Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
KEMBALI KE ERA EMAS

KEMBALI KE ERA EMAS

rizxia | Bersambung
Jumlah kata
154.5K
Popular
449
Subscribe
54
Novel / KEMBALI KE ERA EMAS
KEMBALI KE ERA EMAS

KEMBALI KE ERA EMAS

rizxia| Bersambung
Jumlah Kata
154.5K
Popular
449
Subscribe
54
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeMiliarderHaremTime Travel
Pada usia 35 tahun, Arga Pratama kehilangan segalanya. Startup yang ia bangun bangkrut, tunangannya meninggalkannya, kedua orang tuanya meninggal tanpa sempat ia bahagiakan, dan utang miliaran rupiah membuat hidupnya hancur. Di tengah hujan deras, Arga mengalami kecelakaan yang seharusnya merenggut nyawanya. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke tahun 2016, saat baru lulus kuliah dan belum membuat satu pun keputusan yang menghancurkan hidupnya. Berbekal ingatan tentang masa depan—tren teknologi, saham yang akan meroket, aset digital, perkembangan AI, dan peluang bisnis—Arga bertekad mengubah nasibnya. Ia akan menjadi kaya, membalas semua penyesalan, melindungi keluarganya, dan meraih "Era Emas" yang dulu gagal ia capai. Namun, mengubah masa depan ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Setiap keputusan baru melahirkan konsekuensi baru, rival yang lebih berbahaya, dan hubungan rumit dengan beberapa wanita yang perlahan mengisi hidupnya. Di dunia yang perlahan berubah karena kehadirannya, satu pertanyaan terus menghantui Arga: Apakah masa depan benar-benar bisa diubah, atau justru sedang menciptakan takdir yang baru?
Bab 1 - Penyesalan

Hujan mengguyur Jakarta tanpa henti.

Dari balik jendela lantai tiga puluh dua sebuah gedung perkantoran, Arga Pratama berdiri memandang lautan lampu kota yang berkilauan. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan yang bergerak lambat, sementara petir sesekali menyambar langit malam.

Di tangannya terdapat secarik kertas bertuliskan satu kalimat.

SURAT PERNYATAAN PAILIT.

Arga tertawa pelan.

Tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.

"Tujuh tahun..."

"Tujuh tahun membangun semuanya..."

"Dan hancur hanya dalam beberapa bulan."

Di atas meja masih berserakan proposal investasi, laporan keuangan, dan foto-foto saat perusahaannya meraih penghargaan sebagai startup paling menjanjikan.

Semua itu kini tidak ada artinya.

Ponselnya kembali bergetar.

Bank: Tagihan jatuh tempo.

Beberapa detik kemudian muncul pesan lain.

Investor: Kami akan menempuh jalur hukum.

Disusul notifikasi berikutnya.

Tunangannya, Celine: Maaf, Ga. Aku tidak sanggup menjalani hidup seperti ini. Anggap saja kita memang tidak berjodoh.

Arga membaca pesan itu berulang kali sebelum akhirnya menutup layar ponselnya.

Aneh.

Ia tidak marah.

Ia hanya merasa kosong.

Beberapa bulan terakhir benar-benar mengubah hidupnya. Startup yang ia dirikan bersama sahabatnya runtuh setelah serangkaian keputusan investasi yang buruk. Mitra bisnis menarik diri. Investor kehilangan kepercayaan. Utang perusahaan menumpuk hingga tidak mungkin lagi diselamatkan.

Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan uang.

Melainkan kehilangan orang-orang yang selama ini ia perjuangkan.

Ayahnya meninggal karena serangan jantung saat Arga sibuk mencari dana talangan bagi perusahaan.

Ibunya jatuh sakit beberapa bulan kemudian. Arga bahkan tidak sempat menemaninya pada hari-hari terakhir.

Setiap kali mengingatnya, dada Arga terasa sesak.

"Ayah... Ibu..."

"Maaf."

"Aku terlalu sibuk mengejar kesuksesan sampai lupa bahwa waktu bersama kalian tidak akan pernah kembali."

Air mata perlahan jatuh.

Di usia tiga puluh lima tahun, Arga memang pernah menjadi seorang CEO.

Namun malam ini, ia hanyalah seorang pria yang dipenuhi penyesalan.

Ia mengambil sebuah bingkai foto dari laci meja.

Foto sederhana.

Ayah, ibu, dan dirinya tersenyum di depan rumah saat ia baru lulus kuliah.

Hari itu, ayah berkata,

"Kesuksesan bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kamu punya. Tapi tentang siapa yang masih tersenyum di sampingmu ketika kamu pulang."

Saat itu Arga hanya mengangguk sambil tertawa.

Kini ia baru memahami arti kalimat tersebut.

Namun semuanya sudah terlambat.

Jam dinding menunjukkan pukul 22.47.

Arga menghela napas panjang.

Ia mematikan lampu kantor dan berjalan keluar gedung.

Hujan masih turun deras.

Ia memilih berjalan kaki, membiarkan tubuhnya basah kuyup.

Jakarta tetap sibuk seperti biasanya.

Tidak ada yang peduli bahwa seorang pria baru saja kehilangan seluruh hidupnya.

Saat hendak menyeberang jalan, sebuah suara klakson terdengar keras.

"AWAS!"

Arga menoleh.

Sorot lampu truk memenuhi pandangannya.

Tubuhnya membeku.

Dalam sepersekian detik, hanya satu keinginan yang memenuhi pikirannya.

"Kalau saja aku diberi kesempatan sekali lagi..."

"Aku akan memilih jalan yang berbeda."

BRAAAAK!

Benturan keras mengguncang tubuhnya.

Dunia seolah berhenti berputar.

Suara hujan menghilang.

Suara kendaraan menghilang.

Yang tersisa hanyalah kegelapan.

Di tengah kesadarannya yang memudar, terdengar suara asing yang sangat tenang.

"Kesempatan kedua tidak diberikan kepada semua orang."

"Buktikan bahwa penyesalanmu bukan sekadar kata-kata."

Cahaya keemasan perlahan menyelimuti tubuh Arga.

Kesadarannya lenyap.

Dan takdirnya mulai berubah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca