
Kitab Pemikat Pembangkit Gairah
Menook We|Bersambung
- Jumlah kata
- 42.1K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 339
- Jumlah kata
- 42.1K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 339
Sinopsis
"Dulu kalian menginjakku karena tak berharta, tapi kini kalian akan bertekuk lutut karena ku menggenggam takdir dunia." Menjadi pria tanpa kekuasaan yang selalu disepelekan. Difitnah di tempat kerja hingga rumahnya diancam digusur oleh penguasa lokal, tak membuat Danu kehilangan nyali untuk tetap berdiri. Berbekal rasa sakit hati, Danu didukung takdir, membuatnya mampu membangunkan Kitab Ritus Yin yang telah lama terkubur. Ia jadi memiliki ingatan gaib, dan harus melakukan ritual penyatuan energi bersama wanita-wanita terpilih, agar bisa mengubah kelemahannya menjadi takhta kekuasaan mutlak. Gairah sebagai senjata, Danu mulai merayap naik menuju puncak hierarki tertinggi.
Ulasan
2 ulasan
Ahmad Wahyudi
29/9/26 23:44
satu lagi novel tidak sesuai genre yang di sipnosi terlalu sering alur konflik, kegunaan kitab tidak di jabarkan dan bagaimana menambahkan kekuatan dengan berhubungan dengan wanita tidak ada
Ahmad Wahyudi
29/9/26 23:40
MC naif dan munafik ada wanita yang sudah menyerah diri malah tidak terjadi apa-apa apalagi masih perawan berarti yang dianjurkan oleh kitab tidak dilaksanakan cuma sebagai pemanis
Bab 1. Pria Miskin yang Tertindas
Aroma pembersih lantai yang tajam bercampur bau debu lembap menyengat hidung Danu. Kaos berkerah warna biru pudar di bahunya kini basah kuyup. Pemuda dua puluh dua tahun itu berdiri mematung di tengah ruangan kaca seluas lima kali enam meter. Jemarinya mencengkeram kain lap mikrofiber hingga buku-buku jarinya memutih.
“Mata kau ditaruh di mana, Danu?! Hah?!”
Teriakan melengking itu menggema di ruangan kaca seluas lima kali enam meter. Pak Herry, manajer divisi operasional yang terkenal bertangan besi, berdiri dengan wajah merah padam. Di meja kayu mahoni miliknya yang mengilat, secangkir kopi hitam yang baru saja diseduh tumpah meluas, membasahi tumpukan berkas laporan keuangan yang baru saja dicetak.
Namun bukan Danu yang menyenggol cangkir itu.
Tepat di samping meja, Maya, staf admin cantik yang selalu tampil modis dengan riasan tebal berdiri dengan wajah dibuat-buat panik. Padahal, semenit lalu Danu melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri, siku Maya yang mengibas ceroboh saat sibuk bercermin sambil main HP, hingga menyenggol cangkir kopi Pak Herry.
Namun bukannya mengaku, Maya justru langsung menunjuk Danu saat Herry mendelik murka.
“Saya nggak sengaja, Pak! Tadi Danu yang jalannya grasak-grusuk pas mau ngelap sisi meja, terus nyenggol tangan Saya!” cetus Maya melengos, memasang wajah polos tanpa dosa. Matanya menatap Danu penuh hinaan. “Lagian OB kayak dia kok berani-beraninya nyenggol-nyenggol staf? Jangan-jangan sengaja mau cari kesempatan megang tangan Saya ya?!”
“Nggak betul, Pak Herry! Saya bahkan belum nyentuh ujung meja itu sama sekali. Mbak Maya sendiri yang—“
“Diem kamu!” potong Herry dengan mata melotot, memperlihatkan urat-urat merah di pelipisnya. Pria setengah baya itu tidak peduli pada kebenaran. Bagi Herry, menyalahkan seorang OB miskin jauh lebih mudah daripada menegur staf kesayangannya.
Danu mengatupkan bibirnya rapat, lalu dibuat tersentak oleh Herry yang tiba-tiba saja menyiramkan air bilasan lap yang kotor di dalam ember ke tubuhnya.
BYUR!
Danu memejamkan matanya dalam.
Air dingin berbau amis dan berpasir membasahi wajah, rambut, hingga seluruh bagian depan bajunya.
Deru napas Danu memburu, rahangnya pun mengeras ketika merasakan air kotor itu menetes dari ujung hidungnya, lalu jatuh berpingros ke atas karpet mahal ruangan sang manajer.
Danu masih memejamkan mata erat-erat. Rasa dingin yang menusuk kulit tak sebanding dengan rasa panas yang membakar dadanya. Rasa hina yang begitu membuncah. Ia sangat sakit hati.
“Bersihkan ini semua! Dan ingat, gaji kau bulan ini aku potong lima puluh persen buat ganti kerugian berkas ini! Kalau kau tidak suka, angkat kaki dari gedung ini sekarang juga! Dasar sampah tidak berguna!” amuk Herry seraya melempar sisa kertas yang basah ke dada Danu.
Beberapa staf kantor yang melintas di luar ruangan kaca hanya menengok sekilas. Ada yang tertawa kecil sambil berbisik-bisik, ada pula yang membuang muka, tak peduli. Bagi melek, Danu hanyalah seorang Office Boy, makhluk tak kasatmata yang keberadaannya hanya diingat saat fasilitas kantor bermasalah atau saat butuh tempat melampiaskan kekesalan.
