
Mendadak Jadi Sultan
Phantom Night|Bersambung
- Jumlah kata
- 61.6K
- Popular
- 1.9K
- Subscribe
- 165
- Jumlah kata
- 61.6K
- Popular
- 1.9K
- Subscribe
- 165
Sinopsis
Selama bertahun-tahun, Ben White hidup sebagai pria miskin yang selalu dipandang rendah. Menjadi menantu keluarga Willow seharusnya membuat hidupnya lebih mudah. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Karena tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak punya harta, dan dianggap tidak mampu memberikan kehidupan yang layak kepada istrinya, Ben diperlakukan seperti beban dan aib oleh keluarga mertuanya. Bahkan ketika berada di depan orang banyak, Ben tidak jarang dipermalukan dan dihina. Satu-satunya orang yang selalu berada disisinya hanyalah Nia, istrinya. Nia tidak pernah meninggalkan Ben meskipun kehidupan mereka jauh dari kata mewah. Dia tetap bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara Ben hanya bisa menelan semua hinaan yang ditujukan kepadanya. Namun semuanya berubah dalam satu malam. Sebuah kesempatan misterius tiba-tiba mengubah kehidupan Ben setelah dia mendapatkan sebuah jam tangan bernama Wonders of the World. Saat itu, takdir barunya dimulai!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Ruang keluarga besar itu dipenuhi oleh suara tawa dan perbincangan hangat. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya ke dinding berlapis marmer. Hidangan mewah tersaji di meja panjang, menambah kesan glamor di acara ulang tahun ke-50 John Willow, kepala keluarga yang dihormati. Kerabat, teman, dan kolega memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang semarak.
Di tengah perayaan, pintu depan perlahan terbuka. Suara engsel yang berderit halus cukup untuk menarik perhatian sebagian tamu. Seorang wanita muda dengan kecantikan memikat melangkah masuk. Gaun sederhananya memancarkan aura elegan meskipun jauh dari kemewahan standar keluarga Willow. Di belakangnya, seorang pria berdiri dengan postur sedikit membungkuk. Pakaiannya sangat biasa, tampak kontras dengan kemewahan ruangan itu.
Dialah Bellvania, atau Nia, putri kedua keluarga Willow, yang baru saja tiba bersama suaminya, Ben White.
Ben berdiri setengah langkah di belakang istrinya, menyadari banyak mata tertuju kepadanya. Dia mencoba untuk tidak terlihat gugup, meskipun jantungnya berdetak kencang. Tidak perlu mendengarkan terlalu saksama untuk menangkap bisikan-bisikan tamu yang sudah mulai menyebar seperti api kecil.
“Bukankah itu Nona Nia?” salah seorang tamu berbisik. “Dia sangat cantik, seperti rumor yang beredar.”
“Tapi bukankah dia diusir dari keluarga ini? Semua gara-gara pria itu.”
Ben menggenggam jemari Nia lebih erat, mencari ketenangan dari sentuhan lembut istrinya. Namun, setiap bisikan itu terasa seperti belati yang menusuk dadanya. Kenapa aku harus ikut? pikirnya sesaat, sebelum mengingat alasan sebenarnya—untuk Nia. Dia tahu istrinya ingin memberi penghormatan kepada Sang Ayah. Itu saja sudah cukup baginya untuk menahan segala penghinaan.
Dari tengah ruangan, seorang wanita paruh baya dengan gaun elegan melangkah maju. Wajahnya cantik dan penuh wibawa, tapi tatapan tajamnya memancarkan dinginnya es. Beth Willow—Ibu Nia, menghentikan langkah putrinya dengan pandangan tajam yang nyaris membekukan.
“Aku sudah bilang padamu, Nia. Jangan pernah bawa laki-laki ini ke rumah ini!” suaranya memecah keramaian. Nada dinginnya terasa menusuk, membuat beberapa tamu mendadak terdiam. “Dan kenapa kau kembali? Bukankah aku sudah mengusirmu?!”
Ben melihat bagaimana jemari Nia gemetar dalam genggamannya, meski wajah istrinya tetap terlihat tenang. Suara lembut Nia terdengar, mencoba menenangkan situasi.
“Ma, bagaimanapun dia adalah suamiku. Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ayah. Apakah itu salah?”
Namun, ucapan Nia seperti angin yang berlalu. Beth bahkan tidak melirik putrinya. Pandangannya tertuju pada Ben, menelusuri penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu penuh dengan penghinaan yang tidak disembunyikan.
“Lihatlah pria ini. Apa yang bisa kau banggakan darinya? Tidak ada harta, tidak ada status. Kau hanya mempermalukan keluarga ini!”
Ben mengepalkan tangan di sisinya. Kata-kata itu seperti palu yang menghantam keras. Dia tidak menyangkal bahwa apa yang dikatakan Beth benar. Namun, itu tidak mengurangi rasa sakit yang ditimbulkannya.
Nia mencoba membela. “Ma, bukankah kebahagiaan kami cukup?”
“Kebahagiaan?” Beth mendengus sinis. “Dengan pria seperti dia? Hidup tidak cukup hanya dengan cinta, Nia! Lihat dirimu sekarang—kau sudah meninggalkan segalanya demi pecundang seperti dia!”
