
Sistem Khodam Pendamping
Bp. Juenk|Bersambung
- Jumlah kata
- 156.5K
- Popular
- 538
- Subscribe
- 82
- Jumlah kata
- 156.5K
- Popular
- 538
- Subscribe
- 82
Sinopsis
Seorang pemuda miskin yang hidupnya penuh kesialan mendapatkan sistem khodam pendamping dari hasil tirakat mutih 3 hari + pati geni. Kini, hidup Bintang tidak pernah sama lagi. Khodam pertamanya adalah Lelana—makhluk gaib berwujud kucing landak. Demi bertahan hidup, Bintang harus menaikkan level sistemnya, berevolusi bersama Lelana untuk melawan paguyuban paranormal dan dukun.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Sial yang Konsisten
Semesta sepertinya punya dendam pribadi pada Bintang.
Jika ada sebuah perlombaan internasional untuk kategori "Manusia Paling Sering Sial tapi Masih Hidup", pemuda dua puluh tahun itu yakin minimal dia akan pulang membawa trofi harapan satu.
Pagi ini alarm ponselnya mendadak bisu karena baterainya bocor dan mati total di tengah malam. Akibatnya, Bintang terbangun dengan panik kesiangan.
Hanya butuh waktu tiga menit baginya untuk menyambar handuk, mandi bebek yang menyalahi seluruh aturan higienitas, memakai seragam kemeja berkerah warna biru dongker yang untungnya tidak terlalu kusut, dan melompat ke atas sepeda motor Astrea Grand tua warisan almarhum ayahnya.
Motor itu, diberi nama kehormatan "Si Jagur", punya kepribadian yang sama keras kepalanya dengan pemiliknya.
Setelah hampir sepuluh kali engkol yang menguras keringat dan menyisakan rasa linu di betis kanan, Si Jagur akhirnya batuk-batuk, mengeluarkan asap tipis yang berbau, dengan suara berisik mirip mesin giling padi.
"Ayo, Gur. Hari ini saja. Jangan malu-malu-in. Ada potongan gaji kalau telat lagi," bisik Bintang, menepuk-nepuk tangki bensin motornya yang catnya sudah mengelupas.
Dia memacu motornya membelah jalanan pinggiran kota yang mulai padat. Tepat dua kilometer sebelum mencapai Toko Kelontong "Sinar Makmur" tempatnya bekerja paruh waktu, mesin Si Jagur mendadak mendengus, tersedak, dan mati total.
Lebih buruknya lagi, dia terpaksa menuntun motor itu melewati warung kopi Mak Sri, tempat nongkrong favorit bapak-bapak pengangguran setempat.
"Wah, Bintang! Olahraga pagi, Le? Bagus buat jantung itu!" seru Pak Joko dari meja pojok, sambil mengangkat segelas kopi hitam.
Tawanya meledak, diikuti oleh kekehan beberapa bapak-bapak lain yang sedang asyik membahas prediksi togel.
"Iya, Pak. Biar sehat," jawab Bintang dengan senyum yang dipaksakan sampai otot pipinya terasa kaku. Dalam hati, dia merutuk.
Sehat mbahmu, ini namanya varises dini!
Jarum jam di dinding toko menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh lima menit. Telat tiga puluh lima menit. Garis nasibnya hari ini resmi berwarna merah tua.
Bintang mendorong pintu kaca toko yang bergemerincing pelan. Embusan angin dari pendingin ruangan langsung menyambut wajahnya yang kepanasan, membawa aroma khas toko kelontong modern.
Di balik meja kasir, seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda sedang sibuk menghitung lembaran uang kembalian.
Namanya Mila, seorang mahasiswi akuntansi semester tiga yang bekerja paruh waktu. Mila memiliki mata yang bulat dan tajam, ia langsung menatap Bintang dengan pandangan menilai.
"Bagus. Selamat pagi, PNS," sindir Mila, suaranya renyah namun sarat akan sarkasme yang tajam.
"Jam kerjamu fleksibel sekali ya, bos kecil. Mau aku pesankan karpet merah untuk penyambutan?"
Bintang menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya yang lemas di dekat meja kasir.
"Jangan mulai, Mil. Si Jagur mogok lagi. Aku harus nuntun dari pertigaan depan warung Mak Sri. Kamu tahu sendiri gimana rasanya jadi tontonan bapak-bapak di sana."
