung masih tersandar.
Terlanjur sudah terlibat, Angkasa maju mendekat ke arah di mana Baim berada sembari merogoh ke dalam saku celananya sendiri, lalu ....
PAK!
Sehelai uang kertas berwarna biru ditepuknya kasar ke atas meja.
“Tu duit lima puluh rebu buat kalian. Bakso di seberang sekolah harganya semangkok cuma lima belas rebu. Kalian bertiga total 45 rebu, masih ada kembalian goceng, cukup buat beli ale-ale seorang satu. Kelar, 'kan?”
Tidak ada kecuali, semua mata melotot lebar, termasuk Ibrahim sendiri.
Perbuatan dan kata-kata Angkasa yang berani dan sangat lantang itu ... terlalu lancang.
Wajar, karena baru, dia tidak tahu apa itu Gaijin, tapi ketidaktahuan tidak akan menyelamatkannya dari cengkraman geng yang sinting itu.
Ibrahim cemas.
Ardi Wiguna yang sedari tadi tenang langsung melengak merubah posisi diam jadi menghadap lurus ke arah si anak baru. Ekspresi terkejutnya sudah berubah. Ada yang menggelitik, sudut bibirnya tertarik tipis. Maknanya jelasーmangsa baru.
“Sekarang bisa gak kalian keluar dari meja ini, bell uda bunyi, gua mo belajar,” tukas Angkasa. Tidak ada takut dan ragu apalagi sampai terkencing dalam celana. Baginya, mereka hanya anak-anak nakal, masih bisa ditoleransi dengan kata-kata manusia, bukan jampi dan palu gada.
Banyak detik termakan hanya untuk terkejut, Mongol dan Piang akhirnya tersadar. Segera mengubah wajah mereka menjadi garang, meradang pasang, “Lu siapa, ꋬɳʝιɳɠ? Anak baru berani-beraninyaー”
“Duduk di tempat masing-masing!”
Kata-kata Mongol terpotong oleh suara seorang guru yang baru saja memasuki ruangan.
“Buka buku bahasa Inggris kalian,” sambung guru pria itu sembari menduduki kursi. Sempat matanya melirik ke arah kerumunan Angkasa, tapi kemudian abai seolah apa yang dilihatnya dengan jelas itu bukan apa-apa, hanya kebiasaan yang tidak perlu ditindaklanjut.
Dengan wajah melebihi kesal, Mongol dan Piang menyingkir dari meja Angkasa setelah mengempas cengkraman dari seragam Ibrahim.
Sambil lalu, Piang menyabet uang lima puluh ribu yang ditampar Angkasa tadi di atas meja. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, mereka kembali ke tampat duduknya masing-masing, termasuk AW yang melenggang sembari menatap remeh mimik Angkasa, maknanya tetapーbagusnya diapakan anak sialan itu?
Sembari mengeluarkan buku dalam tasnya, Angkasa melirik Mongol. Mulut anak itu menggerakkan kata ancaman tanpa suara yang bentuknya; “Awas lu!” Seraya menaikkan jari tengah ke depan wajah.
Angkasa tidak peduli itu, malah menoleh ke sisi Ibrahim. Anak itu masih bungkam sambil merapikan kembali pakaiannya yang berantakan.
“Lu gak apa-apa, 'kan?” Coba dia bertanya.
Sesaat Ibrahim diam, lalu menggeleng, lemah dan kaku tanpa melihat balik.
Angkasa paham, tidak bertanya lagi. Ibrahim pasti malu terhadap situasinya. Anak sependiam dirinya pasti sangat terkejut mendapat kejadian tolol seperti tadi, dari orang-orang yang seharusnya bisa menjadi teman—atau sama sekali tidak.
Benar kata anak bernama Dadang yang dia temui di gerbang di hari pertama masuk sekolah.
“Lu anak TGB?! Ganti jurusan gidah! Di sana ada Gaijin, geng anak-anak bengal, gak bagus buat lu yang kemayu gini!”
Kemayu gak lu!
Tapi Angkasa tidak terusik dengan hal sesepele itu. Yang dia pikirkan; ganti jurusan.
Iya, ganti jurusan.
Tapi untuk Ibrahim, bukan dirinya.
Anak ini ngotot ingin jadi arsitek, dan TGB—Teknik Gambar Bangunan, adalah jurusan yang paling tepat. Angkasa ingin membangun gedung megah untuk Dian BatariーMama tercinta.
Sayangnya TGB hanya ada satu kelas saja di 𝐒𝐌𝐊 TARUNA PALAS, dan Ibrahim mungkin tak meminati jurusan lain, apalagi sekolah lain.