
- Jumlah kata
- 73.4K
- Popular
- 503
- Subscribe
- 156
Sinopsis
Dia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk tahta yang direnggut darinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Pewaris Rahasia
"Mana setoran lewat, Cakra? Jangan bilang anak panti kayak lo nggak ngerti aturan jalan sini!" Suara Singgih memecah kesunyian pagi.
Aku mengembuskan napas pelan. Jalan menuju pabrik susu ini sudah kuhafal di luar kepala. Setiap hari aku mengantar susu segar milik Pak Wiguna sebelum berangkat sekolah. Upahku memang hanya makan, tempat tinggal, dan biaya sekolah, tetapi bagiku itu sudah lebih dari cukup.
Selama tinggal di panti asuhan, belum pernah mengenal siapa orang tua kandungku. Menurut Ibu Camelia, pengurus panti, aku ditemukan di depan gerbang saat hujan lebat. Tali pusarku bahkan masih basah dan berdarah.
Aku bertekad menyelesaikan sekolahku hingga kuliah, agar masa depanku berubah. Akan aku balas semua orang yang sudah membuangku di depan gerbang Panti Asuhan Harapan Ananda saat aku lahir.
Pick-up tua yang kukendarai berhenti. Singgih, Pras, dan Tyo berdiri menghadang jalan sempit itu.
"Aturan apa?" tanyaku tenang.
"Hahaha!" Pras tertawa.
"Aturan pungutan keamanan," sahut Tyo sambil menyeringai.
"Aku nggak bawa uang."
"Bohong!" bentak Singgih.
"Serius. Aku cuma kerja di peternakan."
"Ckckck... Kasihan amat hidup lo, Cakra."
Aku hanya tersenyum. "Masih banyak orang yang lebih susah."
Ucapan itu justru membuat mereka tertawa semakin keras. "Hahaha!"
"Lihat ini!" Singgih menepuk pipiku pelan. "Anak panti ngajarin gue bersyukur?"
"Aku harus nganter susu. Tolong minggir."
Pras langsung menahan pundakku. "Belum selesai, mau ke mana?"
Aku mencoba lewat. Singgih mendorong dadaku, hingga aku hampir terjatuh.
"Kalian salah orang. Aku benar-benar nggak punya uang."
"Kalau gitu kita cari sendiri."
Mereka menggeledah seluruh tubuhku. Dompet lusuhku hanya berisi kartu pelajar, foto penghuni panti, dan uang receh lima ribu rupiah milik Bu Camelia untuk keadaan darurat.
"Nggak ada apa-apa," gerutu Tyo.
Wajah Singgih berubah masam. "Buang-buang waktu!"
Aku mengangkat kepala. "Kalau sudah selesai, aku pergi."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipiku. Belum sempat pulih, tendangan menghantam perutku. Aku tersungkur.
"Cari lagi!" bentak Singgih.
Tidak menemukan apa pun membuat mereka semakin marah. Pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi hingga tubuhku berguling di jalan berbatu.
Salah satu milkcan terjatuh. Tutupnya terbuka. Susu segar mengalir membasahi tanah.
"Jangan!" seruku panik.
Singgih malah menendang milkcan lainnya. Empat puluh liter susu hasil perahan sejak subuh mengalir sia-sia. Dadaku terasa jauh lebih sakit melihat itu daripada menerima pukulan mereka.
"Tolong, berhenti."
"Lihat! Anak panti minta dikasihani," ejek Tyo.
Pras dan Tyo menarik tubuhku berdiri paksa. Singgih memungut batu sebesar kepalan tangan.
"Kalau muka Lo cacat, orang pasti lebih kasihan. Jadi, Lo bisa setor uang keamanan setiap hari." Singgih menyeringai.
Aku memejamkan mata. "Jangan."
Tepat saat batu itu hendak diayunkan, suara tepukan tangan terdengar dari belakang.
Prok! Prok! Prok!
"Tiga lawan satu?" Suara pria asing itu tenang. "Hebat sekali!"
Kami semua menoleh.
Seorang pria sekitar empat puluh tahun berdiri di pinggir jalan. Kemeja hitamnya sederhana, tetapi jelas mahal dengan jam rolex di pergelangan tangan kirinya. Sebuah sedan hitam mewah terparkir beberapa meter di belakangnya.
Singgih mendengus. "Urus aja urusan Lo, Om."
