Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Godaan Brutal Ibu Tiri dan Keponakan

Godaan Brutal Ibu Tiri dan Keponakan

Mas Gihon | Bersambung
Jumlah kata
109.9K
Popular
34.1K
Subscribe
2.6K
Novel / Godaan Brutal Ibu Tiri dan Keponakan
Godaan Brutal Ibu Tiri dan Keponakan

Godaan Brutal Ibu Tiri dan Keponakan

Mas Gihon| Bersambung
Jumlah Kata
109.9K
Popular
34.1K
Subscribe
2.6K
Sinopsis
PerkotaanSlice of life21+HaremRumah Tangga
Rumah tangga Aris mulai terganggu dengan datangnya foto-foto seorang wanita yang diduga istrinya–Rahma, dari nomer anonim. Namun, di sisi lain, kedatangan Ratna yaitu Ibu Tirinya dan Siska, keponakan Ratna, menjadi godaan tersendiri untuk Aris setelah banyaknya masalah dengan sang istri.
Kado Anniversary yang Belum Tuntas

"Bangsat! Siapa yang mengirim foto tidak jelas seperti ini?"

Aris menggenggam ponselnya dengan erat usai melihat foto yang baru saja dikirim oleh nomer tidak dikenal. Foto seorang wanita cantik dengan pria tua dalam sebuah ruangan remang-remang. Awalnya ia pikir itu hanya kiriman iseng, tapi setelah memperhatikannya dengan saksama, otaknya menyimpulkan hal lain.

Wanita yang hanya terlihat separuh wajahnya itu mirip sekali dengan sang istri. Jadi, tanpa menunggu lagi, gegas ia menghubungi si pengirim anonim. Sialnya, tidak ada jawaban di panggilan pertama, lalu suara operator menggema di panggilan kedua.

"Sial!"

Aris menahan emosinya kuat-kuat. Ia melihat ke arah meja di mana semuanya sudah ia siapkan. Malam ini adalah hari Anniversary pernikahannya dengan Rahma. Alih-alih merayakannya setelah ia mendapat teguran dari atasan karena target penjualan obat di kantornya menurun, ia malah mendapati foto tidak jelas yang membuat harinya makin berantakan.

Pria itu menarik napas kasar, lalu dengan perlahan menepis semua praduga yang terlampir dalam foto yang baru saja ia lihat.

Rahma adalah wanita yang baik. Mereka sudah bersama sejak kuliah, mana mungkin ia tega mengkhianati Aris begitu saja. Terlebih selama ini, wanita itu sama sekali tak mempermasalahkan seberapa nafkah yang Aris beri. Walaupun benar, ada saat-saat di mana Aris merasa insecure karena gaji sang istri yang berkali-kali lipat lebih besar daripada gajinya sebagai sales obat.

Setelah satu jam menunggu, sebuah mobil menepi di halaman rumah Aris. Pria itu melongok dan mendapati sang istri pulang dengan raut wajah yang begitu kelelahan.

Rahma melepas sepatu heelsnya, lalu mendongak demi menatap Aris yang menyambutnya.

"Mas, kamu maaf aku telat pulang. Tadi Masih ada kerjaan di kantor," katanya.

Aris mengangguk. Dia mengambil tangan Rahma, lalu menuntunnya menuju meja makan.

"Happy Anniversary, Sayang," katanya kemudian.

"Ya ampun, aku pikir kamu lupa."

"Nggak. Aku juga punya sesuatu buat kamu."

Aris merogoh saku celananya demi mengeluarkan kotak beludru merah yang sejak kemarin sudah ia siapkan. Pria itu sudah menabung sejak beberapa bulan yang lalu untuk bisa memberikan sesuatu yang mungkin nilainya tidak seberapa, tapi ia berikan dengan ketulusan.

"Ini … buat aku?" tanya Rahma ketika Aris membuka kotak itu.

Pria itu mengangguk lemah, lalu mengambil cincin seberat tiga gram untuk kemudian ia sematkan di jadi manis Rahma. Wanita itu memandanginya dengan takjub, lalu memeluk suaminya erat.

"Makasih banyak, ya, Mas. Aku seneng banget. Cincinya indah," ucap Rahma.

"Sama-sama. Aku juga senang kalau kamu suka."

Rahma melerai pelukannya. Senyumnya terbit indah. Ia menatap Aris dengan binar bahagia dan malu-malu sebelum berbisik.

"Aku juga punya hadiah buat kamu."

Aris menaikkan alis, lalu mengernyit.

"Apa itu?" tanyanya.

"Hadiah yang udah lama Mas tunggu," bisik Rahma dengan wajah merona.

Jemari Rahma bergerak ke tengkuk Aris, menariknya lembut. Aroma manis tubuh Rahma langsung menyergap indra penciuman Aris, menghancurkan sisa kegundahan akibat foto misterius tadi. Dari sana, semua prasangka buruk mengenai sang istri sirna seketika.

