
Babad Pusaka Bimasena
Sasmita|Bersambung
- Jumlah kata
- 123.2K
- Popular
- 252
- Subscribe
- 43
- Jumlah kata
- 123.2K
- Popular
- 252
- Subscribe
- 43
Sinopsis
Di puncak kejayaan Majapahit, seorang pandai besi jelata bernama Bimasena menemukan serpihan meteorit yang ternyata adalah "kunci" penyeimbang nadi bumi. Saat Sekte Besi Mati mencoba mencuri kekuatan itu untuk ambisi abadi, Bimasena harus bertransformasi dari sekadar penempa logam menjadi ksatria yang menempa ulang takdir Nusantara.
Ulasan
7 ulasan
Malaikat Agung Samael
5/8/26 03:28
mantap ini sangat rekomendasi yang mencari tema nusantara kental dari jaman Majapahit. tetap semangat ya mas nulisnya 😁
Adjay Limbeng
5/8/26 03:26
Gacor abis nih novelnya. Kesan nusantaranya ngena banget. kental dan seperti berteleportasi ke dalam nya. semangat terus, thor
Bab 1: Denting dari Kawah Mati
Bimasena menghentikan ayunan palunya. Ia menatap bongkahan besi merah membara di atas landasan batu yang telah lama retak. Uap panas mengepul dari bak pendingin, beradu dengan udara pagi Trowulan yang masih basah oleh embun.
Di bengkelnya yang terletak di pinggiran ibu kota Majapahit, Bimasena telah menghabiskan waktu berhari-hari untuk menempa sebuah pesanan khusus, sebilah pedang untuk seorang bhayangkara istana.
Namun, setiap kali ia melipat besi itu, ia selalu merasa ada yang kurang. Kualitas logamnya terlalu rapuh.
"Sudah hampir rampung, Bimasena?" suara serak Ki Wirya memecah konsentrasi dari balik gerbang bambu. Tetua desa itu berjalan tertatih, membawa segelas air aren yang ia letakkan di atas meja kayu.
Bimasena menghela napas, menyeka peluh di dahinya yang bercampur jelaga hitam. "Belum, Ki. Besi ini terlalu lunak untuk seorang bhayangkara. Aku butuh bahan yang jauh lebih keras dan murni agar pedang ini tak patah saat beradu di medan laga. Jika aku menyerahkan pedang ini sekarang, aku hanya mempermalukan martabatku sebagai seorang pandai besi."
Ki Wirya tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekati ambang pintu, menatap ke arah utara, ke tempat Gunung Lawu menjulang tinggi menembus awan.
Wajahnya tampak gelisah, seolah sedang membaca pertanda buruk dari langit yang mulai berubah warna menjadi kelabu.
"Lupakan soal pesanan itu untuk sementara," bisik Ki Wirya dengan suara rendah yang penuh peringatan. "Apa kau tidak mendengarnya? Sejak fajar, kawah Gunung Lawu bergetar hebat. Suaranya seperti genta raksasa yang dipukul-pukul dari dalam perut bumi. Getarannya sampai ke sini, Bimasena. Tanah di bawah kakiku terasa tidak tenang."
Bimasena mengernyit. "Gempa vulkanik? Itu hal biasa bagi gunung di tanah ini."
"Bukan! Ini denting logam," sahut Ki Wirya mendesak. Ia memegang lengan Bimasena, jari-jarinya gemetar. "Suaranya merambat sampai ke desa kita. Orang-orang bilang itu pertanda buruk, pertanda bahwa sesuatu dari zaman purba sedang bangun."
Bimasena terdiam. Otaknya, yang selama ini hanya terobsesi pada kualitas besi dan suhu tungku, tiba-tiba berputar cepat.
Denting logam? Ia membayangkan deposit bijih besi yang mungkin tersingkap akibat aktivitas vulkanik. Jika ada material logam baru yang terpapar ke permukaan karena aktivitas kawah, maka itu adalah kesempatan emas.
"Denting logam..." gumam Bimasena pada dirinya sendiri. "Jika suara itu berasal dari dalam kawah, berarti ada deposit bijih besi yang sangat murni di sana yang baru saja tersingkap. Jika aku bisa mendapatkan bahannya, pedang pesanan bhayangkara itu akan menjadi karya terbaikku. Aku tidak akan membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja."
"Jangan gila, Nak! Itu berbahaya! Gunung itu sedang tidak tenang, dan ada rumor bahwa orang-orang asing mulai mendaki ke sana!" seru Ki Wirya, berusaha mencegahnya.
Namun, Bimasena sudah menyambar parang dan mengikat kain di kepalanya. "Aku hanya butuh bahan berkualitas, Ki. Jika memang ada bijih besi baru yang jatuh ke kawah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku akan ke sana sebentar, mengambil apa yang kubutuhkan, lalu kembali sebelum matahari tepat di atas kepala."
Perjalanan mendaki Gunung Lawu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Udara di lereng gunung terasa kental, panas menyengat, dan berbau belerang yang tajam hingga membuat mata Bimasena perih.
