
AKU TRANSMIGRASI KE ZAMAN KUNO DAN DIPAKSA MEMILIH LIMA ISTRI
moon_skyy|Bersambung
- Jumlah kata
- 33.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
- Jumlah kata
- 33.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
Sinopsis
Ketika Kaizen Ardhana terbangun di zaman kuno, ia mendapati dirinya sebagai rakyat jelata yang dituduh membawa sial bagi kerajaan. Demi menghindari hukuman mati, ia dipaksa memilih lima istri dari lima keluarga berbeda. Namun, kelima wanita itu ternyata memiliki rahasia dan kepentingan masing-masing. Saat perang saudara pecah, Kaizen harus membangun kekuatan, menghadapi pengkhianatan, serta mengungkap konspirasi kerajaan yang mengincar nyawanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Lima Istri dan Sistem Takdir
“Di mana aku?” Kaizen Ardhana bertanya dengan suara serak sambil membuka matanya perlahan.
Langit-langit kayu tua menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya. Bau asap kayu, tanah basah, dan ramuan herbal memenuhi hidungnya. Tubuhnya terasa berat, kepalanya berdenyut seperti baru saja dihantam benda keras.
Kaizen mencoba bangun, tetapi rasa sakit menusuk bagian belakang kepalanya.
“Aduh… apa yang terjadi padaku?” Kaizen mengeluh sambil memegangi kepalanya.
Kaizen memandang sekeliling ruangan itu sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, lantainya tanah yang dilapisi tikar, sedangkan di sudut ruangan terdapat tungku kecil yang mengeluarkan asap tipis.
Kaizen mengerutkan kening.
“Aku jelas-jelas sedang berada di kamarku sebelum ini,” Kaizen bergumam sambil berusaha mengingat kejadian terakhir yang dialaminya.
Namun, ingatannya berhenti pada cahaya putih yang sangat menyilaukan, setelah itu, semuanya gelap, Kaizen baru saja hendak berdiri ketika suara asing tiba-tiba terdengar di dalam kepalanya.
[Selamat datang, Tuan Rumah.]
Kaizen membeku.
“Siapa yang bicara?” Kaizen bertanya sambil melihat ke kanan dan kiri.
[Tidak perlu mencari sumber suara. Sistem berada di dalam kesadaran Tuan Rumah.]
Kaizen menelan ludah.
“Sistem?” Kaizen bertanya dengan wajah tidak percaya.
[Benar. Sistem Takdir telah terikat dengan Tuan Rumah.]
Kaizen terdiam beberapa saat.
“Kalau begitu, aku sedang bermimpi?” Kaizen bertanya dengan nada ragu.
[Negatif. Tuan Rumah telah mengalami transmigrasi.]
Kaizen langsung berdiri.
“Transmigrasi?” Kaizen bertanya dengan suara meninggi.
Kepalanya semakin berdenyut, berbagai ingatan asing tiba-tiba mengalir deras ke dalam pikirannya, dan nama tubuh ini adalah Kaizen Ardhana.
Kaizen adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang tinggal di sebuah desa kecil bernama Desa Wanasari. Ia berasal dari keluarga miskin dan selama hidupnya hanya dikenal sebagai pembawa sial.
Ayah tubuh asli bernama Jaka Ardhana, seorang petani yang meninggal tiga tahun lalu karena penyakit, dan Ibunya, Sekar Ardhana, meninggal setahun kemudian.
Kaizen kini hidup seorang diri, namun, masalah terbesar bukan kemiskinan, melainkan kerajaan yang sedang mengalami kekacauan.
Raja Jayadiningrat mengeluarkan perintah bahwa siapa pun yang dianggap membawa kesialan bagi kerajaan harus ditangkap dan diadili.
Dan tubuh asli Kaizen telah dituduh sebagai salah satu pembawa sial tersebut.
Kaizen memegangi kepalanya.
“Jadi aku benar-benar masuk ke tubuh orang lain?” Kaizen bertanya dengan napas berat.
[Benar.]
“Lalu kenapa aku bisa berada di sini?” Kaizen bertanya.
[Sistem tidak memiliki kewajiban menjelaskan penyebab transmigrasi.]
Kaizen menghela napas panjang.
“Bagus sekali. Bahkan setelah mati, aku masih mendapatkan masalah,” Kaizen menggerutu.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar.
“Kaizen!” seseorang memanggil dari luar rumah.
Kaizen menoleh, pintu bambu terbuka, lalu seorang pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun masuk dengan wajah panik, namanya Banyu Wicaksana, Kaizen mengenalinya dari ingatan tubuh asli.
“Banyu?” Kaizen bertanya.
“Kau sudah sadar?” Banyu bertanya dengan napas terengah-engah.
“Kenapa?” Kaizen bertanya.
“Prajurit kerajaan datang ke desa,” jawab Banyu dengan wajah tegang.
Kaizen langsung berdiri.
“Mereka datang untuk apa?” Kaizen bertanya.
“Untuk menangkapmu,” jawab Banyu.
Kaizen mengepalkan tangan.
“Kenapa mereka masih mengejarku?” Kaizen bertanya.
“Karena tetua desa melaporkan bahwa kau adalah pembawa sial yang menyebabkan gagal panen dan kematian beberapa warga,” jawab Banyu.
Kaizen tertawa pendek.
“Jadi mereka benar-benar percaya omong kosong seperti itu?” Kaizen bertanya dengan sinis.
Banyu menggeleng.
“Aku tidak percaya pada tuduhan itu, tetapi para pejabat kerajaan tidak peduli dengan kebenaran,” jawab Banyu.
Kaizen menatap pintu.
“Berapa banyak prajurit?” Kaizen bertanya.
