

Hari ini Jono bersiap untuk pergi ke kebun sayur milik Juragan Beno.
Dia mengenakan kaus abu-abu yang warnanya sudah pudar dan celana jeans tipis. Juga sandal putus yang disambung pakai kawat.
“Ayo semangat cari duit. Biar hari ini bisa makan,” gumam Jono.
Dia keluar dari rumah kecilnya yang sempit dan masih berdinding bata merah, lalu berjalan menuju kebun Juragan Beno.
Begitu tiba di lokasi, Jono langsung bergabung bersama teman-temannya yang lain.
“Sudah sarapan belum, Jon?” sapa Pak Barjan yang tampak lahap menikmati bekal sarapan yang ia bawa dari rumah.
“Nanti saja, Pak. Bekerja dulu.” sahut Jono yang memilih untuk segera melakukan pekerjaannya.
“Ya sudah. Yang semangat, Jon!”
“Iya, Pak!” Jono menyahut sebelum pergi ke arah para buruh berkumpul.
Sebenarnya, ia bukannya ia tak lapar, tapi sama sekali tidak ada makanan di rumah. Gaji mingguan yang dia terima minggu lalu sudah habis digunakan untuk membayar hutang karena kalah taruhan.
Untungnya di kebun ini para pekerja mendapat jatah makan siang sehingga setidaknya dia bisa tetap makan meski hanya sekali sehari.
Tanpa memperdulikan para pekerja yang mengobrol, Jono langsung memanggul karung sawi berukuran cukup besar dan menurunkannya ke bak mobil.
Bahunya terasa berat dan sedikit nyeri, tapi dia sudah terbiasa.
Di sela-sela itu, matanya mencari satu orang yang biasanya dia lihat di sana.
Tuti.
Perempuan itu bekerja di bagian ikat sayuran. Dia memang tidak secantik artis, tapi cukup manis untuk membuat Jono betah memandangnya dari jauh.
Jono baru saja mau mendekati Tuti, tapi seorang pemuda tiba-tiba datang mendekati perempuan itu dan mengajak gadis itu mengobrol.
Adegan itu mengganggu Jono, karena dia sudah lama menyukai Tuti, tapi tak punya keberanian untuk mengutarakan.
Tapi hari ini, setelah melihat bagaimana pria itu membuat pujaan hatinya tersipu, memunculkan tekad pada hati Jono.
Hari ini dia akan mengatakan semuanya pada Tuti!
Saat jam istirahat tiba, Jono pergi untuk membeli seikat bunga menggunakan uang terakhir yang dia punya. Uang simpanan untuk jaga-jaga kalau malam nanti dia ingin makan mie instan.
Kemudian, dia melangkah menghampiri Tuti yang sedang makan di dekat tumpukan keranjang kosong.
“Tuti, aku mau ngomong sebentar sama kamu.” Jono memberanikan diri memulai percakapan.
“Mau ngomong apa?” Tuti menjawab tanpa menoleh.
Melihat sikap Tuti yang acuh tak acuh, Jono sama sekali tidak gentar dan malah berani berlutut.
"Tut, aku sudah lama suka sama kamu!” kata Jono. “Kamu mau nggak menikah sama aku? Aku memang belum punya apa-apa, tapi…”
“Jangan sembarangan kamu, Jon!” potong Tuti dengan nada tinggi sambil bangkit dari duduk.
Perempuan itu berdiri berkacak pinggang tepat di depan Jono.
“Mbok ngaca! Kamu itu lho cuma kuli panggul. Mana mau aku hidup susah sama kamu? Aku pengin punya pasangan yang jelas!
Yang kaya! Yang bisa jamin hidupku! Bukan laki-laki yang kerjanya cuma angkat karung kayak kamu!!”
Melihat Jono dan Tuti, berapa pekerja bahkan sampai berhenti dari pekerjaannya.
“Lain kali kalau mimpi mbok jangan ketinggian!” lanjut Tuti lagi.
“Tapi, Tut… beberapa bulan terakhir ini kan kita sudah dekat. Kamu juga sering ngasih perhatian, sering bersikap manis. Aku kan jadi mikir kalau kamu juga punya rasa ke aku."
“Ya memang sengaja kok! Biar kamu rajin ngasih uang jajan ke aku. Cuma itu tok! Nggak lebih. Sudah gitu ae, aku ya sudah punya pacar! Jadi wis nggak usah ganggu aku lagi!”
Setelah mengatakan itu, Tuti berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan Jono di tengah tatapan orang-orang.
Beberapa kuli mengejeknya, tapi Jono tidak mendengar jelas. Telinganya seperti berdengung. Sesakit itu rasanya dihina di depan orang banyak.
“Jono!” Tiba-tiba sebuah suara datang dari samping.
Jono melihat Nita berdiri di sana dengan khawatir. Perempuan berusia delapan belas tahun itu bekerja di bagian sortir sayuran.
Bajunya sederhana. Rambutnya diikat asal, dan tangannya masih memegang sayur kubis. Tapi nggak kalah cantik dari Tuti.
“Sudah nggak usah dimasukin ke hati. Dari dulu omongannya Tuti memang suka kelewatan.” Nita duduk di sebelah Jono.
“Iya, Nit.” Jono menjawab lesu.
“Tuti itu cuma lihat harta. Dia pacaran sama Patro kan ya cuma karena dia anak juragan Slamet. Coba kalau si Patro itu nggak punya uang, mana mau dia.” kata Nita dengan gestur gemas.