Mila menghentikan aktivitasnya sejenak. Matanya menyapu penampilan Bintang yang acak-acakan dan kemejanya yang basah oleh keringat. Sudut bibir gadis itu sedikit terangkat, menahan senyum geli yang gagal disembunyikan.
"Nih. Minum dulu. Muka kamu sudah mirip kepiting rebus yang gagal matang."
"Makasih," gumam Bintang, menerima botol itu dan langsung meneggaknya hingga tersisa separuh.
"Koh Edi mana? Sudah datang?"
"Belum. Katanya ada urusan ke bank sampai siang. Tapi dia sudah titip pesan lewat WhatsApp."
"Katanya 'Kalau Bintang telat lagi, potong gaji sepuluh ribu'. Dan tebak apa? Kamu telat."
Bintang menepuk jidatnya sendiri. "Sepuluh ribu itu harga nasi rames satu porsi di gang sebelah, Mil. Tega banget Koh Edi."
"Makanya, besok-besok kalau subuh itu bangun, terus sholat, atau doa, atau apa sajalah biar aura sialmu itu agak luntur sedikit," ledek Mila lagi.
Mila mengeluarkan sebuah kotak makan plastik berwarna merah muda kecil.
"Nih. Tadi ibuku bikin nasi goreng kebanyakan. Daripada mubazir."
Bintang menatap kotak makan itu, lalu menatap Mila dengan alis terangkat.
"Ini beneran buat aku? Nggak ada racunnya, kan?"
Mila mendelik galak, wajahnya sedikit merona tipis karena gengsi.
"Kalau nggak mau, ya sudah! Sini balikin! Biar aku kasih ke kucing liar di depan!"
"Eh, jangan! Mau, mau!"
Bintang dengan cepat menyambar kotak makan tersebut sebelum Mila menariknya kembali.
"Terima kasih, Mila yang paling cantik se-kecamatan. Kebaikanmu akan dicatat oleh malaikat."
"Halah, gombalan basi. Sana cepat beresin barang-barang di rak dalam. Stok sabun cuci piring baru datang tadi pagi, belum ditata," usir Mila sambil melambaikan tangan, kembali berpura-pura sibuk dengan mesin kasir untuk menyembunyikan senyumnya yang melebar.
Bintang tersenyum tipis, rasa sialnya sedikit terobati oleh perhatian kecil dari rekan kerjanya itu.
Sialnya, cuaca di luar tidak mendukung hatinya. Menjelang pukul lima sore, langit yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi abu-abu gelap. Ketika jam kerjanya berakhir hujan masih enggan mereda. Suara petir sesekali menggelegar.
"Kamu nggak nunggu hujan reda dulu, Bin?" tanya Mila yang sedang bersiap memakai jaket parasutnya.
"Nggak bisa, Mil. Ibuku di rumah sendirian, dan genteng dapur agak bocor kalau hujan angin begini. Aku harus buru-buru pulang buat benerin," jawab Bintang sambil memakai jas hujan plastik murahan berwarna hijau.
"Kamu hati-hati jalannya."
"Kamu yang hati-hati. Motor mogok, jas hujan robek, jalanan licin. Lengkap sudah penderitaanmu," sahut Mila, menatap Bintang dengan gurat kekhawatiran.
"Jangan nekat kalau hujannya makin gede, neduh dulu."
"Siap, Bos," sembari mendorong pintu toko dan menerobos hujan deras.
Bintang tidak punya pilihan selain menuntun si Jagur yang Mogok di tengah guyuran air yang dingin.
Jas hujan plastiknya yang robek membuat air hujan merembes masuk, membasahi kemeja kerjanya hingga melekat erat di kulit.
Angin bertiup semakin kencang, membuat jarak pandang memendek. Bintang tahu dia tidak akan kuat jika terus memaksakan diri.
Dia menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat berteduh. Di pinggir jalan yang agak sepi, berdiri sebuah rumah tua bergaya arsitektur Jawa lama yang tampak sangat kontras dengan sekitarnya.
Tanpa berpikir panjang, Bintang menuntun Si Jagur memasuki halaman tanah dan kerikil rumah itu, lalu memarkirkannya di bawah naungan teras rumah tersebut.
Bintang melepas tudung jas hujannya, mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. Dia menggigil hebat, karena hawa dingin yang menusuk tulang.
