
Khodam Cantik dari Keris Warisan Kakek
Saiyara|Bersambung
- Jumlah kata
- 56.1K
- Popular
- 816
- Subscribe
- 211
- Jumlah kata
- 56.1K
- Popular
- 816
- Subscribe
- 211
Sinopsis
Bintang memiliki nasib yang malang. Diselingkuhi pacar dan diinjak-injak harga dirinya oleh keluarga. Bahkan, saat pembagian warisan dia hanya mendapatkan keris karatan dan rumah tua yang katanya berhantu. Namun, siapa sangka... Takdir Bintang berubah karena sosok makhluk cantik bernama Sembrodo yang keluar dari keris warisan kakeknya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pengkhianatan
Kue tart dengan lapisan krim cokelat itu dipegang Bintang erat-erat. Senyumnya melebar saat langkah kakinya menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar kontrakan di lantai dua. Sengaja dia pulang lebih awal, bahkan rela membolos dari kelas terakhir di kampusnya. Hari ini ulang tahun Citra, kekasih yang sudah menemaninya selama dua tahun terakhir. Uang untuk membayar sewa kontrakan ini pun berasal dari hasil keringat Bintang bekerja paruh waktu, demi memastikan Citra punya tempat tinggal yang layak di Jakarta.
"Dia pasti kaget," gumam Bintang lirih di depan pintu.
Tangan kirinya meraba saku celana, mengambil kunci, lalu memutarnya perlahan agar tidak menimbulkan suara. Pintu kayu itu terbuka sedikit. Namun, belum sempat Bintang melangkah masuk, sebuah suara asing dari arah kamar tidur langsung membuat seluruh tubuhnya membeku.
Itu suara desahan pasrah Citra. Suara yang sangat dia kenali, tetapi nada suaranya terdengar begitu liar dan penuh gairah yang belum pernah wanita itu tunjukkan padanya.
"Ah, Rendra... lebih cepat... kamu hebat banget," erang Citra dari dalam kamar.
Jantung Bintang mendadak berdegup kencang seperti mau copot. Kue tart di tangannya mulai bergetar. Dengan lutut yang mendadak lemas, Bintang melangkah mendekati celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Matanya langsung disuguhi pemandangan yang menghancurkan seluruh dunianya dalam sekejap.
Di atas ranjang yang dia beli sendiri, Citra sedang bergumul intim tanpa sehelai benang pun. Kulit mulusnya yang polos berkeringat di bawah remang lampu kamar. Di atas tubuh wanita itu, seorang pria sedang bergerak dengan liar. Pria itu adalah Rendra, sepupu kaya dari keluarga tiri Bintang yang selama ini selalu menganggapnya sampah.
Plak!
Kue di tangan Bintang jatuh ke lantai, hancur berantakan bersamaan dengan runtuhnya harga diri Bintang sebagai seorang pria.
Dua orang di atas kasur itu langsung menoleh ke arah pintu. Citra terkejut sebentar, lalu dengan santai menarik selimut tipis untuk menutupi bagian dadanya yang penuh. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada ketakutan di matanya. Sementara Rendra justru terkekeh sinis, tetap duduk santai di tepi ranjang sambil meraih celana pendeknya.
"Citra... kenapa kamu tega melakukan ini?" tanya Bintang dengan suara bergetar menahan tangis. Dadanya terasa sangat sesak seolah dihantam godam besar.
"Kenapa? Kamu masih tanya kenapa?" Citra mencibir sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Lihat diri kamu, Bintang. Kamu itu miskin, tampang pas-pasan, kuliah pun gak jelas masa depannya. Buat bayar kontrakan ini aja kamu harus kerja banting tulang sampai lecet!"
"Tapi aku selalu berusaha membahagiakan kamu, Cit!" seru Bintang, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Uang receh kamu gak cukup buat beli tas bermerek, Bintang!" sahut Citra ketus. Wanita itu menatap Bintang dari atas ke bawah dengan pandangan penuh jijik. "Lagipula, Rendra jauh lebih kaya dan lebih jantan di ranjang daripada kamu yang loyo!"
Mendengar ucapan itu, Rendra tertawa terbahak-bahak. Pria kaya itu berdiri, berjalan mendekati Bintang yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan kepalan tangan yang gemetar hebat. Rendra meraba saku celana panjangnya yang tergeletak di kursi, lalu mengeluarkan seikat uang pecahan ratusan ribu.
Plak!
