
- Jumlah kata
- 50.3K
- Popular
- 6.1K
- Subscribe
- 660
Sinopsis
Jay lahir dari rahim seorang pelacur. Dia tumbuh di rumah bordir semenjak kecil. Dibully di sekolah sudah jadi makanan untuknya karena dia anak pelacur. Hidup Jay terasa baik-baik saja, tapi semuanya berubah ketika ibunya tiba-tiba menghilang. Saat itulah Jay mulai tertarik menjadi lelaki bayaran.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 - Suara Desah Di Balik Dinding
Bagi Jaya, rumah bukanlah sebuah bangunan yang menawarkan keheningan atau ketenangan. Sejak masa kecilnya pertama kali belajar merekam ingatan, pengantar tidurnya bukanlah dongeng sebelum tidur yang dibacakan dengan nada lembut, bukan pula usapan penuh kasih sayang di dahi. Pengantar tidurnya adalah ketukan pintu kayu yang terburu-buru, suara gelak tawa wanita berkain ketat yang terlalu nyaring, denting gelas beradu, dan lenguhan samar dari balik dinding papan yang kian hari kian menipis digerogoti usia.
Jay, begitu orang-orang di lingkungan remang itu memanggilnya, lahir tanpa pernah tahu seperti apa rupa atau aroma tubuh seorang ayah. Ibunya, Marni, adalah salah satu wanita paling dicari di rumah bordil milik Mami Ela. Tempat itu berdiri di sudut remang pinggiran kota, tersembunyi di balik riuk jaringan rel kereta api yang tak pernah sepi dari deru besi.
Jika anak-anak di sekolah dasar bertanya kepada ibu mereka tentang sosok ayah, Jay kecil cukup melihat deretan lelaki asing yang berganti pakaian atau membetulkan sabuk di lorong rumah bordil tersebut untuk paham satu hal, pertanyaan tentang ayah tidak akan pernah memiliki satu jawaban pasti dalam hidupnya.
Di luar dinding rumah bordil milik Mami Ela, dunia tidak setoleran itu. Dunia di luar sana tajam, dingin, dan penuh prasangka. Di sekolah dasar hingga pertengahan masa SMP, Jay adalah sasaran empuk bagi keputusasaan dan kekejaman anak-anak seusianya yang meniru cemoohan orang dewasa.
"Anak pelacur!" atau "Hey Jay, ibumu dipake siapa semalam? Kok jam segini belum bangun?" adalah kalimat-kalimat harian yang dilemparkan anak-anak berseragam putih-merah maupun putih-biru kepadanya.
Jay kecil biasa menunduk rapat-rapat saat mendengar kalimat itu. Dia akan mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak marah yang melilit perutnya. Dia selalu pulang ke rumah dengan langkah gontai dan lebam di dada, bukan karena pukulan fisik yang meremukkan tulang, melainkan rasa malu yang menggerogoti jiwanya hingga tak tersisa.
Semua kebiasaan menunduk itu berubah total ketika Jay berusia empat belas tahun dan berkenalan lebih dekat dengan sosok bernama Bang Judi.
Bang Judi adalah preman lokal berpengaruh yang kerap nongkrong di warung kopi tepat di depan rumah bordil Mami Ela. Tugas utamanya adalah menarik uang keamanan harian dan memastikan tidak ada pengunjung mabuk yang berbuat ulah berlebihan. Suatu sore yang terik, dia melihat Jay berjalan menunduk dengan sudut bibir berdarah serta seragam yang robek akibat dikeroyok lima anak sekolah sebelah, Bang Judi memanggilnya mendekat.
"Sini kamu, Jay," panggil Bang Judi dengan suara berat bertabur asap rokok kretek.
Jay mendekat dengan ragu. Bang Judi mengambil bongkahan es batu dari gelas minumannya, membungkusnya dengan kain lap bersih, lalu menempelkannya tanpa tendeng aling-aling ke bibir Jay yang membengkak. Jay meringis menahan sakit.
"Laki-laki itu dinilai dari seberapa keras dia bertahan dan berdiri tegak, Jay, bukan dari seberapa sering dia mengurung diri lalu menangis di pojokan," kata Bang Judi sambil menatap lurus ke dalam mata Jay yang berkaca-kaca. "Ibumu banting tulang cari makan buat kamu dengan cara yang dia bisa. Jangan pernah biarkan jantan-jantan kencur di luar sana bikin kamu merasa kecil cuma karena kamu lahir di tempat ini. Sekali mereka dorong kamu, pukul balik! Pukul tepat di mukanya sampai mereka ingat nama kamu dan berpikir seribu kali buat senggol kamu lagi."
Kata-kata Bang Judi sore itu meresap sangat dalam, mengendap di dasar kepala Jay seperti semen yang mengeras.
Saat memasuki jenjang SMA, Jay bukan lagi anak penakut yang bisa dipojokkan begitu saja di belakang kantin atau di lorong toilet sekolah yang sepi. Ketika seorang siswa berbadan besar mencoba membully-nya lagi di minggu pertama sekolah, dengan membawa-bawa nama ibunya sebagai bahan lelucon, Jay tidak lagi diam menunduk.