Hutan di sekitarnya tampak tidak wajar, dedaunan berwarna kecokelatan meski musim hujan baru saja lewat, dan kicauan burung yang biasanya ramai kini hilang total.
Sesampainya di puncak kawah, Bimasena terpaku. Pemandangan di depannya benar-benar di luar dugaannya. Batuan vulkanik di dasar kawah tidak hanya retak, tetapi seolah terbelah sempurna oleh sesuatu yang sangat kuat.
Di tengah hamparan bebatuan yang menghitam, tertancap sebuah benda yang berpendar cahaya oranye redup. Benda itu mengeluarkan suara dengung rendah, sebuah getaran yang terasa hingga ke sumsum tulangnya.
Bimasena mendekat dengan hati-hati. Ia tidak tahu benda apa itu, apakah sebuah artefak kuno atau sekadar gumpalan logam asing, yang jelas, kilau logamnya tidak seperti besi, baja, atau perunggu mana pun yang pernah ia tempa selama hidupnya.
"Ini..." gumamnya, matanya berbinar. "Warnanya aneh, tapi jika dilebur, ini pasti akan menjadi campuran yang sempurna. Logam ini terlihat sangat padat dan murni."
Tanpa berpikir panjang tentang bahaya yang mengintai atau keanehan benda itu, Bimasena meraih gagang benda tersebut.
Begitu jari-jarinya bersentuhan dengan permukaan logam itu, rasa panas yang membakar langsung menjalar ke tangannya, seolah ia baru saja memegang bara api yang tak kunjung padam.
"Sial! Panas sekali!" teriaknya kesakitan.
Ia mencoba melepaskan tangannya, namun seolah ada gaya magnet yang menguncinya. Ia meraung, mengerahkan seluruh tenaga dalam lengannya untuk menarik diri. Dengan sekali sentakan paksa karena rasa sakit yang tak tertahankan, benda itu terlepas dari tancapannya.
BOOM!
Ledakan energi magnetik seketika melontarkan Bimasena hingga jatuh tersungkur jauh ke belakang. Debu dan kerikil beterbangan, membutakan pandangannya sesaat. Saat kabut debu menipis, Bimasena tersentak.
Benda yang ia pegang bukan sekadar bijih besi, melainkan sebilah pedang dengan desain yang asing, berpendar dengan urat-urat cahaya yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya.
"Berhenti di situ!"
Dua sosok berpakaian hitam muncul dari balik batu. Durgala dan Durgali, dengan rantai beracun yang berkilau di tangan mereka.
"Serahkan benda itu, pandai besi rendahan!" bentak Durgala.
Bimasena bangkit dengan kaki gemetar. "Aku ke sini untuk mencari bahan pedang! Aku tidak tahu kalian siapa, tapi aku tidak berniat menyerahkan temuanku ini pada perampok seperti kalian."
Durgala menyerang. Rantai beracunnya melesat deras. Bimasena, dengan refleks yang tak ia mengerti, menangkisnya dengan pedang di tangan.
Tring!
Percikan api membuncah.
"Dia bisa menguasai Pusaka Besi Mati?" desis Durgali tidak percaya.
Bimasena tidak menunggu jawaban. Ia memutar balik dan berlari sekuat tenaga menuruni gunung. Ia melompati akar pohon dan bebatuan tajam dengan napas yang memburu.
Setiap kali ia menoleh, ia bisa mendengar derap kaki si kembar yang mengejar di belakangnya, rantai mereka beradu dengan pohon-pohon di sepanjang jalan.
Ia harus sampai di desa. Mungkin di sana, di tengah keramaian, ia bisa meminta bantuan atau setidaknya mencari tempat persembunyian yang aman.
Ia terus memacu langkahnya, kakinya terasa berat namun tekadnya untuk menyelamatkan diri dan pedang misterius di pinggangnya begitu kuat.
Saat ia mencapai batas desa, Bimasena menoleh ke belakang. Durgala dan Durgali masih terus membuntutinya, namun mereka tampak memperlambat langkah, seolah-olah mereka sedang mengamati sesuatu.
Bimasena berhasil mencapai bengkelnya dengan selamat. Ia segera masuk ke dalam, menutup pintu kayu yang reyot, dan bersandar di balik tembok, napasnya memburu hebat.
Api di tungku bengkelnya masih menyisakan bara, dan peralatan kerjanya masih tertata rapi. Ia menatap pedang yang ia selipkan di balik ikat pinggangnya.
Pedang itu kini meredup, namun detak jantungnya sendiri terasa jauh lebih kencang dari biasanya, seolah beradu dengan detak yang berasal dari pedang tersebut.
Di luar, suara rantai bergemerincing mendekat, berhenti tepat di depan bengkelnya. Bimasena menahan napas, memegang gagang pedang itu erat-erat. Ia sadar, ia tidak lagi sendirian. Seseorang sedang memburunya dari balik pintu. Dan pedang di tangannya baru saja membisikkan satu kata yang membuatnya membeku: “Bersiaplah.”
Daftar bab
113 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
113 bab