Begitupun dengan Maya, hanya berdiri menikmati tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Danu tersenyum tipis dan sangat sinis, dengan perasaan berat dan sangat terhina, ia terpaksa mengelap genangan air kotor di lantai karpet menggunakan kain lapnya yang sudah basah kuyup.
Sungguh, ingin sekali ia mengumpat, berteriak keras lalu melemparkan lap basah ini ke wajah Herry dan juga Maya, namun tak berani karena sadar posisinya di sini, membuatnya hanya bisa mengumpat dalam hati.
Saat Danu sedang mengumpulkan sisa-sisa kertas yang hancur, ponsel murah bertipe lama di saku celananya bergetar hebat. Layarnya yang retak menampilkan sebuah nama yang tak asing, Marni.
Danu mengerutkan kening. “Ngapain Marni menghubungi?” batin Danu bertanya tanya. Terselip perasaan cemas di dalam hati, jangan jangan ada masalah dengan ibunya di desa.
Danu segera menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
“Halo!?” ucap Danu, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin.
“Waktumu sudah habis, Danu,” potong suara di ujung telepon. Tidak ada nada lembut ataupun manis sama seperti biasanya. .
“Apa maksud kamu?” tanya Danu, batin sudah bergejolak, bisa menangkap maksud tak baik dari ucapan Marni.
“Nggak ada lagi kesempatan. Sore ini Riko akan bawa buldozer ke depan rumah ibumu. Kalau kamu nggak bisa transfer dan melunasi seluruh utang almarhum bapakmu sore ini juga, rumah ibumu bakal diratakan sampai jadi tanah!”
Darah Danu serasa membeku seketika. “Marni...bilang sama Riko jangan kurang ajar!” ia mengepalkan tangan.
“Kamu yang nggak tahu diri.”
“Aku sudah bilang akan melunasinya! Tapi nanti! Aku akan mencar-“
“Nanti kapan?” potong Marni. “Nanti nunggu kiamat tiba? Sekeras apapun kamu berusaha, kamu tidak akan bisa mendapatkan uang sebanyak itu Danu. Apa kamu tahu kenapa? Karena kamu miskin, dan selamanya ditakdirkan miskin.”
Darah Danu yang belum sempat tenang kembali dibuat mendidih. Ia mengeraskan rahangnya, sambil meremas ponsel di tangannya.
“Bilang sama Riko. Jangan berani menyentuh ibuku, menyentuh rumahku. Atau dia akan menyesal.” Ancam lirih Danu.
Namun malah disambut oleh gelak tawa Marni, dan juga suara laki laki yang dia kenal. Riko juga tertawa.
“Sore ini uangnya harus ada. Buktikan saja, jangan banyak bicara. “ ucap Marni. “Satu lagi Danu. Nggak usah sok jago! Pria miskin dan Cuma jadi OB kayak kamu itu nggak usah sok ngancam, sama sekali nggak pantas. Dasar sampah!” Marni mengumpat.
“Marni! Kamu...”
Tut tut tut.
Panggilan diakhiri sama Marni.
Kian melambungkan rasa marah di dalam diri Danu, sungguh ingin sekali ia berteriak sekarang, melampiaskan gejolak rasa di dalam dada. Tapi dia tahan kuat, hanya bisa meremas ponsel di genggaman.
Danu masih berdiri mematung di tengah ruangan.
“Hei! Kau dengar tidak?! Saya bilang bersihkan, malah main HP! Kurang ajar sekali kau ya!” Herry kembali berteriak, melangkah mendekati Danu dengan wajah berang. Tangannya terangkat, berniat menampar bahu Danu.
Namun tak jadi ketika Danu memutar tubuh perlahan. Matanya pun menatap Herry lurus-lurus, sebuah sorot mata yang begitu dingin, penuh amarah terpendam, hingga membuat Herry menghentikan langkahnya secara refleks.
Untuk sekejap, sang manajer merasa ada dorongan energi aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Kenapa kamu melihatku begitu?! Mau melawan?!” gertak Herry, berusaha menutupi rasa gentarnya.
Danu tidak menjawab. Ia melepas id card plastik yang menggantung di lehernya, lalu meremasnya kuat-kuat.
“Saya berhenti,” kata Danu singkat, sungguh ingin sekali ia mengatakan hal itu. Tapi tak boleh, ia tak boleh gegabah, dan mengambil keputusan saat emosi. “Saya permisi,” ucapnya dingin.
Tanpa menunggu balasan dari manajernya yang melongo, Danu membalikkan badan, lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Ia tidak peduli pada pakaiannya yang basah kuyup berbau amis, tidak peduli pada tatapan sinis rekan-rekan kerjanya, dan tidak peduli pada gaji setengah bulan yang kemungkinan besar tidak akan pernah dibayarkan.
Dunia seolah runtuh di atas kepalanya. Ia tidak punya uang untuk membayar utang bapaknya dan menyelamatkan rumah ibunya dari ancaman buldozer Riko dan kelicikan Marni. Ia hanyalah seorang OB yang tak memiliki nilai diri. Tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan ibunya diinjak-injak oleh mereka.
“Sialan! Benar-benar brengsek si Herry! Riko! Marni! Kalian akan mati di tangan takdir terburuk!” lagi-lagi Danu hanya bisa mengumpat sendiri.
“Danu.” Suara seorang wanita yang dikenal Danu tiba-tiba saja terdengar.
Danu menghentikan langkah, tanpa menolehkan kepala ia mengumpat lagi. “Shit! Apalagi ini?!” gumamnya pelan.
Daftar bab
41 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