Tanpa ucapan peringatan, Jay melayangkan satu pukulan keras yang sangat presisi tepat di rahang anak itu. Pukulan yang sarat akan akumulasi amarah bertahun-tahun itu membuat anak tersebut tersungkur menghantam lantai semen dan pingsan seketika. Seluruh koridor sekolah mendadak hening. Sejak hari itu, tidak ada lagi satu pun siswa yang berani menyenggol atau menyebut nama ibunya secara terang-terangan.
---
Tinggal dan besar di lingkungan seperti rumah bordil Mami Ela membuat Jay tumbuh jauh lebih cepat dibanding remaja lain seusianya. Sebagai seorang lelaki normal yang beranjak dewasa, rasa penasaran mengenai dinamika hubungan pria dan wanita tentu hinggap dalam pikirannya. Namun, bagi Jay, "pendidikan" mengenai hal itu tidak datang dari buku pelajaran biologi yang kaku atau dari desas-desus keliru yang dibisikkan teman-teman sekolahnya di bangku belakang.
Jay mendapatkannya secara langsung dari realitas di sekitarnya. Dia melihat bagaimana tatapan mata seorang lelaki bisa berubah dalam hitungan detik saat melihat lekuk tubuh wanita. Dia memperhatikan bagaimana bahasa tubuh bekerja, bagaimana desah napas dimanipulasi, dan bagaimana seks bisa berfungsi ganda, sebagai komoditas dagang yang dingin sekaligus pelarian sementara dari kerasnya hidup.
Memasuki jenjang kelas 3 SMA, perubahan fisik pada diri Jay makin tak terelakkan dan terjadi secara drastis. Tubuhnya yang dulu kurus kini memanjang dan membidang akibat kebiasaan saban hari membantu mengangkat galon air, tabung gas, serta barang-barang berat di rumah bordil. Garis rahangnya makin tegas dan tajam. Jay tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan, sebuah perpaduan visual yang memikat antara mata tajam berbinar warisan ibunya dan aura dingin yang misterius.
Perubahan fisik itu tidak luput dari perhatian penghuni rumah bordil. Satu per satu, para wanita pekerja seks komersial di rumah Mami Ela mulai memandangnya dengan cara yang sama sekali berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Pandangan yang dulu dipenuhi rasa kasihan pada "anak kecil Marni yang malang" kini berganti menjadi tatapan bernada lain, tatapan penuh hasrat wanita dewasa terhadap lelaki muda yang matang. Candaan mereka saat Jay melintas di lorong remang mulai berubah menjadi berani, sarat godaan eksplisit. Pintu-pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka separuh kerap memperlihatkan pemandangan yang memancing rasa ingin tahu Jay.
Jay mulai menyadari daya tarik dirinya. Dia melihat bagaimana lirikan matanya bisa membuat wanita-wanita yang lebih tua dengannya itu salah tingkah. Perlahan namun pasti, atmosfer lingkungan tersebut mulai meracuni dan memengaruhi cara pandang Jay tentang hubungan, daya tarik tubuh, serta betapa mudahnya uang berputar di sana.
Namun, di tengah gejolak pubertas yang membara dan dinamika rumah bordil yang makin rumit, hantaman terbesar dalam hidup Jay justru datang tanpa ada peringatan sama sekali.
Malam itu, hujan deras mengguyur kota tanpa henti. Petir menyambar bergantian di langit malam yang pekat. Marni, ibunya, mendatangi kamar Jay yang sempit di bagian belakang rumah. Marni memakai jaket tipis berwarna merah pudar dan membawa tas tangan kecilnya yang biasa. Wajah ibunya tampak lebih pucat dari biasanya di bawah pendar lampu neon yang berkedip-kedip.
"Jay, Ibu mau keluar sebentar ya, mau beli obat sakit kepala di apotek depan," ucap Marni malam itu. Tangannya yang dingin sempat menyibakkan poni rambut Jay yang hampir menutupi mata, lalu mengelus pipinya pelan.
Itu adalah sentuhan hangat dan kalimat terakhir yang pernah didengar Jay dari mulut ibunya.
Hari berganti minggu, dan minggu perlahan merambat menjadi bulan. Marni tidak pernah kembali ke rumah bordil itu. Kamar ibunya kini kosong melompong, meninggalkan deretan pakaian gantung yang mulai berdebu dan bau parfum murah yang perlahan memudar tergerus waktu. Mami Ela menggelengkan kepala setiap kali Jay bertanya, begitu pula dengan para wanita lainnya yang mengaku tidak tahu apa-apa.
Di usianya yang baru menginjak pertengahan kelas 3 SMA, dengan ujian akhir yang makin mendekat, Jay mendapati dirinya benar-benar sebatang kara. Dia sendirian di antara dinding-dinding papan rumah bordil yang tak pernah tidur, dengan satu janji yang mulai membakar dadanya, dia harus menemukan ibunya.
Daftar bab
48 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








