

Hujan malam itu terasa berbeda. Dinginnya bukan hanya menembus jaket tipis yang dikenakan Bima Sakti, tapi serasa meresap langsung ke tulangnya, membekukan sisa-sisa kehangatan yang pernah ia miliki.
Di usia empat 45 tahun, Bima sakti telah kehilangan segalanya.
Gelar "Raja Investasi Asia" yang dulu disematkan media padanya, kini terdengar seperti lelucon pahit. Perusahaannya bangkrut, dililit utang yang tak mungkin terbayar. Istrinya, wanita yang ia cintai selama dua dekade, telah menandatangani surat cerai minggu lalu dan pergi bersama pria yang lebih muda dan ironisnya lebih sukses.
Bahkan putranya, satu-satunya darah dagingnya, menatapnya dengan pandangan kosong penuh kebencian saat pertemuan terakhir mereka. "Semua ini salah Ayah," kata putranya. "Keserakahan Ayah menghancurkan kita."
Bima tahu itu benar.
Ia berjalan tanpa arah di trotoar yang licin. Air hujan bercampur dengan air mata sudah mengering di pipinya. Ia terlalu sibuk mengejar angka, terlalu asyik membangun menara gading kekayaan, hingga ia lupa bahwa fondasi sebuah kehidupan adalah cinta, bukan transaksi.
Ia mendongak ke langit yang hitam pekat. Kilat menyambar di kejauhan, disusul gemuruh guntur.
"Ambil saja..." bisiknya pada langit. "Jika memang ini akhirnya, aku siap. Hantam aku. Akhiri penderitaan ini."
Seolah menjawab permohonannya, seberkas cahaya terang tiba-tiba menusuk matanya dari samping. Bukan petir, tapi lampu depan sebuah truk yang melaju kencang.
Suara klakson yang memekakkan telinga adalah hal terakhir yang ia dengar.
Lalu, semuanya gelap.
...
Keheningan.
Bukan keheningan dingin di kamar mayat yang ia bayangkan. Ini... hangat.
Bima membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sakit di punggungnya. Bukan sakit karena ditabrak truk, tapi sakit pegal karena tidur di kasur yang terlalu keras.
Cahaya matahari pagi masuk melalui celah gorden tipis, membawa serta debu-debu yang menari-nari di udara.
"Dimana ini?" gumamnya. Suaranya serak, tapi terasa... muda?
Ia mencoba bangkit. Tubuhnya terasa ringan, bugar, dan penuh energi. Rasa pusing akibat mabuk dan stres yang dideritanya lenyap begitu saja.
Matanya membelalak saat melihat sekeliling.
Ini bukan apartemen mewahnya yang telah disita. Ini bukan kamar rumah sakit.
Ini adalah kamar tidur lamanya. Kamar sempit ukuran tiga kali empat meter di rumah susun sederhana tempat ia dibesarkan.
Di dinding, sebuah poster grup musik Beyond yang sudah menguning. Di meja kayu yang catnya terkelupas, tergeletak sebuah walkman dan beberapa kaset.
Tangan Bima Sakti terulur, gemetar. Ia menyentuh wajahnya. Kulitnya halus, tanpa kerutan. Ia menarik laci meja, menemukan sebuah cermin kecil yang retak.
Wajah yang terlihat di cermin adalah wajahnya di usia 17 tahun. Kurus, sedikit jerawatan, tapi matanya jernih dan penuh harapan.
"Ini... tidak mungkin..."
Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa sakit. Ia mencubit pipinya keras.
Sakit.
Ini nyata.
Ia melihat kalender di dinding. Angka besar tercetak di sana Tahun 1998.
Dua puluh lima tahun di masa lalu.
Tepat di saat itu, sebuah suara lembut yang paling ia rindukan terdengar dari luar kamar. Suara yang seharusnya sudah terkubur dalam ingatannya, yang hanya bisa ia kunjungi dalam mimpi.
"Bima! Sudah bangun? Cepat mandi, sarapannya sudah siap! Ibu masak sup ayam kesukaanmu."
Waktu seolah berhenti.
Jantung Bima serasa diremas. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Suara itu. Suara ibunya.
Ibunya, yang meninggal lima tahun lalu karena penyakit komplikasi. Ibunya, yang di saat-saat terakhirnya memegang tangannya dan berkata, "Jangan terlalu lelah mengejar dunia, Bima... Ibu hanya ingin kamu bahagia."
Nasihat yang ia abaikan.
Dengan kaki gemetar, Bima mendorong pintu kamarnya.
Dan di sana, di dapur kecil yang sempit, berdiri sosok wanita paruh baya dengan celemek bermotif bunga. Rambutnya masih hitam legam, senyumnya masih sehangat matahari pagi.
Ia menoleh. "Kenapa bengong di situ? Ayo, nanti supnya dingin."
Bina tidak bisa menahannya lagi.
Pertahanan pria paruh baya yang telah melihat kejamnya dunia runtuh seketika. Air mata yang tak bisa keluar saat ia bangkrut, saat ia bercerai, kini mengalir deras tanpa henti.
