

"Buuu, Surya sebentar lagi ujian nasional di sekolah. Setelah lulus SMA Surya ingin kuliah ke kota Buu ?? Surya ingin ambil jurusan bisnis" ucap Surya di saat sela makan malamnya bersama ibu juga kedua adiknya.
Ibunya yang mendengar impian Surya itu pun hanya tersenyum, lalu menatap wajah anak sulungnya penuh kasih sayang.
"Nak bermimpi boleh sayang tapi juga lihat kondisi ekonomi kita saat ini. Ibu hanya berjualan sayur di pasar dan buruh cuci yang bergaji tidak seberapa banyak. Bersyukur bisa membiayai hidup dan makan sehari - hari selama ini. Adikmu juga butuh biaya untuk sekolah masuk SMP tahun depan. Ibu dapat uang tambahan dari mana lagi untuk biaya kuliah mu nak ??" Kata ibunya dengan suara lembut.
"Surya akan bekerja keras buu !! Setelah lulus sekolah aku akan bekerja dan menabung. Setelah mendapatkan uang yang cukup barulah daftar kuliah ke kota, sambil mencari kerja sambilan disana," kata Surya lagi bersemangat.
"Kalau begitu niatan mu nak, ibu setuju dan akan mendoakan impian mu terwujud. Bekerja keras dan berdoa lah yaa nak ! Jika terus berusaha inshaallah keinginan mu bisa tercapai suatu saat nanti" Kata ibunya menguatkan hati anaknya.
Surya adalah anak sulung dari pasangan suami istri bernama Arif dan Astuti. Dirinya dibesarkan oleh single parents dengan kedua adiknya bernama Jaka dan Dara. Ayah Surya sudah meninggal sejak Surya duduk dibangku SMP kelas 1 karena kecelakaan di tempat kerja sebagai kuli bangunan.
Kehidupan keluarga Surya memang serba kekurangan, tapi untuk pendidikan ibunya selalu menomor satukan.
Setelah menyelesaikan makan malam seperti biasanya Surya ke kamarnya untuk belajar. Surya adalah anak yang cerdas dan juga baik perilakunya. Tak heran jika teman-temannya menyukainya di sekolah.
Hanya satu orang saja teman sekelasnya yang membencinya dikarenakan oleh rasa iri. Dia adalah Roy. Roy adalah anak dari juragan beras sekaligus kepala desa di kampungnya yang sering dibanding-bandingkan dengan Surya.
Keesokkan paginya setelah azan subuh Surya membantu ibunya mengikat sayur-sayuran yang dipetik dari kebun belakang untuk di jual ke pasar. Baru kemudian bersiap-siap pergi ke sekolah.
Untung lah ayahnya meninggalkan sedikit warisan berupa tanah dibelakang rumah yang cukup untuk di jadikan lahan berkebun sayur dan juga umbi-umbian, setiap hari sepulang sekolah Surya rutin mengurus kebun sayurnya. Ada beberapa aneka ragam jenis sayuran ditanam disana.
Berbekal ilmu pertanian yang ia dapat dari sekolah, Surya mempraktekkan langsung dan alhasil sejak ayahnya meninggal dunia kebun dibelakang itulah sumber penghasilan dan sebagai penompang ekonomi mereka sampai sekarang.
Sedangkan ibunya , Bu Astuti setelah pulang dari pasar mencari tambahan uang untuk biaya sekolah dengan menjadi buruh cuci baju di kediaman pak kades.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya membantu ibunya, barulah Surya bersiap-siap ke sekolah. Dirinya mengayun sepeda tua menuju sekolah yang jaraknya sekitar 2 kilo dari rumahnya. Di tengah jalan dirinya bertemu sahabatnya yang bernama Didi yang mengendarai sepeda motornya.
"Haii bro titipkan saja sepeda mu disana !! Ayo ke sekolah bersama naik motorku " ajak Didi begitu laju motornya sejajar dengan sepeda Surya.
