
Urusanku dengan Dia
Muhammad Rivaldi Pratama|Tamat
- Jumlah kata
- 8.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 8.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Dalam sunyi yang tak pernah benar-benar sepi, seorang lelaki memilih berjalan sendiri—bukan karena ia kuat, tetapi karena hidup telah berkali-kali menjatuhkannya. Dikhianati oleh harapan, dilukai oleh keadaan, dan lelah oleh manusia, ia sampai pada satu kesimpulan: ada urusan yang tak lagi bisa diselesaikan dengan sesama. Ia menyebutnya *urusanku dengan Dia*. Novel ini mengisahkan perjalanan batin seorang laki-laki yang bergulat dengan iman, luka masa lalu, dan pertanyaan tentang takdir. Ketika doa-doanya terasa hampa dan jawaban tak kunjung datang, ia dihadapkan pada pilihan paling sulit: menyerah pada keadaan atau bertahan dengan keyakinan yang nyaris runtuh. Dalam pencarian makna hidup, ia belajar bahwa keikhlasan bukan tentang menerima segalanya tanpa rasa sakit, melainkan tetap percaya meski hati penuh retak. Melalui pertemuan-pertemuan sederhana, kehilangan yang tak terelakkan, dan dialog batin yang jujur, tokoh utama menyadari bahwa Tuhan tidak pernah jauh—manusia saja yang sering melangkah menjauh. Novel ini menyentuh tema taubat, sabar, dan kepercayaan pada rencana Ilahi, disampaikan dengan bahasa yang lembut namun menghantam relung hati.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 Lelaki yang lelah berharap
Langit sore itu berwarna kelabu, seolah ikut menanggung beban yang sejak lama menetap di dadanya. Ia duduk sendiri di sudut kamar sempit, menatap jendela yang tak pernah benar-benar ia buka. Bukan karena terkunci, tetapi karena ia sudah terlalu lama terbiasa menutup diri dari dunia, dari manusia, bahkan dari harapan.
Namanya tak perlu disebutkan sekarang. Ia hanyalah seorang lelaki biasa, yang hidupnya penuh dengan kata *nanti* dan *sabar* yang terus tertunda maknanya.
Sudah berapa kali ia berharap, lalu kecewa? Ia sendiri tak ingat. Yang ia tahu, setiap kali hatinya mencoba percaya, dunia seperti sengaja mengajarinya arti jatuh dengan cara yang sama: diam-diam, perlahan, lalu menyakitkan.
Ia pernah percaya pada manusia. Pernah menaruh harap pada janji. Pernah yakin bahwa usaha dan doa akan selalu berujung bahagia. Tapi kenyataan tidak selalu sejalan dengan keyakinan. Kadang, yang datang justru luka tanpa aba-aba.
Di atas sajadah yang mulai pudar warnanya, ia duduk tanpa suara. Tangannya terlipat, matanya menatap lantai. Ia tidak tahu sejak kapan doa menjadi hal yang paling berat untuk dilakukan. Bukan karena malas, tapi karena takut kecewa.
“Apa gunanya berdoa, kalau akhirnya tetap begini?” bisik hatinya, pelan, namun tajam.
Ia merasa bersalah memikirkan itu. Sangat bersalah. Namun ia juga lelah berpura-pura kuat. Lelaki sepertinya jarang diajarkan untuk menangis, apalagi mengaku rapuh. Maka ia menyimpannya sendiri dengan segala resah, tanya, dan kecewa hingga menumpuk dan menyesakkan.
Waktu terus berjalan, azan magrib terdengar dari kejauhan. Ia bangkit perlahan, mengambil wudhu dengan gerakan yang mekanis. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi tak mampu menembus beku di hatinya.
Saat berdiri menghadap kiblat, ia terdiam lama. Bibirnya kelu, pikirannya kacau. Ia ingin bicara pada Tuhan, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Terlalu banyak yang ingin ia sampaikan, terlalu banyak yang ia pendam.
“Ya Allah…”
Suaranya bergetar, lalu terhenti.
Ia menunduk. Dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sanggup melanjutkan doa dengan kata-kata indah. Yang ada hanyalah kelelahan lelah berharap, lelah menunggu, lelah menjadi kuat sendirian.
Malam itu, ia tidak meminta apa-apa. Ia hanya duduk lama di atas sajadah, dengan satu perasaan yang akhirnya ia akui dalam hati:
Ia lelah berharap pada manusia.
Dan ia takut, jika harapannya pada Tuhan pun tak terjawab seperti yang ia bayangkan.
Namun jauh di lubuk hatinya, masih ada satu keyakinan kecil yang bertahan rapuh, hampir padam bahwa mungkin, hanya Tuhan yang benar-benar tahu betapa lelahnya ia hari ini.
Dan dari situlah, kisah urusannya dengan Dia perlahan dimulai.
Daftar bab
20 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