Ia melangkah maju, lalu berlari kecil, dan memeluk tubuh hangat itu. Tubuh yang terasa begitu nyata, begitu hidup. Ia membenamkan wajahnya di bahu sang ibu, menghirup aroma masakan yang telah lama hilang.
"Ibu... Ibu..." hanya itu yang bisa ia ucapkan, suaranya pecah oleh isak tangis yang tak terkendali.
Ibunya terkejut. Tangan yang memegang sendok sup terangkat kaku, sebelum akhirnya mendarat di punggung putranya, mengelusnya pelan.
"Hei, ada apa, Bima?" tanyanya cemas. "Kamu mimpi buruk, ya? Sudah, sudah, tidak apa-apa. Ibu di sini."
Kata-kata "Ibu di sini" menghantam Bima seperti palu godam.
"Maafkan aku... Maafkan aku, Bu..." isaknya.
Ia menangis bukan hanya karena rindu. Ia menangis untuk semua kesalahannya, untuk kesombongannya, untuk waktu yang ia sia-siakan. Ia menangis karena rasa syukur yang meluap hingga menyakitkan.
Tuhan, atau takdir, atau apapun yang membawanya kembali, telah memberinya hadiah yang tak ternilai. Bukan kekayaan. Bukan kekuasaan.
Tapi waktu.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Yun Li berhasil menenangkan dirinya. Ia melepaskan pelukannya, menyeka air mata dengan punggung tangannya, menatap ibunya dengan mata merah.
"Aku... aku hanya... sangat merindukan Ibu," ucapnya, suaranya masih bergetar.
Ibunya menatapnya khawatir, tapi kemudian tersenyum lembut. "Dasar anak ini. Setiap hari juga ketemu Ibu. Sudah, cuci mukamu. Sarapan."
"Ya, Bu."
Bima berbalik, masuk kembali ke kamarnya, dan menutup pintu. Ia bersandar di pintu, dadanya masih sesak oleh emosi.
Dia kembali. Dia benar-benar kembali.
Dan tepat saat kesadaran itu meresap sepenuhnya, sebuah suara tenang dan berat bergema di dalam pikirannya. Suara itu tidak dingin atau robotik. Anehnya, suara itu terdengar seperti... dirinya sendiri, tetapi versi yang lebih tua, lebih bijak, dan penuh otoritas.
[Sistem Kebangkitan Ekonomi Dunia diaktifkan]
Bima membeku. Sistem? Seperti di novel-novel web yang pernah ia baca sekilas?
[Selamat datang kembali, Bima]
Suara itu melanjutkan.
[Anda telah diberi kesempatan kedua untuk menulis ulang takdir Anda. Kegagalan Anda sebelumnya adalah pelajaran termahal. Jangan sia-siakan air mata kesalahan Anda]
Bima menelan ludah, pikirannya berpacu. Ini bukan halusinasi.
[Misi utama: Bangun kekaisaranmu dan temukan wanita yang layak berdiri di sisimu]
Wanita yang layak...
Pikiran Bima melayang sesaat ke wajah istrinya di kehidupan sebelumnya. Wajah cantik yang berubah dingin dan penuh kekecewaan.
Lalu, sebuah wajah lain muncul sekilas. Wajah seorang gadis di masa SMA-nya. Gadis yang selalu menatapnya dengan tulus, yang memberinya bekal makan siang saat ia tak punya uang. Gadis yang ia tinggalkan karena mengejar ambisi.
Sinta Dewi.
Bima mengepalkan tangannya. Sistem ini benar.
[Misi awal telah diterbitkan: Dapatkan dana awal Anda (Minimal $1000) dalam 30 hari ke depan]
[Hadiah Misi Awal: Keterampilan ‘Mata Analisis Dasar’ dan 10 Poin Atribut]
Suara itu menghilang, meninggalkan Bima dalam keheningan kamarnya.
$1000. Di tahun 1998, bagi seorang siswa SMA dari keluarga miskin, itu adalah jumlah yang sangat besar. Tapi bagi Bima, sang mantan Raja Investasi, itu adalah... tantangan yang menarik.
Ia berjalan ke cermin retak itu sekali lagi. Menatap wajah mudanya.
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah predator di dunia keuangan. Ia mengejar angka, melahap perusahaan, dan menghancurkan pesaing. Ia mendapatkan dunia, tapi kehilangan jiwanya.
"Dulu aku terlalu sibuk mengejar angka," bisiknya pada bayangannya sendiri, "hingga lupa bagaimana rasanya dicintai tanpa syarat."
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Dia tidak hanya akan membangun kekaisaran. Dia akan membangun kehidupan.
Dia akan melindungi ibunya. Dia akan menebus kesalahannya pada Sinta. Dan dia akan memastikan bahwa setiap wanita yang memilih untuk berdiri di sisinya baik itu teman, mitra, atau kekasih akan melihat Bima yang sesungguhnya.
Bukan Raja Investasi yang kejam.
Tapi seorang pria yang mengerti arti dari penebusan.
Bima membuka pintu kamarnya. Aroma sup ayam yang kaya tercium, mengisi paru-parunya dengan kehangatan.
Ini adalah hari pertamanya. Dan kali ini, ia tidak akan gagal.