"Duluan saja bro , aku sekalian berolahraga melatih otot-ototku supaya memiliki badan yang kekar dan kuat untuk bekerja, he he he " jawabnya sambil terkekeh.
"Huuuu bilang saja kamu sayang sama sepeda tua mu itu !! Oia gimana sudah bahas tentang kuliah ke ibu mu ?? jika setuju bagaimana kalau kita kost bersama nanti di kota !! kamu tidak perlu bayar uang kost cukup temani aku saja " kata Didi.
"Sudah semalam, tapi sepertinya akuvharus berhenti setahun atau dua tahun dulu , aku berencana bekerja full time mengumpulkan uang dan menabung. Aku tak ingin terlalu membebani ibuku bro !!" Jawab Surya sambil terus mengayun sepedanya.
"Yachhh kita gak bisa sama-sama dong bro !! aku ingin kuliah bersama mu padahal, aahhh tidak seru jika tidak ada kamu ke kota" kata Didi dengan raut wajah kecewa.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya m sampai di sekolah bertepatan dengan bel berbunyi pertanda kegiatan pembelajaran dimulai.
"Pagi Surya" sapa Maira cewek tercantik di sekolah itu.
Surya hanya mengangguk dan tersenyum saja, lalu duduk di bangku persis dibelakang Maira. Surya memang terkenal dingin dan irit bicara pada lawan jenis.
Sifat cueknya itulah yang buat para kaum hawa di sekolah menjadi penasaran padanya. Selain berwajah tampan, Surya juga sangat sopan kepada siapa saja. Surya sengaja membatasi diri dari lawan jenis karena bukan muhrim sesuai pesan ibunya.
Surya berprinsip tidak akan main cinta-cintaan sebelum dirinya sukses meraih masa depan yang lebih baik. Dirinya hanya ingin fokus belajar dan bekerja, mencari uang yang banyak untuk mewujudkan niatannya melanjutkan kuliah dan membahagiakan keluarganya kelak.
Sedangkan dibawah teriknya matahari yang mulai bersinar, ibunya saat ini tengah sibuk menawarkan sayur mayur kepada orang -orang yang lalu-lalang di depannya di pasar.
Hanya bermodalkan tikar usang bu Astuti menggelar barang dagangannya itu di pasar tradisional di kampungnya. Kadang jika cuaca sedang hujan yang datang tiba-tiba, terpaksa Bu Astuti harus menggulung dulu barang dagangannya dan berteduh.
Dalam hati Bu Astuti ingin sekali rasanya bisa menyewa kios untuk berjualan agar lebih nyaman dari panas dan hujan. Tapi impian masih menjadi impian semata sampai detik ini, uangnya belum cukup untuk menyewa kios.
"Sayur -sayuuuur masih segar belilah !! murah-murah ayo borong lah sayurnya buuu !! " Teriaknya menjajakan dagangannya.
*Tiga bulan kemudian*
Hari kelulusan Surya disekolah pun tiba, semua bersorak kegirangan akhirnya usai sudah menimba ilmu dibangku SMA. Semua tampak bahagia termasuk Surya saat ini.
Dengan mengayun sepeda ontel tuanya yg merupakan kenang-kenangan dari almarhum ayahnya. Surya pulang ke rumah membawa hasil pengumuman kelulusan.
"Buuu ibuuuu dimana ??" teriak Surya masuk ke dalam rumah mencari keberadaan ibunya.
"Ada apa nak ?? Ibu di dapur memasak " sahut ibunya.
Alhamdulillah Surya lulus dengan nilai tertinggi di sekolah buuu, lihatlah kertas ini !!" Ucapnya menyodorkan hasil rekap nilai.
"Wahhh kamu hebat nak !! Ibu bangga sekali punya anak pintar seperti mu " kata bu Astuti sembari mengusap kepala anaknya lembut.
"Hmmmm harumnya aroma masakan ibu , masak apa buu ??" Tanya Surya mengendus bau makanan sambil memejamkan matanya sesaat.
"Masak semur ayam kesukaan mu nak. Kebetulan dagangan sayur ibu hari ini ludes jadi bisa belanja beli ayam untuk lauk makan. Selamat ulang tahun yang ke 18 ya nak, semoga berkah umurnya dan menjadi anak sukses " ucap Bu Astuti.
"Makasih buu, jadi masak spesial karena Surya sedang ulang tahun hari ini yaa ?? Terima kasih ibuku sayang " kata Surya memeluk ibunya.
"Ayo ganti dulu baju mu dan tolong panggilkan adik-adik mu untuk makan siang bersama ya!! Ibu masih membereskan dapur sebentar lagi selesai," kata ibunya.
Surya pun bergegas ke kamarnya untuk menganti baju sekolahnya. Kemudian mengajak kedua adiknya untuk makan bersama.
Siang itu keluarga kecil itu makan dengan suka cita dilengkapi hidangan yang istimewa. Sekaligus mereka merayakan ulang tahun Surya dan kelulusannya bersama. Bagi keluarga Astuti makan lauk ayam seperti ini sudah termasuk mewah.
Setiap harinya Astuti hanya menyajikan lauk tempe, tahu atau ikan asin ditambah sayur dari hasil kebun sendiri. Masak lauk ayam hanya sesekali jika ingin merayakan sesuatu yang spesial seperti saat ini.
Malam harinya Surya tidur lebih awal seperti biasanya, entah mengapa selepas salat Isya matanya seperti lengket sekali seolah ada lem menempel disana.
Di dalam tidurnya , Surya bermimpi aneh tapi seolah nyata. Ada seorang kakek berambut putih yang sudah sangat tua, berbaju putih dengan memegang tongkat berbentuk unik menghampirinya.
"Hai cucuku jangan takut, aku adalah kakek leluhur keluarga mu. Kamu anak yang berhati baik, jujur, berani dan tidak sombong. Kakek akan mewariskan ilmu kepada mu," ucapnya menghampiri posisinya sambil menyerahkan sebuah kitab usang berisi ilmu pengobatan kepadanya.
"Siapa nama kakek?? Apa ini kek??" tanya Surya dalam mimpinya memandang pemberian itu.
"Panggil saja kakek Baskoro cuuu !! Itu adalah kitab pengobatan leluhur. Dengan mempelajari itu kamu nantinya bisa menolong orang sakit dan terima lah tongkat ini juga " kata kakek Baskoro menyerahkan tongkat saktinya.
Surya pun menerima pemberian itu, lalu memegang tongkatnya.
"Hanya kamu yang bisa memanggil dan melihat kitab dan tongkat itu cuuu, ahh iya terima lah peralatan untuk memfasilitasi pengobatan nantinya !! ayo ikut kakek." Ajaknya mengulurkan tangannya ke Surya.
Surya yang menyambut uluran tangan kakek Baskoro pun jiwanya keluar dari raganya.
"Kek tunggu apa yang terjadi? kenapa diriku ada dua ??" tanyanya heran.
"Ha haha, yang terbaring itu adalah jasad mu . Yang sedang berdiri disampingku adalah jiwa mu . Ayo ikut kakek menjelajah lorong waktu ke masa tempo dulu sebelum kamu dilahirkan," kata kakek Baskoro.
Surya dan kakek Baskoro melakukan time travel ke masa kakek Baskoro dulu sampai ke masa Satrio juga. Kakek Baskoro memperlihatkan berbagai teknik pengobatan yang pernah dilakukan dirinya dan Satrio pada masanya saat menolong orang-orang . Surya adalah keturunan yang entah kesekian kalinya dari Satrio pewaris pertama ilmu dari kakek Baskoro.
Kemudian kakek Baskoro membawa ke sebuah tempat yang hanya ada pemandangan hutan yang luas nan indah di sebuah gua mereka berhenti. Surya dimintainya duduk bersila dan kakek Baskoro menyalurkan kesakitannya srcara bertahap dan memberikan sebuah mata unik tambahan kepada Surya.
Hanya orang-orang yang mempunyai keistimewaan yang bisa melihat keistimewaan di mata Surya saat ini.