
Tukang Parkir Idaman Menggetarkan Sanubari
Songka Raspati|Bersambung
- Jumlah kata
- 54.8K
- Popular
- 326
- Subscribe
- 70
- Jumlah kata

Songka Raspati|Bersambung
Kampung Pesolek bukan sembarang kampung. Di sini pundi-pundi uang bergetar hebat. Banyak pesolek tua dan muda menjajakan produk-produk skincare hasil buatan tangan sendiri yang laris manis di pasaran media sosial. Awalnya ini hanya kampung biasa yang memiliki lahan subur dan bisa ditanami tumbuhan apa saja. Lalu, seorang tukang parkir yang sukses di kota, pulang kampung dan menyulap kampung ini jadi kampung modern yang tiap hari ramai orang live jualan. Arsyad sang duda keren yang sangat berjasa memajukan Kampung Pesolek. Dia pulang kampung setelah cerai dengan Sarah. Sarah sendiri sama-sama warga Kampung Pesolek dimana orangtuanya membuka usaha matrial. Arsyad dulu bekerja sebagai sekuriti di sebuah bank. Sarah bekerja di bank itu sebagai manajer keuangan. Sarah menikahi Arsyad karena ketampanan dan pesonanya. Arsyad tipe romantis yang suka menolong orang. Lama-kelamaan Sarah bosan dengan Arsyad. Ia pun menuntut cerai dengan alasan yang tak masuk akal. Entah karena Arsyad terlalu baik,garang di ranjang tapi istri tak pernah puas, dan seribu alasan lainnya. Stres memikirkan nasib dirinya habis cerai, Arsyad resign dan malah jadi tukang parkir di minimarket milik sepupunya. Sarah terus mendatangi minta harta gono-gini karena keluarga sedang bangkrut total. Arsyad memutuskan kabur ke kampung. Dengan uang dan aset yang ia miliki, Arsyad lantas membangun rumah dan mendirikan usaha pengelolaan kang parkir-kang parkir di seantero Kampung Pesolek. Dari kampung inilah, masalah dan kesenangan baru terus bermunculan. Arsyad yang menawan dengan tubuh kekar, kulit sawo matang seksi, dan lesung pipi menakjubkan langsung digilai para wanita di kampungnya. Mereka tentu saja mau menikah dengan duda fresh from the city ini. Tapi Arsyad masih trauma. Di saat itulah muncul Karen yang sedang mengungsi di rumah sepupunya, Sisil di kampung itu. Karen yang betah menjomblo sedang dikejar-kejar ibunya untuk segera menikah. Karen dulu menyaksikan KDRT yang dilakukan ayahnya ke ibunya, makanya cukup malas kalau harus punya pasangan. Namun, semua berbeda setelah bertemu Kang Parkir Kampung Pesolek. Arsyad juga seperti menaruh hati padanya. Di sisi lain, ada ada Yara seorang pengusaha TK dan camilan sukses di kampung yang juga naksir berat dengan Arsyad. Yara yang perawan tua dan super kaya sangat ingin mengenal Arsyad yang cukup terkenal di kampungnya. Namun, Arsyad sepertinya hanya menaruh hati pada Karen. Karen, Yara, dan Arsyad bertemu di satu titik saat mereka sama-sama ingin menemukan cinta tulus. Namun, pada akhirnya mereka hanya selayaknya bizzare love triangle yang sulit diterjemahkan oleh siapapun yang memperhatikannya. Terlebih ada Sarah diantara mereka bertiga yang ingin menguasai rumah Arsyad sejak kedua orangtuanya bangkrut dan hampir seluruh hartanya disita bank.
“Rumah ini biar jadi hadiah perceraian kita.”
Arsyad merinding mendengar permintaan istrinya. Sarah yang ia kenal selama ini telah pergi. Tiga minggu lalu Sarah Kamelia baru genap berusia tiga puluh tahun. Alih-alih meminta hadiah mahal pada Arsyad suaminya yang lebih tua sepuluh tahun, ia malah meminta cerai.