Pria itu tersenyum tipis. "Kalau saya nggak mau?"
Pras melangkah maju. "Pergi, sebelum ikut babak belur!"
Pria itu sama sekali tidak berubah ekspresi. Tatapannya menyapu susu yang tumpah, lalu berhenti di wajahku yang penuh darah.
"Kalian selesai bicara?"
Belum sempat mereka menjawab.
BUGH!
Tinju pria itu menghantam perut Tyo. Tubuhnya langsung terlipat. Pras menyerang.
Pria itu menghindar setengah langkah lalu menyikut rahangnya hingga tersungkur.
Singgih mengayunkan batu. Pergelangan tangannya ditangkap.
KREK!
Batu jatuh. Singgih menjerit. Sebuah tendangan menghantam dadanya hingga terpental beberapa meter.
Aku hanya bisa melongo. Pertarungan selesai bahkan sebelum sempat kupahami. Ketiganya terkapar di tanah.
Aku bahkan tidak sempat berkedip. Gerakannya sederhana. Tidak banyak gaya. Namun, setiap pukulan selalu tepat sasaran.
Untuk pertama kalinya, aku melihat seseorang mengalahkan tiga orang tanpa terlihat kesulitan sedikit pun.
"Bangun," ucap pria itu datar.
Tidak ada yang bergerak.
"Saya bilang, bangun!" lanjutnya.
Singgih merangkak sambil menangis, "Ampun, Pak!"
Tyo ikut memohon, "Kami salah!"
Pras bahkan mencium tanah, "Jangan pukul lagi!"
Pria itu menunjuk ke arahku, "Minta maaf!"
Mereka bertiga menoleh kepadaku dengan wajah babak belur.
"Minta maaf padanya," kata pria itu.
Singgih menatapku dengan rahang mengeras. Tyo meludah ke tanah. Pras memalingkan wajah. Tidak satu pun berbicara. Tatapan mereka penuh kebencian.
Tuan Sen melangkah mendekat.
BUGH!
Tendangan keras menghantam perut Singgih. Tubuhnya kembali terguling.
"Saya tidak suka mengulang perintah."
"Ma-Maaf." Singgih terbata-bata. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Maaf, Cakra." kata Singgih gemetar.
Tyo ikut menunduk, "Kami salah."
Pras bahkan tidak berani menatap mataku, "Tolong, maafkan kami."
Pria itu kemudian menatapku. "Masih bisa jalan?"
Aku mengangguk pelan.
Ia melirik susu yang menggenang di tanah. "Kerugianmu cukup besar."
"Iya."
"Masuk mobil saya."
Aku menggeleng. "Saya nggak punya uang buat rumah sakit."
Pria itu tertawa kecil. "Kamu pikir saya mau menagih biaya?"
Aku hanya terdiam, dan untuk pertama kalinya... hari itu, seseorang benar-benar datang bukan untuk menyakitiku.
***
Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan jalan tanah. Aku duduk kaku sambil menekan perban darurat di pelipis. Pria yang menyelamatkanku fokus menyetir seolah pertarungan barusan hanyalah kejadian biasa.
"Kamu, masih sekolah?" tanyanya.
"Iya."
"Kelas?"
"Sepuluh."
"Nilaimu?"
"Lumayan."
"Ranking?"
Aku menggaruk kepala. "Tiga besar."
Ia melirikku sekilas. "Anak pintar kok memilih diam saat dipukuli?"
Aku menatap jalan di balik jendela. "Kalau melawan, biasanya masalahnya makin besar."
Pria itu mengangguk pelan, seolah memahami jawabanku.
"Nama saya, Sen."
"Saya Cakra."
"Saya tahu."
Aku mengernyit. "Dari mana?"
Ia menunjuk tulisan nama di seragam sekolahku yang penuh debu. Aku tertawa kecil meski bibirku terasa perih.
***
"Obatnya yang ini dihabiskan, tiga kali sehari diminumnya. Semuanya, diminum setelah makan. Perbannya diganti setiap hari," ucap perawat menunjukan setiap obat yang diberikan padaku.
Beberapa menit kemudian, aku keluar dari ruang perawatan dengan beberapa luka yang sudah dibersihkan dan diperban oleh perawatnya.
"Berapa biayanya, Pak?" tanyaku cemas.
Sen menyerahkan kuitansi bercap LUNAS.
"Sudah selesai. Termasuk obat."