Namun, rasa dingin itu mendadak tergantikan oleh rasa heran ketika dia mendengar sebuah suara dari arah sudut teras.
"Skakmat. Kamu sudah terkepung, ndak bisa lari lagi."
Bintang menoleh. Di sudut teras yang remang-remang, duduk seorang lelaki tua mengenakan kaos putih yang kusam. Rambutnya putih awut-awutan dengan janggut yang dibiarkan tumbuh tidak rapi, sedang duduk menghadap sebuah meja kayu kecil yang di atasnya terdapat papan catur.
Namun, orang tua itu duduk sendiri. Kursi kayu di hadapannya kosong melongpong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Mbah... maaf, saya numpang berteduh," kata Bintang dengan suara gemetar kedinginan.
"Iya, teduh saja. Gratis kok, ndak ditarik pajak sama pemerintah," sahut orang tua itu, suaranya parau tapi santai. Beliau kemudian menatap kursi kosojg di hadapannya, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
"Lihat ini, dia marah karena kalah lagi. Malah pergi lewat genteng. Ndak punya sportivitas sama sekali."
Bintang menelan ludah. Fix, ini orang gila atau hantu, pikirnya dalam hati. Dia perlahan mundur satu langkah, mendekati motornya, bersiap untuk menuntun motornya kembali ke tengah hujan.
Namun, sebelum Bintang sempat berbuat lebih jauh, lelaki tua itu menoleh ke arahnya. Matanya yang sayu menatap tajam sosok Bintang.
Orang tua itu terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang sudah tidak lengkap.
"Nasibmu itu, le, le... seperti papan catur yang ketumpahan kopi hitam. Petak putihnya tertutup hitam semua. Sialmu itu sudah sampai ke ubun-ubun," ucap orang tua itu tiba-tiba, bicaranya santai tapi isinya langsung menusuk tepat ke pusat masalah Bintang hari ini.
Bintang terpaku. "Mbah... tahu dari mana kalau saya lagi sial?"
"Lha itu, motor tua busuk dituntun sambil hujan-hujan, baju basah kuyup mirip ayam kecemplung got, muka ditekuk seolah utang negara kamu yang tanggung. Ndak usah jadi paranormal untuk tahu kalau kamu lagi sengsara," potong orang tua itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Tawanya terdengar renyah, menghilangkan kesan mistis yang sempat terbangun sebelumnya.
Bintang menghela napas, bahunya merosot.
"Iya juga sih, Mbah. Hari ini emang apes banget dari pagi."
"Namaku Mbah Danu," orang tua itu mengibaskan tangannya, menyuruh Bintang mendekat.
"Sini, duduk dulu. Daripada kamu berdiri di sana mirip patung selamat datang. Dingin-dingin begini enaknya ngobrol."
Bintang ragu sejenak, namun hawa dingin yang semakin menyiksa membuatnya menyerah. Dia melangkah mendekat dan duduk di depan mbah Danu.
"Kamu mau ndak, merubah garis nasibmu yang hitam itu?" tanya Mbah Danu tiba-tiba, sambil menata kembali bidak-bidak caturnya ke posisi semula.
"Merubah nasib? Caranya gimana, Mbah? Kerja keras saja rasanya belum cukup," jawab Bintang agak skeptis.
Mbah Danu tersenyum misterius. Beliau mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat aroma minyak kayu putih dan tembakau lintingan dari tubuhnya tercium oleh Bintang.
"Bukan cuma kerja keras, tapi juga tirakat. Menyelaraskan diri dengan alam gaib. Saya punya sesuatu yang bisa bikin hidupmu ndak begini-begini amat."
"Mbah ini dukun? Punya perguruan atau silsilah guru dari mana?" tanya Bintang penasaran, ingatan masa kecilnya tentang cerita-cerita orang sakti biasanya melibatkan pesantren kuno atau padepokan di puncak gunung.
Mbah Danu kembali tertawa, kali ini lebih keras hingga terbatuk-batuk kecil.
"Silsilah? Perguruan? Ndak punya! Saya ndak punya guru, ndak punya murid. Saya ini belajar otodidak, le. Belajar dari angin yang lewat, dari pohon pisang yang tumbang, dari duka dan lara hidup sendiri. Ilmu tanpa silsilah, tapi dijamin anti-mainstream."
Bintang menatap Mbah Danu dengan pandangan tidak percaya.
Daftar bab
126 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
126 bab