Arsyad bertanya apa alasan di balik perceraian itu, Sarah hanya bilang jika ia tidak terpuaskan sebagai seorang istri. Sarah yang memanggil suaminya dengan panggilan Kak Rezi itu merasa selama ini hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik. Arsyad Syahrezi yang dulu jadi satpam di bank tempat Sarah kerja itu selalu memperlakukannya dengan baik. Namun, Sarah mengungkapkan jika selama 2 tahun pernikahan ia hanya merasa tidak diperlakukan selayaknya seorang istri.
Arsyad merenung. Ia pikir caranya memperlakukan Sarah selama ini sudah tepat. Sarah yang bertubuh mungil, manis, dan dengan rambutnya yang diberi highlight warna burgundy gaul itu memang tampak seperti boneka di mata Arsyad. Arsyad ingin menyayanginya terus. Sampai urusan di ranjang saja ia hati-hati sekali. Namun, bagi Sarah itu mempengaruhi psikologisnya sebagai istri. Harusnya Arsyad bisa lebih jantan lagi mengingat perawakan tubuhnya yang tinggi besar.
Arsyad pernah mengungkapkan jika ia akan berubah supaya lebih jantan di hadapan Sarah. Tapi Sarah bilang tak perlu. Sarah sudah terlanjur kecewa.
“Gimana, kak? Rumah ini buat hadiah perceraian ya?”
Sarah masih penasaran akan tanggapan Arsyad. Arsyad yang masih diam terpaku di depan meja mendadak merasa merinding parah. Harusnya aku yang bilang begitu ke kamu, Sarah..ini kan rumahku...
Seolah membalas apa yang sedang dipikirkan Arsyad, Sarah mengingatkan lagi tentang sesuatu yang Arsyad lupa. Bahwa sebelum menikah Sarah tidak minta apa-apa dari Arsyad. Keluarganya kaya dan tidak butuh seserahan yang di luar batas kewajaran. Usai melamar Sarah, Arsyad malah diminta untuk tinggal di rumah orangtua Sarah yang mewah dengan tiga lantai. Arsyad tinggal di sana sampai hari-H pernikahan. Tepatnya tiga bulan. Selama itu pula Arsyad merenovasi satu-satunya rumah lama yang ia miliki di kampungnya dan tidak jauh dari rumah mertuanya. Arsyad hanya berusaha membuat Sarah merasa seperti di rumah sendiri di rumahnya. Dulu rumah Arsyad hanya bangunan tipe 36 sederhana dua lantai dengan area parkir yang cukup luas dan halaman belakang untuk ia menanam tanaman sayur dan buah selayaknya di kampung.
“Bagaimanapun, rumah ini udah kayak harta gono gini nggak sih?”
Arsyad menoleh ke belakang. Harga dirinya terganggu oleh ucapan Sarah. Seingatnya Sarah tidak ada andil dalam membangun rumah ini.
“Akhirnya kakak ngerespon aku.”
Sarah yang sedang bersandar pada dinding pembatas dapur lantas berjalan menghampiri Arsyad. Dia membisikkan sesuatu di telinga Arsyad. “Rooftop untuk lantai atas tempat kakak nanem hidroponik kan aku yang nambahin dua juta. Kakak lupa?”
TIIIIN TIIIIIN TINTIIIN!
Sebuah mobil sedan melaju cepat ke arah Arsyad yang sedang melamun di atas trotoar. Lamunannya buyar seketika. Beberapa saat lalu, dia baru selesai memarkirkan tamu terakhir minimarket Dapit Ho dan mulai duduk di sana untuk istirahat sejenak.
Untung saja sang pengendara langsung banting setir ke kiri hingga tak sampai menabrak Arsyad. Tapi, dia malah menabrak supir ojek online yang baru memarkir motornya di atas trotoar. Sang supir terlempar beberapa meter. Orang-orang yang ada di sekitarnya langsung mengamuk dan memecahkan kaca mobil. Wanita pengendara di dalamnya ketakutan.
***
Woooi! Keluar elo tanggungjawab! Abang ojol ampe mental gitu! Keluar elo bajingan!
“Sil, bangun dong…kita dikepung massa nih, Sil!” Karen terus mengguncang-guncangkan tubuh Sisil yang tertidur seusai mabuk di kursi penumpang. Sisil harusnya yang menyetir pulang. Tapi dia mabuk berat sampai Karen terpaksa mendatangi klub malam itu untuk menjemputnya. Karen sendiri baru mendapatkan SIMnya dua hari lalu. Dia masih belum bisa menyetir mobil dengan benar. Ditambah malam ini terjadi hujan abu vulkanik dari erupsi anak Gunung Krakatau.
