Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Tahta Timur Barat

Pewaris Tahta Timur Barat

Narnia212 | Bersambung
Jumlah kata
72.5K
Popular
108
Subscribe
55
Novel / Pewaris Tahta Timur Barat
Pewaris Tahta Timur Barat

Pewaris Tahta Timur Barat

Narnia212| Bersambung
Jumlah Kata
72.5K
Popular
108
Subscribe
55
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSistemHaremSupernatural
Sebagai mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Budaya yang pemegang sabuk hitam karate, hidup Raka Bumi sejauh ini terbilang lurus dan bebas drama. Semua berubah ketika ia menemukan "Manuskrip Sanggabuana" kitab kuno di lantai bawah tanah gedung arsip tua yang membangkitkan garis darah murni kerajaan kuno dalam dirinya, sekaligus mengaktifkan sebuah sistem misterius. Namun, bangkitnya kekuatan Raka memancing ancaman dari Sekte Panji Hitam, organisasi gelap yang berburu Empat Wadah Pusaka Elemen demi membangkitkan Raja Kegelapan. Korban pertamanya adalah dosen muda paling dingin dan disegani di kampus yang ternyata merupakan keturunan penjaga Elemen Air. Diserang racun aliran hitam yang membakar jiwanya, Kirana hanya bisa diselamatkan melalui satu cara tak terduga bersama Raka. Dalam situasi terdesak di dalam kabin mobil yang diguyur hujan deras, ikatan jiwa dan gairah tak terelakkan itu resmi terjalin. Ternyata Kirana baru awal dari segalanya. Sistem kini memberikan peringatan baru. Mampukah Raka menaklukkan keempat Wadah Pusaka Elemen, membantai Sekte Panji Hitam, dan mengklaim takdirnya sebagai penguasa sejati Tahta Timur Barat?
BAB 1: Manuskrip Kuno

Bau debu tebal dan kertas lapuk menguar pekat di lantai bawah tanah Gedung Arsip FIB. Bagi mahasiswa biasa, tempat ini hanyalah gudang tumpukan skripsi usang yang sanggup memicu alergi debu. Tapi bagiku, ruangan remang-remang ini terasa seperti labirin penuh rahasia.

Aku mengibaskan debu dari sampul buku tebal di tanganku. Sebagai mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Budaya, hidupku sejauh ini cukup lurus. IPK aman, tugas lancar, dan predikat pemuda teladan melekat erat pada citraku. Belum lagi, statusku sebagai pemegang sabuk hitam karate membuatku tak pernah ciut jika ada preman kampus yang mencoba cari masalah.

Tapi sore ini, rasa penasaran yang aneh mengusikku. Tepat di balik dadaku, ada rasa hangat aneh yang mendadak menjalar sejak aku menjejakkan kaki di sudut arsip paling pojok ini.

"Raka Bumi! Di mana lu?"

Teriakan itu memecah hening. Aku melangkah keluar dari balik rak tinggi, melambaikan tangan pada Bayu yang sibuk menyenter rak berkarat di seberang.

"Udah nemu apa belum, Ka? Sumpah, ini tempat baunya aneh banget. Kayak bukan perpus kampus," gerutu teman satu fakultasku itu.

"Makanya jangan kebanyakan main gim online. Jadi anak sejarah tuh peka dikit sama aroma masa lalu," balasku datar.

Mataku menyipit, tertuju pada sebuah kotak kayu berukiran kuno tanpa gembok di rak paling atas. Seolah ditarik oleh benang tak kasat mata, tanganku terulur menyentuh ukiran kayu tersebut.

Deg!

Satu hantaman gelombang energi mendadak menghantam dadaku. Bukan rasa sakit, melainkan aliran listrik yang terasa menyengat dan langsung menyatu dengan aliran darahku. Di dalam kotak itu, terbungkus selembar naskah lontar tua berbalut kain hitam legam beraksen emas pudar: Manuskrip Sanggabuana.

