
Sistem Kekayaan: Jalan Menuju Puncak
Sang_Imajinasii|Bersambung
- Jumlah kata
- 41.9K
- Popular
- 276
- Subscribe
- 46
- Jumlah kata
- 41.9K
- Popular
- 276
- Subscribe
- 46
Sinopsis
Raka Adinata, seorang pemuda berusia 23 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, terpuruk di titik terendah dalam hidupnya. Setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya dan ditekan oleh lintah darat yang mengancam keluarganya, Raka nyaris putus asa. Namun, nasibnya berubah drastis ketika tetesan darahnya tanpa sengaja mengenai koin hitam misterius peninggalan almarhum ayahnya, yang kemudian mengaktifkan "Sistem Kekayaan" di dalam kesadarannya. Sistem ini bukanlah mesin ajaib pencetak uang instan. Sistem menuntut kerja keras dengan memberikan misi bisnis, modal terbatas, informasi analitik, serta program pelatihan fisik. Memulai dengan modal hanya sepuluh juta rupiah, Raka harus menggunakan insting dan kecerdasannya untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri, Adinata Group, dari bawah.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 — TITIK TERENDAH
"Raka, kemasi barang-barangmu. Mulai besok, kau tidak perlu datang lagi ke kantor ini."
Kalimat itu meluncur dingin dari mulut Hendra, Manajer Operasional tempat Raka bekerja. Pria berperut buncit itu sama sekali tidak repot-repot menatap wajah Raka. Ia lebih tertarik membolak-balik dokumen di meja kayu jatinya sambil sesekali menyesap kopi hitam yang asapnya masih mengepul perlahan di udara ber-AC yang membeku.
Raka Adinata, pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu, berdiri kaku. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menahan amarah yang mendidih di rongga dadanya.
"Pak Hendra," suara Raka terdengar berat dan tertahan. "Kontrak dengan PT. Dirgantara itu batal murni karena keterlambatan pengiriman. Dan yang bertanggung jawab atas logistik pengiriman adalah keponakan Anda, Dimas. Saya sudah menyelesaikan tugas negosiasi dan memenangkan tender itu minggu lalu. Saya lembur tiga minggu untuk proyek ini."
Hendra akhirnya mengangkat wajah, matanya menatap Raka dengan kilatan meremehkan. "Lalu? Kau mau menyalahkan Dimas? Raka, di dunia bisnis, hasil akhir adalah segalanya. Klien mundur karena tim kita dianggap tidak profesional. Dan sebagai pimpinan proyek itu, kau yang harus memikul tanggung jawab penuh."
"Tetapi Anda sendiri yang mengambil alih wewenang logistik dari saya dan memberikannya secara sepihak pada Dimas!" balas Raka, nada suaranya naik setengah oktaf.
Brak!
Hendra menggebrak mejanya dengan keras. "Jaga nada bicaramu, Raka! Kau pikir kau siapa? Kau hanya staf biasa yang beruntung bisa bekerja di sini! Kalau kau tidak terima, silakan tuntut perusahaan. Tapi ingat, di luar sana ada ribuan sarjana baru yang mengantre untuk posisimu."
Raka menatap mata pria di depannya dalam-dalam. Harga dirinya meronta. Ia ingin sekali melompati meja itu dan menghantam wajah arogan Hendra. Ia telah mengorbankan kesehatannya demi perusahaan, namun pada akhirnya ia hanyalah kambing hitam untuk menutupi ketidakbecusan kerabat sang manajer. Berdebat dengan orang yang memiliki kuasa di tempat ini adalah hal yang sia-sia.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Raka melepaskan kartu identitas perusahaannya dan meletakkannya dengan kasar di atas meja.
"Anda tahu persis siapa yang menghancurkan kontrak itu," ucap Raka dingin. "Semoga perusahaan ini bisa bertahan lama dengan orang-orang yang hanya tahu cara bersembunyi di balik keringat orang lain."
Raka berbalik dan melangkah keluar, mengabaikan teriakan marah Hendra yang menggema dari dalam ruangan.
Sore itu, langit Jakarta seolah mengerti perasaan Raka. Hujan turun rintik-rintik, menambah kesan suram pada ibu kota yang selalu sibuk dan tidak kenal ampun. Raka berdiri berdesakan di dalam gerbong KRL yang pengap, menatap tetesan air yang mengalir di kaca jendela.
Di tangannya, layar ponsel menampilkan aplikasi perbankan.
Saldo: Rp 1.450.000
Hanya itu. Sisa gaji bulanannya setelah dipotong berbagai denda tidak masuk akal yang dijatuhkan perusahaan. Uang pesangon? Ia bahkan belum berstatus karyawan tetap. Satu setengah juta rupiah. Bagaimana ia bisa bertahan hidup? Uang sewa rumah sudah menunggak. Ibunya, yang sering sakit-sakitan sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu akibat kecelakaan tabrak lari, membutuhkan biaya berobat. Belum lagi adiknya, Naya, yang tenggat waktu pembayaran uang semesternya tinggal hitungan minggu.