Rendra melemparkan uang itu tepat ke wajah Bintang. Lembaran uang merah itu berhamburan, sebagian mengenai pipi Bintang sebelum jatuh ke lantai, berserakan di atas hancurnya krim kue ulang tahun.
"Ini uang buat biaya sewa ranjang malam ini," ucap Rendra sambil menepuk-nepuk pipi Bintang dengan kasar. "Gak usah pasang wajah sok menderita begitu. Lo harusnya sadar diri. Sampah kayak lo gak pantas punya cewek secantik Citra."
"Bajingan lo, Rendra!" Bintang maju selangkah, berniat melayangkan pukulan.
Namun, Rendra dengan cepat mendorong dada Bintang hingga pemuda itu terhuyung ke belakang. "Mau melapor ke keluarga besar? Silakan. Gak akan ada yang percaya sama anak bawaan kayak lo. Oh, ya, mulai malam ini, kontrakan ini sudah gue sewa atas nama gue. Jadi, sekarang juga, lo angkat kaki dari sini!"
"Rendra, beneran kamu usir dia sekarang? Di luar kan lagi hujan badai," tanya Citra dari atas kasur, suaranya terdengar manja namun sama sekali tidak ada niat membela Bintang.
"Biarkan saja, sayang. Biar dia sadar di mana tempatnya yang cocok," jawab Rendra sambil tersenyum lebar. Pria itu kembali menatap Bintang dengan dingin. "Pergi lo dari sini, atau gue panggil sekuriti buat seret lo keluar!"
Bintang menatap Citra untuk terakhir kalinya. Wanita yang selama ini dia jaga kesuciannya, wanita yang selalu dia prioritaskan di atas segalanya, kini hanya memalingkan muka dan bersandar malas di dada Rendra.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Bintang membalikkan badan. Dia tidak membawa apa-apa selain tas ransel butut yang sudah melekat di punggungnya sejak pagi. Bintang melangkah keluar dari rumah kontrakan itu, menuruni tangga dengan dada yang terasa terbakar oleh amarah dan penghinaan yang begitu dalam.
Begitu menginjakkan kaki di luar ruangan, dinginnya air hujan langsung mengguyur seluruh tubuh Bintang. Hujan badai malam itu sangat lebat, angin kencang berembus membuat tubuhnya yang basah kuyup menggigil. Petir menyambar bergantian, menerangi langit Jakarta yang hitam pekat.
Bintang berjalan tanpa arah di sepanjang trotoar jalan raya yang sepi. Air hujan menyamarkan air mata yang terus mengalir dari matanya. Setiap kata-kata hinaan dari Citra dan tawa mengejek dari Rendra terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak.
Gue miskin... gue pecundang... gue loyo... Suara hati Bintang terus merutuki nasibnya sendiri.
Kedua tangannya mengepal sangat erat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa sakit di hatinya perlahan berubah menjadi gumpalan dendam yang sangat pekat. Dia bersumpah, suatu hari nanti, dia akan membuat Rendra berlutut di bawah kakinya, dan dia akan membuat Citra menangis darah memohon ampun karena telah mencampakkannya.
Namun, saat ini Bintang tahu diri. Dia tidak punya uang, tidak punya tempat tinggal, dan tidak punya kekuasaan apa pun di kota kejam ini. Dia benar-benar telah kehilangan segalanya dalam semalam.
Drrt... drrt...
Di tengah derasnya hantaman air hujan, Bintang merasakan getaran kuat dari saku celananya. Ponsel pintarnya yang bermerek murah dan sudah retak layarnya berbunyi. Dengan tangan yang gemetar karena kedinginan, Bintang merogoh saku dan menyalakan layar ponselnya.
Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dia kenal. Bintang mengusap air yang menutupi layar ponselnya dengan ujung jari agar bisa membaca tulisan tersebut. Pesan itu ternyata berasal dari pengacara resmi keluarga besar tirinya.
Bintang membaca deretan kalimat di layar itu dengan saksama.
"Kakekmu, Mbah Danu, baru saja meninggal dunia. Besok pagi seluruh keluarga wajib berkumpul di rumah utama untuk pembagian warisan."
Bintang terpaku di tengah trotoar jalan. Mbah Danu adalah satu-satunya orang dari masa lalu ayahnya yang pernah berpesan agar Bintang tetap kuat menghadapi siksaan keluarga tirinya. Dan kini, pria tua itu telah tiada, meninggalkan sebuah panggilan warisan yang mendadak.
Mata Bintang yang basah oleh air hujan mendadak berkilat dingin di bawah kilatan petir yang menyambar.
Daftar bab
50 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