Mataku membelalak. "Tapi, saya nggak punya uang buat ganti."
"Tidak perlu."
Aku terdiam. Sudah lama tidak ada orang dewasa yang memperlakukanku sebaik itu. Tidak bertanya balasan. Tidak menghitung untung rugi. Hanya membantu.
Sen duduk di kursi ruang tunggu dan memberi isyarat agar aku ikut duduk.
"Cakra, umurmu berapa?"
"Lima belas tahun."
"Cukup untuk memahami satu hal."
Aku menatapnya.
"Orang baik sering mengalah. Itu tidak salah." Ia berhenti sejenak. "Tapi, jangan sampai terbiasa menjadi korban."
Aku teringat wajah Singgih. "Pak Sen, pernah jadi korban juga?"
Senyumnya tipis. "Lebih buruk daripada yang kamu bayangkan."
"Lalu?"
"Saya berhenti menunggu orang lain menyelamatkan saya."
Aku terdiam.
"Tadi, kenapa tidak melawan?"
"Karena, saya takut."
"Bagus, jawaban yang jujur."
Aku menatap kedua tanganku. "Kalau melawan, saya bisa kalah."
Sen menggeleng pelan. "Cakra, kamu sudah kalah sejak memilih diam."
Kalimat itu menancap jauh lebih dalam daripada rasa sakit di tubuhku. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal lalu menyodorkannya.
"Ini buat mengganti susu yang tumpah dan pegangan beberapa hari."
Aku buru-buru menggeleng. "Kebanyakan, Pak."
"Simpan."
"Saya nggak enak."
Ia memaksa amplop itu masuk ke tanganku. "Anggap saja ada seseorang yang dulu pernah menolong saya. Sekarang giliran saya meneruskan kebaikan itu."
Mataku terasa panas. "Terima kasih."
Tuan Sen berdiri. "Cakra."
Aku ikut bangkit.
"Lain kali, kalau ada yang mencoba menghancurkan hidupmu, jangan hanya menerima pukulan."
Aku mengangkat kepala. "Maksud, Bapak?"
Tatapannya berubah tajam. "Kalau tidak bisa lari dari rasa sakit, hadapi. Bertarunglah sampai mereka menyerah." Ia menepuk pundakku. "Jangan hidup sebagai sasaran empuk."
Aku menggenggam amplop itu erat. Tubuhku masih nyeri. Wajahku masih dipenuhi memar. Namun, untuk pertama kalinya aku merasa seseorang benar-benar percaya bahwa aku bisa menjadi lebih kuat.
Saat sedan mewah itu meninggalkan halaman rumah sakit, aku terus memandangi mobilnya hingga menghilang di tikungan.
Hari itu, aku membuat satu janji dalam hati. "Aku tidak ingin menjadi korban selamanya."
***
Di dalam sedan hitam yang melaju menuju pusat kota, Sen membuka laci dashboard. Di sana tersimpan sebuah foto bayi yang mulai menguning dimakan usia.
Jarinya mengusap perlahan bagian belakang foto itu. Terdapat tulisan yang hampir pudar.
Michael Hartawan, Putra kandung Mario Hartawan yang hilang.
Ponselnya berdering.
"Bagaimana hasilnya?" tanya seseorang di seberang.
Sudut bibir Sen terangkat. "Saya sudah menemukannya."
"Anda yakin?"
"Seratus persen."
"Apa tandanya cocok?"
"Tanda lahir berbentuk naga di tengkuknya masih ada."
Suara di seberang langsung berubah tegang. "Berarti... pewaris keluarga Hartawan benar-benar masih hidup?"
Sen memandang lalu lintas yang mulai padat. "Ya."
"Apakah dia sudah tahu?"
"Belum."
"Kenapa tidak langsung diberi tahu?"
Sen mengembuskan napas pelan. "Anak itu masih mengira dirinya hanya anak panti."
"Padahal seluruh Grup Hartawan adalah miliknya."
"Benar."
Hening beberapa saat.
Sen kembali melihat foto bayi di tangannya. "Bertahanlah sedikit lagi, Cakra Matthew."
Tatapannya berubah tajam. "Suatu hari nanti, seluruh dunia akan tahu siapa dirimu sebenarnya."
Mobil itu melaju menjauh, sementara takdir seorang anak panti perlahan mulai bergerak menuju singgasana yang sejak lahir menjadi haknya.
Daftar bab
65 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