“Orang kayak kamu itu lho rajin. Tanggung jawabmu juga kelihatan. Nggak semua orang kayak kamu.” lanjut Nita lagi yang langsung membuat Jono tersenyum.
“Heheh makasih banyak loh, Nit. Tapi kamu itu sudah memuji aku hampir setiap hari. Apa kamu nggak bosan kasih pujian terus?”.
"Ya nggak to. Kok bosan? Aku lho malah seneng bisa nyemangatin kamu.”
“Iya… tapi omongannya Tuti tadi memang ada benarnya, Nit. Mana mungkin ada cewek yang mau sama orang kayak aku? Pasti ya milihnya yang ganteng, sugih, biar hidupnya enak…”
“Heh! Nggak semua cewek itu kayak gitu ya. Aku lho senengnya yang manis-manis…” pangkas Nita cepat, wajahnya memerah.
“Kayak kamu..”
Sayangnya suara Nita yang terakhir tidak terdengar oleh Jono, karena tiba-tiba saja seorang Mandor sudah datang untuk meminta kembali bekerja.
“Jon, itu ada barang masuk lagi. Bantu sortir ya!"
“Iya, Mas sebentar! Duluan ya Nit!” Jono lalu pergi meninggalkan Nita yang terdiam sebelum kembali ke tempatnya.
“Semoga kamu cepet sadar dengan perasaanku, Jon..”
Setelah beberapa jam bekerja, tak terasa hari sudah menjelang sore. Jono duduk di pinggir bak truk dan melihat Deni datang membawa dua batang rokok dan korek api.
“Jon.. Jon.. Nembak kok Tuti. Salah sasaran kamu.” katanya tiba-tiba.
“Ya namanya juga perasaan, Mas.” jawab Jono singkat.
“Ya. Tapi sekali-sekali ya diukur. Udah tahu anak itu deket sama Patro kok ya masih berani ndeketin.”
“Nggak ngerti kalau udah jadian, Mas. Wong kemarin aja masih minta nemenin aku kok.” Jono menghisap rokok yang diberi Deni.
“Sebenernya orang sini ya udah ngerti kalau kamu itu dimanfaatkan sama Tuti. Habis gajian minta beli bakso, ngambil belanja minta kamu yang bayar. Kamunya yang nggak sadar-sadar.” Deni berkata lagi.
Jono tidak menjawab.
Melihat itu, Dani berdiri sambil menepuk punggung Jono. “Udah, nggak usah dipikir. Cari aja yang lain. Nita itu lho jomblo!” katanya sebelum pergi.
Mendengar itu, Jono tersenyum dan ikut beranjak dari sana. Nggak mau berpikir lebih banyak soal wanita.
‘Mungkin memang belum saatnya’, pikir Jono.
Jono pulang dengan berjalan kaki menuju rumah bekas kakeknya di ujung desa. Bersiap mengambil arit untuk mencari rumput untuk memberi makan kambing milik Pak Darto.
Setiap malam, dia memang mengerjakan tugas tambahan untuk menambah pemasukan. Upahnya hanya beras sekilo. Tapi itu cukup untuk makan selama beberapa hari.
Saat Jono berjalan menyusuri pematang sawah, dia bertemu dengan Pak Darto yang baru pulang dari rumah mertuanya.
“Udah siap ngarit to, Jon?”
“Iya, Pak. Ini mau langsungan,” jawab Jono.
“Ya sudah. Hati-hati. Jangan lupa si Blorok dikasih lebih banyak. Mau tak jual soalnya.” kata Pak Darto merujuk pada sapi jantannya.
“Iya, Pak.” Jono mengangguk sebelum tangannya bergerak cepat, mulai mengarit rumput gajah basah yang terkena embun.
Setelah dirasa cukup, ia mengikat rumput dan mengangkutnya ke kandang Pak Darto. Jono berjalan kaki melalui jalanan tanah becek dan berlumpur sambil membawa karung rumputnya.
Sesekali Jono memegangi perutnya yang terasa perih, karena baru makan satu kali di kebun.
“Nanti pulang aku tak hutang mie instan di warung Mbak Inem dulu deh.”
Membayangkan mie itu, Jono pun mempercepat langkah kakinya menuju kandang kambing milik Pak Darto. Ia memberi makan kambing-kambing itu dengan rumput yang ia peroleh tadi.
“Nah, mangan yang banyak ya! Biar Pak Darto juga senang, dan siapa tau aja aku bisa dapat bonus. Hehehe."
Jono terlalu asyik memberi rumput pada kambing-kambing yang makan sangat lahap.
Saat melangkah mundur, tiba-tiba kakinya terasa menginjak sesuatu.
“Apa ini?" Jono menoleh untuk melihat apa yang terinjak oleh kakinya. “Kok mengkilat? Duit apa ya?”
Dengan penasaran Jono berjongkok untuk mengambil benda itu yang ternyata adalah kalung dengan liontin berbentuk tulang kecil yang warnanya sudah kusam.
Tali kalungnya pun hampir putus.
“Kalung?”
Saat Jono menyentuh kalung itu, tanpa sadar rasa pegal yang sedari tadi dirasakan perlahan mulai menghilang. Gatal-gatal efek terkena rumput pun tiba-tiba hilang tanpa bekas.