Arsyad yang melihat akan ada aksi anarkis berlebihan lantas mendatangi mobil Karen. Dia datang dengan peluit oranye andalannya dan langsung membelah lautan manusia di depannya.
“Minggir! Jangan sok jagoan elo semua! Minggir!”
Arsyad langsung menarik gagang pintu sedan setelah yakin orang-orang mulai menjauh dari pintu sang pengendara. Karen takut-takut keluar mobil karena warga yang berkerumun sangat banyak. Begitu Karen melangkahkan satu kaki keluar, tiba-tiba Sisil membuka pintu satunya. Dia keluar dengan bau alkohol menyengat dan tampak sangat sumringah. Seolah dia baru dikepung oleh para penggemarnya.
“Halo semuanya?? Kangen ya sama Sisilia yang syantik jelita nggak ada obat ini??” Sisil cantik namun terlampau centil dan menyebalkan dengan suara yang dibuat-buat. Sontak saja para warga geram dan mulai mendorong pintu mobil sampai badan Sisil terjepit. Karen spontan menutup pintu lagi berpikir akan kabur dari sana selagi jalanan di depannya lowong.
“Sil, cepetan masuk!” teriak Karen. Karena langsung menarik celana pendek jeans sepupunya hingga tubuhnya terpental masuk. Setelah menutup pintu mobil, Karen langsung menyalakan mesin. Pada saat itu, Arsyad masuk ke pintu belakang yang dia buka paksa. Karen berhasil keluar dari kerumunan dengan membawa Arsyad juga di belakang.
“Elo? Ngapain ikut-ikut?? Dasar penumpang gelap!” seru Sisil yang masih belum sadar sepenuhnya. Gelombang massa turut mengikuti mobil Karen hingga mereka memasuk area taman kota. Dari balik kaca mobil belakang, Arsyad melihat Dapit, saudara sepupunya si pemilik minimarket tempat Arsyad bekerja. Dapit turut mengejar mobil Karen dengan motor CC besar kebanggaannya. Dia juga sambil meneriaki Karen maling agar suasana semakin memanas.
Arsyad segera menelepon Dapit. Dapit selalu memasang earpiece di telinganya karena sepupunya yang jomblo itu senang melakukan live media sosial. “Woi, ngapain lu bro ikut mobil tuh cewek?!” seru Dapit begitu menerima teleponnya.
“Yee, gue kan maksud mau ngamanin mereka tadi eh malah elo bikin rusuh pake ngoordinir warga buat ngejar. Mending sekarang elo ajak mereka balik buat ngasih pertolongan ke bapak ojolnya. Urusan cewek-cewek di sini biar gue yang atur. Mereka mau tanggungjawab kok. Cuman rada takut aja ama kemarahan warga barusan…ya kan, mbak?” Arsyad melirik ke spion atas. Karen menatapnya garang. Arsyad malah membalasnya dengan kedipan mata genit.
Tak lama kemudian, Karen sampai di dekat danau buatan dalam taman itu. Tak ada jalan lagi. Mereka harus berhenti di dekat danau atau ambil jalan memutar untuk menghindari kepungan warga. Tapi kalau ambil jalan memutar, akan ada banyak korban berjatuhan.
“Dah, stop di sini aja…mbak…kamu nggak akan kenapa-napa. Sepupu saya udah ngajak para warga buat balik. Asal kalian berdua mau tanggungjawab…” rayu Arsyad. Karen akhirnya menginjak rem perlahan. Karena panik, dia malah menarik tuas kursi juga hingga kursinya melebar ke belakang. Arsyad malah terjepit kesakitan dan keadaan menjadi kacau.
“Burung gueeee!!!”
***
TEEET! TETOT! TEEEET!
Alarm ponsel Arsyad berbunyi. Dia terkesiap bangun. Sementara itu, sepupunya sudah berangkat lebih dulu ke kantor. Di meja makan tersedia sarapan dan catatan di atas kertas.
