

"Ah, Farhan... pelan-pelan, nanti kalau ada yang lihat gimana?"
Suara erangan tertahan itu memecah keheningan sore. Di lorong remang-remang di antara deretan rak kayu tua yang berdebu, dua orang sedang berdiri menempel rapat. Farhan menekan tubuh Eva ke rak sampai deretan buku tebal di belakangnya bergetar pelan. Pria kaya itu tersenyum puas, membiarkan jarinya menyentuh pinggang ramping Eva dengan kasar.
"Biarin ada yang lihat," bisik Farhan di sela-sela ciumannya yang mendarat di leher mulus Eva.
"Biar satu kampus tahu kamu itu punya siapa sekarang."
Eva mendesah pelan, membiarkan Farhan makin berani menciumi lehernya. Dada wanita itu naik turun tidak beraturan saat sentuhan tangan Farhan menelusuri tubuhnya tanpa hambatan.
"Kamu nakal banget deh..." protes Eva dengan mata terpejam dan napas yang makin memburu.
Tangan Eva melingkar erat di leher Farhan, menarik kepala pria kaya itu agar makin merapat ke tubuhnya. Bibir mereka kembali bertautan dengan suara basah yang terdengar pelan di lorong sunyi.
Farhan memperdalam ciumannya, menikmati tubuh wanita yang selama tiga tahun ini terkenal sangat menjaga jarak dari pacarnya.
"Gimana kalau si Dito mendadak datang?" bisik Eva di antara helaan napas panas mereka.
Farhan tertawa sinis, menghentikan ciumannya sejenak hanya untuk menatap wajah Eva yang memerah.
"Si anak yatim piatu itu?" Farhan tertawa meremehkan.
"Dia paling lagi sibuk cuci piring atau ngumpulin uang receh jam segini."
"Dia itu cuma cowok lugu yang gampang dimanfaatin."
Eva bahkan tertawa kecil tanpa rasa bersalah sedikit pun saat mengingat betapa penurutnya Dito selama ini.
"Tiap minggu cuma sanggup beliin aku boba lima belas ribuan, mana cukup buat gaya hidupku?"
Farhan mengusap pipi Eva sambil sengaja memamerkan jam tangan emas mewahnya.
"Makanya kamu pinter, Va. Pilih cowok yang bisa kasih kamu kehidupan berkelas, bukan cuma janji-janji sampah."
Di balik deretan rak buku yang hanya berjarak dua meter dari sana, Dito berdiri terpaku seperti patung. Buket bunga mawar merah sederhana di tangan kirinya bergetar hebat. Di dalam saku celana jinsnya yang sudah pudar, ada sebuah kotak beludru merah berisi cincin perak tipis. Cincin itu dia beli dari hasil tiga bulan bekerja paruh waktu sampai larut malam di minimarket dan menjadi kuli panggul.
Dia rela cuma makan mi instan dua hari sekali demi mengumpulkan lembar demi lembar uang. Semua penderitaan itu terasa tidak berbekas tiap kali Dito membayangkan senyum bahagia di wajah Eva saat menerima lamarannya hari ini. Namun kenyataan di depannya sekarang menampar Dito dengan sangat kejam. Hari ini adalah ulang tahun hubungan mereka yang ketiga.
Hari di mana Dito berniat meresmikan hubungan mereka lewat pertunangan sederhana. Buket mawar di tangan Dito terlepas, jatuh ke lantai ubin hingga kelopaknya berserakan. Suara itu membuat adegan mesra di balik rak terhenti seketika.
Dito melangkah keluar dari balik rak dengan mata merah menahan amarah, menatap dua orang yang masih saling menempel rapat itu. Bukannya panik, Farhan justru tertawa mengejek sambil meraba paha Eva terang-terangan di depan mata Dito. Dito mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Eva... kenapa?" suara Dito terdengar serak, menahan badai emosi yang meremukkan dadanya.
Eva melipat kedua tangannya di dada, menatap Dito dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan penuh penghinaan.
"Kamu masih tanya kenapa, Dito?" ulang Eva dengan nada dingin tanpa beban.
Eva melangkah mendekat, menghentakkan kakinya yang memakai sepatu hak tinggi merek ternama—hadiah pemberian Farhan minggu lalu.
"Lihat diri kamu di cermin! Tiga tahun aku pacaran sama kamu, kamu cuma sanggup ajak aku makan di warteg!" pekik Eva.
"Aku capek harus malu tiap kali ditanya teman-temanku pacarku naik apa!"
Mata Eva melirik saku celana Dito yang memperlihatkan sudut kotak beludru merah.
"Kamu mau melamar aku pakai cincin murah itu?" ejek Eva sambil tertawa remeh.
"Sadar diri, Dito! Aku butuh cowok yang bisa jamin masa depanku, bukan anak yatim miskin yang masuk kampus cuma mengandalkan beasiswa!"
Farhan maju tiga langkah lalu merebut kotak beludru dari saku Dito secara kasar. Dito mencoba membalas, tapi Farhan mendorong dada Dito menggunakan sikunya hingga pemuda itu tersungkur ke lantai. Farhan membuka kotak itu, melihat cincin perak tipis di dalamnya, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Cincin apaan nih? Cincin mainan dari hadiah ciki?" gelak Farhan sambil melempar kotak itu ke ubin tepat di depan wajah Dito.
Dengan gerakan lambat, Farhan mengangkat sepatu kulit mewahnya lalu menginjak kotak itu kuat-kuat.
Krak!
Logam murah dan kotak beludru itu hancur remuk di bawah sol sepatu Farhan.
"Ups, sengaja," bisik Farhan dengan tawa puas.
Dito menatap pecahan cincin itu di lantai. Cincin yang dia perjuangkan dengan cucuran keringat dan rasa lapar, kini hancur tak berbentuk. Rasa sakit di hatinya mendadak berubah menjadi kebencian yang sangat dalam. Dito perlahan berdiri tegak, menatap lurus ke mata Farhan tanpa rasa takut.
"Kamu pikir kamu orang kaya yang berada di atas segalanya, Farhan?" tanya Dito dengan suara pelan tapi penuh ancaman.
"Jelas. Dibandingkan sampah kayak kamu, aku ini raja di fakultas ini," sahut Farhan bangga.
Dito maju satu langkah, mengukir senyum tipis yang mematikan.
"Kalau begitu... bagaimana reaksi publik dan polisi kalau tahu raja fakultas ini pernah tabrak lari seorang tukang becak di Jalan Pemuda sampai korbannya cacat permanen?" bisik Dito tegas.
Seketika itu juga, senyum sombong di wajah Farhan hancur total. Wajahnya berubah pucat pasi seperti mayat, dan bibirnya gemetar hebat.
"Aku tahu kamu bayar polisi buat tutup kasus itu, dan aku tahu di mana rekaman CCTV toko sekitar tempat kejadian disimpan," lanjut Dito tajam.
Urat-urat di leher Farhan menegang saat kepanikan luar biasa menguasai pikirannya.
"Kamu nggak akan pernah keluar hidup-hidup dari sini, Dito!" teriak Farhan panik.
Dito membalikkan badan dan berlari cepat keluar menuju lapangan kampus untuk membongkar rahasia itu. Namun, Eva mengambil tindakan yang sangat nekat. Wanita itu menyalip Dito, lalu dengan sengaja merobek bagian atas kemeja putihnya sendiri hingga memperlihatkan bahunya yang mulus.
Srettt!
Eva mengacak-acak rambutnya lalu menjatuhkan diri ke lantai semen sambil menangis histeris.
"Tolong! Siapa saja tolong aku!" jerit Eva sambil menangis tersedu-sedu.
"Dito mau memperkosaku di perpustakaan! Dia paksa aku karena aku minta putus!"
Seketika itu juga, suasana kampus menjadi gempar. Ratusan pasang mata tertuju pada Dito yang berdiri terpaku dengan raut wajah tidak percaya. Farhan langsung berlari menyelimutkan jaket kulit mewahnya ke bahu Eva sambil berakting seperti pahlawan.
"Biadab kamu, Dito!" raung Farhan penuh amarah ke arah kerumunan.
Massa mahasiswa yang terhasut langsung dibutakan oleh amarah.
"Hajar penjahat kelamin itu!"
Pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendarat kasar di tubuh Dito.
Bugh! Braak!
Dito tersungkur di atas semen dengan darah segar mengucur dari hidung dan bibirnya yang robek. Di antara sela-sela jarinya yang berdarah, Dito melihat Eva menatapnya dari balik kerumunan dengan senyuman kemenangan yang sangat dingin. Sebelum petugas keamanan bertindak, geng Farhan menyeret tubuh Dito yang lemas dan memasukkannya ke dalam mobil SUV hitam menuju Hutan Terlarang.