"Aku tidak boleh menyerah," gumam Raka pelan, sebuah mantra yang selalu ia rapalkan setiap kali dunia menekan dadanya.
Tiga puluh menit kemudian, Raka turun di stasiun dan berjalan kaki menembus hujan menuju kawasan permukiman padat penduduk. Namun, langkahnya terhenti ketika ia berbelok di tikungan terakhir menuju rumah kontrakannya.
Di depan teras, dua pria berbadan tegap berdiri membelakangi jalan. Salah satunya, Anton, lintah darat di lingkungan ini, sedang menunjuk-nunjuk ke arah pintu.
"Aku tidak mau dengar alasan lagi, Bu! Ini sudah lewat jatuh tempo. Kalau hari ini tidak ada uangnya, ibu dan anak-anak ibu angkat kaki dari sini!" bentak Anton.
Dari sela pintu, suara ibunya terdengar bergetar. "Tolong beri waktu beberapa hari lagi, Anton. Anak saya, Raka, baru gajian akhir minggu ini."
"Halah, janji manis terus!" Anton melangkah maju, bersiap mendorong pintu.
"Jangan sentuh pintu rumahku."
Suara dingin Raka membelah udara. Anton dan temannya menoleh. Raka berjalan mendekat dengan tatapan tajam, mengabaikan kemejanya yang basah kuyup.
Anton menyeringai. "Oh, pahlawannya baru pulang. Bagaimana, Raka? Ada uangmu hari ini? Jangan buat aku terlihat jahat di depan ibumu."
Jantung Raka berdebar, tapi ia memaksakan diri berdiri tegak menghalangi pandangan mereka dari ibunya. "Berapa total tunggakannya?"
"Satu juta dua ratus. Plus denda tiga ratus ribu. Total satu setengah," jawab Anton santai.
Raka tahu itu pemerasan, tapi berdebat dengan dua preman bukanlah pilihan bijak. Dengan tangan sedikit gemetar yang ia sembunyikan, Raka merogoh dompetnya. Ia pergi ke minimarket depan dan menarik seluruh sisa uangnya.
Sepuluh menit kemudian, lembaran uang satu setengah juta rupiah itu berpindah tangan. Anton menghitungnya, mendengus, lalu menepuk pundak Raka keras-keras. "Nah, begini lebih baik. Sampai ketemu bulan depan."
Raka memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang, lalu berbalik. Bu Ningsih menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
"Raka... kau memakai uang gajimu semuanya? Lalu untuk ongkos kerjamu besok bagaimana?" tanya ibunya khawatir.
Raka tersenyum lebar, senyum yang dilatihnya untuk menutupi rasa sakit. "Tenang saja, Bu. Aku baru saja mendapat bonus dari kantor karena berhasil memenangkan proyek. Ini uang bonus, gaji Raka masih utuh."
Dari ruang tengah, Naya muncul membawa handuk bersih. "Beneran dapat bonus, Mas? Berarti uang semester Naya aman?"
"Aman. Kau fokus belajar saja," Raka mengacak rambut adiknya.
Malam harinya, setelah ibu dan adiknya tertidur, Raka duduk sendirian di lantai kamarnya yang sempit. Lampu pijar lima watt menerangi wajahnya yang lelah. Pertahanannya runtuh. Ia pengangguran, tidak punya tabungan, dan besok ia tidak tahu harus mencari pinjaman ke mana untuk membeli beras.
Pandangan Raka tertuju pada sudut kamarnya, pada sebuah kotak kayu kecil peninggalan ayahnya. Ia menarik kotak itu dan membukanya. Di dalamnya hanya ada sebuah buku catatan kosong, pulpen tua, dan sebuah logam bundar seukuran koin yang berwarna hitam pekat.
Raka mengambil koin hitam itu. Logam itu berat dan memiliki ukiran simbol aneh berupa garis-garis geometris menyerupai papan sirkuit dengan sebuah mata di tengahnya. Tanpa sengaja, ujung kuku ibu jarinya yang sedikit patah tergores pada tepi logam yang tajam.
Setetes darah merembes keluar dan jatuh tepat di atas ukiran mata pada koin tersebut.
Hal mustahil terjadi. Darahnya terserap ke dalam logam. Simbol sirkuit memancarkan cahaya biru redup yang semakin terang, lalu melesat keluar menghantam langsung ke arah dahi Raka.
Raka terhentak. Rasa sakit yang luar biasa menusuk otaknya. Pandangannya menggelap. Di tengah kesadarannya yang memudar, sebuah suara mekanis bergema di dalam pikirannya.
[DNA terkonfirmasi.]
[Sinkronisasi jiwa dimulai... 10%... 50%... 100%.]
Di depan kedua matanya, sebuah layar biru transparan melayang di udara, menampilkan teks berwarna putih.
[Inisiasi berhasil.]
[Selamat datang, Tuan.]
[Sistem Kekayaan diaktifkan.]
Daftar bab
34 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








