
Pemuda Haus Akan Ilmu Hitam
Naswa|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Namaku Bara, aku seorang anak tunggal yang hidup di sebuah Desa yang sangat terpencil, kami dari keluarga yang sangat sederhana, Ayah ku bekerja sebagai petani, sedangkan Ibu ku bekerja sebagai ibu rumah tangga, meskipun kehidupan kami sederhana, kami tetap bersyukur dan bisa hidup bahagia, teman-teman mengenalku terkesan dingin,cuek,gengsi namun diam-diam perhatian, terkadang aku merasa sangat terbebani, dengan harapan orang tua tinggi,beban tanggung jawab tunggal konflik batin antara idealisme dan kenyataan serta pencarian jati diri.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 Masuk Sekolah
"Pagi yang cerah aku bangun pagi bersiap-siap untuk berangkat ke Sekolah,butuh waktu 20 menit untuk sampai ke sekolahku, aku jalan kaki bersama dengan teman-temanku
Tidak terasa sudah sampai di gerbang Sekolah, aku berjalan menyusuri lorong sekolah disaat sedang asyik mencari kelasku, tiba-tiba terdengar suara teriakan ," Bara,...nanti sore kamu punya kegiatan? Tanya Randy, hmm sepertinya tidak, ada apa?? Aku mau ngajak kamu nongkrong sama teman-teman yang lain biasa di warung pak Joko, "baik aku bisa tapi jemput yah?? Ussthh kamu ini ya udah biar aku jemput yah , kriiinggg ding dooong suara bunyi bell menandakan kelas udah mulai pelajaran.
Pak Guru Jefry masuk di kelas, beliau adalah Guru Matematika, dimataku beliau sangat di takuti, dengan ciri khas cincin batu akik di tangannya, Beliau sangat keras membuatku sangat malas untuk mengikuti pelajarannya, apa lagi aku anaknya termasuk bodoh akan hal hitung menghitung, aku duduk di bangku paling belakang, karena kebetulan aku anaknya pendiam, aku cuma sukanya pelajaran Penjas . Yang paling aku tidak suka ketika disuruh naik untuk menjawab soal.
""""""
astaghfirullah aku lupa mengerjakan PR, Ran... kamu udah selesai kerjakan PR? Tanya Bara dengan muka tegang, Iya sudah tenang pasti mau nyontek kan ngaku Luh, pengen di bantu kannn.....heek hehe sambil ngejek Bara makanya lain kali kalau ada PR itu diperhatikan, jangan cuman bisanya nyontek Mulu gimana mau lulus, oceh Randy.
Dang...dinghh donggnn suara bunyi bell panjang nyaring bergema memecah keheningan yang sedari tadi tegang, suara itu adalah melodi terindah bagi ratusan siswa SMP Mawar, pertanda berakhirnya pelajaran matematika Pak Jefry. YESS akhirnya gue pikir bakalan meledak ini otak gerutu Bara, sambil buru-buru memasukkan buku kedalam tasnya.
Kami berdua berjalan keluar kelas beriringan koridor sekolah sudah ramai seperti pasar, suara tawa panggilan antar teman dan derap langkah kaki terdengar dimana-mana. Diparkiran motor mereka bertemu dengan Jono dan Fahry yang sudah menunggu di dekat motor Ninja biru Fahry.
"Lama banget sih kalian, gue capek menunggu nih, mana lapar lagi hufff" Udah gak usah marah-marah lagian juga belum mati kilah Randy." Jadi nanti sore kita kumpul yah di warung pak Joko awas aja sampai ngaret, Randy.
Pulang sekolah bukan sekedar jalan kaki menuju rumah,tapi momen di mana beban pelajaran seharian rasanya hilang karena cerita-cerita konyol mereka diantara panasnya matahari dan riuhnya jalanan. Saat kami melewati warung pak Joko beberapa anak kelas sebelah sedang nongkrong merokok, tapi kami menghiraukan, tiba-tiba salah satu dari Mereka memanggil kami huss sambil menghisap rokok dan memperlihatkan seolah-olah itu adalah keahlian mereka membuat asap rokok nya berbentuk 0 keluar dari mulutnya, akan tetapi kami tetap hiraukan mereka, tiba-tiba saja terdengar suara
PRAAAKK,,,,,,bunyi pukulan meja heiii simiskin panggilan itu selalu saja menghantui pikiran aku mau gimana lagi benar apa yang mereka katakan, aku hanyalah seorang anak yang hidup sederhana, dari kecil aku selalu melihat orang tua aku makan seadanya agar mereka bisa hidup seperti orang-orang, aku selalu berfikir bagaimana caranya agar bisa membahagiakan orang tua saya, apa lagi aku anak tunggal, pikiran ku selalu terbayang-bayang PRAAKK,,,,,, heiii punya telinga gak???? malah melamun mereka tertawa sangat keras, kami hanya lewat, mengapa kalian menghalangi kami??? Kata Randy, dia Randy anaknya memang sangat aktif ketika ada masalah selalu dia yang duluan maju paling depan, body nya, penampilannya, suaranya besar dan dia juga paling tua diantara kami hanya saja yah anaknya suka ngawur tapi aku suka berteman dengannya, selain baik dia juga pintar di sekolah dan punya keluarga yang bisa dibilang salah satu orang kaya di kampung kami. Kenapa rupanya kami cuman lewat ada yang berani? Lawan satu-satu dong biar pro,,,,matanya melotot,aku hanya diam melihat mereka karena aku sadar aku tidak bisa berbuat apa-apa, Randy menarik tas salah satu dari mereka lalu membuangnya ke jalan membuat mereka sangat emosi sehingga terjadilah adu mulut hingga tawuran didepan warung pak joko, membuat semua orang berdatangan melihat kami yang keroyokan, aku juga ikut andil tidak mungkin kan aku diam melihat teman aku di keroyok dalam pertengkaran mereka mengingat kata-kata mereka sangat menyakitkan, selama ini aku hanya diam tapi entah kenapa emosi ku meronta-ronta,dan PRAAKK,,,,, entah kenapa aku tiba-tiba memukul kepala salah satu dari mereka menggunakan batu bata hingga berdarah tanganku gemetar perasaan rasa bersalah, rasa takut dan bingung mengapa aku melakukan ini? Aku tidak bermaksud mau seperti ini? Ada apa dengan ku? membuat semua orang matanya tertuju kepadaku, seketika mereka berhenti,
Pak joko berteriak berhenti,,,,,Pak Polisi datang, dan benar saja Polisi datang dan menangkap kami, aku terdiam sejenak membayangkan bagaimana reaksi orang tuaku ketika tau aku ditangkap polisi karena ikut tawuran??? Pikiranku kosong, aku takut badanku lemas tangan aku gemetaran, kami semua masuk di mobil dan yang satunya dilarikan kerumah sakit, aku bingung aku harus apa? Apa yang harus aku jelaskan nanti ke orang tuaku? Apakah dia akan mengusirku? Pikiranku melayang-layang tidak karuan aku hanya berfikir reaksi orang tuaku dengan tidak memikirkan bagaimana nantinya ketika sampai di kantor polisi, aku hanya takut sama orang tuaku rasa bersalah,tak terasa sampai di kantor polisi kami disuruh untuk berbaris sambil menjelaskan masalah apa yang kami lakukan sehingga berkelahi salah satu dari mereka bilang simiskin ini pak yang duluan mukul kami,"kata Boby" dengan muka sinis, melihat kami dia tidak pernah ada rasa takut sedikitpun karena orang tuanya punya banyak kenalan salah satu orang kaya juga di kampung kami. Bohong pak dia yang duluan kami cuman lewat tapi mereka menghalangi jalan kami bahkan berkata kasar masa iya kami cuman diam aja pak, "kata Randy" kamu yang duluan tarik tas aku lalu membuangnya dasar kamu tukang fitnah "
diaaaammm,,,,,PAK POLISI tunggu saja orang tua kalian masing-masing,
Lagian masih anak sekolah sudah tawuran mau jadi apa kalian ini? Dengan suara lantang keras membuat kami semua terdiam. Tiba-tiba orang tua kami berdatangan ayahku yang datang menjemput ku, para orang tua khawatir, dengan keadaan anaknya, kami semua tidak di tahan karena masih dibawah umur akan tetapi harus bayar denda biar tidak mengulanginya lagi, semua sudah pulang yang tersisa hanya aku dan Ayah di depan kantor polisi, dia diam sejak dari tadi aku takut akan marah, tapi hanya mengatakan ayo pulang nak Ibumu menunggu di rumah, kami berjalan melewati gang sempit lumayan jauh dari rumah kami, tanpa berkata apa-apa."
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








