
RAHASIA DI BALIK PINTU MAWAR
bulan gerhana|Bersambung
- Jumlah kata
- 2.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 2.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Maya mengira pernikahannya dengan Aris adalah akhir yang bahagia. Aris sempurna—tampan, kaya, dan sangat memuja Maya. Namun, di rumah baru mereka, ada satu aturan: Jangan pernah menyentuh pintu kayu di ruang bawah tanah. Saat aroma parfum sahabatnya yang hilang tercium dari balik pintu itu, Maya sadar bahwa suaminya bukan sekadar pelindung, melainkan penjaga rahasia yang mengerikan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1.SANGKAT EMAS
Lantai marmer yang masih terasa dingin menyentuh telapak kakiku saat aku melangkah di lorong tengah rumah baru kami. Rumah ini luas, sangat luas untuk kami yang hanya tinggal berdua. Dinding-dindingnya dicat putih gading, dihiasi lampu kristal yang menggantung megah di ruang tamu. Semuanya tampak sempurna, persis seperti mimpi yang dijanjikan Aris saat ia melamarku enam bulan lalu.
"Suka rumahnya, Sayang?"
Sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangku dari belakang. Aroma maskulin bercampur wangi kayu cendana—parfum khas Aris—langsung memenuhi indra penciumanku. Aku bersandar pada dadanya yang bidang, merasakan detak jantungnya yang tenang.
"Ini terlalu indah, Mas. Aku merasa seperti di dalam mimpi," bisikku tulus.
Aris terkekeh pelan, kecupan hangat mendarat di pelipis kuriku. "Ini bukan mimpi, Maya. Ini adalah istana untuk ratuku. Kamu berhak mendapatkan segalanya setelah apa yang kita lalui."
Ia merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah gantungan kunci perak yang berkilau. Ia meletakkannya di telapak tanganku dengan sangat hati-hati, seolah kunci itu adalah harta yang paling berharga.
"Kunci utama, kunci kamar kita, kunci taman belakang..." Aris menjelaskan satu per satu dengan sabar. Namun, jemariku berhenti pada satu kunci yang terlihat sangat berbeda. Kunci itu berukuran lebih kecil, berwarna tembaga kusam, dan terasa sangat dingin di kulitku.
"Kalau kunci yang ini... untuk pintu yang mana, Mas?" tanyanya sambil mengangkat kunci tembaga itu.
Aku merasakan tubuh Aris sedikit menegang. Genggamannya di pinggangku mengeras selama sepersekian detik sebelum akhirnya ia melonggarkannya. Ia memutar tubuhku agar kami saling berhadapan. Matanya yang hitam pekat menatapku dalam, ada kilatan yang tidak bisa kujelaskan di sana.
"Itu kunci gudang di ruang bawah tanah, Maya," jawabnya. Suaranya yang semula lembut berubah menjadi datar dan rendah.
Aku mengerutkan kening. "Di bawah tangga itu? Boleh aku lihat isinya? Siapa tahu ada barang yang bisa kupindahkan ke atas."
Aris memegang kedua bahuku, tatapannya kini sangat serius. "Tidak, Sayang. Jangan pernah ke sana. Isinya hanya barang-barang lama milik mendiang orang tuaku yang belum sempat aku rapihkan. Berdebu, gelap, dan lantainya cukup licin. Aku tidak ingin gaun cantikmu kotor atau—lebih buruk lagi—kamu terjatuh di sana."
"Tapi, Mas—"
"Berjanjilah padaku, Maya," potongnya cepat. Senyumnya kembali muncul, tapi kali ini tidak mencapai matanya. "Jangan pernah menyentuh pintu itu. Biarkan tempat itu menjadi urusanku. Mengerti?"
Aku hanya bisa mengangguk pelan. "Iya, Mas. Aku janji."
Aris tampak lega. Ia mencium keningku sekali lagi sebelum pamit untuk mengambil koper di mobil. Aku berdiri terpaku di tengah ruangan, menatap kunci tembaga di tanganku.
Tepat saat itu, embusan angin entah dari mana lewat di lorong, membawa aroma yang sangat tipis. Bukan aroma cendana Aris, melainkan wangi bunga melati dan vanilla yang sangat kukenal. Wangi itu seolah menguar dari arah tangga menuju ruang bawah tanah yang gelap di ujung lorong.
Jantungku berdegup kencang. Itu aroma parfum yang selalu dipakai Elena, sahabatku yang menghilang tanpa jejak dua tahun lalu.
"Tidak mungkin..." gumamku pelan.
Pintu bawah tanah itu tampak seperti raksasa yang sedang mengawasiku dari kegelapan, seolah menungguku melanggar janji yang baru saja kubuat.
"Itu kunci gudang di ruang bawah tanah, Maya," jawabnya. Suaranya yang semula lembut berubah menjadi datar dan rendah.
"Jangan pernah ke sana, Maya. Berjanji padaku?"
Aku mengangguk pelan, meski di sudut hatiku, aroma parfum Elena—sahabatku yang hilang—mulai tercium samar dari balik pintu itu.
"Kenapa wangi parfum Elena ada di rumah Aris?
Temukan jawabannya di Bab 2!"
Daftar bab
5 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