Jangan lupa nanti elo ke kantor polisi buat kesaksian…sama entar elo minta juga pertanggungjawaban si Karen soal burung elo…mayan lho duit ngebenerin burung yang bengkok semalem…oh iya, sama jangan lupa lu sambil nanya nomor cewek yang kemarin mabok…yang bodinya sintal kayak Dewi Persik…!
Arsyad hanya bisa tertawa. Dia lalu menyantap nasi goreng dingin dan dua butir telur ceplok yang disediakan asisten rumah tangga di rumah Dapit sambil merasa nyeri di area bawah tubuhnya. Semalam akhirnya Karen mengantar Arsyad ke rumah sakit untuk mengobati luka di area bawahnya. Lalu, Karen pergi ke tempat supir ojek online mendapat perawatan dengan diantar Dapit. Sementara Sisil yang masih di bawah pengaruh alkohol malah menunggu di luar selagi Arsyad dirawat lukanya.
Sudah tiga bulan sejak ia cerai dari Sarah dan selama waktu sendiri ini, Arsyad sering diberi mimpi macam-macam atau melamun seperti semalam. Istrinya dulu terlibat cinta lokasi dengan dirinya yang hanya seorang sekuriti di bank. Sarah sendiri jabatannya sudah manajer di bank yang sama. Sampai detik ini, Sarah masih mengejar Arsyad untuk urusan harta gono-gini. Arsyad yang pusing lantas resign dari pekerjaannya dan lebih memilih jadi kang parkir di minimarket milik sepupunya sendiri.
“Oh, bagus ya…enak-enakan di sini, Kak Rezi…pantes telponku nggak pernah dijawab!”
Itu Sarah yang baru saja resign dari bank tempat kerja mereka dulu. Mendadak telinga Arsyad panas. Ia sudah tak mau lagi dipanggil Rezi.
“Ngapain kamu ke sini??” tanya Arsyad ketus. Dia sudah berulangkalii bilang ke Sarah supaya jangan datang ke rumah Dapit. Sarah tetap bersikeras datang untuk minta bagiannya. Sarah terus mengikuti Arsyad dengan sepeda motornya sampai Arsyad tiba di depan minimarket.
Tiba-tiba sebuah mobil ferari melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Lutut Arsyad hampir kena sasaran mobil mewah yang dikendarai wanita baru pujaan Dapit itu.
“Yaa Allah akang…maaf…kirain tadi nggak ada orang. Abisan panas jadi kepantul gitu mataharinya, gelap…”
Wanita bertubuh sintal itu berpakaian super mini dengan hot pants yang menyamai warna kulit putihnya dan tank top warna pastel pink. Tak lupa ia menambahkan topi golf di atas kepalanya dengan mahkota rambut dark brown berkilauan super seksi.
“Teh, tolong bantu saya…tolong angkut saya dari sini. Naik mobil teteh…nanti saya turun di pengkolan situ…tolong, teh…nuhun…”
Arsyad melihat Sarah baru memarkirkan motornya di depan minimarket. Sarah memperhatikan wanita yang tampak menonjol itu di hadapan Arsyad dan tambah panas. Wanita 25-an itu manggut-manggut. Ia lalu membukakan pintu untuk duda keren itu. Sarah bergegas naik motor lagi sebelum wanita seksi itu menjalankan mobil. Sayang, Sarah terlambat. Arsyad sudah pergi dengan wanita kaya raya yang Sarah duga kekasih barunya.
“Lho, ini teh Mbak Sisil yang kemarin mabora ya??” tanya Arsyad di dalam mobil.
“Eh, iya kang…saya ke sini mau ngucapin makasih tapi malah diajak pergi kayak gini…ya udah atuh sekalian aja ya ikut saya…?”
“Kemana atuh?”
“Ada eh…bentaran aja…sambil bantuin sepupu saya yang masih syok…”
Tanpa menunggu jawaban Arsyad, Sisil langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Arsyad kewalahan menahan wanita seksi pujaan Dapit di sebelahnya. Dia hanya berpikir positif kalau dia mau dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan kejadian semalam. Tapi, Arsyad terkejut ketika akhirnya dia masuk jalan tol untuk menuju ke Kampung Pesolek.
***
Bersambung
43 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.