
Keris Pusaka Membuatku Perkasa
Askara Kenan|Bersambung
- Jumlah kata
- 174.4K
- Popular
- 58.7K
- Subscribe
- 2.9K
- Jumlah kata
- 174.4K
- Popular
- 58.7K
- Subscribe
- 2.9K
Sinopsis
[Cerita 21+] [Keris Pusaka] [Wanita Desa] Damar hanyalah seorang pemuda miskin yang dipandang sebelah mata. Suatu hari dia mendapatkan keris pusaka yang memberinya keberuntungan dan kekuatan. Dalam waktu singkat, Damar menjadi kaya-raya, dihormati dan dikagumi orang-orang di sekitarnya. Dan bukan hanya itu, wanita-wanita cantik pun kini mendambakan sentuhannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. Dikhianati
"Ah… Damar terus… lebih keras lagi," racau wanita itu.
Napasnya memburu memecah kesunyian kamar. Aroma khas bunga melati menguar lembut dari lehernya yang berkeringat.
Damar menahan berat badannya dengan kedua lengan kekarnya sambil menindih tubuh wanita itu. Keringat membasahi dada dan punggungnya yang bidang.
Pria itu bergerak cepat dan bersemangat. Pikirannya melayang, mengagumi betapa lembut dan sintalnya lekuk tubuh wanita di bawahnya ini.
Mata Damar terpaku pada sebuah tahi lalat kecil yang menggoda di semangka kiri, dekat dengan ujungnya yang menonjol keras, membuat Damar semakin bersemangat.
Otot-otot lengan Damar menegang setiap kali dia memberi dorongan.
Damar menghantamkan kejantanannya berulang kali, menikmati jepitan hangat nan nikmat yang membuat akal sehatnya nyaris putus.
Ranjang bambu di bawah mereka berderit teratur.
"Gimana? Enak atau nggak?" tanya Damar dengan napas tersengal.
"Enak banget, Damar! Ini sangat enak!" balas wanita itu mendesah panjang.
Sungguh tak pernah terbayangkan oleh Damar bahwa dia akan merasakan kenikmatan seliar ini.
Sebelumnya, dia hanyalah pemuda miskin, kusam, dan selalu dipandang sebelah mata. Namun sekarang, si pemuda miskin ini bisa berkuasa menikmati tubuh ranum seorang wanita yang paling diidam-idamkan banyak pria di desanya.
Semua keajaiban ini bermula dari sebuah hari yang menyedihkan, beberapa bulan yang lalu.
"Damar! Bangun, heh!"
Suara ketukan keras di kaca jendela membuat Damar terbangun dari tidurnya.
Pria itu mengucek mata dan berusaha membuka kelopaknya lebih lebar.
Kemudian dia bangkit dari kasur tipisnya lalu berjalan menuju pintu depan.
Udin, temannya yang sama-sama berumur dua puluh tahun berdiri di depan pintu kayunya.
Pria berkulit gelap itu menyilangkan tangan di depan dada sambil menggigil kedinginan.
"Ini udah siang, Damar. Sudah jam lima subuh. Nanti Juragan Tama keburu datang ke peternakan. Apalagi kalau istrinya datang juga ke sana. Habis kita dimarahi seharian," omel Udin lucu.
Damar menguap lebar. "Iya, sebentar. Semalam aku demam tinggi, Din. Aku mau mandi dulu."
Udin langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Damar.
"Kamu sakit? Gimana keadaanmu sekarang?” tanya Udin.
Damar menyingkirkan tangan Udin. "Udah mendingan. Udah nggak meriang lagi."
“Jangan mandi dulu deh, langsung berangkat aja kerja," saran Udin.
"Aku mau sikat gigi dan cuci muka aja," kata Damar berbalik menuju sumur.
Beruntung Damar memiliki kelebihan fisik bawaan. Dia tidak memiliki bau badan meskipun berkeringat.
Setelah bersiap, mereka berdua segera berjalan kaki menuju peternakan sapi tempat mereka bekerja.
Langkah Damar dan Udin mendadak terhenti tepat di depan rumah Ratih.
Sebuah mobil sedan warna perak berhenti di depan pekarangan rumahnya. Pintu terbuka dan Ratih, kekasih Damar selama tiga tahun terakhir, keluar dari kursi penumpang dengan pakaian yang terlihat sedikit berantakan. Rambutnya tidak tersisir rapi.
Tak lama, seorang pria menyusul turun dari pintu kemudi. Dia adalah Rio, anak tunggal dari tengkulak besar di desa mereka, memakai kemeja mahal yang kancing atasnya dibiarkan terbuka.
Dada Damar bergemuruh panas. Dia melangkah cepat menghampiri mereka berdua.
"Dari mana kamu? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Damar tajam.
Ratih menoleh dengan ekspresi santai. "Aku habis dari pusat kota sama Rio."
"Ke kota berdua sampai subuh begini?!" sentak Damar dengan suara meninggi.
"Kamu nggak berhak marah atau mengaturku, Damar," balas Ratih ketus.
Udin maju selangkah dan menunjuk wajah wanita itu.
"Heh, Ratih itu pacarnya Damar! Jadi dia berhak marah!" bela Udin.
Ratih malah tertawa remeh. "Aku nggak pernah menganggap kita pacaran."
Damar terkejut bukan main. Rahangnya mengeras seketika.
"Selama ini gajiku kuberikan setengahnya untukmu. Kita sudah berpacaran tiga tahun," ucap Damar menusuk.
Ratih mencibir menatap pakaian lusuh Damar.
"Uang segitu nggak cukup. Buat beli pelembab wajah aja nggak bisa!" hina Ratih.
Rio ikut tertawa lepas, merendahkan kemiskinan pemuda itu dan menyebut gajinya hanya cukup untuk beli jajanan murah.
Keributan itu memancing Yati, ibu Ratih, keluar dari rumah. Harapan Damar untuk mendapat pembelaan hancur lebur saat wanita tua itu justru memelototinya penuh kebencian.
Yati menghinanya sebagai pria miskin dan yatim piatu yang tidak punya masa depan. Dia mengusir Damar layaknya hewan liar, lalu dengan senyum palsu yang sangat lebar mempersilakan Rio masuk ke dalam rumah.
"Mulai sekarang kita putus! Jangan berani temui aku lagi! Aku jijik sama kamu!" ucap Ratih membuang muka.
Pintu tertutup rapat. Bantingan kayunya bergema keras di telinga Damar.
Udin mengepalkan kedua tangannya, bersiap melabrak mereka, namun Damar segera menahan bahunya kuat-kuat dengan suara serak.
"Jangan, Din. Biarkan saja. Mereka benar, aku cuma orang miskin yang hidup sebatang kara," ucap Damar getir.
Damar membalikkan badan, menarik tangan Udin untuk pergi meninggalkan pekarangan rumah itu.
Sepanjang jalan tanah menuju peternakan, Udin terus marah-marah mengomel, tapi Damar tidak banyak bicara.
Selain merasakan sakit hati yang menghancurkan harga dirinya, dia mulai merasakan pusing yang luar biasa hebat. Suhu badannya mendadak naik dan panas kembali.
Keringat dingin mengucur deras membasahi pelipis dan meresap ke kaosnya.
Tepat saat mereka tiba di depan gerbang rumah Juragan Tama, pandangan Damar menggelap. Dia pingsan seketika. Tubuhnya ambruk menghantam tanah liat.
Udin dan beberapa pekerja peternakan segera berlari panik menggotong tubuh Damar.
Keributan di halaman depan itu membuat Pak Tama dan istrinya, Ajeng, keluar. Nyonya besar itu langsung memerintahkan agar Damar dibawa ke ruang tamu.
Ajeng memang dikenal sebagai istri juragan yang selalu blak-blakan kalau berbicara. Mulutnya terkenal pedas. Dan wanita berusia tiga puluh lima tahun itu kerap memakai pakaian kasual tanpa memedulikan keanggunannya, dan sering kali hanya mengenakan daster yang longgar.
Meskipun terlihat galak, Ajeng sebenarnya menaruh perhatian besar kepada para pekerjanya. Dia tahu Damar hidup sebatang kara, jadi tanpa memedulikan gengsi atau perbedaan status sosial, wanita itu langsung sigap merawat pekerjanya itu.
Dua puluh menit kemudian, Damar mengerang pelan di atas sofa kulit.
Kelopak matanya terbuka perlahan, menyesuaikan cahaya lampu neon. Indera penciumannya tiba-tiba menangkap semilir aroma khas bunga melati yang entah kenapa terasa sangat familiar di hidungnya.
Saat matanya terbuka sempurna, pandangannya langsung disuguhkan pemandangan menakjubkan dari jarak dekat.
Bu Ajeng sedang menunduk di depan wajahnya, sibuk memeras kain kompresan basah.
Dari posisi Damar terbaring, matanya melihat tembus dari celah kerah daster yang sangat longgar.
Dua semangka kenyal berukuran besar milik Ajeng menggantung dengan jelas tepat di depan matanya. Dan seketika, tatapan Damar terkunci pada sebuah tahi lalat kecil yang letaknya persis di semangka kiri sang nyonya majikan.
Daftar bab
155 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
155 bab