“Sekitar dua puluh orang,” jawab Banyu.
Kaizen menarik napas panjang, dua puluh prajurit, ia bahkan tidak memiliki senjata, apalagi kekuatan.
“Kalau aku tertangkap, apa yang akan terjadi?” Kaizen bertanya.
“Mereka akan membawamu ke ibu kota untuk diadili,” jawab Banyu.
“Dan hukumannya?” Kaizen bertanya.
Banyu terdiam.
Kaizen langsung memahami jawabannya.
“Hukuman mati,” Kaizen menyimpulkan.
Banyu mengangguk pelan, Kaizen memejamkan mata, dan di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah menyangka akan berakhir dalam situasi seperti ini.
Namun, suara sistem kembali terdengar.
[Ding!]
[Quest Utama telah terbuka.]
[Nama Quest: Bertahan Hidup.]
[Tujuan: Hindari hukuman mati.]
[Hadiah: Sistem Takdir tingkat awal.]
[Hukuman gagal: Kematian.]
Kaizen membuka matanya.
“Setidaknya kau punya sesuatu yang berguna,” Kaizen berkata dalam hati.
[Sistem memiliki banyak fungsi.]
“Kalau begitu, tunjukkan statusku,” Kaizen meminta.
Seketika layar transparan muncul di hadapannya.
[STATUS]
Nama: Kaizen Ardhana
Usia: 20 tahun
Kekuatan: 3
Kecepatan: 4
Kecerdasan: 8
Stamina: 3
Wibawa: 1
Kekayaan: 5 keping perak
Pengikut: 0
Keahlian: Tidak ada.
Kaizen menatap angka-angka tersebut.
“Lemah sekali,” Kaizen berkata dengan wajah masam.
[Benar.]
Kaizen mengernyit.
“Kau tidak perlu jujur seperti itu,” Kaizen menggerutu.
Banyu menatap Kaizen dengan bingung.
“Apa yang sedang kau lihat?” Banyu bertanya.
Kaizen tersentak.
“Tidak ada,” Kaizen menjawab cepat.
Kaizen tidak mungkin memberitahukan keberadaan sistem, dan tiba-tiba suara derap kaki terdengar semakin dekat.
Banyu melihat keluar.
“Mereka sudah sampai,” Banyu berkata panik.
Kaizen berdiri.
“Banyu, aku butuh bantuanmu,” Kaizen berkata tegas.
“Apa yang harus kulakukan?” Banyu bertanya.
“Bawa aku ke tempat yang tidak diketahui prajurit kerajaan,” Kaizen menjawab.
Banyu menggeleng.
“Tidak ada tempat aman di desa ini,” Banyu berkata.
Kaizen berpikir cepat, ingatan tubuh asli memberitahunya tentang sebuah gua tua di belakang bukit Wanasari.
Namun, gua itu dikenal sebagai tempat terlarang karena pernah menjadi lokasi persembunyian pemberontak.
“Aku tahu tempatnya,” Kaizen berkata.
“Tempat apa?” Banyu bertanya.
“Gua di belakang Bukit Wanasari,” Kaizen menjawab.
Banyu langsung pucat.
“Kau gila?” Banyu bertanya.
“Kalau tetap di sini, aku mati,” Kaizen menjawab.
Banyu terdiam, beberapa detik kemudian, Banyu mengangguk.
“Baik. Ikuti aku,” Banyu berkata.
Kaizen mengambil kain lusuh dan menutupi kepalanya, dan mereka keluar melalui pintu belakang, namun, sebelum pergi, Kaizen mendengar suara sistem sekali lagi.
[Ding!]
[Quest tambahan terdeteksi.]
[Takdir Lima Istri.]
[Persyaratan: Tuan Rumah harus mengikat hubungan pernikahan dengan lima wanita dari lima keluarga berpengaruh.]
[Hadiah: Wilayah kekuasaan, peningkatan status, dan kemampuan khusus.]
Kaizen berhenti berjalan.
“Lima istri?” Kaizen bertanya dalam hati dengan ekspresi tidak percaya.
Banyu menoleh.
“Kenapa kau berhenti?” Banyu bertanya.
Kaizen menarik napas panjang.
“Tidak apa-apa,” Kaizen menjawab.
Kaizen kembali berjalan, namun, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan, kenapa sistem memaksanya menikahi lima wanita?
Dan siapa kelima wanita itu?
Belum sempat Kaizen menemukan jawabannya, terdengar suara teriakan dari arah rumahnya.
“Cari Kaizen Ardhana!” seorang prajurit berteriak.
Kaizen menoleh sekilas, matanya berubah tajam, sejak terbangun di dunia ini, ia menyadari sesuatu.
Kaizen tidak bisa hidup seperti tubuh asli pemilik tubuh ini.
Jika dunia kuno ini menginginkan dirinya mati, maka ia akan melakukan apa pun untuk bertahan hidup.
Kaizen mengepalkan tangan.
“Aku tidak tahu siapa yang mengirimku ke zaman ini,” Kaizen berkata dengan suara rendah, “tetapi aku tidak akan mati hanya karena tuduhan konyol.”
Banyu menatapnya.
“Apa yang kau katakan?” Banyu bertanya.
Kaizen tersenyum tipis.
“Aku mengatakan bahwa mulai hari ini, hidupku akan berubah,” Kaizen menjawab.
Kaizen menatap pegunungan di kejauhan, di balik kabut dan hutan lebat, kerajaan besar sedang menunggu.
Dan tanpa Kaizen sadari, perjalanan yang akan membawanya menuju lima pernikahan, perebutan kekuasaan, perang saudara, serta rahasia terbesar kerajaan telah dimulai.
Daftar bab
26 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