BRAK!
Tubuh Dito dilempar kasar dari dalam mobil ke atas tanah basah di tepi tebing curam. Farhan melangkah turun, menghisap cerutunya dengan nada dingin yang kejam.
"Selesaikan dia! Lempar ke dasar jurang!"
Dua orang kekar melemparkan tubuh Dito ke dalam kegelapan jurang Hutan Terlarang.
BRAK! KRAK!
Tubuhnya menghantam dahan-dahan tebal sebelum akhirnya terbentur keras di atas tumpukan batu kali yang tajam di dasar jurang. Suara remukan tulang rusuk, lengan, dan panggul terdengar mengerikan. Darah segar menyembur deras dari mulut Dito, membasahi batu kali yang dingin. Pandangannya mengabur, lalu kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan saat detak jantungnya berhenti total.
Mati. Dito tahu dirinya pasti mati.
Namun di tengah kegelapan yang membeku, sebuah rasa hangat mendadak muncul dari dalam dadanya. Rasa hangat itu berubah menjadi percikan api keemasan yang menyebar cepat ke seluruh pembuluh darahnya.
Bzzzzzt!
Derak! Krak!
Secara ajaib, susunan tulang rusuknya yang patah terdorong kembali ke posisi semula. Daging yang robek menyatu rapat tanpa menyisakan bekas sedikit pun.
Gasppp!
Dito mendadak menarik napas panjang secara refleks, menghirup udara malam yang dingin ke dalam paru-parunya. Jantungnya kembali berdetak kencang seperti genderang perang.
"Aku... aku masih hidup?" bisik Dito tidak percaya, meraba wajah dan lengannya yang sama sekali tidak terasa sakit lagi.
Ting!
Sebuah layar mengambang transparan berwarna biru keemasan muncul pelan di depan pandangannya.
[Penyesuaian Jiwa Selesai.]
[Tingkat Ketulusan Terkhianati: 100%. Niat Karma: Maksimal.]
[Selamat datang, Inang. Sistem Karma Penakluk telah Aktif!]
[Memulai Pemulihan Tubuh Fisik Tingkat Dewa... Selesai 100%.]
[Peringatan Sistem: Hukum Karma Berlaku!]
[Penyembuhan Maut Mengonsumsi Energi Karma Masif. Mengunci 50% Stamina Fisik Inang Permanen sebagai Jaminan!]
Srettt!
Rasa hangat di dadanya mendadak ditarik paksa keluar. Rasa lemas luar biasa langsung menghantam seluruh persendian tubuhnya hingga Dito berlutut dan memuntahkan gumpalan darah hitam.
"Brengsek..."
[Stamina Fisik Anda kini dibatasi pada tingkat 50%. Penggunaan energi berlebih akan menyebabkan kelelahan ekstrem atau muntah darah.]
[Pemberian Modal Karma Awal: Saldo Rp500.000.000 (Terverifikasi di Rekening Pribadi).]
[Skill Aktif Terbuka: Aura Charm Lv. 1 (Pasif/Aktif) & Analisis Situasi Lv. 1.]
Dito perlahan menegakkan punggungnya. Pupil matanya berkilat keemasan, memancarkan wibawa yang sanggup menundukkan siapa pun. Layar hologram emas di depan mata Dito berkedip cepat, memancarkan cahaya di kegelapan dasar jurang.
[Misi Utama Penaklukan #1: Sang Ratu Es Kampus]
[Target: Maya Pertiwi (27 Tahun) – Dosen Muda Fakultas Ekonomi. Sosok dosen killer berparas jelita dengan lekuk tubuh sensual.]
[Instruksi Misi: Tundukkan kesombongan Maya Pertiwi. Buat dosen paling dingin itu berlutut dan menyerahkan tubuh serta rahasianya kepadamu secara sukarela!]
[Batas Waktu: 72 Jam.]
[Hadiah: Pemulihan 25% Segel Stamina + Skill Pasif: Sensual Touch Lv. 1 + Unlocked Saldo Rp1.000.000.000.]
[Hukuman Kegagalan: Maut Permanen.]
Dito menyipitkan mata, mengusap sisa darah di bibirnya sambil tertawa pelan nan dingin.
"Siapkan dirimu besok, Bu Dosen."