Belum sempat aku menarik tangan, udara di ruangan seketika membeku. Cahaya biru keemasan membiaskan kegelapan. Sebuah layar transparan melayang tepat di depan wajahku. Huruf-huruf tajam tertera di sana, seolah diukir langsung oleh cahaya murni:

> [SISTEM SANGGABUANA DIAKTIFKAN]

> [Mendeteksi Pemilik Garis Darah Murni: Keturunan Kerajaan Barat & Timur]

> [Sinkronisasi Genetik: 12%... 45%... 99% - BERHASIL]

> [Peringatan: Wadah Pusaka Elemen Air Terdeteksi di Area Sekitar!]

Aku tertegun, mengerjapkan mata berkali-kali. 'Apa-apaan ini? Efek kurang tidurkah?' batinku mencoba menyangkal. Aku bukan bocah pengagum novel murahan yang gampang percaya pada hal ilusi seperti ini. Tapi sensasi membakar di dalam dadaku terlalu nyata untuk disebut ilusi.

"Ka? Lu kenapa? Muka lu pucat banget, kayak abis lihat setan," tegur Bayu heran.

Belum sempat aku menjawab, suara gaduh dari tangga darurat membuyarkan konsentrasi kami. Langkah kaki tergesa-gesa disusul suara napas memburu seorang wanita yang berlari ketakutan.

'BRUK!'

Sesosok tubuh jatuh terpelanting dari anak tangga terakhir, tersungkur di atas lantai dingin dekat tumpukan kardus arsip. Kemeja yang dikenakannya tampak kusut, sementara kacamata berbingkai tipisnya terpental jauh ke sudut ruangan.

"D-Dosen Kirana?" Bayu melongo, nyaris menjatuhkan senternya.

Itu Kirana Maheswari. Dosen muda paling disegani sekaligus paling dingin di Departemen Sejarah Budaya. Wanita yang biasanya tampil sempurna, anggun, dan tak tersentuh itu kini berantakan. Wajah cantiknya merah padam, napasnya terengah-engah, dan keringat dingin membahasi pelipisnya.

Aku bergegas maju untuk membantunya berdiri. "Anda baik-baik saja bu? Apa anda terlu—"

Ucapanku terputus seketika. Begitu jemariku menyentuh kulit lengannya, waktu di sekitar kami seolah berhenti berputar. Suara deru angin malam lenyap. Detik jam dinding membeku.

Layar transparan di depanku berubah warna menjadi merah darah, memunculkan alarm bahaya yang berkedip cepat:

> [PERINGATAN KRITIS!]

> [WADAH PUSAKA ELEMEN AIR DITEMUKAN: Kirana Maheswari]

> [Kondisi Target: Keracunan Energi Aliran Hitam & Thermal Shock (Menuju Kehancuran Jiwa)]

> [Tindakan Wajib: Lakukan Penyatuan Energi Segera Sebelum Kutukan Menghabisi Nyawanya!]

Di saat yang sama, tubuh Kirana menegang. Mata cokelat jernihnya memantulkan kilatan cahaya biru keemasan. Sebuah proyeksi layar yang sama rupanya juga muncul tepat di depan mata dosen muda itu!

> [PANGGILAN TAKDIR: Tuan Sanggabuana Telah Hadir]

> [Ikatan Jiwa Terkonfirmasi: Serahkan Dirimu untuk Menyelamatkan Semesta dan Dirimu Sendiri]

"K-kamu..." bisik Kirana serak. Napas panasnya menerpa dadaku saat suhu tubuhnya melonjak drastis, membakar kulitku meski terhalang kain pakaian. Sorot matanya menyiratkan ketakutan dan putus asa yang sangat kentara.

"Bu Kirana, Ibu demam tinggi. Kita harus keluar dari sini sekarang," kataku berusaha rasional, meski otakku sendiri mulai diserang gelombang panas yang tak masuk akal.

'BRAK!'

Pintu besi lantai bawah tanah jebol dihantam paksa. Dua sosok pria berjubah hitam legam dengan tato rajah melingkar di leher melangkah masuk. Bau kemenyan pekat mendadak menusuk indera penciumanku.