Gairah Aris meletup ketika Rahma mendaratkan bibirnya dengan gerakan menuntut di bibir Aris. Meja makan temaram itu mendadak terasa panas. Aris membalas ciuman itu dengan intensitas tinggi sembari jemarinya membuka kancing blus Rahma satu per satu.

Ketika kain blus tersingkap, Aris menahan napas. Di balik pakaian dalam yang minim, sepasang dada Rahma menyembul indah, tampak ranum dan kencang sempurna. Kulitnya begitu halus saat bergesekan dengan telapak tangan Aris.

Aris menunduk, mengecupi leher jenjang Rahma lalu turun memberikan gigitan kecil di sekitar selangka. Sentuhan itu membuat Rahma melenguh pelan. Sambil meremas rambut Aris, Rahma membiarkan suaminya meremas lembut dada tersebut hingga menciptakan sensasi panas menjalar. Napas keduanya memburu, saling berkejaran di atas kursi meja makan. Gairah Aris sudah berada di puncak, siap menuntaskan dahaga.

Namun, tepat saat itu, ponsel Aris di atas nakas bergetar hebat, merusak keheningan dengan deringnya yang nyaring.

Pria itu mencoba mengabaikannya dan tetap fokus pada geliat sang istri yang duduk di pangkuannya. Namun, Rahma yang mendengarnya menjadi tidak fokus.

"Mas, angkat dulu teleponnya," katanya pelan.

"Biar aja, Sayang. Aku nggak mau diganggu."

Aris kembali menunduk dan menikmati tubuh indah sang istri yang sudah siap ia eksekusi. Namun, ponsel itu terus meraung membuat suasana menjadi tidak intim.

Rahma membuang napas dengan kasar, lalu sedikit mendorong bahu Aris agar menjauh. Hingga pria itu menatapnya.

"Angkat teleponnya. Pasti penting!"

Aris akhirnya mengangguk. Rahma turun dari pangkuannya, sedikit menyisih dan membiarkan Aris mengambil ponsel di meja.

Nama Bu Ratna terpampang di layar ponsel Aris. Wanita itu adalah istri dari mendiang ayah Aris. Ibu tiri yang sudah beberapa waktu ini tidak pernah lagi berkontak dengannya. Namun, entah kenapa malam ini, Ratna menghubunginya berkali-kali.

"Halo, Bu."

"Aris ... Aris, tolong Ibu, Nak."

Suara Ratna di seberang telepon terdengar bergetar hebat, diiringi suara isak tangis yang histeris.

"Bu? Ibu kenapa? Ada apa?" tanya Aris.

Kepala Aris yang tadinya dipenuhi gairah mendadak dingin mendengar ucapan ibu tirinya.

"Rumah Ibu kebakaran, Ris ... habis semuanya, nggak ada yang tersisa," jelas Ratna.

Tangis wanita berusia 45 tahun itu semakin pecah. "Ibu bingung harus ke mana malam-malam begini. Boleh Ibu sama keponakan Ibu menumpang di rumahmu dulu sementara waktu? Ibu nggak punya siapa-siapa lagi," imbuhnya.

Aris melirik Rahma yang memperhatikannya dengan kening berkerut. Aris tahu Ibu tirinya itu memiliki seorang keponakan perempuan yatim piatu bernama Siska yang ikut tinggal bersamanya. Usia wanita itu kalau tidak salah sudah 25 tahun.

Merasa kasihan mendengarnya menangis luntang-lantung, Aris menjauhkan ponsel sejenak dan berbisik pada Rahma, menjelaskan situasinya secara singkat. Rahma, dengan sifatnya yang tidak tegaan, langsung mengangguk.

"Suruh ke sini aja dulu, Mas. Kasihan," katanya.

"Iya, Bu. Ibu tenang ya. Ibu boleh tinggal di sini sementara waktu. Besok pagi Aris jemput Ibu di stasiun, ya? Ibu naik kereta pertama saja," ujar Aris menenangkan.

Setelah menutup telepon dengan berbagai ucapan terima kasih yang emosional dari Ratna, Aris mengembuskan napas panjang. Beban moral mendadak bertambah di pundaknya.

Aris berbalik, mencoba mengembalikan sisa-sisa atmosfer intim yang sempat tercipta. Ia menoleh kembali ke arah Rahma, mencoba memeluk pinggang istrinya.

"Maaf, ya, Sayang, keganggu. Kita lanjut."

"Mas, maaf banget. Aku mendadak ngantuk banget. Efek tegang denger cerita kebakaran tadi juga kayaknya. Besok kamu kan harus bangun pagi buat menjemput Ibu kamu ke stasiun. Kita tidur, ya?" ucap Rahma lirih.

Aris terpaku di tempat. Tangannya yang menggantung di udara perlahan turun. Gairah yang tadi membumbung tinggi kini mengental menjadi rasa frustrasi yang luar biasa di dalam dadanya. Rasanya benar-benar menyebalkan.

Aris hanya bisa menghela napas kasar, terlentang menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk.

"Ah … sialan!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca