
Bayu: Pertarungan dan Cinta
MiyaX|Bersambung
- Jumlah kata
- 44.8K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 232
- Jumlah kata
- 44.8K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 232
Sinopsis
Bayu mendapati neneknya tergeletak didalam rumahnya. Sebelum meninggal, neneknya memberitahu Bayu bahwa dia memiliki orang tua, karena selama ini yang Bayu tahu kalau dia tinggal bersama kakek dan nenek yang menemukannya di depan rumah mereka. "Pergilah ke kota, mungkin di sana orang tuamu berada." Ucap neneknya, dan setelah itu dia terpejam untuk selamanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Di sebuah desa yang tenang dan asri, terlihat seorang pemuda berusia 17 tahun yang sedang memanggul kayu bakar yang dia dapatkan dari hutan menuju ke gubuk yang merupakan tempat tinggalnya.
"Aku pulang, nenek ohh nenek," teriak Bayu sambil menurunkan seikat kayu bakar yang dia panggul di pundaknya dan dia letakkan di samping pintunya.
Bayu mengernyit heran, biasanya neneknya selalu menyambut kepulangannya itu, namun kali ini pintu itu tidak terbuka sama sekali.
Bayu mendorong pintu itu pelan dan betapa terkejutnya dia saat melihat neneknya tergeletak di lantai dengan kopi yang tumpah dan gelas yang pecah berserakan.
"Nenek!" teriak Bayu yang langsung berlari ke dalam dan membawa neneknya ke dalam kamarnya.
"Ba…yu, kamu sudah pulang, Nak?" tanya lirih sang nenek.
"Iya, Bayu sudah pulang, Nek, apa yang terjadi?" tanya Bayu.
"Tidak apa-apa, Nenek hanya terpeleset dan jatuh," ujar neneknya lemah sambil memasang senyum getir.
Neneknya itu sudah berusia 80 tahun dan akhir-akhir ini memang sering sakit-sakitan. Bayu pernah mengajak neneknya itu untuk pergi ke klinik desa, namun neneknya selalu menolaknya dan mengatakan, "Simpan saja uangmu itu, Nak, Nenek tidak apa-apa."
Selalu saja berkata seperti itu, sampai akhirnya dia melihat neneknya seperti ini.
"Aku sudah bilang jangan terlalu sering minum kopi, biar aku buatkan teh tawar saja," ucap Bayu yang hendak beranjak, namun tangannya digenggam oleh neneknya.
"Nenek ingin mengatakan sesuatu sama kamu, Bayu," ucap sang nenek pelan dengan bibir bergetar karena usia.
"Nenek jangan banyak bicara dulu, biar aku….-"
"Carilah ibu dan ayah kamu di kota!" ujar sang nenek yang membuat Bayu terdiam. Tatapan matanya melebar saat mendengar itu.
"Ayah dan ibuku? Bukankah Nenek dan Kakek selalu bilang kalau mereka sudah meninggal sejak aku masih kecil?" tanya Bayu dengan raut wajah tak percaya.
Neneknya menggenggam erat tangan Bayu, setetes air mata keluar dari pelupuk matanya yang sudah berumur itu.
"Maafkan Kakek dan Nenek yang sudah menyembunyikan semua ini, tapi kami melakukannya karena memang kami sangat ingin punya anak, Bayu."
Bayu yang mendengar itu hanya diam, selama ini dia mengetahui kalau ayah dan ibunya sudah tiada dan dirinya dirawat oleh kakek dan neneknya selama 17 tahun ini, tapi ternyata….
17 tahun yang lalu...
Sepasang suami istri sedang duduk di ruang tamu sederhana di dalam gubuk yang tak kalah sederhananya.
Keduanya sedang asyik minum teh hangat karena saat itu hawanya cukup dingin setelah hujan lebat dari pagi sampai sore.
Mereka adalah sepasang suami istri yang tidak memiliki momongan, Farida dan Asnawi.
"Seandainya hari ini ada yang memberikan anak mereka pada Ibu, Ibu pasti akan merawatnya dengan baik." Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Farida yang membuat Asnawi menghela napas sejenak.
"Mana mungkin ada orang yang membuang anak mereka, Farida, kamu ini aneh-aneh saja," ujar Asnawi sambil geleng-geleng.
"Loh, aku tidak bilang membuang, Pak, tapi aku bilang seandainya ada yang memberikannya, bukan….-"
Dugg!
Ucapan Farida terhenti saat mendengar suara sesuatu yang ditaruh di depan pintu mereka, sepasang suami istri itu saling berpandangan kemudian sama-sama terkejut saat mendengar.
"Oweek…. Oweek…"
Tangisan itu langsung menyadarkan mereka dari keterkejutan dan berlari keluar rumah dan betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat bayi laki-laki yang ada di depan rumah mereka yang ditaruh di dalam sebuah keranjang plastik.
"B-bayi, Pak," ucap Farida terbata.
"Siapa yang meletakkan bayi di sini?" tanya Asnawi, namun dia tidak melihat seorang pun di sekitar rumah mereka.
Farida langsung mengangkat bayi itu dan menggendongnya agar tidak menangis lagi, sementara Asnawi menemukan sebuah surat dan juga kalung perak dengan liontin huruf B.
Di dalam surat itu terdapat beberapa untaian kata dan sebuah nama untuk anak itu, yaitu Bayu.
"Apa yang kamu katakan terjadi, Farida," ucap Asnawi.
"Aku akan merawat anak ini," ucap Farida yang terlihat begitu senang.
"Bukan hanya kamu saja, tapi kita berdua akan merawatnya," ucap Asnawi.
Sejak saat itu, mereka merawat Bayu.
Saat umur bayu 10 tahun, Asnawi mengajarkannya teknik beladiri agar Bayu bisa melindungi dirinya sendiri.
Para warga desa juga tidak masalah dan tidak mempertanyakan orang tua Bayu, karena mereka tahu sendiri kalau Farida dan Asnawi sudah menikah lama dan tidak punya anak, jadi mungkin itu rezeki bagi mereka untuk merawat seorang anak yang dititipkan, walaupun bukan dari rahim Farida sendiri.
Namun banyak anak-anak seusia Bayu yang mengejek dirinya tidak punya ayah dan ibu, dan setiap Bayu melaporkannya pada Asnawi dan Farida, Asnawi selalu berkata, 'kamu punya, tapi mereka sedang merantau.'
Kata-kata itu selalu keluar dari mulut Asnawi jika Bayu menanyakan kedua orang tuanya.
Sampai umur 15 tahun, Bayu selalu latihan pukulan, tendangan, dan samsaknya adalah pohon besar di belakang rumahnya.
Asnawi meninggal saat Bayu berusia 15 tahun dan sejak saat itu Bayi hidup berdua dengan Farida.
Sekarang.
Nenek Bayu yaitu nenek Farida memberikan sebuah surat yang ditemukan oleh mereka di keranjang bayi Bayu saat itu.
"Itu adalah surat yang ditinggalkan oleh orang yang mungkin adalah orang tua kamu, tapi nenek sama sekali tidak tahu siapa, bahkan warga desa tidak ada yang melihatnya saat itu." ucap nenek Farida.
Bayu mengambil surat itu, lalu membacanya secara perlahan.
[Dear, Bayu]
[Maafkan ibu karena sudah membuangmu, ibu tidak punya pilihan lain saat itu, keluarga ibu tidak menerima pernikahan ibu, tapi ibu dan ayah kamu tetap bersikeras untuk menikah].
[Tapi sayangnya, ayah kamu meninggal karena serangan jantung, sementara ibu tidak bisa merawatmu karena diusir dari rumah, jadi dari pada kamu jadi gelandangan, lebih baik ibu memberikanmu pada orang lain].
[Maafkan ibu, ibu akan selalu menyayangimu. Dan saat kamu sudah besar nanti, pergilah ke kota, ibu akan menunggumu di sana].
Isi surat itu berakhir, tidak ada identitas, tidak ada petunjuk, hanya berisi tulisan sederhana itu.
Tiba-tiba, Bayu merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, tangan nenek Farida masih berada di genggaman tangannya, namun tangan itu terasa begitu dingin. Bayu melihat wajah nenek Farida dan betapa terkejutnya dia saat menyadari kalau nenek Farida sudah tidak bernafas lagi.
"Neeek… Nenek bangun, Nek..."
Air mata mengalir dari pelupuk matanya saat melihat satu-satunya orang yang selama ini merawatnya telah tiada.
"Neeek, jangan tinggalin Bayu, Bayu tidak punya siapa-siapa lagi selain Nenek. Bangun, Neek, banguun…."
Tangis Bayu sudah tidak dapat dibendung lagi. Kehilangan orang satu-satunya memang benar-benar menyedihkan.
Kabar kematian nenek Farida menyebar di desa, berbondong-bondong para warga memakamkannya sama seperti kakek Asnawi dulu, karena sepasang suami istri itu terkenal baik oleh warga desa.
"Yang sabar ya, Bayu," ujar salah seorang warga setelah acara pemakaman itu selesai.
Bayu hanya tersenyum dan mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.
Hari-hari berlalu.
Kini Bayu tinggal seorang diri di gubuk itu dan memutuskan untuk pergi ke kota menggunakan uang tabungan yang selama ini dia kumpulkan.
Dia ingin mencari tahu siapa orang tuanya seperti yang dikatakan oleh nenek Farida dan tentu saja dengan petunjuk dari surat itu.
Tas punggung berisi beberapa helai pakaian itu kini sudah berada di gendongannya, dan dia siap pergi ke kota untuk mencari kedua orang tuanya!
Daftar bab
43 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