"Ketemu juga mangsanya..." kekeh salah satu dari mereka, menarik belati berukir tengkorak dari balik jubah. "Serahkan manuskrip itu dan wanita pembawa segel, atau nyawa kalian melayang di sini!"

"S-setan! Raka, itu apaan?!" Bayu berteriak histeris di belakangku.

"Siapa kalian?" tanyaku penuh kewaspadaan.

Tanpa banyak bicara, kedua pria itu menyerang maju. Refleks aku berdiri mengambil kuda-kuda. Saat pria pertama mengayunkan belatinya ke arah leherku, aku merendahkan tubuh, menangkis cengkeraman tangannya, lalu memutar pergelangan tangannya dengan kejam.

'DUAGH!'

Hantaman lututku tepat di ulu hati membuatnya melengkung kesakitan dan ambruk di lantai.

Pria kedua mencoba menebas pinggangku dari samping. Aku menggeser kaki, menghindari mata pisau hanya sepersekian milimeter, lalu mencengkeram lengan bawahnya. Satu putaran cepat membuat pisaunya terlepas, disusul pukulan lurus yang mendarat telak di pelipisnya. Pria kedua itu langsung terkapar tak sadarkan diri.

Aku berbalik cepat. "Bayu, ayo—"

Kalimatku terputus. Bayu rupanya sudah kabur duluan karena panik. Sementara Kirana tergeletak lemas di lantai, nyaris kehilangan kesadaran.

Tanpa membuang waktu, aku menyelipkan lengan di bawah lutut dan punggungnya, mengangkat tubuh Kirana dalam papahanku, lalu melangkah cepat keluar dari Gedung Arsip.

Di luar, hujan deras mengguyur kampus. Rencana awalku membawa dosen muda ini ke klinik universitas terpaksa batal saat melihat hujan yang mengguyur dengan deras. Aku menerobos hujan menuju parkiran dekat gedung arsip, membuka pintu mobilku, dan membaringkan Kirana di kursi sebelah kemudi sebelum aku sendiri memutar dan masuk ke kursi pengemudi.

Tubuh kami basah kuyup. Aku menyugar rambutku yang basah, berniat melepas jaket kulitku untuk menutupi kemeja putih Kirana yang menerawang akibat terpaan air hujan.

Namun, belum sempat jaket itu terlepas, Kirana mendadak bergerak.

"Hmm..." gumamnya halus.

Bukannya membenarkan posisi duduk, Kirana justru melepas sabuk pengamannya. Ia merayap naik ke pangkuanku, mengapit pahaku dengan kedua kaki jenjangnya. Rok selutut yang dikenakannya terangkat tinggi, menghapus seluruh jarak di antara kami.

Mataku membelalak terkejut. "B-Bu Kirana... Apa-apaan ini?"

Aku mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi ke atas kemudi, berusaha keras menjaga jarak agar tidak sembarangan menyentuh tubuhnya. Tapi pandangan Kirana begitu sayu. Tubuhnya membara, kontras dengan hawa dingin kabin mobil yang tersiram hujan.

"Tolong... ugh... Ini sakit..." bisik Kirana pasrah. Kedua tangannya mencengkeram bahuku erat, menahan tubuhnya agar tak bergeser sedikit pun dari pangkuanku.

Lalu, alarm merah di layar melayang itu kembali berkedip cepat di sudut mataku:

> [PERINGATAN KRITIS!]

> [WADAH PUSAKA ELEMEN AIR: Kirana Maheswari]

> [Kondisi Target: 00.09.49 menuju kematian]

> [Tindakan Wajib: Lakukan Penyatuan Energi Segera Sebelum Kutukan Menghabisi Nyawanya!]

Napas Bu Kirana makin memburu. Wajah cantiknya kian mendekat ke leherku, membuat seluruh akal sehatku yang tersisa berada di ambang kehancuran...

Lanjut membaca
Lanjut membaca