Ben ingin berbicara, ingin membela dirinya sendiri. Tapi dia tahu, apa pun yang dia katakan hanya akan memperburuk keadaan. Tidak apa-apa. Untuk Nia, aku akan bertahan.
“Ma, aku datang bukan untuk berdebat denganmu.” Nia enggan meladeni kemarahan ibunya itu lagi—berjalan melewatinya dan menghampiri ayahnya—John Willow. Suaranya bergetar, tapi dia berusaha keras untuk tetap tenang.
John tersenyum kecil, meski raut wajahnya menunjukkan rasa bersalah. “Terima kasih, putriku,” jawabnya pelan. Pria itu terlihat gugup, matanya melirik Beth yang berdiri dengan ekspresi tidak senang.
Ben mencoba mengikuti Nia, tapi langkahnya terhenti ketika Beth menghalangi jalannya. Wanita itu mendorongnya dengan kasar, membuatnya mundur beberapa langkah.
“Berhenti di situ! Jangan berani-beraninya mengotori rumah ini dengan jejak kakimu!”
Ben menatapnya dengan pandangan penuh kesabaran, meskipun dadanya terasa sesak. Dia berusaha bicara. “Ma, saya hanya—”
“Diam!” Beth memotong ucapannya dengan tajam. “Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kau tidak layak!”
Kata-kata itu seperti cambuk yang menghantam punggungnya. Tapi Ben tetap diam, memilih untuk tidak melawan. Ini bukan tentang aku. Ini tentang Nia.
Keributan itu menarik perhatian Mees Willow, kakak tertua Nia, yang sedang berbincang dengan koleganya di sudut ruangan. Dia melangkah mendekat, diikuti istrinya, Annabelle.
“Kupikir siapa yang membuat ibuku berdebat,” ujar Mees dengan nada penuh ejekan. “Ternyata hanya seekor anjing kelaparan.” tatapannya menusuk ke arah Ben, kemudian beralih pada Nia.
“Kenapa kau kembali kesini, Nia? Apakah beras di rumah kalian habis dan kau tidak sanggup lagi memberi anjingmu ini makan? Atau kau butuh uang, aku bisa memberinya tapi kalian harus segera meninggalkan tempat ini. Kehadiran kalian berdua membuat kami malu di hadapan para tamu.”
Ben memalingkan wajahnya, mencoba mengabaikan penghinaan itu. Tapi Annabelle, wanita cantik dengan senyum sinis, tidak mau ketinggalan. “Aku tidak mengerti kenapa Nia memilih pria seperti ini. Tidak punya apa-apa, wajahnya pun mengecewakan. Benar-benar memalukan!”
Ben merasakan panas di wajahnya. Tapi sebelum dia bisa bereaksi, Nia melangkah maju. “Mama, Kakak, Kakak Ipar! Hentikan penghinaan ini. Kalian boleh mengatakan apa saja tentangku, tapi jangan perlakukan suamiku seperti itu!”
“Memang apa salahnya? Apa yang kami katakan ini benar,” jawab Mees dingin. “Kalau kau tidak suka, kau tahu pintunya di mana.”
“Sudahlah Ma, tidak perlu hiraukan mereka lagi. Melihat wajah mereka membuatku menjadi muak!” Mees melenggang pergi—diikuti istrinya di belakangnya.
Beth juga berlalu, menatap Ben dengan penuh kebencian dan penghinaan.
Air mata mulai menggenang di mata Nia. Dia berusaha menahan emosinya, tapi penghinaan demi penghinaan dari keluarganya terlalu menyakitkan.
“Kalian memang tidak pernah berubah…” suaranya terdengar pelan, hampir tidak terdengar.
John akhirnya melangkah maju, menempatkan tangannya di pundak Nia. “Ayah akan selalu di sisimu,” katanya lirih. Namun, ucapannya tidak banyak mengubah situasi.
John merasa bersalah, andai ia lebih tegas mungkin keluarganya tidak akan mengalami perpecahan seperti ini. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak—John memang kepala keluarga di rumah ini, tapi segala keputusan berada di tangan istrinya, Beth.
Saat itu, seorang petugas keamanan masuk, memberikan kabar yang tampaknya dinanti-nantikan oleh Beth.
“Tuan dan Nyonya, Nona ketiga dan suaminya sudah tiba.”
Beth langsung tersenyum lebar. “Menantuku yang baik akhirnya datang!” katanya, nadanya berubah riang. Dia segera berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Mees dan Annabelle.
Ben tetap berdiri di tempatnya, mencoba menenangkan dirinya. Dalam hati, dia bersumpah, Aku akan membuktikan bahwa mereka salah. Aku akan membuat mereka menyesal telah merendahkanku. Suatu hari nanti.
Saat Beth menyambut menantu favoritnya dengan hangat, Ben memutuskan bahwa ini akan menjadi malam terakhir dia menerima hinaan seperti itu. Untuk Nia, dia akan bangkit, apapun caranya.
“Nia, tunggu saja. Roda kehidupan pasti berputar. Aku pastikan kesempatan berikutnya ada di pihak kita.”
Daftar bab
52 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








